Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. 105


" Bisa bertahan sampai disini, Ini mengejutkan karena jantungmu ada di sebelah kanan jadi cukup beruntung bisa hidup sampai sekarang meski sudah di tembak. Kalau mau hidup bersamaku, apapun konsekuensinya berikan tanganmu. " jelas orang ini kepada anak gadis yang sedang berada di ambang kematiannya.


Tanpa pikir panjang Alinda menggerakkan tangannya untuk menangkap tangan orang misterius itu.


" Ma...u. " walau tak bersuara, tapi dari gerakkan bibirnya sudah cukup membuktikan kalau dirinya benar-benar ingin melewati rasa di ambang kematiannya itu karena sangat menyiksanya.


" Hiks... " Cengkramanya menjadi kuat karena sakintnya masih saja meraja lela.


____________________


Ingan yang terlalu bagus terkadang bisa membuat pemiliknya akan mendapatkan memori yang selalu terpapar jelas di dalam kepalanya.


Jika kenangan menyenangkan atau membahagiakan, itu adalah sebuah anugerah yang sangat berarti dapat mengingat momen tersebut.


Tapi bagaimana jika memori yang selalu di ingat di dalam otak kecilnya adalah memori yang sangat menyakitkan, menyedihkan?.


Maka hal itu akan selalu menjadi hantu yang akan selalu menyelimutinya seumur hidupnya atau sepanjang dirinya bisa teringat dengab jelas momen itu.


" Hiks..., sa...sakit~ "


Suaranya sangat memilukan, di dalam makna dan nadanya sudah membuktikan kalau yang ada di dalam mimpinya itu adalah kenangan buruk yang tak terlupakan.


"............! " Tangannya yang tetibe di pegang erat membuat pria ber iris hijau zamrud ini sedikit terkejut.


" Jangan pergi. " Tutur Dania dengan mata terbuka namun...


Masih separuh sadar, jadi....


" Tolong aku.. " ucap Dania dengan nada lirih.


".............? "


[ Katanya jika tidur dalam keadaan separuh sadar, tidak bisa baik jika harus langsung membangunkannya. Jadi aku harus bagaimana dengannya? ] Fikir Ishid sembari menatap orang yang sedang duduk bersender di dinding batu gua.


Sekarang kondisinya bisa dibilang cukup baik dan cukup buruk.


Baiknya adalah bisa selamat, buruknya adalah karena terdampai masuk ke gua.


1 jam lalu.


BYURRR........


Dirinya ( Ishid ) masuk ke dalam sungai bersamaan dengan seseorang yang baru saja menuburuknya.


Sungai ber arus deras itu, di bagian dasar sungainya sudah sepenuhnya ada banyak timbunan hasil reruntuhan jembatan batu besar itu. Dan masalahnya baru saja dimulai dari situ, yaitu terbentuk lubang baru yang tercipta di bagian dalam tepi sungai yang membuat dimana arus sungai ada seperlima bagian masuk ke dalam lubang tersebut.


[ Gawat!, aku terseret. ]


Hasilnya, mereka berdua jadi terjerumus masuk ke dalam juga, mengikuti arus yang sedang mengisi kekosongan dari ruang gua yang baru terbuka itu.


Jauhhh.....masuk ke dalam....di dalam gelapnya lorong yang panjang itu.


[ Ada cahaya?. ]


Sekalian mempercepat berenangnya, Ishid mencoba menggerakkan kedua tangan dan kakinya.


Ia menoleh ke belakang, ada cahaya biru yang terpancar dari kalung yang dipakai di lehernya Dania.


BLUPH.....


BLUPH.....


BLUPH.....


[ Harus keluar secepatnya. ] Meski bisa melakukan sihir untuk menyesuaikan kondisinya dirinya di dalam air, namun mengingat airnya cukup dingin jadi kalau bisa tidak usah membuang waktunya terlalu lama di dalam air.


Tangannya pun menggandeng pergelangan tangannya Dania, ia sedar kalau tidak semua orang bisa berenang dan salah satunya ' dia '.


"............"


[ Hahhh......] Ishid jadi terpaksa memgganti metodenya, dari pada menggandeng tangan orang yang sedang tak sadarkan diri itu, ia akhirnya mengandalkan lengan kirinya yang digunakan untuk memeluknya itu agar bisa membawanya dengan mudah.


KLING.....


Tanpa di sadari keduanya, kalung yang dipakai Dania terjatuh selagi keduanya berenang mencari oksigen, atau tepatnya mengejar satu cahaya kecil yang ada di permukaan itu.


30, 25, 20, 18, 15, 12, 9 meter....


Ia terus mengayunkan tangannya agar sampai ke permukaan air..


PHUAHHH..........


Langsung menghirup udara segar setelah dapat menemukan permukaan dari ujung gua air itu.


[ Dimana ini? ]


Ishid memperhatikan sekelingnya, rupanya tidak ada pintu keluar meski sudah berada di ujung Gua.


Asal cahaya tadi adalah berasal dari batu energi sihir yang menempel di atas gua, dialah asalnya cahaya yang dilihat oleh mata Ishid.


Paling tidak sekarang masih memiliki cahaya untuk penerangan. Tapi sayangnya tidak ada kayu bakar disekitar situ, kalau ada pastinya ia akan menggunakannya untuk menghangatkan tubuh.


[ Dia...apa baik-baik saja?. ] Tapi ia teringat kau mereka berdua berada di dalam air dengan rentan waktu yang cukup lama.


" ............. "


[ Apa aku harus melakukan CPR? ]


" Uhuk.....uhukk... "


Ternyata tanpa di bantu pun, ia sudah mulai sadar?~


Tidak usah berharap padanya, karena Dania langsung tertidur setelah mengeluarkan air dari salam paru-parunya itu.


".............."


[ Bisa langsung tertidur setelah menelan banyak air seperti itu?, apa dia tipe yang bisa tidur di sembarang tempat?. ]


Kembali ke waktu sekarang.


Terlepas dari dia yang tidur pulas tanpa melihat situasinya sekarang ini, tangannya itu kini sedang di genggam dengan erat oleh Dania.


" Disini sakit sekali.~ " rintihnya lagi.


" Dimana? " Tanya Ishid.


" Disini. " tangan kirinya meununjuk ke dada sebelah kirinya.


"............"


[ Seharusnya aku sudah bersama dengan Yunifer, tapi- ] Keadaannya justru membuat dirinya semakin menjauh dengannya, ada rasa kesal juga.


" Walau jantungnya bukan disini, tapi sakit!, Hiks..."


[ Mimpi buruk? ]


" Aku....ak.. "


Tetibe Dania berhenti ( Menahan ) ber nafas untuk beberapa waktu karena efek dari mimpinya yang sedang dalam konsdisi susah bernafas dan...


MELEK....


" HAHHHHH..." Langsung mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


"...............! " Sepasang matanya beberapa kali mengerjapkan matanya untuk beberapa saat, tangannya ternyata sedang menggenggam tangan kiri milik Ishid.


"............! "


" Ah...maaf! " buru-buru Dania melepaskan genggamannya.


[ Ah....ingatan itu lagi, tapi kenapa sangat terasa sampai ke tubuhku?. Rasa sakitnya masih terpatri di dalam ingatan lamaku. ]


Kemudian ia berdiri dalam hal menghindari tatapannya yang sedang dalam kondisi ekspresi yang seolah-olah Dania langsung tahu apa arti tatapannya Ishid itu, yaitu...


' Apa kamu baru saja bermimpi buruk? '


Tapi tanpa melihat kondisi di sekitarnya, Dania jadi sembarangan berdiri dan akhirnya..


" Awa- " Peringatan dari Ishid jadi tak berarti karena Dania keburu berdiri


JEDUGH....


" Ahww..... " langsung berjongkok kembali karena kepalanya baru saja membentur batu yang menggantung di atasnya.


[ Aku tidak mengura dia cukup tinggi untuk sampai membentur batunya. ] prediksinya menjadi salah karena meletakkan dia disitu, yang membuat Dania membentur batu gua.


" Apa anda tidak apa-apa? "


[ Sakit banget. ] kutuk Dania pada dirinya sendiri, gara-gara gegabah alhasil jadi menyakiti dirinya sendiri.


" Sakit, tapi tidak masalah. " jawab Dania, sembari mengelus-elus rambut...


" Pendek. " baru saja ia menyadari satu hal kalau rambutnya pendek lagi.


Dalam hatinya, ia menunduk pasrah karena rambutnya jadi pendek gara-gara dia si manusia yang katanya raja iblis.


《 Memang mirip manusia, tapi termasuk ras Iblis. 》


[ Berqpa lama lagi aku harus menunggunya?, walau kepalaku jadi sedikit ringan. ] Kedua tangannya menarik rambutnya sendiri, hatinya berteriak menangis namun tidak akan ada yang akan mendengar teriakannya itu.


" Maaf, saya membuat anda ikut ke masalah saya. "


" Masalah apa? "


[ Kok dia malah tanya? ]


" Membuat anda ikut terperangkap disini. " jawab Dania agar lebih jelas maksud sari masalah yang baru saja di bawanya.


[ Memang sih-, tapi ] Melihat penampilannya Dania yang sudah acak-acakan, membuat dirinya pun sebenarnya merasa kasihan padanya. Tapi ia juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


" Tidak apa, yang terpenting kita berdua masih hidup. "


[ Apa?, berdua?.....] Dania mulai memproses otaknya.


[ Kan!....aku jadi sedikit canggung dengannya, karena dia tipe orang yang tidak ingin lepas dengan si perempuan Yunifer itu karena Ishid ini selalu ingin berduaan dengan Yunifer, apa lagi... ] Sudut matanya pun melirik Ishid dari atas sampai ke bawah.


Yah bawah... arah tatapannya pun berhenti tepat di situ. ' Itu '


[ kyaaa!, Ishid ini anjing berahi nya Yunifer. Tidak...tidak....kenapa aku jadi berada di situasi semacam ini. Kenapa aku jadi teringat hal itu terus.! ]


" Ahahhahaa.... " tertawa getir dengan kondisinya sekarang ini.


" Apa ada masalah?. "


Segera menoleh ke arah Ishid.


[ Yha!, karenamu otak aku jadi dalam mode imajinasi 18+ ]


Rasanya ingin menggigit jari tapi tidak bisa, jadi Dania kembali berdiri namun dalam kondisi berhati-hati.


" Tentu-tentu.....kita harus mencari jalan keluar. " Jawab Dania tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.


[ Aku harus membuang pikiran itu!. ] Menepuk-nepuk kepalanya.