Jodoh Cinta Lama

Jodoh Cinta Lama
Aku akan buktikan


Setelah penyatuan antara Zia dan Arga. Arga mendekap tubuh polos Zia, ke dalam pelukkannya. Rasanya, dia masih tidak percaya, bisa mendekap erat tubuh Zia kembali di pelukkannya.


Arga ingat, bagaimana ayah mertuanya memintanya untuk meninggalkan Zia waktu itu. Dan itu adalah hal terberat yang dia alami.


"Tinggalkan Zia."


Arga yang mendengar kata-kata Adhi benar-benar tidak percaya. Dirinya yang sudah begitu mencintai Zia, berat untuk meninggalkan Zia. "Yah aku mohon yah, aku benar-benar mencintai Zia. Itu terjadi sebelum aku bertemu dengan Zia yah," Arga benar-benar memohon pada Adhi.


"Pergilah, dan tinggalkan Zia di rumah ini, aku akan menjaganya sendiri."


"Yah aku mohon, berikan aku kesempatan," ucap Arga seraya berlutut pada kaki mertuanya. Bagi Arga, baru kali ini dia memohon sampai harus berlutut pada orang lain. Dengan orang tuanya sendiri pun, dia belum pernah melakukannya. Tapi semua itu tidak sebanding dengan apa yang dia harapkan dari ayah mertuanya. Arga benar-benar berharap ayah mertuanya tidak akan memisahkannya dengan Zia.


"Kesempatan seperti apa yang kamu minta. Sedangkan kamu sudah menyakiti putriku." Adhi yang tidak terima pun, meluapkan kekecewaanya


"Aku akan buktikan pada ayah, kalau semua yang terjadi antara aku dan Jesica, memang adalah rencana Jesica."


"Jaga ucapmu. Jesica juga putriku." Hardik Adhi pada Arga, yang menjelek-jelekan Jesica.


"Bukan begitu yah maksud ku, aku hanya ingin menjelaskan bahwa aku tidak bersalah sepenuhnya dalam hal ini." Arga masih mencoba membela dirinya.


"Kalau kamu bisa membuktikan bahwa kamu benar, maka kembalilah pada Zia, dan bawalah putriku bersama mu. Tapi jika kamu tidak bisa memberikan aku bukti, kalau kalau kamu benar. Jangan harap, kamu bisa menemui Zia kembali." Adhi yang geram pun memberikan pilihan pada Arga.


Arga yang mendengarkan ucapan ayah mertuanya, merasa mendapatkan angin segar. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mempertahankan Zia kembali padanya. "Baiklah yah, besok aku akan pergi ke London. Dan aku berjanji, akan membawa semua bukti, untuk meyakinkan ayah."


"Kamu belum tidur?" Tanya Zia menengadah melihat Arga.


Arga yang sedang dalam pikirannya tersentak, saat mendengar pertanyaan dari Zia. "Sepertinya aku terlalu banyak tidur di kantor."


Zia menautkan kedua alisnya. Dia kaget mendengar bahwa Arga sudah sampai sebelum dia masuk ke kamarnya. "Memangnya sejak kapan kamu datang?" Tanya Zia ingin tahu.


"Aku sudah datang sejak pagi."


"Apa?" Tanya Zia menatap tajam pada Arga.


"Jangan menatap ku seperti itu," ucapnya seraya mencium kening Zia. "Aku tadi ada urusan di kantor, jadi aku mampir ke kantor terlebih dahulu."


"Jadi waktu Dave menjemputku dia sudah tahu kamu di kantor?" Tanya Zia memastikan.


"Jelas dia tahu. Karena dia yang menjemputku."


Dalam batin Zia, dia begitu kesal saat mendengar Dave mengetahui Arga ada di kantor. Padahal Zia ingat betul, bagaiamana Dave meminta Zia untuk menghubungi Arga. "Lalu bagiamana kamu bisa masuk ke dalam kamar?"


"Tadi pagi aku ke kantor ayah, dan ayah memberikan kunci," jelas Arga.


"Berarti ayah juga tahu kamu sudah pulang?"


"Iya."


"Tadi sore Dave pura-pura menyuruhku menghubungi mu. Dan tadi malam ayan juga tidak mengatakan apa-apa. Kenapa semua orng jahat sekali tidak ada yang memberitahu aku." Zia begitu kesal Dave dan ayahnya menyembunyikan kepulangan Arga padanya.


"Jangan marah, memang aku yang memintan mereka tidak mengatakan padamu," ucap Arga menenangkan Zia. "Tadinya aku mau memberikanmu kejutan saja padamu."


Zia yang mendengar pun merasa senang, bahwa Arga berbohong hanya untuk memberikan kejutan untuknya. "Memangnya apa yang kamu rencanakan?"


"Tadinya aku ingin kamu melihat aku, saat membuka mata di pagi hari. Tapi saat aku melihatmu, aku tidak tahan untuk tidak memelukmu."


Mendengar cerita Arga. Zia hanya bisa tersenyum. "Apa kamu merindukan aku?"


Arga memutar kedua bola matanya. Malas sekali menjawab pertanyaan bodoh dari Zia itu. "Kamu pikir aku jauh-jauh kembali ke London untuk siapa?" Tanya Arga kesal.


"Selalu saja menyebalkan," batin Zia yang melihat keromatisan antara dirinya dan Arga, harus terselip dengan kekesalan yang mudah muncul dari Arga.


"Aku kan hanya memastikan," jawab Zia.


"Tidak perlu memastikan. Apa kamu tidak bisa merasakkan bahwa aku merindukkan mu?" Tanya Arga seraya mengeser kepala Zia, agar tanganya bisa lepas dari pelukkan, yang dia berikan untuk Zia.


Arga yang melepas pelukkanya, beralih ke atas tubuh Zia. "Apa aku harus mengatakan bahwa aku merindukan mu begitu?" Tanya Arga menatap Zia dari atas tubuh Zia.


Mendapat pertanyaan dari Arga pun dia mengangguk. Arga hanya tersenyum mendapati jawab Zia.


"Aku begitu merindukan mu," ucapnya mencium bibir Zia. Memberi ******* sebentar di bibir Zia . "Merindukkan kulit halus ini, menempel pada kulit tubuh ku." Arga beralih menyusuri leher Zia. "Merindukkan kehangatan tubuhmu, yang tercipta dari penyatuan kita." Arga mulai beralih ke bawah, menuju gundukan kenyal milik Zia.


"Berarti kamu hanya merindukkan tubuhku?" Tanya Zia polos.


Arga yang mendengar ucapan Zia, menghentikan aksinya menuju dada Zia. Rasanya dia ingin sekali mengusap rambutnya, meluapkan kekesalnnya. Dalam hati Arga, bisa-bisanya Zia memmberikan pertanyaan itu padanya, saat di sedang beraksi menikmati tubuh istrinya itu.


"Aku merindukan semua tentangmu. Merindukan masakanmu, merindukan berdebat dengan mu. Merindukan mengantarmu ke butik," ucap Arga menyebut beberapa kerinduannya. "Kamu pikir aku hanya meindukkan tubuh mu saja?" Tanya Arga kesal. Dalam hati Arga sebenarnya itu adalah satu hal yang utama yang dia rindukan.


"Maaf," ucapnya seraya melingkarkan tangannya pada leher Arga. Zia menari Arga untuk membenamkan bibirnya pada bibir Zia. Zia pun mencium Arga lebih dulu. Mencoba meredamkan emosi Arga.


Arga yang melihat istrinya memulai lebih dulu, memberikan ruang pada Zia, untuk memulainya. Dia hanya tersenyum saat Zia sudah tidak malu-malu memulainya.


**


Lelah yang mendera Zia pagi ini, membuatnya engan membuka mata, saat sang surya memberikan sinarnya. Dengan perlahan Zia membuka matanya, mengedarkan pandangan mencari jam dinding.


Saat melihat jam sudah menunjukkan pukul enam, Zia menyibak selimutnya dan mencari pakainnya yang berserakkan di lantai. Setelah memakai pakaiannya untuk menutupi tubuh polosnya, Zia berlalu ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang lengket sisa penyatuannya semalam.


Setelah selesai Zia keluar dari kamar mandi. Kedua matanya tertuju pada Arga yang masih tertidur pulas di tempat tidur. Zia melangkahkan kakinya, menuju tempat tidur. "Ar bangun," ucap Zia seraya mengoyang-goyangkan tubuh Arga.


Arga yang masih tertidur pulas pun tidak bergeming saat Zia membangunkannya.


Senyum mengembang saat terlintas satu ide di kepala Zia. Dia langsung membuka ikatan handuk, yang membungkus rambut panjangnya. Dengan rambut yang masih basah, dan meneteskan air. Zia mengarahkan rambutnya tepat di wajah Arga. Rambut Zia yang basah meneteskan air tepat di wajah Arga.


Arga yang merasa ada air di wajahnya membuka perlahan matanya. Dan hal pertama yang di lihatnya adalah rambut meneteskan air, yang berada tepat di wajahnya. Arga langsung memeluk Zia, dan membawa tubuhnya ke atas tempat, dia langsung menggelitik tubuh Zia. "Apa kamu sedang mengodaku?"


"Aku hanya membangunkan mu ar," ucap Zia mengelak tuduhan Arga. Tubuhnya yang di gelitik oleh Arga pun membuatnya tertawa. "Oke, maaf," ucapnya mencoba menghentikan ulah Arga.


Arga yang mendengar Zia meminta maaf, langsung melepaskan Zia. Arga melihat dengan jelas deru nafas yang begitu tidak beraturan dari paru-paru Zia. Seolah sedang berebut udara, untuk mengisi rongga paru-parunya.


Setelah sudah cukup tenang, dan nafasya mulai tertatur, Zia menatap Arga. "Mandilah, setelah itu kita sarapan," ucapnya pada Arga.


Arga langsung bangkit, dan beranjak menuju kamar mandi. Sedangkan Zia bersiap berias untuk berkerja hari ini.


Setelah Arga keluar, dia mengambil bajunya di lemari milik Zia. Dia memilih kaos dengan celana jeans untuk di pakainya.


"Kamu tidak ke kantor?" Tanya Zia yang heran saat melihat Arga memakai pakaian casual.


"Baju kerjaku ada di apartemen. Dan koperku ada di kantor. Jadi aku rasa aku akan memakainya nanti saja."


Zia yang mengerti mengangguk. Dia langsung mengajak Arga untuk sarapan.


Arga yang keluar dari kamar Zia. Menautkan jemarinya pada jemari Zia. Mereka berdua saling melempar senyum, merasakan kebahagiaan yang begitu besar di rasakan.


Saat menuruni anak tangga, Arga dan Zia melihat, sudah ada ayah Adhi, Lidia, Jesica dan Kaisar.


"Pagi semua," sapa Zia pada seluruh anggota keluarga yang berada di meja makan.


"Pagi zi," sapa ayah Adhi pada Zia.


Jesica dan Lidia yang melihat Arga sudah pulang begitu kaget. Semalam mereka berdua tidak ada yang tahu kapan Arga datang. Dan lebih mengagetkan lagi melihat nya mengandeng tangan Zia mesra.


Rasanya mereka benar-benar kesal, melihat pemandangan itu.


Arga yang melihat ada Lidia dan Jesica hanya acuh saja. Dia langsung menarik kursi dan mempersilakan Zia untuk duduk.


Mereka semua akhirnya memulai makan, setelah semua sudah duduk di meja makan.


"Nanti malam aku mau mengadakan makan malam, kalau bisa undang mertua mu juga unruk datang zi," ucap Lidia di sela-sela makannya.


Arga dan ayah Adhi menatap Lidia saat mendengar bahwa Lidia ingin mengundang orang tua Arga. Mata mereka menatap penuh curiga pada Lidia.


"Lagi pula kita belum pernah berkumpul bersama bukan?" Tanyanya suaminya. Lidia yang melihat Adhi pun memberikan alasan.


"Aku belum bisa menjanjikan, apa ayah dan bunda bisa datang," jawab Zia pada Lidia.


"Mereka akan datang," ucap Arga memotong pembicaraan antara Zia dan Lidia


Senyum mengembang di wajah Lidia, mendengar ucapan Arga. Dia berharap orang tua Arga benar-benar akan datang.


Setelah sarapan Arga mengantarkan Zia untuk pergi ke butik terlebih dahulu, sebelum dirinya ke kantor.


"Apa kamu benar akan mengundang ayah dan bunda untuk makan malam?" Tanya Zia memastikan kembali.


"Iya," jawab Arga singkat.


Rasanya sebenarnya Zia ingin sekali melarang Arga. Dia tahu yang di lakukan Lidia pasti ada alasan khusus, dan dia tidak mau melibatkan ayah dan bunda Arga.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Arga memberi penjelasan pada Zia.


"Baiklah." Zia hanya bisa pasrah menerima keputusan Arga.


"Zi," panggil Arga.


Zia langsung menoleh saat Arga memanggilanya. "Apa?"


"Berjanjilah, jika kamu akan selalu percaya padaku lebih dulu sebelum percaya pada orang lain." Arga menautkan jemarinya pada jemari Zia. Arga hanya bisa berharap, dengan memberi keyakinan ini pada Zia. Dirinya bisa menjalani ini semua.


"Aku akan berusaha percaya padamu ar," ucap Zia. Zia mengeratkan genggaman tanganya, menyalurkan rasa, bahwa dia akan yakin pada Arga


Arga yang mendengar ucapan Zia merasa lega. Paling tidak, dia mendapat kekuatan dari kepercayaan Zia. Arga mengecup sejenak tangan Zia yang berada di genggamannya. Menyalurkan rasa bahagianya atas kepercayaan yang di berikan Zia.