Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 27


Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Komandan Massa dan Garcia menampakkan wajah penuh keraguan. Massa memandang Garcia dan berkata, "Nampaknya mereka sedang bingung. Mereka tidak mungkin menyeberang Pegunungan Andes hanya dengan berjalan kaki. Mustahil."


Garcia kali ini menatap lurus padaku, "Apakah anda yakin dapat membaca peta ini? "


"Saya yakin." Kataku, "Kami menuruni gunung dengan menyusuri lembah ini. Disinilah lembah terbelah menjadi dua cabang. Lalu kami mengikuti cabang lembah ini dan sampai disini."


Garcia menganggukkan kepalanya dan melipat petanya. Aku masih ragu mereka mempercayai kata-kataku.


"Kapan anda akan mulai mencari mereka? " Tanyaku.


"Segera setelah kabut ini menipis, kami akan segera terbang." Katanya.


Lalu ia dan Massa meninggalkan kami. Aku tahu mereka sedang membicarakan penjelasanku dan seberapa jauh mereka mempercayainya.


Tiga jam kemudian, kabut masih mengabur kan pandangan, tetapi sudah terlihat menipis dan kini pilot helikopter itu berpikir bahwa dalam keadaan seperti ini cukup aman untuk terbang. Saat para awak helikopter sedang bersiap-siap melakukan penerbangan, Garcia mendekatiku dan berkata, "Kami akan berangkat sekarang," Katanya. "Tetapi lokasi yang Anda tunjukkan kepada kami berada di tempat yang sangat tinggi dan merupakan bagian paling terpencil dari Pegunungan Andes. Sangat sulit untuk terbang di sekitar sana, dan tanpa ada petunjuk yang jelas, kami akan kesulitan untuk menemukan teman-teman anda. Apakah anda bersedia ikut dan menjadi penunjuk jalan kami? "


Aku tidak mengingat dengan jelas jawaban yang aku berikan, atau sepertinya aku sama sekali tidak menjawabnya, tetapi dalam sekejap aku telah berada di dalam helikopter.


Seseorang memasangkan headphone ke telingaku, dan membenarkan posisi ujung microphone kecil di dekat mulutku. Tiga anggota Regu Penolong Andes duduk di sampingku. Seorang kopilot duduk di depanku, dan Komandan Garcia memegang kemudi.


Saat Garcia menyalakan mesin helikopter ini, aku melihat ke luar jendela dan menatap Roberto, satu-satunya orang yang memahami ketakutanku untuk kembali ke Pegunungan Andes. Dia tidak melambaikan tangan kepadaku, kami hanya saling memandang. Kemudian helikopter bergerak mengudara dan isi perutku ingin keluar ketika kami tersentak keras dan bergerak Ke arah timur menuju pegunungan.


Melalui earphone, aku mendengar percakapan teknis antara pilot dan mekanik untuk mengatur jalur penerbangan, kemudian Garcia berkata kepadaku.


"Oke, Nando," Katanya. "Tunjukkan jalannya."


Aku menuntun mereka sampai ke lembah dan mengikutinya sampai perbatasan Cile menuju ke Andes di wilayah Argentina. Helikopter kedua yang dikemudikan oleh Massa, berada dekat di belakang kami.


Langit dipenuhi pusaran angin, dan helikopter kami menari-nari seperti speedboat di perairan yang bergelombang, tapi penerbangan itu tidak memakan waktu lama, dalam kurang dari dua puluh menit, helikopter melayang di perbatasan lembah sebelah timur, tempat Mount Seler menjulang tinggi di atas kami seperti dinding benteng raksasa.


"Holy Jesus," Seseorang bergumam.


Garcia membiarkan helikopter melayang-layang di udara ketika ia melihat ke atas puncak gunung bersalju dan mengarahkan pandangannya menuruni lereng yang berakhir ke dasar lembah, beberapa ratus meter di bawah kami.


"Ya, Tuhan," akatanya. "Apakah Anda melalui jalan ini?'


"Ya," Kataku, "Inilah jalannya."


"Anda yakin?" Katanya lagi. "Apakah Anda benar-benar yakin."


"Saya yakin," Kataku. "Mereka ada di balik gunung ini."


Garcia berbicara dengan kopilot di sampingnya.


"Dengan orang sebanyak ini, helikopter akan terasa berat," Kopilot itu berkata. "Aku tidak yakin kita akan bisa mengitari gunung itu."


Garcia bertanya kembali padaku. "Nando, apakah kamu benar-benar yakin ini jalannya?"


Aku berteriak melalui microphone, "Aku yakin!!"


Garcia menganggukkan kepalanya. "Semua berpegangan," Katanya.


Aku merasa helikopter melaju dengan cepat saat pilot memacu mesinnya. Kami melayang di sepanjang permukaan gunung, memacu kecepatan. Kemudian, dengan perlahan, helikopter mulai terbang menanjak. Saat terbang mendekati


gunung, kami berputar dalam pusaran angin kencang yang berasal dari lereng. Garcia berusaha mengendalikan keseimbangan saat helikopter berputar-putar tak menentu. Mesin helikopter mengeluarkan suara yang mengerikan, kaca depan helikopter bergetar, tempat duduk bergetar hebat hingga mengaburkan pandanganku. Sepertinya semua baut dan mur yang menancap pada helikopter ingin terlepas dari tempatnya, dan aku yakin helikopter ini akan bergetar hebat hingga hancur. Aku pernah merasakan kekacauan mesin seperti yang aku alami sekarang, sesaat sebelum Fairchild terjatuh, aku panik seolah-olah tenggorokanku akan meledak. Garcia dan kopilot saling bersahutan memberikan perintah sehingga tidak jelas siapa yang sedang bicara.


"Udara terlalu tipis! Kita tidak mungkin naik lagi."


"Ayolah, paksakan! "


"Seratus persen, seratus sepuluh... "


"Pertahankan, pertahankan!"


Aku melirik ke arah para regu penyelamat, mengharapkan adanya tanda-tanda bahwa hal seperti ini biasa terjadi, tapi raut muka mereka terlihat pucat. Garcia tetap memaksakan mesin helikopter, berusaha menaikkan ketinggiannya, dan akhirnya ia berhasil memaksakan helikopter kami terbang hingga di atas puncak gunung. Aku memandangi puncak itu dengan haru. Teringat bagaimana menderitanya aku dan Roberto disini.


Namun, tidak lama setelah kami mengitari area puncak, angin kencang yang berasal dari punggung gunung melemparkan helikopter kami ke belakang, dan Garcia tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan helikopter jatuh dengan lintasan yang berbentuk lingkaran agar helikopter kami tidak membentur lereng.


Ketika kami terjatuh, aku berteriak dengan


keras, dan terus berteriak saat helikopter kami berputar-putar dan sekali lagi mengarah ke puncak gunung, kembali pada ketakutan yang sama yang sebelumnya pernah kualami.


"Kita tidak akan bisa sampai ke puncak gunung, Garcia memberitahukan kepada kami semua. "Kita harus mencari jalan memutar. Misi ini sangat berbahaya, dan aku tidak akan melanjutkan kecuali semua orang di dalam helikopter ini telah sepakat. Semua terserah pada kalian, apakah kita akan terus, atau kembali?"


Kami hanya saling memandang, kemudian menoleh pada pilot lalu menganggukkan kepala.


"Baik," Katanya, "Tetapi berpeganganlah dengan erat, perjalanan akan berat." Perutku kembali terasa mual saat pilot membanting kemudinya ke kanan dan terbang melintasi puncak yang lebih rendah ke sebelah selatan Mount Seler. Itulah satu-satunya rute yang dapat kami lalui, kami tidak lagi terbang sesuai dengan jalur yang pernah aku lewati bersama Roberto, dan kini aku tidak lagi bisa mengenali wilayah yang kami lalui.


"Ke mana arah selanjutnya? Garcia bertanya.


Aku menatap sepanjang cakrawala, mencari-cari tempat yang bisa aku jadikan acuan, mengkhawatirkan keadaan teman-temanku yang hilang tanpa harapan untuk tertolong. Semua tempat yang aku lihat terlihat sama, hanya terlihat hamparan salju dan batu-batu berwarna hitam....


Kemudian ada sesuatu di permukaan punggung gunung yang menarik perhatianku.


"Tunggu!" Teriakku. "Aku mengenali gunung itu! Aku tahu kita berada di mana. Turunkan ketinggian!"


Saat helikopter terbang merendah, aku menyadari bahwa Garcia telah berhasil mengitari gunung yang berbatasan dengan lokasi jatuhnya pesawat di sebelah selatan. Kami sekarang berada di atas lembah yang pernah kami lalui saat melakukan perjalanan ke arah timur.


"Mereka pasti berada di atas sana," Aku berkata sambil menunjuk ke arah timur.


"Aku tidak melihat apa-apa," Kata pilot.


"Teruslah berjalan!" kataku. "Mereka berada di sekitar gletser"


"Anginnya sangat kencang!" kata kopilot.


"Sepertinya kita tidak bisa mendarat di tempat ini."


Aku menatap ke arah lereng-lereng, dan tiba-tiba aku mengenali sesuatu, titik kecil di hamparan salju.


"Aku melihat pesawat itu!" Aku berteriak.


"Mereka di sana, di sebelah kiri!"


Garcia mengamati lereng gunung itu.


"Di mana... Aku tidak melihat apa-apa. Oh, aku melihatnya. Diam, semuanya diam!"


Kami terbang mengitari lokasi jatuhnya pesawat. Jantungku berdegup dengan sangat cepat. Dengan sekuat tenaga, Garcia melawan putaran angin di atas gletser, tetapi ketakutanku memudar saat aku melihat sebuah titik kecil berbentuk sosok tubuh manusia keluar dari dalam pesawat.


Meskipun dari tempat yang sangat tinggi, aku bisa mengenali mereka, aku melihat Gustavo, aku mengenalinya dari topi pilot yang ia kenakan, kemudian Daniel, Pedro, Fito, Javier... Dan yang lain, berlarian, melambai-lambaikan tangan. Aku mencoba menghitung jumlah mereka, tetapi guncangan helikopter menyulitkanku. Aku tidak melihat Roy dan Coche, dua orang yang sangat aku khawatirkan.


Aku mendengar suara Garcia melalui headphone, berbicara dengan tim penyelamat.


"Lerengnya terlalu curam untuk pendaratan," Katanya. "Aku akan terbang serendah mungkin. Dan kalian harus melompat keluar."


Kemudian ia memusatkan perhatiannya untuk menjaga keseimbangan helikopter yang terbang merendah di tengah pusaran angin.


"Sial! Putaran angin ini sangat kencang. Pertahankan ketinggian."


"Awas lerengnya, kita terbang terlalu rendah!"


"Pertahankan ketinggian!"


"Pelan-pelan.."


Dia membelokkan helikopternya supaya salah satu sisinya menghadap lereng, lalu menurunkannya perlahan sampai salah satu kaki helikopter itu menyentuh permukaan salju.


"Cepat, lompat!" Ia berteriak. Para tim penyelamat membuka pintu helikopter, melemparkan peralatannya ke lereng, dan melompat keluar. Aku melihat Daniel berlari menuju ke arah kami. Dia berlari menunduk di bawah baling-baling helikopter dan mencoba masuk ke dalam helikopter, tetapi ia salah mengambil langkah dan membuat tubuhnya terlempar.


"Carajo!" Ia berteriak. "Sepertinya aku mematahkan tulang rusukku."


"Jangan bunuh diri!" Aku menjerit sambil tertawa bahagia melihatnya. Lalu mengulurkan tanganku dan menarik Daniel ke dalam helikopter. Alvaro Mangino kemudian juga menyusul masuk.


"Kita hanya bisa membawa mereka, tidak bisa lebih banyak lagi," Garcia berteriak.


"Kita kembali lagi besok. Sekarang tutup pintunya!"


Aku mematuhi perintah kapten, lalu kami


melayang di atas lokasi pesawat saat helikopter kedua mendarat dan menurunkan tim penyelamat lainnya. Aku melihat Carlitos, Pedro, dan Eduardo masuk ke dalam helikopter. Lalu melihat Coche Inciarte, ia terlihat sangat kurus dan lemah, berjalan terhuyung-huyung menuju helikopter.


"Coche masih hidup!" aku berkata pada Daniel. "Bagaimana dengan Roy?"


"Masih hidup," kata Daniel, "Tapi kondisinya sangat kritis."


Penerbangan kembali menuju ke Las Maitenes terasa mengerikan seperti saat berangkat, tetapi dalam waktu kurang dari dua puluh menit kami telah mendarat dengan selamat di padang rumput dekat pondok milik para petani itu. Secepatnya setelah pintu helikopter terbuka, Daniel dan Alvaro langsung ditangani tim medis.


Sesaat kemudian, helikopter kedua mendarat dengan jarak tiga puluh meter dari helikopter kami, dan aku telah menunggu di luar saat pintu helikopter itu dibuka. Coche memelukku dengan kebahagiaan yang meluap-luap, begitu pula dengan Eduardo dan Carlitos. Kami berpelukan, tertawa dan menangis bersamaan.


Karena terpesona masih bisa melihat bunga-bunga dan tumbuhan hijau, mereka langsung menjatuhkan diri di rumput dan berguling-guling diatas tanah. Daniel bahkan langsung memakan bunga begitu saja saking gembiranya.


Carlitos memelukku lalu membanting tubuhku ketanah.


"Kamu benar-benar gila! Kamu berhasil!" Ia berkata sambil menangis.


Dia menatapku dengan wajah berseri-seri, matanya memancarkan kebahagiaan.


Roberto mendekat. Kami bertiga berpelukan sambil menangis.


(Bersambung)