Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Erich


Di sini, Observatorium.....


Teknologi, diam-diam semakin maju.


Teknologi yang ada di dalam sini adalah keberadaan yang tidak pernah di ketahui orang lain termasuk raja sendiri, alasannya sederhana, mereka memang sengaja merahasiakannya dari orang-orang.


Dari Observatorium yang tersebar di beberapa kerajaan, sebenarnya pemiliknya hanya satu orang saja.


Keberadaan mereka yang menjadi rakyat biasa, dengan rumah layaknya rumah pada umumnya, hanyalah dalih belaka untuk mengelabui mata, dari pemilik tanah.


Itulah kenapa, tidak ada tempat di manapun itu berada, yang akan memiliki teknologi lebih maju seperti ini selain di sini.


Dania jadi tahu, alasan kenapa selama ini tidak ada hal yang di rasa lebih canggih dari di sini, karena memang di rahasiakan secara ketat.


Hal di anggap, bahwa mereka......


( selain orang yang berurusan dengan Observatorium. ), untuk menjalani hidup mereka tanpa mengetahui teknologi seperti ini sudah ada. Hal itu di lakukan, agar tidak membuat lebih banyak kekacauan lebih parah, dari mereka yang rata-rata sudah hidup berdampingan dengan penyihir dan perang.


Maksudnya, kelas sosial bangsawan sebagai bahan ajang bertukar informasi, keberadaan penyihir, kesatria yang digunakan sebagai pasukan militer untuk melakukan pertahanan terhadap kerajaan dengan kerajaan lain, untuk perang, itu sudah cukup untuk mengacaukan roda hidup mereka.


[ Intinya tidak mau membeberkan teknologi semacam ini ke mereka. ] tidak kurang dan tidak lebih.


[ Jadi mereka masuk ke dalam golongan Egosentris. ] fikirnya. Menjadikan diri mereka sebagai titik pusat pemikiran.


Dania menoleh ke arah jendela, mengedipkan matanya yang sebenarnya lelah untuk terus terbuka seperti ini, tapi dia tidak ingin terlilhat lelah di depan orang lain.


Tapi di sofa sana, ada orang yang terlihat lebih lelah dari dirinya, buktinya permainan piano yang sedang dimaninkan oleh ke sepuluh jarinya, Dania sukses membuat orang ini tidur.


Erich.....di dalam sudut pandangnya, laki-laki ini terlihat sangat lelah. Bukan lelah fisik, melainkan lelah batin dan pikiran.


Mungkin karena rasa benci yang tumbuh itu, membuatnya jadi lebih lelah ketimbang penuturannya yang sudah lelah kesana kemari demi mencari dirinya ( Dania. ).


Ada satu hal, fakta kecil yang tidak pernah dia perlihatkan.


Tidak ada yang bisa lolos dari permainan pianonya yang bisa membuat orang yang mendengarnya mengantuk dan berakhir tidur.


Dania hanya merasa kasihan saja, atau bersimpati?. Melihat pria ini berada di bawah tekanan ke dua orang tua yang seperti itu.


" Kasihan?. " pandangannya turun ke bawah.


Sejak kapan dirinya sudah punya rasa simpati terhadap orang lain seperti ini?.


Dania baru mengakuinya, saat ini.


Selama ini banyak yang sudah dia lakukan untuk orang lain, entah itu karena rasa simpati, atau hanya untuk kebaikan dirinya sendiri?.


Mana yang benar?.


Terasa berkesan memiliki arti yang sama, tapi rasanya juga ada yang berbeda. Perbedaan seperti apa yang bisa di jelaskan se jelas-jelasnya?.


Terkadang ada beberapa hal yang tidak dia mengerti. Pikirannya mengatakan bahwa sebuah kebaikan yang dia lakukan demi dirinya sendiri, tapi ternyata itu seperti terselip juga sebuah rasa simpati/kasihan terhadap mereka.


Itulah yang membuatnya bingung, dari mana munculnya itu?, dan sejak kapan dia tidak tahu.


[ Apa aku terpengaruh dengan permainanku sendiri?. ] Dania menggelengkan kepalanya dengan pelan, lalu menghentikan lagu yang sedang di mainkannya.


Kembali melihat separuh wajah yang tertutup dengan topeng itu.


Dia berdiri, pergi menghampiri pria ini. Tepat ketika sudah di depannya, tangan kanannya pun mulai terangkat.


Sejujurnya, Dania penasaran dengan bekas luka yang di akibatkan di cakar oleh seekor burung dengan warna mata yang mirip dengannya!?.


Burung apa yang orang ini maksud?.


Apakah 'Everst?'


Memang ada bukti kecil yang dia lihat, ada satu goresan tipis, sebuah luka yang membekas di bagian pipi sebelah kanan.


Tapi apakah separah itu?, sampai di tutup dengan sebuah topeng?.


".................... " Dania mengatupkan mulutnya, dia langsung mengurungkan niat untuk melepaskan topeng itu karena tidak sopan juka mengganggu tidurnya, selain hanya menyentuh topeng itu saja.


[ Ini hadiah atas makananmu. ] batinnya.


CRINGG......


Dan kerlipan-kerlipan emas berjatuhan dan segera menghilang dari wajah itu.


******


Hujan belum sama sekali ada tanda-tanda untuk berhenti. Di cuaca dingin seperti ini, hal paling bagus adalah tidur dan meringkuk di dalam selimut tebal yang hangat.


Sebuah kenyamanan sederhana, memperoleh istirahat yang memuaskan.


Mungkin itu hanya untuk sebagian orang saja yang suka bermalas-malasan.


Tapi tidak untuk gadis ini.


Setelah di Erich membuatkan makanan dan minuman untuknya, lalu menceritakan cerita tentang rumah dan keberadaan mereka di sini, gadis ini tidak melakukan hal yang membuat dirinya menjadi malas.



















[ Hah.....!, aku ketiduran?!. ] Erich langsung membuka matanya lebar-lebar. Hal yang pertama kali dia lihat ada plafon kamarnya, berwarna abu-abu.


[ Perasaan hanya duduk..... ] duduk dengan memejamkan mata, tapi posisinya berubah jadi orang yang tiduran di sofa?!.


Bagaimana bisa?.


Tidur?!.


Dia menyadarinya saat mencoba mendengarkan piano yang di mainkan oleh perempuan ini.


Erich segera meyakinkam dirinya bahwa tadi..


[ .............!, benar, aku tadi hanya mencoba mendengarkan permainannya. Apa karena lelahku?, aku jadi terhanyut dengan lagunya?. ]


Erich langsung bangun dari tidurnya, dan duduk untuk mengadaptasi rasa kantuknya yang masih ada.


Tapi matanya menemukan.....seseorang..


[ Kemana dia. ] sudah menghilang dari pandangannya.


Erich mencoba merotasikan matanya ke segala penjuru, tidak ada tanda-tanda keberadaannya.


Dia bangun dari sofa, dan satu hal yang mengganjal di pikirannya, adalah tidak adanya rasa sakit di matanya setelah tidur yang terasa nikmat, ini pertama kalinya dia bisa tidur senyenyak itu.


Biasanya setelah bangun tidur, mata sebelah kanan yang terlihat baik-baik saja itu, akan bereaksi dengan sensasi sakit yang cukup menyakitkan sampai kepala, itulah mengapa dia tidak bisa tidur nyenyak, dia mengurangi cakupan tidurnya, tapi kali ini rasanya ada yang berbeda.


Apa yang sebenarnya terjadi?.


Erich pergi ke kamar mandi yang ada di sebelah dapurnya, membuka pintunya dengan sedikit kasar,, dia langsung segera menghadap ke sebuah cermin.


Pantulan wajahnya yang sedang memakai topeng, yang bahkan tidak pernah dia perlihatkan, wajah aslinya setelah insiden itu kepada mereka berdua ( Ke dua orang tuanya. ).


Belum di lepas, dia menyadari goresan tipis berwarna coklat yang ada di bagian pipi kanannya sudah menghilang.


Apa ini mimpi?.


Erich sebenarnya merasa ragu dengan tangannya yang akan melepaskan topeng itu.


GREP....


Tangannya berhenti di udara dan langsung mengepal dengan erat.


[ Pasti hanya kebohongan belaka. ]


BUK.....


Sedikit meninju dinding, persis di sebelah cermin, Erich berkata tidak di dalam dirinya. Rasa ragunya membuatnya memutuskan untuk mencari orang itu dulu.


[ Tidak.....aku harus pergi mencarinya. ]


Batin Erich.


Erich pun tidak jadi melepaskan topengnya sendiri, masih ada yang lebih penting dari itu, jadi dia buru-buru pergi dari toilet.


Erich berjalan dengan langkah lebar, menuju pintu....yang akan dia buka sebelum matanya sudah tertuju pada satu kertas menempel di tengah pintu. Sebuah memo kecil untuknya.


| Jangan ungkapkan identitasku, pada orang lain tentang aku yang membantu kalian.


Aku percaya kalian bisa menjaga rahasia.


Aku pergi dulu, terima kasih juga untuk makanannya. |


"................... " Erich memikirkan kembali apa yang tertulis dalam memo itu, sebuah permintaan untuk jangan membeberkan bahwa gadis itu orang yang menyesaikan masalah hari ini.


[ Perubahan orbital yang tidak wajar,..........., sepertinya memang bukan masalah yang bisa langsung hilang setelah di musnauntu begitu saja. ]


Tidak kewajaran itulah, Erich jadi tahu jika masalah bahwa gadis itu adalah orang yang sudah menggunakan senjata Material Burst tersebar, maka akan ada orang yang pergi mencarinya alias mengincarnya.


Pusat perhatian orang-orang yang tidak selalunya punya pemikiran baik.


Erich membuka pintunya, dan langsung ke luar dari kamar.


[ Tapi pergi kemana dia?, jarak antara tempat ini sampai kota adalah 300 Km. ] fikir Erich sembari berjalan di koridor.


[ TIdak mungkin dia pergi begitu saja. ]


Jauhnya tempat mereka, tidak akan mungkin membuat gadis itu sampai ke kota dalam waktu sehari saja sekalipun membuat kuda berlari seharian.


Sampai akhirnya berada di lantai 1, Erich hanya melihat ke dua orang tuanya sudah kembali normal, sibuk berlari kecil ke sana dan kemari sampai di mana cara berpakaian mereka yang berantakan sudah berati memang tidak ada waktu untuk melihat pakaiannya sendiri, mengancingkan baju saja sudah salah.


" Rich....kau sudah bangun?. " tanya ayahnya Erich begitu tahu Erich sedang berdiri di akhir anak tangga sambil melihat ke arahnya.


Tapi Erich tidak menjawabnya selain bertanya pertanyaan lain.


" Kenapa kalian terlihat panik seperti itu, dimana dia?. " Erich mengedarkan pandangannya ke semua sudut di ruangan tersebut, tapi hasilnya nihil, dia...perempuan itu tidak ada.


" Apa kamu sebegitu nyenyaknya tidur sampai tidak merasakan bahwa tadi ada gempa?. " Margel terheran, setengah jam lalu padahal ada gempa sebegitu kuat, bahkan beberapa meja yang tertata rapi, sudah bergeser dari tempatnya, lemari kaca langsung terbuka membuat buku-buju berjatuhan, tapi Erich ini tidak merasakannya?.


" Tidak tuh. " jawab Erich dengan selamba.


[ Masa ada gempa?. ] Erich bingung, apa karena tadi di kamarnya tidak begitu banyak barang ringan yang di tata di atas meja atau apa pun, membuatnya tidak sadar bahwa tidak ada gempa?, karena kamarnya baik-baik saja, dan tidak berantakan sama sekali.


" Aku tanya dimana dia?!. " Tanya Erich, langsung ke poin intinya lagi. Karena hanya itulah tujuannya turun ke lantai satu, mencari nona adik angkat duke.


" Dia sudah pergi, dia bilang ada urusan yang harus di tangani. " Sela Sonia, sang mama kepada Erich yang terlihat ngotot.


Tapi Sonia langsung berbicara kepada suaminya.


Muak dengan pembicaraan mereka, apa lagi mama-nya yang memanggil ayah dengan kata sayang. Di telinganya, itu adalah ungkapan yang terasa sungguh menjijikan, di antara kalimat akrab lainnya.


" .................. " Erich langsung pergi menuju pintu depan.


" Bagaimana statusnya?. " Tanya Sonia lagi.


Gempa...sebesar itu tidak mungkin tidak akan ada gempa susulan atau......


Margel menoleh ke arah istrinya dengan wajah terkejutnya.


" Kau bilang gadis itu pergi karena ada urusan kan?. "


" Ya..." Sonia mengiyakan.


" Aku rasa kita memang sedang dihadapkan satu masalah lagi setelah asteroid dan gempa tadi. " Margel sengaja menggantungkan kalimatnya, agar istirnya itu berpikir juga.


Sonia berpikir keras, meski di dalam dirinya tidak punya sihir, tapi otaknya mengatakan bahwa pengetahuan sama halnya kekuatannya.


" Apa tadi pusat gempanya dari laut?!. " teriak Sonia.


Margel menganggukkan kepalanya.


" Ya!......ada kemungkinan kekuatan sebesar tadi tidak akan tidak menimbulkan masalah lain. Seperti Tsunami!. "


' Tsunami. '


Tubuh Sonia langsung gemetar, kakinya yang lemas membuatnya tidak mampu untuk berdiri lagi.


Sebuah trauma, yang dimiliki Sonia muncul.


Trauma akan masa lalunya itu...


" Erich....! " wajahnya yang pucat, membuat mulutnya seketika itu memanggil Erich yang sudah berada di ambang pintu keluar.


" Rich!. "


Tidak ada jawaban, Sonia tiba-tiba saja langsung punya kekuatan untuk berdiri lagi. Demi menemui Erich....Sonia berlari menuju pintu depan sambil berteriak dengan keras.


" ERICH!. "


" Son...! " Margel berlari mengikuti Sonia di belakangnya, melihat tiba-tiba istrinya berlari seperti itu di dalam tekanan traumanya yang muncul.


" ERICH..!. " Sonia berteriak lagi dan langsung berada di ambang pintu yang masih terbuka, terlihat tangan itu akan pergi menutup pintu, Sonia langsung menggapainya di detik-detik terakhir..


" RICH!. " Panggilnya.


BREKK...


Meski akibatnya pergelangan tangan Sonia sempat terhimpit karena selain sudah mencengkram tangan Erich sebelum pergi, pintu itu pun gagal di tutup karena terganjal tangannya Sonia.


" Erich...tunggu. " pinta Sonia terhadap anaknya yang satu ini.


Seketika Erich menoleh ke belakang karena selain tangannya di cegat karena sang mama, namanya dari tadi terus-terusan di panggil tanpa henti.


Membuat hatinya menjadi jengkel.


" Ada apa?, aku mau pergi. " jawab Erich sambil mencoba menepis tangannya.


Tapi Sonia tidak tinggal diam, satu tangannya lagi langsung mencengkram tangannya Erich.


Dan itu di ikuti sebuah senyuman mengembang yang di paksakan. Membuat Erich jadi merinding sendiri tiba-tiba mendapatkan ekspresi aneh seperti itu dari mama ini.


" Bagus...ayo, gunakan kekuatanmu agar kita pergi dari sini secepatnya. Kalau bisa bawa ke tempat yang jauh seperti pendopo yang kita buat di gunung. " pinta Sonia, dia meminta Erich untuk menggunakan sihirnya itu agar membawa mereka semua pergi ke tempat yang aman.


" Sonia.. " panggil Margel dengan nada bergetar, khawatir dengan istrinya itu.


" Kenapa tidak kalian berdua saja yang ke sana. " jawab Erich, mencibir.


Memangnya masuk akal, tiba-tiba minta pergi ke tempat terpencil di tengah gunung.


" Aku mau mencari dia,.... "


Sonia menhan anak ini dulu.


" Dengarkan dulu, sebent-... " Tapi ucapannya langsung di sela Sonia.


" Sudahlah.. " menepis tangan Sonia dengan kasar.


" Biasanya juga sering berduaan, aku lebih baik pergi ke kota ketimbang ke sana...jadi jangan menghalangiku. "


Mengangguk dengan cepat, sonia berkata.


" Ya..ya...ke kota juga tidak apa. " Sonia jadi mau-mau saja ikut ke manapun Erich pergi, karena jaraknya yang sangat jauh, jadi tidak mungkin tsunami itu akan sampai ke sana.


Erich jadi semakin tidak mengerti dengan mama....tirinya ini, kenapa tiba-tiba berubah mau ikut ke kota?.


Membuatnya semakin jijik, tidak ada niatan pergi dengan wanita ini.


Margel langsung mencoba menghentikan sikap Erich yang sedang memasang wajah jijik seperti itu dengan mendukung istrinya.


" Rich.....turuti saja, kita tidak ada waktu lagi. " sambil memperingati Erich.


Membuat Erich semakin mengeraskan rahangnya sambil menggertakkan gigi.


" Kenapa harus menurutimu?. Aku tidak mau membawanya bersamaku. "


" ERICH!. " Pekik Margel dengan suara lantang, memanggil anak kandungnya.


Seketika Erich tercengang dengan ayahnya yang BERTERIAK KEARAHNYA!, demi membela wanita itu!.


Nada tingginnya langsung menghilang setelah melihat Erich terkejut.


" Sebentar lagi akan ada tsunami, kali ini saja, tolong agar kamu menggunakan kekuatanmu untuk membawanya pergi dari sini juga. "


Erich tersenyum paksa layaknya patung.


" Tsunami?. "


" Ayo Rich....kita pergi, sebelum air itu datang.... " Sonia memohon, sambil menggapai tangan Erich lagi dan mengoyang-goyangkannya.


BBRRRRUUUHHHS.........


".......................!. " All.


Dan Sonia, wajahnya semakin pucat pasi dengan suara besar lagikan menyeramkan itu. Salah satu pemicu utama akan traumanya dulu.


" Rich....cepat...cepat pergi dari sini...ayo. "


Sonia menarik tangannya masuk ke dalam rumah, agar Erich membuka pintu itu lagi dengan kekuatannya yang bisa di gunakan untuk berpindah ke tempat lain.


Yang penting menjauh.


Menjauhi monster air itu.


" Rich....cepat, di sini hanya kau yang punya sihir. Kali ini saja.....aku memohon. " Margel yang tidak bisa mengatur Erich yang keras kepala ini hanya memohon, berharap agar Erich mau mengabulkannya.


" Hahaha........ " Erich tertawa dengan akhir sebuah senyuman getir.


" Padahal beberapa waktu lalu, kalian berdua lagi bahagia-bahagianya. Tapi sekarang?. " matanya mengernyit, dan menambahkan.


" Seperti orang yang sangat putus asa. "


BBBBRRUUSSHH.......


Semakin dekat, dan suara gemuruh itu semakin keras.


BRAK.....


Menutup pintu rumah.


" Baiklah, aku turuti jika kalian berdua berpisah. Maksudku dalam artian bercerailah. " perintah Erich dengan senyuman menggembang.


Margel yang tiba-tina melangkah maju, langsung melayangkan


PLAKK.......


Sebuah tamparan telak untuk Erich agar sadar diri.


" Apa kau sudah gila?!. " Marah Margel pada Erich. Hanya permintaan kecil seperti itu, harus di bayar dengan syarat sebuah perceraiannya dengan Sonia.


" Aku kecewa padamu, kenapa malah meminta ayarat seperti itu?. "


Tidak peduli akan tamparan itu, Erich masih bisa bicara seenaknya.


" Kalau kalian gila, aku juga gila dong~. Jika kecewa karena keberadaanku ini, siapa suruh membuatku. Dan mencampakkan ibu. " Erich yang tidak begitu takut akan tsunami yang sudah mulai mendekat, hanya terus terusan mengulur-ulur waktu.


" Apa kamu sebegitu bencinya denganku?. " Sonia tiba-tiba bersuara lagi. Melepaskan tangannya Erich dan mundur 3 langkah ke belakang.


" Jika memang seperti itu, lebih baik memang seperti ini saja. Tinggalkan aku saja.......kalian berdua pergi saja. " Dengan nada yang lemah, Sonia berbalik memunggungi mereka berdua.


" Setidaknya aku bisa menemani Richa.....menebus kesalahanku ini. " lalu berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Ke tempatnya dia tadi meninggalkan pekerjaan.


DEG......


[ Richa.... ]


"..............?!. "Erich langsung saja terdiam dengan nama yang terasa tidak asing itu.


" Dia adalah adikmu. " Margel memberitahunya, kebenaran yang di sembunyikan. Tapi semuanya juga sudah berlalu, dan Erich sama sekali tidak mau meminjamkan sihir itu hanya sekedar untuk melewati satu daun pintu untuk pergi ke tempat lain.


[ Adik....?!. ]


BBBRRUUSSHH.........


Pembicaraan panjang yang berujung gelombang pertama mulai datang.


Erich yang di banjiri pertanyaan, pasal adik?.


Aku punya adik?.


Kalau punya, dimana dia sekarang?.


Semuanya sudah terlambat dengan pemandangan di balik kubah kaca ternampak sebuah gelombang besar dangan cepat muncul di hadapan mereka. Semuanya terlihat dengan jelas meski hanya sekedar berada di dalam rumah, gelombang layaknya monster......itu lebih besar dan lebih tinggi dari pada tebing ini.


Margel berjalan dengan langkah lebar, langsung memeluk Sonia seketika itu juga. Dan Erich yang masih menengadah ke atas, mulai lari ke arah mereka berdua, berusaha menggapai dua orang gila itu.


Tapi ayahnya, langsung menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Rrich, mengangkat tangan kirinya ke arah Erich, Margel langsung menggunakan sihir....satu sihir yang di kuasainya....yaitu telekinesis.


Mendorong tubuh Erich agar pergi menuju pintu depan yang pelan-pelan mulai terbuka, dan di dorong sebuah sihir lain, membuat mata Erich bercahaya, memaksa kekuatan Erich muncul dan mengaktifkan sihir Gate milik Erich itu.


"............! "


[ Kenapa aku terbang?!. ] dan terdorong ke belakang. Tangannya yang sudah ingin menggapai mereka berdua, seketika langsung mempunyai jarak yang jauh.


Karena Erich membenci Sonia, maka Margel tidak akan membiarkan Sonia sendirian menghadapi dinding yang terbuat dari air laut ini. Dan keputusannya itu di dampingi oleh Erich yang sudah lebih dulu mengecewakan dirinya.


Dirinya lebih memilih Sonia, dari pada memaksa kehendak Erich yang benar-benar tidak suka akan keberadaan Sonia di sampingnya ( Margel ).


Erich pun langsung di dorong pergi keluar pintu yang sudah aktif dengan sihirnya Erich sendiri..


[ Dia memaksa sihirku?!. ] Tidak percaya bahwa ayahnya lebih memilih wanita itu, hanya tersenyum lemah. Memejamkan matanya, membiarkan tubuhnya di dorong oleh sihir milik ayahnya.


" Aku akan disini menemanimu. " Memeluk Sonia dengan lebih erat, dia membuat wajah Sonia masuk ke dalam pelukannya, menghadap ke dada bidangnya, agar Sonia tidak melihat gelombang yang sudah ada di samping rumahnya.


BRAKK.....


Pintu langsung tertutup dengan keras selepas Erich sudah di paksa keluar dan pindah ke tempat lain, dan di detik itu juga...gemuruh air sudah berada di jarak terdekat mereka, sampai tetesan air asin ini, menghujani kubah kaca yang ada di atasnya.


Setinggi......40 meter.


" Maafkan aku. " Kata terakhir Sonia pada Margel.


Dan .......


BYAHHHHH.........


Gelap, dan dingin.