
Siren berdiam diri di balkon kamar apartemennya sendiri. Dia mengingat kembali penjelasan Saga tadi siang, rasanya Siren tidak ingin percaya dengan setiap perkataan Saga, namun saat Saga memperlihatkan bukti berupa foto yang membuat Siren mau tak mau percaya dengan kenyataan yang lebih pahit dibandingkan dengan kenyataan Mamanya menikah dengan kekasihnya. Pikiran nya tidak bisa diam saat ini pikirannya kembali mengingat obrolannya bersama Saga.
........,
"Malam itu, tepat pukul 8 malam Kakak pergi ke rumah Om Wahyu, saat itu Kakak tidak tahu jika di rumah Om Wahyu sedang kedatangan tamu. Yang mana tamu itu adalah Mama kamu, aku yang saat itu memang tidak tahu apa-apa hanya tersenyum saat melihat ada tamu. Tapi drama itu di mulai Siren...," Saga berhenti sejenak saat waiters mengantarkan pesanan makanan
"Terima kasih," ucap Siren kepada waiters itu.
"Drama apa maksud Kakak?" lanjut Siren bertanya
"Om Wahyu itu sudah memiliki istri. Mereka sudah menikah 15 tahun, tapi tuhan belum memberikan keturunan satupun, Om Wahyu menjalin hubungan bersama Mama kamu Siren tanpa di ketahui istrinya, sebut saja Om Wahyu selingkuh. Mama kamu tau jika Om Wahyu sudah memiliki istri tapi dia tidak mempersalahkan itu, karena memang niat dia hanya ingin memiliki teman yang bisa mengerti keadaan nya, namun suatu hari...," Saga diam menjeda ucapan nya
"Kamu pernah liat Mama kamu pulang larut malam?" tanya Saga sebelum melanjutkan penjelasannya, Siren berfikir sejenak. Dia ingat saat itu dia baru saja menyelesaikan tugas kuliah nya tepat pukul 1 dini hari, dia sebenarnya menunggu Mama nya pulang, tapi sampai larut malam itu Mama nya tidak kunjung pulang juga. Dia berfikir mungkin Mama nya menginap di rumah temannya, namun saat dia akan mengunci pintu depan terdengar suara ketukan pintu dan ternyata itu adalah Mama nya.
"Iya pernah, waktu itu Mama pulang jam 1 malam. Tapi keadaan Mama memang kelihatan agak berantakan, aku juga sempat nanya Mama kenapa, tapi Mama cuma ngejawab kalo lagi stres aja sama kerjaan di butik," jawab Siren
"Tepat malam itu, Mama kamu pergi ke salah bar bersama Om Wahyu. Mereka melampiaskan semua masalahnya dengan minum sampai kesadaran nya tidak terkendali. Karena efek alkohol mereka melakukannya. Tidak ada paksaan dari salah satu pihak itu memang keinginan mereka yang memang sedang dalam pengaruh alkohol," jelas Saga
Siren terdiam mendengar penjelasan Saga, Mama nya yang selama ini selalu melarangnya untuk pergi ke tempat terlarang itu, tapi kenapa Mama nya itu malah yang pergi ke tempat terlarang itu bahkan sampai melakukan hal yang tidak senonoh.
"Kamu gak lagi ngarang cerita kan, Kak?" Siren bertanya seperti itu karena memang sulit bagi dia mempercayai nya.
"Buat apa aku mengarang cerita Siren, aku punya bukti kalau emang kamu gak percaya, sebentar," jeda Saga, Saga mencari sesuatu di handphone nya, cukup lama Siren menunggu Saga, dia memperhatikan Saga yang sedang sibuk mencari sesuatu di handphone itu. Kenapa Saga tampan sekali, ah kenapa dia berfikiran seperti itu. Fokus Siren fokus.
"Nah ketemu!" sentak Saga
Siren tersadar dari lamunan nya saat mendengar suara Saga. Dia segera menetralkan raut wajah nya, lalu memperhatikan Saga yang mulai memperlihatkan bukti yang berupa foto kepadanya.
"Kamu lihat ini. Ini pelukan terakhir mereka saat akan berpisah, dan kamu tau? Anak yang di kandung Mama kamu setelah lahir akan di ambil oleh Om Wahyu dan istrinya."
"Maksud kamu?" tanya Siren tidak mengerti.
Saga menatap Siren dengan pandangan bersalah, seharusnya dia tidak menjelaskan semua nya kepada Siren saat ini. Siren terlihat lebih kurus di banding saat terakhir mereka bertemu.
"Gini, Om Wahyu dan istrinya Tante Reni akan mengambil anak itu jika sudah lahir, karena dari awal Tante Reni memang mengetahui jika mereka menjalin hubungan, namun Tante Reni bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Tepat dimana Mama kamu datang ke rumah Om Wahyu, meminta pertanggung jawaban, membuat Tante Reni memanfaatkan keadaan dan memberikan pilihan kepada Mama kamu dan Om Wahyu," ucap Saga
"Pilihan apa?" Siren bertanya kembali
Saga menjelaskan semua itu seraya menundukkan kepalanya, karena dia tidak ingin melihat Siren yang saat ini pasti sedang menahan tangisannya.
Siren tertunduk saat mendengar ucapan Saga, kenapa Mama nya itu bertindak sejauh ini. Dan kenapa Mama nya itu tidak menceritakan semua masalahnya, jika saja Mama nya itu menceritakan permasalahan nya itu kepada Siren, mungkin Siren bisa membantunya.
"Terus Mama mengambil pilihan kedua bukan begitu Kak? Menikah dengan orang lain dan memberikan anaknya jika sudah lahir, iyakan?" tanya Siren untuk kesekian kalinya
"Iya. Mama kamu, Anita tidak ingin memberikan semua aset nya kepada Tante Reni, dan juga tidak ingin menggugurkan kandungan nya lalu pergi dari kota ini. Jadi dia lebih memilih menikah dengan orang lain meskipun Anita harus memberikan anaknya. Setidaknya dia masih bisa melihat tumbuh kembang anaknya walaupun bukan dia yang mengurus nya," lanjut Saga menjelaskan
"Pertanyaan aku yang terakhir. Kenapa harus Kak Saga yang menikah dengan Mama dan Kenapa juga Kak Saga tidak menolak saat itu HAH KENAPA KAK!?" teriak Siren tepat di hadapan Saga
"Tenang Siren, tenang. Kamu udah janji untuk bisa dewasa menyikapi masalah ini," timpal Saga
Siren memejamkan matanya, lalu mulai mengatur emosi nya. Dia tidak tau harus bagaimana karena semuanya terjadi secara tiba-tiba.
"Gimana udah tenang?" tanya Saga, Siren menganggukkan kepalanya. Saga tersenyum lalu kembali menjelaskan semuanya kepada Siren.
"Kenapa aku? Karena saat itu aku memiliki tanggung jawab terhadap Tante Reni. Tante Reni merupakan adik dari Ayahku Siren, saat itu Ayah sedang kritis di rumah sakit, Ayah kecelakaan dan membutuhkan banyak darah. Golongan darah Ayah dan aku tidak sama. Dan hanya Tante Reni yang bisa menolong Ayah...," Saga menjeda ucapan nya.
"Tapi semua itu tidak gratis. Tante Reni memberikan syarat agar aku mau menuruti semua keinginannya, dan menikahi Anita Mama kamu, itu merupakan permintaannya. Jika aku tidak menuruti keinginan Tante Reni maka kejadian Mama meninggal akan terulang kembali Siren." lanjut Saga.
"Stop Kak! Aku ngerti. Makasih penjelasannya aku pamit."
Siren pergi dari hadapan Saga. Saga tidak menahan kepergian Siren, dia tau saat ini Siren sedang meredam amarahnya. Sama hal sepertinya dia juga saat ini sedang menenangkan pikirannya.
....,
Pluk.
Siren tersentak saat kepala nya di lempari benda. Siren mencari keberadaan orang yang sudah melempari kepalanya. Saat dia melihat ke samping, terlihat seorang pria yang sedang memainkan gitar seraya memakan kacang, ah ternyata Siren dilempari oleh pria itu menggunakan kulit kacang.
"Ngelamun mulu, kesambet mbak Kun yang lagi nongkrong di sana baru tau lo."
BERSAMBUNG...