Kekasihku, Suami Ibuku

Kekasihku, Suami Ibuku
Bab 18 Luka lama


Lembaran kertas berserakan di atas meja kerja seorang perempuan itu, terlihat dia benar-benar terlihat stres dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya itu. Terlebih dia memikirkan masalah rumah tangga nya yang sedang berantakan itu.


"Shh," ringis perempuan itu


"Sela...," lanjut perempuan itu memanggil karyawan nya


"Bu Anita! Ya ampun ibu kenapa?" tanya Sela kepada Anita, ya wanita itu Anita saat ini dia sedang berada di butik miliknya. Namun tiba-tiba perut nya terasa sakit.


"Perut saya sakit Sela, bisa tolong bantu saya ke rumah sakit, shh," ujar Anita


"Bisa. Sebentar saya telepon dulu supir untuk bantu bawa ibu ke mobilnya, ibu tahan ya," lontar Sela


Anita tidak menjawab perkataan Sela dia memejamkan mata nya saat sakit di perut nya terasa kembali. Dia takut anaknya kenapa-kenapa, karena memang akhir-akhir ini perutnya sering terasa nyeri namun nyeri yang bisa masih di tahan. Tapi kali ini rasa nyeri yang di rasa terasa lebih sakit.


"Ayo Bu saya bantu jalannya."


Anita pergi ke rumah sakit bersama dengan sela, untuk memeriksa kondisi kandungan nya. Sepanjang perjalanan Anita tidak henti-hentinya berdoa dan mengusap perut buncit nya itu. Dia berharap anak di dalam kandungan nya baik-baik saja.


*


LLCAFE


Disini lah Siren berada sekarang, setelah menghadiri acara di sekolah Lio. Siren pergi ke cafe Lio untuk makan, karena tadi dia tidak sempat untuk sarapan. Kali ini dia di traktir oleh Lio, sebagai tanda terima kasih karena sudah mau menjadi Wali murid dan hadir ke sekolah.


"Tada. Ini dia menu spesial untuk seseorang yang spesial juga hehe," kekeh Lio tiba-tiba


"Wah, menggiurkan sekali ini," ujar Siren


"Di makan ya Mbak, semoga suka. Aku izin dulu ke ruangan mau cek beberapa data cafe ini," pamit Lio, Siren menganggukkan kepalanya lalu kembali melanjutkan makannya. Saat sedang asik makan tiba-tiba handphone nya berbunyi, nama Mbak Sela tertera di layar handphone. Ada keperluan apa Sela menelpon nya tidak biasanya dia menelpon jika tidak ada hal penting.


"Hallo. Kenapa, Mbak?" tanya Siren


"Siren. Kamu bisa ke Rumah Sakit Pelita sekarang," jawab Sela, terdengar nada panik di sebrang sana


"Siapa yang sakit Mbak? Kayaknya panik banget," tanya Siren kembali


"Ibu Anita Mbak. Tadi perut nya tiba-tiba sakit dan sekarang sedang di periksa dulu sama dokter," ujar Sela


"Udah di periksa sama dokter kan? Pasti Mama gak papa. Mbak coba hubungi Kak Saga, suami Mama, maaf banget Siren gak bisa datang ke sana, ini lagi ada acara yang gak bisa aku tinggal Mbak," jelas Siren, berbohong sedikit tidak papa kan? Dia belum siap jika harus bertemu kembali dengan Mama nya itu.


"Mbak udah coba hubungi Mas Saga, tapi gak di jawab," ucap Sela di sebrang sana


"Yaudah Mbak hubungi lagi aja Kak Saga sampai ada jawaban. Maaf Mbak aku tutup telpon nya, aku lagi sibuk." Siren segera mematikan telpon nya tanpa menunggu balasan dari Sela.


Mood Siren untuk makan jadi hilang, padahal tadi dia sangat lapar tapi saat Sela menelpon rasa laparnya tiba-tiba hilang begitu saja. Siren sebenarnya mengkhawatirkan keadaan Anita saat ini, tapi rasa kecewa dia kepada Mama nya saat ini lebih besar di banding dengan rasa khawatir nya. Mungkin saat kecil dulu Siren masih bisa memaafkan sikap Mama nya itu dan bisa berdamai kembali dengan keegoisan Anita.


Tapi untuk kali ini sulit bagi Siren untuk memaafkan sikap Anita. Siren pikir Anita sudah berubah, karena dulu Mama nya itu mana peduli dengan keadaan Siren, Siren selalu di abaikan oleh Anita, bahkan saat dulu Siren butuh wali murid untuk mengambil raport di sekolah Anita selalu menolaknya bahkan memarahi Siren karena selalu mengganggu waktu kerja Anita. Namun secara tiba-tiba sikap Anita berubah saat Siren memperkenalkan Saga sebagai kekasihnya. Siren pikir Mama nya itu mungkin sudah berubah tapi kenyataannya sekarang. Ah luka lama Siren terbuka kembali.


...,


"Mam, ada surat dari sekolah. Besok ada rapat semua wali murid baru, Mama bisa hadir kan?" tanya Siren


"Mama sibuk. Gak ada waktu untuk hal gak penting kaya gitu," jawab Anita seraya pergi meninggalkan Siren


"Tapi Mam, rapat ini penting. Kalau Mama gak hadir nanti siapa yang bakal jadi wali murid aku? Rapat kali ini juga ngebahas semua biaya sekolah dari awal masuk sampai lulus Mam," jelas Siren.


Anita yang mendengar itu menghentikan langkah nya lalu berbalik menghadap Siren, dia menatap Siren dengan senyum di bibirnya. Siren pikir Mama nya itu akan setuju untuk pergi ke sekolah. Namun saat Anita meminta Siren untuk mendekat ke arah nya dengan tiba-tiba Anita...,


Plak.


Ya Anita menampar Siren dengan keras, lalu mencekam dagu Siren dengan keras.


"Anak tidak tahu di untung! Yang ingin melanjutkan sekolah itu kamu bukan Saya! Dari awal saya tidak pernah sekalipun berkata akan membiayai sekolah kamu. Jadi kamu biayai semua sekolah kamu itu. Jika memang tidak mampu lebih baik kamu tidak perlu lanjut sekolah paham?!" sentak Anita lalu mendorong Siren sampai kepala Siren terbentur Keras ujung meja di ruang telivisi.


Siren tertunduk menangis kenapa Mama nya sangat kejam sekali, dia hanya minta Mama nya itu hadir di sekolah sebagai wali murid itu saja tidak lebih. Dan untuk biaya Siren tahu jika Mama nya itu tidak akan membiayai nya, jadi dia memutuskan untuk bekerja paruh waktu dan membuka jasa lukisan.


...,


"Mbak Siren kenapa?" tanya Lio seraya


menepuk bahu Siren


Siren tersentak saat tiba-tiba ada yang menepuk bahunya, dia melihat ada Lio yang sedang berdiri di hadapannya. Siren segera menghapus air matanya lalu tersenyum kepada Lio.


"Eh Lio, ya ampun Mbak kira siapa tadi hehe," kekeh Siren


"Mbak lagi ada masalah?" tanya Lio memastikan


"Ah enggak, emang nya kenapa Lio?" Siren balik bertanya


"Itu Mbak nangis. Atau Mbak sakit? Kenapa Mbak? mana yang sakit!" ujar Lio heboh, hal itu membuat Siren tertawa Lio ini benar-benar bisa merubah mood Siren yang sedang hancur itu.


"Kamu ini. Mbak gak papa, tadi Mbak abis nonton Drakor sedih banget, ending nya pemeran utama meninggal," jelas Siren berbohong


"Oo gitu. Aku kira Mbak tuh kenapa soalnya merah banget itu sama hidung sampe kaya badut," jahil Lio


Siren melotot tidak terima saat Lio mengatakan jika dia seperti badut. Enak aja cantik gini di sebut badut. Siren bersyukur bisa bertemu dengan Lio, bocah SMA yang bisa menghibur hari-hari nya.


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like, komen dan subscribe ya maaciww 💙