Jodoh Cinta Lama

Jodoh Cinta Lama
Jangan cepat menjadi tua


Sepanjang di kantor Arga memikirkan bagaimana caranya untuk menolak mantan kekasihnya. Foto-foto yang dia punya akan membuat ayah dan bundanya kecewa, dan satu lagi, semua itu akan membuat Zia kecewa.


Akhirnya Arga menghubungi mantan asistennya di London. Mungkin dia bisa membantunya, dalam situasi ini.


"Halo, ini aku Arga" suara Arga pertama kali memulai pembicaraan.


"Tolong cari tahu semua tentang mantanku, dan cari informasi hotel tempat aku menginap dulu. Datanya akan aku kirim lewat email" ucap Arga memberikan perintah.


Arga menutup sambungan telepon. Rasanya dirinya benar-benar kacau, dia tidak bisa berkonsentrasi berkerja. Akhirnya Arga memutuskan untuk ke boutique.


Arga berdiri seraya mengancingkan kancing jasnya. Arga keluar dari ruanganya mencari Dave terlebih dahulu.


"Dave aku mau ke boutique Zia, batalkan semua jadwalku" ucap Arga saat sudah masuk ke ruangan Dave.


"Selalu saja seenaknya mengubah jadwal" Dave benar-benar kesal. Tapi sebagai bawahan dirinya hanya bisa menuruti saja.


"Iya, akan ku batalkan semua jadwalmu" ucap Dave, dan Arga pun meninggalkan kantor.


**


Sesampainya di boutique Zia, Arga memarkirkan mobilnya tepat di ruko tempat boutique Zia berada. Arga membuka mobilnya, berjalan menuju boutique.


Arga mendorong pintu kaca dan langsung di sambut pegawai Zia yang menghampiri.


"Silahkan tuan" ucap Pegawai Zia


"Apa Zia ada?" tanya Arga seraya melepas kacamata hitam yang bertenger di hidungnya


"Nona Zia ada di ruangannya, mari saya antar" ucap pegawai itu dan mengantar untuk ke ruangan Zia.


Sesampainya di depan ruangan Zia, Arga meminta pegawai meninggalkanya, dan mengatakan akan masuk sendiri.


Arga membuka pintu tanpa mengetuk. Zia yang sibuk dengan pensilnya, sama sekali tidak menyadari kedatangan Arga. Arga melangkahkan kakinya mendekat pada Zia, dan seketika membuat Zia terkaget.


"Ar!" ucap Zia keget seraya memegangi dadanya, saat Arga sudah berada di depannya.


Debaran jantungnya yang terkaget karena kedatangan Arga masih begitu terasa, "Kenapa kamu disini?" tanyanya.


"Aku pusing di kantor dan menemuimu"


"Apa perkerjaanmu banyak?" tanya Zia yang melihat wajah Arga nampak beda.


"Iya" jawabnya, " Bisakah kamu menemaniku untuk keluar sebentar, sepertinya aku butuh melepas panat" ucap Arga lagi.


Zia hanya heran dengan tingkah Arga, mungkin Arga benar-benar lelah. Akhirnya Zia mengikuti Arga untuk keluar sebentar, karena dia juga sedang bosan berperang dengan pensilnya dan buku gambar.


Mereka berdua melangkahkan kaki keluar boutique, dan di sapa beberapa orang pegawai Zia.


"Entah" ucap Arga yang tidak tahu harus kemana.


"Bagaimana kalau kita nonton saja?" Zia memberikan ide pada Arga, dan Arga pun mengiyakan. Arga melanjutkan perjalanan ke mall terdekat, dan menuju bioskop.


"Mau nonton apa kita?" tanya Arga melihat beberapa poster film yang sedang tayang.


"Ini saja" ucapnya menunjuk film dengan genre action.


"Kamu yakin akan nonton itu?" Arga menanyakan lagi keinginan Zia.


Arga hanya mengeleng kepala melihat Zia memilih film yang dia ingin tonton, biasanya wanita suka film drama percintaan dan sekarang istri memilih film action.


Setelah membeli tiket mereka menunggu pintu teater di buka.


"Kamu sadar nggak kalau ini pertama kali kita nonton" ucap Zia dengan senyum yang merekah di bibirnya.


Arga sejenak berfikir, waktunya begitu banyak, tapi kadang dia malas untuk keluar rumah.


"Aku lebih suka dengan mu dirumah dari pada keluar" ucapnya datar pada Zia.


Zia hanya memutar bola mata malas, dia sudah tahu kegiatan apa saat hanya dirumah.


Saat sedang asik berbincang terdengar pintu teater di buka, Zia dan Arga pun masuk, dan menonton film. Karena ternyata ini adalah hari weekday, jadi penonton tidak terlalu ramai, penonton cuma di dominasi anak kuliah dan para pelajar.


"Kita tidak terlalu tua kan duduk di samping mereka?" bisik Zia seraya melirik kesampingnya. Arga yang melihat Zia melirik kesamping ikut melihat, dan ternyata anak-anak sekolahlah yang duduk disamping Zia.


"Menurutku aku tidak tua, tapi kalau kamu merasa tua, ya berarti kamu tua" ucapnya datar, dan tetap fokus pada layar besar di depannya.


Zia hanya melirik sinis, "Bisakah dia sedikit memujiku!!"


Arga melihat wajah Zia langsung tertawa, "Iya kamu tidak terlalu tua, dan jangan cepat menjadi tua, karena banyak waktu yang ingin aku habiskan denganmu"


Zia langsung tersenyum, dia tidak berharap banyak, tapi saat Arga mengatakan sesuatu, baginya itu sudah romantis.


Setelah dua jam menonton film, mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu.


"Terimakasih untuk hari ini, aku sangat senang, aku berharap hari ini akan terulang lagi" ucap Zia.


Arga menatap Zia, Arga melihat Zia yang menatapnya dengan penuh cinta, "Aku akan selalu mengulang kebahagian bersamamu" ucapnya pada Arga seraya membelai rambut Zia, dan Zia pun tersenyum


Zia yang merasa hari ini Arga nampak beda, hanya bisa memendamnya, walaupun sedikit aneh baginya, tapi ini membuatnya senang.


"Aku ingin selalu melihat senyum ini, semoga senyum ini tidak akan sirna" batin Arga saat meliht senyum merekah di wajah Zia