
Mo Lian memasuki Can Qi Meiliafei dengan mudahnya dan merasakan aroma masakan yang serupa dengan milik Ibunya, meski yang memasaknya sendiri bukan Su Jingmei. Ia tahu yang memasak makanan di sini adalah orang lain, hanya saja menyesuaikan resep dari Bumi.
Dengan santainya Mo Lian melewati meja resepsionis dan menuju tangga kayu yang menghubungkan ke lantai dua. Ia mengangkat kaki kirinya dan menginjakkan kakinya di anak tangga pertama, seketika itu juga banyak cibiran dan tatapan tajam yang tertuju padanya.
"Lihat! Ada orang bodoh yang mencoba menaiki lantai dua. Kita tahu tidak sembarang orang bisa naik ke sana, kau harus memiliki identitas khusus untuk pergi ke sana." Salah seorang mencibir.
"Benar! Ada juga yang mengatakan di lantai delapan adalah orang-orang terpandang saja yang bisa pergi ke sana. Bahkan Kaisar tidak bisa pergi ke sana, dan Peri Su Jingmei selalu menolak untuk memasakkan makanan untuk mereka."
Mo Lian mengerutkan keningnya saat mendengar itu. Ibunya? Dianggap Peri? Apa ini?! Ia benar-benar tidak habis pikir apa yang selama ini dilakukan Ibunya di Bintang Utama, sampai-sampai mendapatkan identitas semacam ini dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun saja.
Kultivasi Ibunya juga terlihat sudah menembus Alam dan Manusia tahap Menengah, dengan Ayahnya merupakan Jiwa Emas tahap Awal.
"Tapi, sangat disayangkan Peri Su Jingmei sudah memiliki suami. Mereka juga berasal dari Sekte Zhongjian, jika tidak, aku ingin mengambilnya dari laki-laki lema—"
Pria berotot kekar dengan kulit cokelat dihentikan berbicara oleh pengunjung di sebelahnya.
Mo Lian yang mendengar itu benar-benar ingin datang dan membunuhnya. Tapi, tidak ada tapi-tapian. Mo Lian datang menghampiri pria berotot itu. "Tadi kau mengatakan apa?"
Pria berotot dengan rambut hitam pendek itu melepaskan tangan pengunjung lain dari bibirnya, kemudian berdiri menatap tajam Mo Lian yang lebih rendah darinya. "Ada apa? Apakah kau penggemar Mo Qian? Aku akan membunuhnya dan mengambil Su Jingmei, bahkan Mo Fefei dari Paviliun Fei Xiao— Aarrgghh!"
Dalam sekejap tanpa memberikan kesempatan untuk melawan dan yang lain juga terlambat bereaksi, Mo Lian sudah mematahkan lengan dan kaki pria berotot itu.
Seketika itu juga penjaga di depan Can Qi Meiliafei datang ke dalam. "Apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau tidak tahu Can Qi Meiliafei berada dibawah perlindungan dari Sekte Zhongjian?!"
Mo Lian menoleh sekilas, kemudian mengalihkan perhatiannya pada pelayan yang berdiri di tangga. "Beri tahu Aya— Mo Qian dan Su Jingmei untuk turun, aku tahu mereka berdua berada di lantai sembilan. Bilang saja, pemuda tampan telah datang!"
Pelayan wanita itu nampak enggan, namun karena tatapan tajam Mo Lian, ia berlari ke lantai atas.
Pengunjung lain di sini terlihat gemetar saat merasakan aura Mo Lian, bahkan dua penjaga Ranah Alam dan Manusia tahap Akhir tidak bisa menahannya. Tapi, cibiran dan hinaan masih saja tersenyum, mereka mengutuk Mo Lian yang akan mati hari ini juga.
"Siapa yang mencari masalah di tempatku?!"
Telinga Mo Lian sedikit berkedut saat mendengar suara keras yang sangat ia rindukan, ini adalah suara Ayahnya.
Pembicaraan kembali terdengar saat melihat sepasang kekasih yang turun bersamaan, lalu ada empat wanita muda di belakangnya yang tidak lain adalah Qin Nian, Yun Ning, Ong Hei Yun dan Hu Lan Yue. Keributan terjadi, tidak ada yang pernah berharap akan melihat 4 Dewi Kecantikan dari Sekte Zhongjian di satu tempat.
Mo Lian menoleh perlahan dengan membalikkan tubuhnya mengarah ke kiri belakang, menghadap pada tangga kayu. "Aku."
Langkah Mo Qian dan yang lain terhenti, dengan tubuh mereka yang bergetar.
Melihat itu, semua orang sangat yakin jika Mo Qian sangat marah. Identitas Mo Qian sebagai Murid dari Leluhur Hong sudah tersebar, dan jika ada yang mencari masalah, maka orang itu tidak akan bisa selamat dan memilih untuk mati ketimbang hidup.
Ketika semua orang sudah melihat Mo Lian sebagai mayat, tiba-tiba ada tindakan yang tidak pernah mereka harapkan. Su Jingmei berlari menuju Mo Lian, kemudian memeluk erat tepat di depan Mo Qian. Ini merupakan tindakan yang tidak beradab karena memeluk pria lain, meski sudah bersuami.
"Lian'er ..."
Mo Lian mengusap punggung dan tengkuk Ibunya. "Sudah sangat lama sekali ya, Ibu. Aku juga merindukan Ibu, hampir tiga tahun kita tidak bertemu ..." Ia mendongak menatap Mo Qian yang juga datang. "Ayah, aku tidak menyangka Ayah akan memiliki kedudukan seperti ini."
Mo Qian mengangkat tangan kirinya dan mengusap-usap kepala Mo Lian. "Anak nakal, mengapa kau tidak langsung datang saja ke atas dan malah membuat keributan di sini."
Qin Nian, Yun Ning, Ong Hei Yun dan Hu Lan Yue juga datang menghampiri, kemudian membungkukkan badan mereka dengan menangkupkan kedua tangan. "Salam hormat, Master. Kami sudah menunggu kedatangan Anda."
Ini, apa? Semua orang benar-benar dikejutkan dengan apa yang mereka lihat. Mereka tidak mengetahui jika pemuda yang datang ternyata anak dari Mo Qian dan Su Jingmei, kemudian 4 Dewi Kecantikan yang anggun dan sombong, yang menolak semua Penatua yang mencoba mengangkat mereka menjadi murid, ternyata sudah memiliki Masternya sendiri.
Tapi, ini semua belum berakhir. Dari pintu masuk terdengar keributan.
Mo Lian juga melepaskan pelukannya saat mendengar keributan itu dan menoleh ke arah pintu. Ia bisa melihat wanita muda berambut hitam berkilau, ada hiasan bunga di rambutnya.
Wanita itu mengenakan pakaian berwarna hijau muda, sepasang gelang giok di pergelangan tangan. Wajahnya terlihat halus seperti sutra, cantik seperti permata, bibir merah merona seperti delima. Wanita itu adalah Hong Xi Ning, Matriak Sekte Zhongjian dan Kultivator terkuat di Galaxy Pusat.
Kemunculan Hong Xi Ning sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah terjadi. Bukan hanya itu saja, di sebelah kanan belakang ada pemuda berambut biru muda seperti langit dengan warna mata yang sama, mengenakan pakaian putih dengan jubah biru dan membawa kipas tangan.
Kedua orang itu merupakan Mang Xian Guo, Murid Pertama dan Xia Xinxin, Murid Kedua.
Mo Lian sedikit terkejut saat melihat Masternya. Ia memang sengaja tidak datang ke Sekte Zhongjian agar tidak menimbulkan kegemparan, tapi ternyata Masternya sendiri yang datang kemari, artinya, ia tidak bisa lagi menyembunyikan identitasnya.
Mo Lian menghampiri Hong Xi Ning dan berlutut dengan lutut kiri menyentuh lantai. Ia sedikit membungkuk seraya menangkupkan kedua tangan, dan terlihat ada Plat Giok berwarna hijau dengan tulisan berwarna emas '中间', dan di belakangnya bertuliskan '三'.
"Salam hormat. Murid Ketiga, Mo Lian datang menemui Master Hong Xi Ning."
Apa lagi ini?! Keterkejutan terlihat jelas di wajah semua orang.
Mo Lian berdiri setelah mendapatkan izin dari Hong Xi Ning, kemudian ia menoleh ke kiri dan kanan menatap Mang Xian Guo dan Xia Xinxin secara bergantian. "Salam Senior ..."
Mang Xian Guo mengerutkan keningnya, kemudian memegangi pundak Mo Lian dan menatap wajah Mo Lian dari dekat. "Apakah aku mengenalmu?" Ia mengusap dagunya pelan. Kemudian mundur seraya mengangkat kedua bahu dan merentangkan kedua tangan. "Ah! Biarlah, sekarang, bagaimana jika kita meminum arak bersa ... ma ..."
Mo Lian mengencangkan bibirnya memberi tanda pada Mang Xian Guo untuk diam, dan sesekali juga melirik ke arah Hong Xi Ning.
Xia Xinxin sedikit kaget saat mendengar ajakan Mang Xian Guo, karena tidak sembarang orang dapat minum arak bersama. Lalu siapa saja yang diajak minum bersama, secara tidak langsung sudah dianggap sebagai keluarga. Tapi, saat ia menatap Mo Lian, entah mengapa ia juga merasa akrab.
Hong Xi Ning melirik ke kanan. "Aku akan melupakan hal ini, tapi jangan pernah biarkan aku mendengar jika kau masih saja meminum arak," ucapnya yang kemudian berjalan menghampiri Mo Qian dan Su Jingmei. "Salam, Paman, Bibi."
Karena Mo Qian adalah Murid dari Ayahnya, sudah sewajarnya Hong Xi Ning memanggil Mo Qian dengan sebutan Paman, meski ia memiliki identitas dan kedudukan yang lebih tinggi.
Mo Qian dan Su Jingmei tersenyum ringan menanggapi salam dari Hong Xi Ning.
Hong Xi Ning menoleh ke belakang melihat ketiga muridnya. "Ada sesuatu yang ingin aku bahas, ayo kita pergi ke lantai teratas." Setelah mengatakan itu, ia menoleh ke arah 4 Dewi Kecantikan. "Kalian juga ikut."
Kelompok sepuluh orang itu naik bersama ke lantai atas. Namun baru saja melangkah, terdengar suara teriakan kesal dari arah pintu.
"Kakak sialan! Kenapa kau tidak mendatangi Fefei?!"
Mo Lian menoleh ke arah sumber suara, terlihat wanita berambut hitam kecokelatan dengan warna mata hitam berkilau. Kulit halus bagaikan sutra, bibir merah merona yang indah. Tapi, wajahnya terlihat sangat kesal, bahkan langkah kakinya juga berat dan mencetak jejak kaki pada lantai.
Wanita yang tidak lain adalah Mo Fefei itu mengenakan Hanfu Tradisional berwarna merah muda bercampur putih, dengan selendang berwarna putih yang menggantung di dua pundaknya melewati leher.
Dewi Alkemis juga datang?!
Dalam waktu semenjak berpisah dengan Mo Lian, Mo Fefei selalu berlatih Alkimia, mengikuti semua petunjuk dari Kakaknya, dan saat ini sudah berhasil menyuling Pil tingkat 6, meski dengan 20% kemurnian.
Mo Lian membuka kedua tangannya dan memeluk erat Mo Fefei. "Apakah begitu caramu menyapa Kakakmu sendiri?"
"Humph!" Mo Fefei mendengkus kesal dan memalingkan wajahnya dari tatapan Mo Lian. Namun detik berikutnya ia membenamkan wajahnya di dada Mo Lian. "Kakak sialan ..."
Jauh di luar Can Qi Meiliafei, ada kelompok pemuda yang dipimpin oleh pemuda berambut hitam yang mengenakan pakaian abu-abu penuh hiasan, dan menggunakan hiasan hanfu untuk mengikat rambut hitamnya.
Pemuda itu adalah anak dari Penatua Jia, dan orang yang selalu menganggu Mo Fefei sampai saat ini. "Sialan! Aku harus melaporkan hal ini pada Ayah ..."
Mo Lian menyadari ada yang mengawasinya dari luar. Ia hanya tersenyum ringan, kemudian membawa Mo Fefei naik dengan cara menggendongnya di lengan kiri. Ini benar-benar terlihat seperti menggendong anak berusia lima tahun, namun Mo Fefei tidak ada rasa malu atau tidak nyaman, ia sangat menyukai duduk di lengan Mo Lian.
Kemudian, semua pengunjung di lantai dasar benar-benar mematung tidak habis pikir.
Terlebih lagi pria berotot yang anggota tubuhnya telah patah, ia benar-benar pucat seperti orang mati. Bukan hanya menyinggung perasaan Mo Qian yang merupakan satu-satunya Murid Leluhur Hong, ia juga menyinggung Mo Lian yang merupakan Murid Ketiga Hong Xi Ning.
...
***
*Bersambung...