
Setelah mengantar Zia. Arga melajukan mobilnya ke kantor. Tapi sejenak dia mengingat undangan Lidia, pada kedua orang tuanya.
Tadinya dia berniat untuk memberitahu kedua orang tuanya, lewat sambungan telepon. Tapi akhirnya dia memilih untuk langsung datang ke rumah orang tuanya, agar bisa menjelaskan lebih rinci semua yang terjadi padanya.
Sesampainya di rumah kedua orang tuanya, Arga langsung turun dari mobil, dan menuju ke dalam rumahnya.
"Ar," panggil Marya saat melihat Arga yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Arga yang melihat bundanya. Melangkah menghampiri bundanya. Dia langsung mencium pungung tangan bundanya.
"Kamu kapan datang dari London?" Tanya Marya.
"Kemarin bun."
"Sebenarnya ada apa, sampai kamu ke London sih, ar?" Tanya Marya menanyakan pada Arga. Marya begitu bingung kenapa Arga tiba-tiba harus ke London.
"Arga akan ceritakan bun tapi tolong bunda panggil ayah. Arga akan menceritakan pada ayah dan bunda," pinta Arga pada bundanya.
Marya yang di minta memanggilkan suaminya, melangkah menuju kamarnya, untuk memanggil suaminya.
Setelah ayah dan bundanya sudah duduk di ruang keluarga, Arga menceritakan semuanya. Dari bagaimana dirinya menjalin hubungan dengan Jesica di London. Dan menceritakan bagaimana ayah mertuanya memintanya untuk ke London.
Kedua orang tua Arga yang mendengar ucapan Arga, begitu kaget. Mereka benar-benar tidak tahu anaknya menjalin hubungan dengan Jesica. Mendengar Adhi yang begitu marah pada Arga. Tidak lantas membuat mereka marah pada Adhi. Sebagai sahabat yang sudah mengenal Adhi, mereka berdua sudah tahu bagaimana sifat Adhi.
"Apa Zia sudah tahu?" Tanya Marya pada Arga.
"Belum bun."
"Ar, bunda rasa Zia pasti akan kecewa mendengar semua."
"Arga sudah siap bun. Tapi Arga yakin, Zia akan mengahadapi ini dengan bijak."
"Semoga saja ar, bunda hanya bisa berharap pernikahan kalian akan baik-baik saja."
Arga hanya mengangguk. Dirinya juga berharap Zia akan mengerti posisinya.
Setelah memberitahu semua pada kedua orang tuanya, Arga memutuskan kembali ke kantor.
Sesampainya di kantor, Arga sudah di hadapkan dengan begitu banyak perkerjaanya.
"Ini semua dokumen yang harus loe tanda tangani," ucap Dave seraya meletakkan tumpukan dokumen di meja kerja Arga.
Arga hanya menghela nafasnya. Rasanya malas sekali melihat begitu banyak dokumen di hadapannya. Tapi tanggung jawabnya harus di jalani. Ayahnya sudah sepenuhnya menyerahkan perusahaan ini padanya. Dan Arga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Loe dah suruh orang jemput dan antar ke hotel tamu gue?" Tanya Arga pada Dave.
"Udah."
"Loe jangan lupa nanti datang ke rumah Zia," ucap Arga memberikan perintah pada Dave.
"Siap, gue akan datang buat lihat drama kalian," goda Dave.
Arga yang mendengar ucapan Dave, langsung menatap tajam pada Dave. Tapi seperti biasa, tatapan Arga tidak membuatnya getar untuk selalu mengoda temannya itu.
**
Setelah perkerjaanya selesai. Arga menjemput Zia ke butiknya. Dan melajukan mobilnya ke rumah ayah mertuanya, setelah Zia masuk ke dalam mobilnya.
Sesampainya di rumah ayah Adhi. Mereka melangkahkan kakinya menuju kamar, dan bergantian untuk membersihkan diri.
"Ayah dan bunda akan kemari, ar?" Tanya Zia saat melihat Arga keluar dari kamar mandi.
"Ya, mereka akan kemari," jawab Arga. Arga berlalu melangkah mengambil baju, dan memakainya. Setelah selesai memakai bajunya, Arga langsung menghampiri Zia, yang sedang duduk di sofa.
"Zi, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Arga menatap Zia. Arga berpikir ini saatnya dirinya mengatakan semuanya. Arga tidak mau Zia mendengar semua dari orang lain.
Zia menatap Arga yang nampak serius. Zia melihat, wajah Arga yang nampak sedang memikirkan sesuatu yang berat. Membuat raut wajahnya berbeda dari biasanya. "Apa?"
"Zi, aku akan menceritakan semua mantan kekasihku pada mu," ucap Arga memulai ucapannya.
"Dita maksud kamu?" Tanya Zia memastikan.
"Bukan."
Zia yang mendengar sanggahan Arga, hanya bisa menatap bingung. Dalam hatinya dia benar-benar baru tahu, bahwa Arga memiliki kekasih selain Dita. "Siapa?" Tanyanya ingin tahu.
"Jesica," ucap Arga menyebut satu nama yang begitu berat dia sebut.
Zia membulatkan matanya. Zia merasa terkejut mendengar nama saudara tirinya yang di sebut oleh Arga. "Apa maksudmu ar?"
"Iya zi, aku pernah menjalin hubungan dengan Jesica sewaktu di London." Dengan rasa berat akhirnya Arga menjelaskan.
Zia masih diam, rasanya dia benar-benar terkejut menerima kenyataan ini. Zia tidak menyangka bahwa Arga menjalin hubungan dengan Jesica.
"Aku benar-benar tidak menyangka jika, Jesica adalah saudara tiri mu zi."
"Kenapa kamu tidak mengatakan padaku sejak awal. Saat kamu tahu bahwa Jesica saudara tiri ku?" Zia menatap tajam pada Arga. Rasa tidak terima di hatinya membuat dirinya bertanya.
Arga melihat kemarahan dari sorot mata Zia. Arga menyadari kesalahan dirinya yang telah menyebunyikan semua ini dari Zia. "Aku tahu aku salah zi. Tadinya aku mau memberitahu dirimu. Tapi aku menunggu waktu yang tepat. Karena waktu itu ayah Adhi juga sedang sakit."
Mendengar ucapan Arga tentang ayahnya yang sakit, Zia teringat bagaimana Arga ada di rumah sakit, saat dirinya sampai di rumah sakit. "Apa kalian yang menyebabkan ayah terkena serangan jantung?" Tanya Zia ingin tahu.
"Zi, aku bisa jelaskan."
Mendapati tidak ada elakan dari Arga. Zia sudah bisa memastikan bahwa jawabannya adalah, Arga dan Jesica lah yang menyebabkan ayahnya sakit.
"Waktu itu, aku berniat menemui Jesica untuk menjauhi aku. Tapi aku tidak tahu, bahwa Jesica mengundang orang tuanya. Dan ternyata orang tuanya adalah ayahmu," jelas Arga. "Dan benar, aku lah yang menyebabkan ayah terkena serangan jantung." Arga yang mengingiat kejadian di restoran pun mengakui kesalahannya pada Zia.
Zia hanya menahan sesak di dadanya. Sekejam itu Arga, hingga melukai ayahnya.
"Tapi aku sudah jelaskan pada ayah zi. Jika aku dan Jesica hanya masa lalu. Dan ayah memintaku untuk membuktikan semua ucapanku." Arga menjelaskan pada Zia.
Zia hanya berpikir, mungkin itulah alasan Arga pergi ke London. Tapi menerima kenyataan di hadapannya, masih terasa berat untuk Zia.
Air mata Zia pun lolos dari bola mata coklat milik Zia. "Apa anak yang di kandung Jesica anakmu?" Satu pertanyaan yang lolos dari bibir Zia, saat mengetahui bahwa Arga adalah mantan kekasih Jesica
"Anak?" Arga mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti ucapan Zia.
"Iya, Jesica sedang hamil." Zia menatap pada Arga. Dalam hatinya dia hanya bisa berharap anak yang di kandung Jesica, bukan anak Arga.
"Aku tidak menghamili Jesica, zi," elak Arga.
Ada perasaan lega di hati Zia. Tapi tidak membuat dirinya, bisa semudah itu percaya dengan Arga.
"Percayalah padaku, bahwa aku tidak menghamili Jesica. Aku memang pernah tidur dengannya. Tapi aku yakin, itu bukan anakku."
Zia membulatkan kedua bola matanya sempurna. Belum hilang ke kagetan dirinya bahwa Jesica adalah mantan Arga. Sekarang Zia mendengar bahwa Arga pernah tidur dengan Jesica.
"Zi, aku mohon percayalah padaku," ucap Arga seraya membelai pipi Zia.
Tapi belum sempat tangannya sampai di pipi Zia. Zia sudah mengelak. "Jangan sentuh aku," ucapnya mundur menjauhkan wajahnya. Air mata sudah mengalir di pipinya, tanpa henti.
"Zi," panggil Arga.
"Keluar," ucap Zia membuang muka, menatap ke arah lain.
"Zi, dengarkan aku." Arga masih tetap berusaha menjelaskan semuanya.
"Aku bilang keluar dari kamarku," ucap Zia dengan menaikkan suaranya.
Ini pertama kali Arga melihat Zia benar-benar marah. Arga pun berdiri. "Aku hanya ingin kamu tahu dari mulutku sendiri zi. Karena aku tidak mau kamu mendengar seburuk apa aku, dari orang lain. Aku akan butikan padamu, bahwa aku bukan ayah anak Jesica." Walaupun Zia tidak menatapnya sama sekali. Arga tetap mengatakan apa yang ada di hatinya.
Arga pun memilih keluar, dari kamar dan memberikan waktu sendiri untuk Zia. Arga menuruni anak tangga, tapi dari kejauhan Arga melihat Kedua orang tuanya sedang berbincang dengan mertuanya.
"Ayah dan bunda sudah datang?" Tanya Arga seraya melangkah menghampiri kedua mertuanya. Arga langsung mencium tangan ayah dan bundanya.
"Iya, kami baru saja datang," ucap Marya. "Zia mana?" Tanya Marya yang melihat Arga turun sendiri.
Arga dan kedua orang tua Arga pun duduk di sofa ruang keluarga. Tapi baru saja mereka berbincang. Lidia dan Jesica menghampiri mereka.
"Jeng Marya," sapa Lidia seraya menautkan pipinya di pipi Marya. "Sudah lama?" Tanyanya pada Marya.
"Belum jeng."
"Ya sudah ayo, kita makan sekarang." Lidia mempersilakan para tamu dan anggota keluarga untuk makan malam.
Arga yang mendengar Lidia mengajak untuk makan pun, memilih izin untuk memanggil Zia. Arga masuk ke dalam kamar dan tidak mendapati Zia.
Tapi saat dia melangkah lebih dalam ke kamar. Arga melihat Zia yang baru saja keluar dari kamar mandi. Arga melihat wajah Zia yang basah. Dan Arga tahu, bahwa Zia baru saja membasuh wajahnya. "Semua orang sudah siap untuk makan malam."
Mendengar ucapan Arga. Zia tidak menjawab dan berlalu begitu saja melewati Arga, dan keluar dari kamar.
Sesampainya di meja makan. Zia menyapa mertuanya dan anggota keluarga yang lain. Zia duduk di sebelah Arga dan berhadapan dengan Jesica. Rasanya masih terasa sakit, mendengar kenyataan ternyata suaminya pernah menjalin hubungan dengan saudara tirinya. Tapi Zia berusaha menutupi kesedihannya di hadapan semua orang, apalagi di hadapan ayahnya. Zia tidak mau menambah beban pikiran ayahnya, dan akan membuat ayahnya sakit kembali.
Setelah Zia dan Arga datang, akhirnya mereka semua memulai makan malam.
"Sekarang kegiatan kamu apa Jesica?" Tanya Marya pada Jesica, di sela-sela makan.
"Saya baru hari ini berkerja di kantor Papa Adhi, tante," jawab Jesica.
Marya hanya tersenyum, mendengar ucapan Jesica. Dalam batinnya, Zia jauh lebih cocok untuk Arga. Karena dia berkerja tanpa bantuan Adhi sama sekali. "Apa kuliahmu sudah selesai?" Tanyanya pada Jesica.
Jesica yang di tanya tentang kuliahnya. Hanya bisa menelan kasar ludahnya. Saat Arga kembali ke Indonesia. Mamanya langsung memintanya, untuk kembali ke Indonesia, dan meninggalkan kuliahnya.
"Sudah bun. Dari tadi bunda bertanya terus." Surya yang melihat istrinya menanyakan beberapa hal pada Jesica pun menegurnya.
Akhirnya Marya memilih diam, dan tidak bertanya kembali.
Setelah makan malam selesai, mereka semua membubarkan diri. Adhi, Surya, Arga menuju ruang tamu untuk berbincang tentang bisnis. Sedangkan Zia, Marya, Lidia dan Jesica berada di ruang keluarga untuk berbincang.
"Jeng Marya ada yang saya ingin bicarakan," ucap Lidia saat mereka sedang berbincang.
Marya hanya menatap sedikit sinis. "Silakan Jeng," ucap Marya.
"Ternyata anak saya dan anak Jeng Marya itu dulu pernah menjalin hubungan. Mereka pernah berpacaran." Lidia memulai pembicaraan.
Zia yang mendengar Lidia membahas tentang Arga dan Jesica hanya memilih diam. Dirinya yang sudah tahu hubungan mereka. Tidak terkejut, saat Lidia menceritakan semua itu.
Marya menatap sejenak pada Zia. Dan Marya melihat dengan jelas, wajah tenang Zia. "Biasa Jeng anak muda pasti pernah menjalin hubungan. Dan kebetulan aja anak saya pernah berpacaran dengan anak Jeng Lidia. Tapi itu masa lalu. Sekarang anak saya sudah menikah dengan Zia." Marya masih dengan tenang menjawab ucapan Lidia.
"Iya Jeng, tapi apa Jeng Marya tahu, bahwa pergaulan di luar negeri begitu bebas."
Marya menatap tajam pada Lidia. "Maksud Jeng Lidia apa?" Tanyanya tidak mengerti kemana arah pembicaraan Lidia.
"Arga dan Jesica sudah melakukan hubungan suami istri dan sekarang anak saya sedang hamil." Lidia dengan senyum liciknya, memberitahu pada Marya.
Marya tersentak saat mendengar ucapan Lidia. Dia pun langsung memanggil Arga.
Adhi, Surya dan Arga yang sedang berbincang berhenti saat mendengar Marya memanggil Arga. Mereka bertiga pun melangkah menuju ruang keluarga.
"Ada apa bun?" Tanya Arga.
Marya menatap tajam pada Arga. " Apa benar kamu menghamili Jesica?" Tanya Marya setelah mendengar ucapan Lidia.
"Arga tidak menghamili Jesica bun," jawab Arga dengan tenang pada ibunya.
"Jeng Lidia dengar sendiri, anak saya tidak menghamili anak Jeng Lidia," ucap Marya pada Lidia.
"Kamu jangan lari dari tangung jawab ar. Setelah kamu meniduri Jesica kamu mengelak begitu saja." Lidia tidak terima, saat Arga mengelak anak yang di kandung oleh Jesica. "ini," Lidia melempar foto hubungan intim antara Arga dan Jesica dan hasil tes kehamilan dari rumah sakit. "Ini adalah bukti bahwa Jesica mengandung anak Arga."
Zia yang melihat foto di hadapannya menahan gemuruh di hatinya. Dirinya memang sudah tahu, bahwa Arga pernah berhubungan intim dengan Jesica. Tapi dirinya tidak menyangka melihat foto yang menunjukan mereka berdua.
"Apa tante pikir dengan foto itu, sudah bisa membuktikan, bahwa anak Jesica anakku?" Tanya Arga tajam.
"Jelas-jelas ini sudah membuktikan," ucap Lidia.
Arga melangkahkan kakinya menghampiri Jesica. "Apa yang kamu kandung anakku?" Tanya Arga menatap tajam pada Jesica.
Jesica yang yang mendapat pertanyaan dari Arga tidak berani menatap Arga. "Iya," jawabnya menatap ke arah bawah.
"Tatap mataku dan katakan bahwa itu adalah anakku?"
"Bukankah kamu sudah dengar, bahwa Jesica sudah mengatakan, bahwa yang di kandung adalah anakmu," potong Lidia pada Arga.
"Ini kesempatanmu untuk kembali pada kekasihmu. Ini kesempatanmu lepas dari ibumu yang selalu memanfaatkan dirimu untuk ambisinya," ucap Arga. Jesica yang mendengar ucapan Arga langsung menatap ke arah Arga. "Katakan padaku dan pada semua orang disini, bahwa itu adalah anak Erik. Dan aku akan pastikan bahwa Erik akan bertanggung jawab dengan anakmu."
Air mata Jesica pun mengalir di pipinya. Bebannya selama ini di pendamnya bertahun-tahun, seakan terangkat saat Arga mengatakan hal itu.
"Jangan mencoba mempengaruhi anakku dengan bualanmu itu ar. Lidia yang tidak terima pun mencoba menghardik Arga.
"Iya ini anak Erik," ucap Jesica memecah kekalutan di ruang keluarga.
Lidia yang mendengar ucapan Jesica menatap tajam pada Jesica. "Apa yang kamu katakan. Apa kamu sudah gila mengatakan bahwa anak itu, anak orang lain." Lidia menguncang tubuh Jesica.
"Memang itu kenyataanya ma. Anak ini memang anak Erik kekasihku. Dan aku mencintainya," ucap Jesica dan langsung mendapat tamparan dari Lidia.
Tapi belum sempat Lidia menampar Jesica tangan kokoh menahannya.
Jesica yang menutup matanya, saat mamanya ingin menamparnya, membuka matanya perlahan saat tak ada tamparan yang melayang di pipinya. "Erik," gumamnya saat melihat Erik lah yang menahan tangan mamanya.
"Jangan coba-coba anda menyakiti ibu dari anak saya," ucap Erik menghempas tangan Lidia.
Erik beralih pada Jesica. "Ayo, kita tinggalkan semua ini. Dan kita akan mulai semua bersama dengan anak kita." Erik menarik tangan Jesica lembut, dan membawanya keluar dari rumah.
"Jesica, jika kamu berani pergi, mama tidak akan mengampuni mu," ucap Lidia berteriak saat melihat Jesica pergi.
Jesica yang mendengar teriakan Lidia, berhenti. "Aku sudah lelah menuruti ambisi mama untuk menjadi istri Arga. Dan maafkan aku ma, aku tidak bisa mengorbankan hidupku lagi untuk mama. Aku ingin bahagia, dengan orang yang aku cintai." Jesica pun keluar dari rumah bersama dengan Erik.
Semua orang yang berada di ruang keluarga terdiam melihat kejadian di hadapan mereka.
"Apa kamu sudah puas, mengorbankan putrimu sendiri?" Tanya Adhi yang memecah keheningan di ruang keluarga. "Aku sudah menduga ini semua rencanamu, saat Arga mengatakan dirmu yang mengenalkan Jesica dan meminta Arga untuk membantu kuliah di London." Lanjut Adhi.
"Iya, aku yang membuat semua rencana ini. Karena aku tahu Jesica anak tiri di rumah ini. Dan dia hanya akan jadi sampah saat kamu tidak memberi apa pun nanti padanya. Dan aku memilih Arga, agar Jesica akan nyaman dengan kekayaan yang di miliki keluarga Surya." Lidia mengungkapkan isi hatinya bertahun-tahun.
"Apa kamu pikir aku sekejam itu pada Jesica?" Tanya Adhi. "Dia juga putri ku, dan aku menyayanginya seperti aku menyayangi Zia."
Lidia tidak bisa menjawab semua yang di ucapkan oleh Adhi. Dia tidak menyangka, bahwa Adhi tidak berpikir seperti yang di pikirkan selama ini.
"Masuk dah pikirkan baik-baik kesalahan mu." Perintah Adhi pada Lidia. Lidia pun memilih berlalu, dan masuk ke dalam kamarnya.
Zia yang dari tadi diam, hanya mencerna baik-baik. Semua kenyataan seolah terbuka di depannya. Zia baru tahu mengapa Lidia begitu membencinya. Zia juga baru Lidia lah yang merencanakan untuk menyatukan Arga dan Jesica.
Walaupun kenyataan mengatakan bahwa Arga bukan ayah dari anak yang di kandung Jesica. Tapi tetap saja tidak membuat dirinya bisa memaafkan Arga begitu saja.
"Zi," panggil Adhi.
"Aku tidak apa-apa yah," ucap Zia menahan gemuruh di hatinya.
"Pulanglah ke apartemen, dan selesaikan masalah kalian," ucap Adhi menatap Zia dan beralih mentapa Arga.
Akhirnya Arga dan Zia berlalu keluar menuju mobilnya. Setelah Zia masuk ke dalam mobil. Arga melajukan mobilnya.
Surya dan Marya yang di belakang Arga dan Zia, berpamitan dengan Adhi.
**
Sepanjang perjalanan di mobil Zia menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak ada satu katapun keluar dari mulutnya.
Sesampainya di apartemen, Zia langsung berlalu menuju kamar tamu yang terdapat di apartemennya. Dia benar-benar tidak mau berada satu kamar bersama Arga.
Arga yang melihat Zia masuk di kamar tamu, hanya mengusap wajanya kasar. Dirinya tahu, Zia berusaha menghindarinya.