Kekasihku, Suami Ibuku

Kekasihku, Suami Ibuku
Bab 14 Pertemuan berujung pertengkaran


"Loh, Ayah kok ada di sini? Bukannya Ayah pergi ke Yogyakarta ya?" Siren menatap Bagas bingung seraya bertanya


"Itu kan kemarin, tadi pagi Ayah sampai di sini," jelas Bagas


Anita yang hanya menyimak obrolan antara Ayah dan anak itu, meskipun dalam hati dia bertanya-tanya mengapa Siren tidak terkejut saat melihat Bagas datang secara tiba-tiba.


"Anita. Apa kabar?" tanya Bagas


Anita tersentak saat mendengar suara Bagas memanggil namanya, pergi dari rumah niatnya untuk menjernihkan pikiran, tapi sepertinya saat ini keadaan sedang tidak berpihak kepada Anita. Justru sekarang dia sedang di hadapan kan dengan dua orang yang dulu dia sangat sayangi. Ingat itu dulu.


"Hm, baik."


Bagas tersenyum, karena setelah sekian lama akhirnya bisa mendengar suara Anita kembali, meskipun dengan nada yang acuh. Bagas duduk bangku kosong yang berada di samping Anita, dimana itu membuat Anita menggeser kan bangku yang sedang dia duduki.


"Wah, kita udah kaya keluarga lengkap ya," seru Siren, Anita yang mendengar penuturan itu, menatap Siren dengan tajam, sedangkan Bagas hanya tersenyum lalu mengusap kepala Siren sayang.


"Haha keluarga lengkap? Itu hanya dalam mimpi mu Siren."


Siren hanya mampu tersenyum getir saat mendapatkan jawaban dari sang Mama, padahal dia hanya ingin bergurai saja, agar suasana tidak terlalu kaku.


"Aku sadar diri kok Mam, gak mungkin keluarga kita bisa lengkap kembali."


"Bagus lah. Oh iya ingat perkataan saya tadi jauhi Saga, atau kamu tau akibatnya," ucap Anita angkuh


Siren tidak menjawab perkataan Anita dia hanya menatap Mama nya itu dengan tatapan yang sangat tajam. Siren tidak mengerti kenapa Mama nya berubah menjadi seperti ini, saat awal menikah dengan Saga, Anita masih bersikap seperti biasa bahkan sering merasa bersalah karena telah menghancurkan hubungan antara dia dan Saga. Tapi sekarang lihat, Anita seperti terobsesi dengan sosok dosen Muda itu.


"Terobsesi dengan dosen itu hah? Emang cocok si ya pelakor dengan laki-laki gila wanita."


Anita menggeram marah mendengar ucapan Siren, jika sekarang bukan di tempat umum dan tidak ada Bagas, sudah dia pastikan Siren menyesali ucapannya. Namun sayang Bagas memperhatikan, dia tau betapa sayang nya Bagas kepada Siren. Meskipun Bagas pernah meninggalkan mereka, tapi Siren tetap menjadi anak kesayangan Bagas. Karena Siren memang anak yang sangat Bagas tunggu kehadirannya.


"Kalian sebenarnya ada masalah apa? Siren tidak baik kamu berbicara seperti itu kepada Mama kamu sendiri," tegur Bagas


"Biarin aja kali Yah, emang dia masih menganggap aku anaknya, kayaknya sih enggak ya," sindir Siren


Anita menggerbak meja, dia sudah tidak bisa menahan emosi nya, mendengar setiap ucapan Siren. Siren terkekeh melihat Anita, Siren hanya melanjutkan apa yang Anita mulai tadi, dari awal Siren hanya ingin mengobrol santai dengan Mama nya itu, tapi Anita malah bersikap seperti itu.


"Stop Siren! Saya hanya memperingati kamu untuk tidak mendekati suami saya lagi!" tegas Anita


"Suami anda yang mendekati saya. Lagian untuk apa saya mendekati laki-laki yang sudah mengkhianati hubungan yang sudah terjalin lama. Dan ya ingat satu hal! Anda yang merebut bukan Saya!" jawab Siren tegas


Bagas yang memperhatikan perdebatan antara ibu dan anak itu benar-benar membuat kepala nya sakit. Dia segera melerai perdebatan itu tanpa memihak salah satu dari mereka.


"BERHENTI! Siren duduk. Kamu juga Anita duduk!"


Siren dan Anita menuruti perintah Bagas untuk duduk, mereka terus saling menatap tak suka. Bagas yang melihat nya hanya bisa menghela nafasnya, dan mulai menceramahi mereka berdua.


"Kalau ada masalah itu di bicarakan baik-baik dan dalam keadaan kepala dingin. Apalagi kalian ini sepasang Ibu dan anak. Tidak pantas sama sekali jika bertengkar sampai seperti tadi," saran Bagas


Siren tidak menanggapi penuturan Bagas, dia lebih memilih untuk memakan cake yang dia pesan tadi. Dan Anita dia berdiri dari duduknya setelah mendengar penuturan Bagas.


"Saya pamit," ujar Anita


Anita pergi begitu saja dari hadapan Siren dan Bagas. Siren hanya mengangkat bahu nya acuh, biarkan saja Mama nya itu pergi. Rasa rindu Siren tiba-tiba saja hilang saat mendapat perlakuan tidak baik dari Mama nya itu.


"Kamu sebenarnya ada masalah apa sih Siren, sama Anita? tanya Bagas


"Jangan bohong kamu sama Ayah! Ayah tau ini bukan masalah sepele, terlebih saat Anita bicara jangan mendekati suaminya."


Siren menghentikan kegiatan makan nya, lalu menatap Bagas yang sedang memandang nya dengan tatapan menuntutnya.


"Mama nikah sama pacar aku Yah," ujar Siren


Bagas mencerna ucapan Siren terlebih dahulu, apa katanya nikah dengan pacar Siren. Apa dia tidak salah dengar? Anita menikah dengan pacar anaknya sendiri. Benar-benar Anita ternyata sikap nya dari dulu tidak pernah berubah.


"Ayah gak salah dengar kan Siren? Anita menikah dengan laki-laki yang berstatus pacar kamu?" Bagas bertanya kembali untuk memastikan ucapan Siren.


"Iya, kira-kira udah satu bulan yang lalu. Dan ini juga alasan kenapa aku tinggal di apartemen sendiri," ungkap Siren


"Ayah ingin bertemu dengan laki-laki itu."


"Maksud Ayah suami Mama? Kak Saga?" tanya Siren


"Oh ternyata namanya Saga. Kok gak asing ya namanya," ucap Bagas


"Ayah pernah bertemu dengan Kak Saga, waktu di rumah sakit. Laki-laki yang Ayah bilang pacar aku."


"Jadi dia...,"


*


"Woy Lio, Dateng juga Lo. Gue kira Lo gak di kasih izin nyokap."


Lio hanya tertawa menanggapi ucapan teman nya itu, ah dia lupa belum memberi tahu jika saat ini dia tinggal di apartemen sendiri.


"Udah pesen?" tanya Lio


Teman-teman Lio menggeleng kan kepalanya serentak, Lio yang melihat respon itu hanya menatap heran teman-teman nya. Kenapa tidak memesan dari tadi saja. Lalu Lio segera memanggil waiters untuk memesan.


"Ada yang perlu saya bantu bos kecil?" tanya waiters itu, panggil saja Aji.


"Please deh Mas Ji jangan panggil gue bos kecil. Gue udah gede tau!" Aji dan teman-teman Lio tertawa mendengar ucapan Lio


"Yaudah Sorry, mau pesen apa Adelio?" tanya Aji kembali


"Makanan yang biasa kita pesen aja Mas, bayar nya pake kartu yang biasa juga ya," ujar Lio


"Oke siap!"


Lio dan teman-teman nya sedang mengerjakan tugas sekolah di cafe milik Lio. mereka memang sering kumpul di cafe Lio karena mereka berfikir dari pada keluyuran gak jelas lebih baik nongkrong di cafe sambil mengerjakan tugas sekolah. Tugas selesai perut pun kenyang.


Lalu Aji adalah salah satu orang kepercayaan Ayah Lio untuk memantau kegiatan Lio sekaligus mengurus cafe milik Lio saat anak itu berada di sekolah.


"Saya pesan green tea hangat satu ya."


Lio tersentak saat mendengar suara yang familiar di telinga nya. Suara itu sepertinya nya wanita yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya.


"MBAK SIREN!"


BERSAMBUNG...