
Disaat Juna dan Mama Dewi sudah terbang ke alam mimpi, sepasang suami istri di kamar depan malah sibuk mempermasalahkan posisi tidur Jihan meminta Shaka supaya menjaga jarak, tapi Shaka malah sengaja menempel di belakang punggung Jihan walaupun space di belakang Shaka masih lega. Gara-gara Shaka memepetnya, tubuh Jihan jadi menempel di dinding dan tidak bisa bergerak
"Pak Shaka yang benar saja, saya jadi nggak bisa gerak.! Munduran dikit dong.!" Gerutu Jihan sewot.
"Biar saya saja yang gerak, kamu cukup diam dan menikmati seperti biasa." Jawab Shaka mesum.
Jihan jadi mencubit tangan Shaka karna kesal.
"Saya udah ngantuk Pak, tolong jangan ngajak berdebat. Berdebatnya besok saja kalau sudah sarapan biar ngomongnya ada tenaga." Kata Jihan dan berusaha memejamkan mata walaupun tubuhnya dijadikan guling oleh Shaka.
"Memangnya kapan saya ngajak berdebat.?" Protes Shaka.
"Saya malah ngajak ber cinta, kamu saja yang pura-pura nggak mau." Selorohnya datar.
Jihan menelan ludah susah payah. Setiap kali Shaka bicara vulgar dan mesum, selalu bayangan saat ber cinta dengan Shaka yang muncul di pikirannya. Jihan sudah berusaha membuang jauh-jauh pikiran mesumnya, tapi selalu kembali lagi dan lagi. Wanita itu sampai bertanya pada dirinya sendiri, apa mungkin dia menginginkan percintaan itu lagi seperti Shaka yang berulang kali mengajaknya ber cinta.
"Nggak mungkin." Batin Jihan berusaha menyangkal keinginan yang sebenarnya dia rasakan.
"Sudah malam Pak Shaka, ayo tidur." Jihan mengacuhkan perkataan Shaka dan meminta suami kontraknya itu untuk segera tidur.
"Nggak bisa tidur kalau lagi tegang, harus di keluarin dulu." Bisik Shaka yang mulai berani menempelkan bibir ke telinga Jihan. Sentuhan itu membuat tubuh Jihan meremang.
"Jihan, boleh.?" Tanya Shaka dengan suara seraknya yang sudah berkabut gairah. Hasratnya semakin memuncak sejak memeluk erat tubuh Jihan dari belakang. Merasakan bentuk tubuh Jihan dan aroma wanginya dalam dekapannya. Membuat pikiran mesum Shaka berkelana kemana-mana.
"Tapi Pak Shaka,,,,," Suara Jihan tercekat kalau merasakan jemari Shaka bergerak ke atas, bahkan sudah menyentuh bukit kembar miliknya.
"Ini bukan kesalahan, kita sudah resmi menikah. Ber cinta denganku nggak akan membuat kamu jadi wanita rendahan, Jihan." Lirih Shaka lembut, sambari kedua tangannya bekerja memijat dan memainkan bukit kembar.
Jihan tampak diam saja dan tidak memberontak, bahkan membiarkan kedua tangan Shaka menyentuh benda sensitifnya. Melihat tidak ada penolakan, Shaka semakin melancarkan aksinya dan membalik tubuh Jihan supaya berhadapan dengannya.
Kini sudah 15 menit berlalu, tubuh keduanya menjadi polos tanpa sehelai kain yang menutupinya. Nafas mereka memburu dengan detak jantung yang berpacu cepat. Keringat sudah membahasi tubuh Shaka. Mungkin karna suhu ruangan di kamar Jihan tidak terlalu dingin, sebab pendingin udaranya sudah bermasalah, jadi tidak berfungsi dengan baik.
Sebelumnya Shaka sudah membuat Jihan mencapai pelepasan tanpa penyatuan. Membuat wajah Jihan bersemu merah karna malu. Padahal sering menolak, tapi akhirnya pasrah dan mau di puaskan juga.
"Ranjangnya aman kan.?" Tanya Shaka saat akan memulai permainan inti.
Jihan menggeleng tidak tau. Sebab dia juga tidak. pernah ber cinta di ranjang itu.
"Pelan-pelan saja." Kata Jihan. Dia mencari aman, daripada ranjang kayunya ambruk kalau Shaka bergerak terlalu kencang.
"Lebih baik jangan di ranjang, karna saya nggak jamin bisa pelan." Sahut Shaka. Pria itu turun dari ranjang lebih dulu. Dia mengulurkan tangan pada Jihan untuk turun juga.
Sampai akhirnya suara des-sah-an terdengar saling bersautan dari dalam kamar Jihan. Juna yang saat itu terbangun dan ingin pergi ke kamar mandi, akhirnya mendengar suara keramat tersebut. Pemuda yang baru berusia 18 tahun itu jadi kesal sendiri dengan ulah Kakak dan Kakak iparnya. Sudah tau di rumah ada perjaka, tapi tidak bisa mengontrol suara saat ber cinta.
Juna merutuk selama mendengar suara keramat itu. Dia buru-buru masuk lagi ke kamarnya setelah buang air.
...*******...
Pagi itu Jihan dan Shaka terbangun dalam posisi saling memeluk. Keduanya bangun lantaran pintu kamarnya di gedor-gedor.
"Itu mau bangunin kita atau mau ngerusak pintu." Kata Shaka sambil turun dari ranjang. Pria itu memungut bajunya di lantai, lalu pergi ke kamar mandi dalam keadaan bertelanjang dada. Semalaman Shaka tidur tanpa baju. Pria itu kepanasan karna tidak biasa dengan suhu ruangan di kamar Jihan.
Jihan berdecak kesal. Pagi-pagi begini moodnya sudah di buat buruk. Sebab sikap Shaka barusan sangat cuek dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa tadi malam. Belum lagi suara gedoran pintu yang membuat Jihan terpaksa bangun.
"Juna.!! Uang jajan kamu minta di stop ya.?!" Teriak Jihan geram. Walaupun Jihan belum membuka pintu kamar, dia sudah tau siapa pelakunya. Karna Mama Dewi tidak mungkin mengetuk pintu sekeras itu, apalagi menantunya juga sedang menginap.
Jihan makin kesal karna pintu kamarnya masih di ketuk. Wanita itu langsung turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya.
"Mba Jihan sama Bang Shaka di suruh sarapan sama Mama, Udah jam 8 kok masih tidur. Makanya jangan bergadang Mba." Cerocos Juna sebelum Jihan membuka mulut. Padahal tatapan tajam Jihan sudah menunjukkan kalau Kakaknya itu seperti akan memarahinya.
"Jam 8.?!" Pekik Jihan kaget. Yang tadinya ingin memarahi Juna, Jihan malah syok karna bangun kesiangan. Mana kompak sama Shaka. Tentu saja Jihan jadi malu. Pasti Mamanya akan berfikir macam-macam. padahal kenyataannya memang seperti itu.
"Bentar, Mba mandi dulu.!" Jihan menutup pintu kamarnya begitu saja dan mengunci pintu.
"Pak Shaka buruan, saya mau mandi." Jihan mengetuk pintu kamar mandi yg ada di dalam kamarnya. Cuma kamar depan yang memiliki kamar mandi dalam.
Detik berikutnya, Shaka langsung membuka pintu kamar mandi dan membuat Jihan reflek menutup mata karna keadaan Shaka te lan jang bulat.
"Astaga Pak Shaka.! Kenapa nggak pakai baju." Protes Jihan.
"Mana ada orang mandi pakai baju.!" Jawab Shaka acuh.
"Cepat masuk, mandi bersama saja biar cepat. Lagipula kita sudah sama-sama melihat semuanya. Mau sekalian ber cinta lagi juga nggak masalah, dengan senang hati saya akan buat kamu keluar berkali-kali." Goda Shaka jahil.
Jihan tidak menggubris, dia akhirnya ikut masuk ke kamar mandi bersama Shaka. Kamar mandi berukuran 2x2 meter itu jadi sempit karna di masuki 2 orang. Apalagi postur tubuh Shaka cukup besar dan tinggi.
"Jangan lama-lama, Mama nyuruh kita sarapan. Ternyata sudah jam 8." Kata Jihan sambil membasahi rambutnya di bawah guyuran shower. Shaka hanya mengangguk sambil membersihkan tubuhnya dengan sabun. Keduanya tampak cuek dalam keadaan sama-sama polos.
"Saya baru ingat ada janji dengan klien. Kamu masih mau disini apa mau ikut saya.?" Tawar Shaka.
"Ikuta saja." Jihan menjawab setelah diam beberapa saat.