
Hiii...hiii...hiii...hiii...hiii...hiii...hiii.... Mas Galih keserupan
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Mas Burhan mendekati Mas Galih dan mencoba komunikasi, "Permisi maaf, boleh saya tau anda siapa?" Mas Galih yang lagi keserupan menjawab, "Tolong sakit, tolong saya." Mas Burhan bertanya lagi, "Anda kah yang minta tolong dibawah sana? Anda siapa? Anda kenapa?"
Mas Galih yang keserupan melepas pegangannya di kaki Agas, Agas pun segera mendekati Pak Nova. Tiba-tiba mata Mas Galih melotot tajam ke Mas Burhan, suara yang tadinya wanita berubah menjadi laki-laki yang berat dan parau. Mas Galih yang keserupan berkata, "Saya Angki heeemmm... Kami semua disini menderita!" Mas Burhan pun bertanya, "Kenapa kalian menderita? Kenapa kalian ada disini?"
Tiba-tiba Pak Nova berdiri dan pindah ke belakang si Agas. Mas Galih yang keserupan berkata, "Kami semua disini menderita karena kamu, kamu Nova!" Pak Nova langsung teriak, "Siapa kamu? Jangan bercanda kamu?" Mas Galih yang keserupan menjawab, "Hahahaha.... Kamu jangan lupakan sejarah Nova, takdirlah yang membawa mu kesini, mereka semua lagi menantimu Nova."
Pak Nova oleng dan ambruk ke tanah bersamaan dengan Mas Galih yang ikut pingsan yang artinya sudah tidak keserupan lagi. Tiba-tiba badan Pak Nova kejang-kejang, Mas Burhan pun langsung menghampiri Pak Nova untuk membantunya, mata Pak Nova melotot hanya terlihat putihnya, mulutnya menganga, kaki dan tangannya menggelepar-gelepar di tanah. Pak Nova yang awalnya hanya kejang-kejang sekarang dia bisa berdiri normal, tapi mata Pak Nova masih putih dan mulut yang menganga. Tak di sangka-sangka Pak Nova menghantamkan kepala ke pohon berkali-kali, Mas Burhan dan Agas berusaha menahannya. Pak Nova yang keserupan berkata, "Lepas... Biarkan dia merasakan apa yang kami rasakan, kamu sudah lama menunggu." Mereka terus memegangi Pak Nova sembari Mas Burhan membacakan doa.
Pak Nova berkata, "Percuma gak ada gunanya." Pak Nova berhasil melepaskan diri dari pelukannya Agas. Tiba-tiba Pak Nova memasang kuda-kuda siap bertarung menantang Mas Burhan untuk berkelahi. Singkat cerita berkelahi lah mereka, Mas Burhan menyuruh Agas mengambil tasbih yang ada di dalam tasnya, Agas pun segera mengambilnya. Mas Burhan berusaha mengalungkan tasbih tersebut di leher Pak Nova, tapi sangat susah untuk mengalungi makhluk tersebut. Agas pun berinisiatif bahwa dia yang harus mengalungkan tasbih tersebut, hingga Mas Burhan berhasil menyelengkak kaki Pak Nova sampai terjatuh dan Agas segera mengalungkan tasbih tersebut. Pak Nova yang keserupan berteriak, "Apa ini, panas...panas." Tubuh Pak Nova kembali kejang-kejang, tak lama kemudian Pak Nova pun pingsan.
Mas Burhan berkata, "Gila Pak Nova, dia buat masalah apa disini. Gak mungkin kalau karena ngomong sompral doang!" Agas pun berkata, "Ini yang teriak minta tolong dibawahkan?" Mas Burhan menjawab, "Iya benar tapi ini berbeda, kalau Tatiek dan Stuart saya melihat seperti film pendek. Tapi yang ini saya tidak menemukan satupun petunjuk." Si Agas berkata, "Apa gak coba meditasi aja Mas?" Mas Burhan berkata, "Yang ini berbeda, tampaknya arwah tersebut ingin menceritakan melalui mulut Pak Nova sendiri. Sebagai bentuk penyesalan dan pengakuan seperti yang mereka maksud tadi." Agas berkata, "Yakin Pak Nova mau bercerita?" Mas Burhan bilang, "Ya mau gak mau, kalau gak mau dia gak akan bisa keluar dari gunung ini dengan selamat." Agas pun bertanya, "Mas Galih gimana? Dia masih pingsan tuh?" Mas Burhan menjawab, "Biarkan dulu dia seperti itu." Mereka diam memikirkan hal yang baru saja terjadi.
Tiba-tiba Mas Burhan berkata, "Jam berapa sekarang?" Agas baru ingat dari tadi tidak melihat jam, pas Agas cek ternyata jam empat lewat lima belas menit. Waktu sangat lama sekali bergerak. Mas Burhan berkata, "Baiklah kalau itu maunya, kalau Pak Nova gak mau bercerita kita akan selamanya disini, kita sudah terjebak didunia mereka." Beberapa saat kemudian, Mas Galih siuman, dia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan di jelaskanlah apa adanya.
Lalu mereka pun beristirahat sambil buat kopi, tidak lama kemudian Pak Nova siuman dan berkata, "Kenapa badan saya sakit-sakit semua gini? Ada yang bisa jelaskan ke saya?" Mas Burhan menjawab, "Tenang Pak Nova ngopi-ngopi dulu, setelah itu kita minta penjelasan dari Pak Nova tentang apa yang barusan terjadi." Pak Nova pun membentak Mas Burhan, "Maksud kamu apa Burhan, yang ada saya yang minta penjelasan bukan saya yang menjelaskan." Di balas sama Mas Burhan, "Mau gak mau bapak harus menjelaskan, siapa Angki? Bapak mau ada disini terus?" Pak Nova pun menjawab kalau dia kenal siapa Angki itu. Mas Burhan pun menceritakan apa yang terjadi tadi. Setelah menceritakan kejadian tadi, Mas Burhan memaksa Pak Nova untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Lalu ceritalah Pak Nova, "Jadi semua itu berawal dari jaman kuliah di tahun 1977 di kampus yang sangat terkenal di daerah Jawa Tengah. Sayaa, Angki, Tama, Sulung, dan Irma. Kami adalah lima sekawan pada masa itu, Kami dari fakultas yang berbeda namun karena hobinya sama akhirnya kami bersatu. Kami membuat perkumpulan pecinta alam diluar perkumpulan yang ada di dalam kampus. Perkumpulan itu hanya menerima anggota dari kalangan tertentu saja, maksudnya hanya menerima anggota yang berprestasi. Nama perkumpulan ini adalah Mapala 77. Pendakian pertama mereka adalah gunung semeru, kami melanjutkan beberapa pendakian di gunung yang berada di Jawa dan Bali. Pernah kami berencana mendaki gunung everest tapi gagal karena Angki terkena demam berdarah. Dan aku pernah sangat mencintai Irma, tapi Irma lebih mencintai Angki dari pada saya. Dalam waktu kurun dua tahun organisasi kami berkembang dengan pesat, sampai mempunyai kurang lebih tujuh ratus anggota, sampai akhirnya ada pemilihan ketua umum untuk wilayah Jawa Tengah. Kadidat waktu itu adalah saya, Angki, Krisna, dan Sangga. Setelah melakukan seleksi maka tersisalah saya dan Angki, mengetahui ini PangDam (Panglima Kodam) menyarankan Angki untuk menjadi ketua, karena dia tau kisah cinta Angki dan Irma. Sekaligus PangDam ingin mendekatkan diri dengan orang tua Irma karena Perwira tinggi di ibu kota. Singkat cerita Angki lah yang terpilih menjadi ketua. Saya pun menjadi sakit hati."
Pak Nova menyeruput kopi dan lanjut bercerita, "Kemudian, saya mengajak mereka untuk mendaki gunung ini, Saya tau cerita tentang gunung ini tapi saya tidak mempercayai keberadaan makhluk tersebut. Lalu saya menceritakan tentang rencananya ke mapala yang takut tersaingi oleh mapala 77, saya mengajak mereka untuk bergabung mendaki dengan kami. Tapi di hari H saya tidak jadi ikut dengan alasan orang tua saya sakit. Singkat cerita mereka mendaki dengan jumlah dua puluh orang, namun sudah lebih lima hari mereka tidak juga turun gunung. Tim SAR mencari mereka, tapi mereka sudah menjadi mayat. Saya pun menangi sejadi-jadinya, mayat mereka di temukan di lereng gunung di tempat orang minta tolong tadi. Mereka di meninggal karena di bunuh oleh orang yang ada di mapal lain sejak awal pendakian. Saya tidak pernah memberikan perintah untuk membunuh, saya hanya menyuruh menyakiti karena faktor alam bukan orang lain.
Pak Nova menangis dan kembali melanjutkan cerita, "Setelah itu saya trauma setiap mendengar nama mereka dan membubarkan mapala 77 di tahun 1983. Saya pun berhenti naik gunung dan baru ini saya naik lagi."
Dari ceritanya Pak Nova kita jadi tau apa yang di tutup-tutupi oleh Pak Nova. Di saat semua diam, terdengar lolongan 4nj1ng yang berasal dari lereng gunung, makin lama semakin mendekati ke arah mereka. Mereka pun bersiap menghadapi 4nj1ng tersebut, tiba-tiba Agas bertanya sama Mas Burhan, "Mas Burhan kayak mana nih? Kayaknya banyak 4nj1ngnya?" Mas Burhan menjawab, "Waspada, kamu sembunyi di semak-semak yang ada di haluan kiri, Pak Nova dan saya akan standby di belakang pohon ini, Mas Galih anda standby di belakang pohon sana. Matikan pencahayaan mulai dari sekarang."
Si Agas terbangun karena suara lolongan 4nj1ng, Agas sudah tidak di semak-semak sekarang dia berada di tanah lapang seperti yang ada di wallpapernya windows XP. Dia sendirian di sana. Pak Nova, Mas Burhan, dan Mas Galih tidak tahu dimana. Jam masih menunjukkan jam empat lewat lima belas menit. Tidak lama kemudian Agas mendengar seperti ada suara baskom yang di pukul, suara itu dari atas bukit dan perlahan suara lolongan tersebut hilang.
Tiba-tiba bahu si Agas di tarik ke semak-semak dengan sangat kencang, "Kamu jangan berisik ini kami!" ternyata dia adalah Mas Galih, di situ juga ada Pak Nova dan Mas Burhan. Nah, yang menjadi pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi?
Akhirnya Mas Burhan menjelaskan kalau setelah Agas pingsan, keberadaan Agas di ketahui oleh salah satu 4nj1ng dan dia di bawa pergi oleh si 4nj1ng. Mas Burhan melihat dan berusaha mengejarnya bersama Mas Galih dan Pak Nova, 4nj1ng tersebut membawanya ke arah pos tiga. Kemudian mereka meninggalkan Agas sendirian, ketika Agas sadar Mas Galih menarik Agas ke semak-semak untuk bersembunyi. Ternyata posisi mereka sudah mau menuju ke pos empat.
Sekitar dua kilo lagi mereka sampai di puncak, mereka berpikir kalau jawaban dari semua kejadian ini ada di puncak. Mereka semua pun sepakat untuk ke puncak, di tengah perjalanan mereka merasa di awasi dari atas bukit. Mereka menemukan pohon besar yang cabangnya terbelah menjadi dua seperti ketapel. Mereka melihat ada sosok besar duduk di antara dua cabang itu, begitu mereka dekatin, sosok itu menghilang.
Mereka melanjutkan perjalanan dan menemukan dua tenda bewarna kuning dan biru. Yang menjadi pertanyaan benarkah ini tenda manusia yang ada didalamnya. Mereka pun melewati tenda itu sambil bilang permisi, tapi tidak ada yang menjawab, mereka malah mendengar ads suara orang nangis dari dalam tenda. Karena kaget mereka pun lari, setelah jauh mereka melihat ke belakang ternyata tenda tersebut hilang.
Lanjut perjalanan, mereka sudah mau sampai ke puncak. Tapi kok kelompok lain tidak ada yang kelihatan? Mas Burhan mengingatkan bahwa mereka berada di dimensi berbeda dengan kelompok lain. Dan Agas disuruh memeriksa jam nya ternyata benar masih jam empat lewat lima belas menit. Hanya Pak Nova yang menunjukkan jam tiga lewat empat puluh. Apa maksud dari perbedaan waktu ini?
Singkat cerita sampailah mereka di puncak, yang hanya berupa hamparan kosong, benar-benar kosong. Mereka kebingungan, tiba-tiba mereka melihat sosok ibu-ibu yang berjalan perlahan ke arah mereka, setelah ibu-ibu tersebut dekat dengan mereka Mas Burhan pun membuka pembicaraan.
"Permisi bu, kami berempat sedang melakukan pendakian." Terus ibu-ibu itu menjawab, "Saya tau... Saya tau kenapa kalian disini, salah satu dari kalian mempunyai urusan yang belum selesai dengan kami." Mereka semua tertegun.
Ibu-ibu itu berkata lagi, "Kamu Nova! Takdirlah yang menuntun kamu kemari." Pak Nova berkata, "Maafkan saya, saya tidak bermaksud mencelakai mereka." Ibu-ibu itu berkata, "Mereka mempunyai nasib yang kurang beruntung, tapi itulah takdir mereka. Suatu saat nanti kamu akan menjumpai takdirmu! Saat ini biarlah menjadi awal perjalanan kamu nanti. Gunung ini bukan menjadi akhir dari ceritamu Nova."
Tiba-tiba dari belakang ibu-ibu tersebut muncul 4nj1ng yang tadi, tapi kali ini kepalanya sudah seperti 4nj1ng normal. Ibu itupun berkata, "Mereka ini adalah anak-anak saya, yang dulu pernah menjadi bagian cerita dari pegunungan ini! Sekarang sudah waktunya kalian kembali. Pergilah!"
Setelah itu kabut tebal mulai datang, ibu dan 4nj1ngnya tersebut lenyap di telan kabut, namun terdengar bunyi kentongan dengan irama yang sangat cepat. Tidak lama setelah itu, semuanya sudah kembali seperti semula, matahari sudah mulai terbit, waktu menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit. Tidak lama setelah itu, kelompok lain menyusul mereka. Setelah semua berkumpul dimulai lah acara kantor mereka dari jam setengah enam pagi sampai jam sebelas siang. Mas Galih berkumpul dengan ranger lainnya.
Tiba-tiba Pak Nova minta di antar turun saat itu juga. Tidak tanggung-tanggung, Pak Nova di jemput menggunakan helikopter SAR, kemungkinan besar dia trauma berat dengan kejadian semalam. Agas dan Mas Burhan beristirahat di dalam tenda, tidak lama kemudian Agas pun tertidur.
-------------------------------------------
Kalian pikir dengan sampainya di puncak, perjalanan mereka sudah selesai? Belum. Masih ada cerita lagi di saat Agas dan Mas Burhan turun gunung. Apa yang mereka temukan di saat turun gunung?
Nantikan part-part selanjutnya...