
Jihan sedang duduk di depan meja rias. Wajahnya baru selesai di poles dengan make up tipis. Wanita itu cukup lama memandangi wajahnya dalam pantulan cermin, mengamati perubahan wajahnya yang tampak pucat. Walaupun Jihan sudah memoles bibirnya dengan lipstik merah muda, tetap saja aura pucatnya masih kentara. Jihan baru sadar kenapa sang Mama terlihat khawatir sejak semalam dan selalu memastikan keadaannya baik-baik saja.
"Nggak mungkin aku sakit kan.? Aku nggak ada keluhan apapun selain merasa bosan dan malas." Gumam Jihan bicara sendiri. Kalaupun dia memang sakit sampai mengakibatkan wajahnya pucat, harusnya ada bagian tubuh yang terasa sakit. Tapi Jihan tidak merasakan itu.
"Pasti karna terlalu lama terkurung di rumah ini. Kurang jalan-jalan dan shoping." Jihan bicara lagi dengan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa dia baik-baik saja. Jihan pikir, dia hanya butuh piknik saja. Perlu travelling dan cuci mata supaya fresh lagi.
Selesai memastikan penampilannya rapi, Jihan bergegas keluar dari kamar. Semalam dia sudah janji pada Mamanya kalau pagi ini dia akan menemui Shaka dan menyelesaikan permasalahan yang di biarkan tanpa kejelasan selama 3 minggu.
Jihan menghampiri Mama Dewi di taman belakang. Sudah menjadi kebiasaan Mama Dewi merawat taman belakang sejak tinggal di rumah itu. Sebab tidak ada kegiatan, jadi setiap pagi sehabis sarapan, Mama Dewi selalu pergi ke taman dan mengurus bunga dan tanaman yang terawat.
"Mah,, Jihan pergi dulu." Pamitnya. Mama Dewi melewatkan bunga di tanah, lalu mencuci tangannya yang kotor karna sedang memindahkan tanaman ke pot.
"Di antar supir kan.?" Tanyanya.
Jihan menggeleng.
"Sendiri saja, pakai taksi. Takutnya lama di sana, kasian Pak Pardi kalau kelamaan nunggu." Sahut Jihan seraya menelisik wajah sang Mama yang terlihat lebih bahagia. Jihan bisa mengerti akan hal itu. Sebagai orang tua, Mama Dewi pasti ikut bahagia kalau permasalahan yang tengah di hadapi anaknya bisa di selesaikan.
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan." Mama Dewi mendekat selesai membersihkan tangannya. Wanita paruh baya itu lantas meraih tangan Jihan untuk di genggam.
"Masalah rumah tangga kamu dengan Shaka sebenarnya sangat sepele. Justru bersembunyi selama 3 minggu yang menciptakan masalah ini menjadi besar." Tutur Mama Dewi penuh kelembutan.
"Bagaimana Mama harus mempertanggungjawabkan semua ini di depan Shaka karna ikut menyembunyikan kamu selama ini. Mama merasa gagal mendidik kamu karna membiarkan hal seperti ini terjadi." Keluhnya sendu.
Jihan menggeleng dengan di selimuti rasa bersalah. Dia juga tidak tau kenapa mau menuruti perkataan Mama mertuanya untuk bersembunyi dari Shaka. Hanya karna penasaran, ingin mengetahui perasaan Shaka yang sebenarnya. Padahal Jihan sudah tau akhirnya akan seperti apa. Karna tidak mungkin Shaka memiliki perasaan padanya.
"Mama jangan bicara seperti itu, ini murni kesalahan Jihan. Jihan yang akan bertanggungjawab di depan Mas Shaka. Kalaupun Mas Shaka marah dan ingin mengakhiri semuanya, Jihan terima." Ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca. Jihan merasa sangat bersalah pada Mamanya karna sudah membuatnya sedih.
"Selama nggak ada kekerasan dan perselingkuhan, Mama jelas akan menantang perceraian. Perbaiki apa yang bisa di perbaiki, asal dibicarakan berdua tanpa ada campur tangan siapapun." Tutur Mama Dewi menasehati.
Jihan mengangguk paham, dia kemudian pamit dan pergi ke perusahaan untuk menemui Shaka.
...******...
Brakkk.!!!
Shaka melempar berkas laporan di meja rapat. Rahangnya tampak mengeras dengan wajah sedikit memerah karna emosi. Semua orang yang hadir dalam rapat tampak terkejut dengan aksi arogan Bosnya. Memang ada kesalahan dalam pembuatan laporan keuangan itu, hingga membuat Shaka emosi. Namun mereka tidak menyangka Shaka terang-terangan meluapkan emosinya di depan semua orang. Biasanya jika salah satu karyawannya melakukan kesalahan, Shaka akan memanggil orang tersebut ke ruangannya. Walaupun nantinya Shaka tetap meluapkan emosi, setidaknya hanya di depan karyawan yang bersalah.
"Perusahaan bisa rugi kalau mempertahankan karyawan seperti kamu.!" Bentak Shaka tegas.
"Saya beri waktu 1 jam untuk merevisi laporannya. Lebih dari itu, tidak ada toleransi.!" Serunya.
Pria yang sedang di marahi itu hanya bisa menunduk takut dan berkali-kali mengatakan maaf.
"Baik Pak, akan saya perbaiki." Ucapnya gugup sekaligus malu.
"Ini berlaku untuk siapapun tanpa terkecuali.! Saya tidak akan mempertahankan karyawan yang berpotensi merugikan perusahaan.!" Tegas Shaka memperingati.
"Kamu lanjutkan meetingnya.!" Titahnya.
Leon mengangguk patuh tanpa berani membantah.
"Diana, bereskan barang-barang saya.!" Kini gantian Diana yang di beri perintah. Respon Diana juga sama seperti Leon. Jika biasanya Diana berani berdebat dengan Shaka, kali ini nyali Diana tiba-tiba menciut. Untuk sekedar menjawab saja dia tidak berani, akhirnya hanya mengangguk.
Selama bertahun-tahun menjadi sekretaris Shaka, Diana baru kali ini melihat Shaka marah-marah di depan banyak orang. Jelas Diana bingung sekaligus takut.
Braakkk.!!!
Pintu ruangan di banting oleh Shaka. Semua orang terkejut sekaligus menghela nafas lega setelah Shaka sudah keluar dari ruangan meeting.
Beberapa orang saling pandang dan menggeleng pelan, mereka juga tidak tau kenapa Bosnya jadi tempramental seperti itu.
"Anggap saja nggak ada kejadian apa-apa di ruangan ini. Jangan lupa tutup mulut juga." Ujar Diana.
"Mungkin Pak Shaka sedang banyak pikiran, di maklumi saja. Lagipula baru kali ini Beliau marah-marah di ruang meeting." Diana mencoba meredam perasaan orang-orang yang sudah pasti terkejut dan tersinggung pastinya.
Untungnya semua orang bisa mengerti dan tidak menaruh kebencian pada Shaka.
...********...
Shaka berjalan cepat menuju ruangannya. Pria itu mengendurkan dasinya di sertai helaan nafas berat. Sudah 1 minggu ini konsentrasi pecah. Mendadak jadi sering mengamuk dan marah-marah tidak jelas. Selain frustasi karna belum mendapatkan informasi tentang keberadaan Jihan, Shaka juga lelah secara fisik karna setiap hari berkeliling mencari Jihan.
Di gedung yang sama, Jihan tampak canggung memasuki perusahaan. Banyak karyawan yang bertanya kenapa Jihan tidak pernah datang ke perusahaan pasca mengundurkan diri dari pekerjaannya. Mereka pikir selama 3 minggu ini Jihan menjadi Nyonya di rumah Shaka. Padahal suami istri itu sedang di pisahkan oleh Mama Sonia untuk sementara waktu.
"Mau saya antar Bu.?" Tanya salah satu resepsionis. Jihan menggeleng dan menolaknya sopan.
"Makasih Mba, saya sendiri saja." Jawabnya kemudian buru-buru pergi sebelum di cecar banyak pertanyaan lagi oleh beberapa karyawan yang lalu lalang.
Jihan sudah sampai di depan ruangan Shaka. Dia hanya berdiri di depan pintu dan kelihatan ragu untuk mengetuknya. Untungnya di lantai itu sedang sepi. Hanya ada OB yang sedang mengepel.
Sampai akhirnya Jihan berani mengetuk pintu ruangan Shaka dan masuk begitu saja karna mendengar suara derap langkah dan beberapa orang yang sedang mengobrol.
Di dalam ruangan, Shaka sedang melamun menghadap dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan Ibu Kota.
"Berani sekali masuk tanpa ijin.!!" Bentak Shaka. Meski posisinya membelakangi pintu, Shaka bisa tau ada seseorang yang masuk ke ruangannya.
Suara baritonnya memenuhi ruangan. Jihan sampai tersentak kaget.
"Maaf,,!" Ucapnya tegas seraya berbalik badan hendak keluar lagi.
Namun Shaka langsung menahan Jihan saat mengenali suaranya.
"Berhenti di tempat.!" Titah Shaka seraya berbalik badan. Kini dia bisa melihat sosok wanita yang selama ini dia cari-cari. Walaupun hanya melihat punggung Jihan, tapi cukup membuat raut wajah Shaka berbinar.