Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Gunung Dempo Part 8


Wajahnya hitam dan nampak menyeramkan, juga nampak sama tak ramahnya dengan kakek ini. Nenek itu memakai kain yang dililit di dada dan memakai kebaya model lama.


"Siapa, Pak?" Ku dengar dia bertanya pada suaminya.


"Ini coba kau lihat. Ada lagi anak-anak dari atas Dempo. Kurang ajar sekali! Udah sana kau bikinkan kopi dulu." Jawab Kakek itu sambil memerintahkan istrinya menyeduhkan minuman.


Tak lama dia muncul lagi dengan segelas kopi. Aku bergidik saat Nenek itu menatap mataku. Tak lama dia kembali lagi ke dalam


disusul oleh si Kakek sambil memberikan perintah agar kopi itu diminum.


Dari balik pintu aku dengar obrolan pelan kedua suami istri itu.


"Pak, itu ya yang mau kita panen besok?" Ak mendengar suara si Nenek.


"Ngga tau. Yang jelas bocah ini yang muncul." Jawab si Kakek tadi.


"Tak apa lah, Pak. Asal ada yang di panen." Suara si Nenek menyahut disusul cekikikan yang membuat bulu kuduk ku meremang.


Aku langsung ketakutan, dan menyesali


kecerobohanku yang tanpa pikir panjang tadi langsung datang kesini. Lalu si Kakek muncul lagi ke teras pondokan. Aku langsung pura-pura tak mendengar obrolan mereka, mengambil kopi dan meminumnya. Hampir saja aku tersedak. Kopi itu luar biasa pahit. Nampaknya Nenek itu lupa mencampur gula.


"Ayo masuk aja." Pinta si Kakek padaku sambil berdiri di ambang pintu.


"Saya disini aja, Pak. Istirahat." Aku menolaknya dengan halus. Sesungguhnya aku punya firasat buruk, sejak tadi instingku


mengatakan untuk pergi.


"Istirahat aja didalam, tidur dulu. Kami juga mau tidur." Nada suara si Kakek terdengar memaksa. Sorot matanya membuatku semakin takut.


"Makasih, Pak. Saya disini aja, sambil nunggu teman-teman." Aku kembali berusaha menolak sesopan mungkin.


Kakek itu menjawab dengan tata bahasa yang aneh seakan terbalik dan terdengar menyeramkan, atau mungkin memang itu


maksud sebenarnya??


"..sudah ga ada lagi temenmu itu..." Dengan pandangan mata tak senang, Kakek itu pelan-pelan menutup pintu. Aku dengar suara Kakek Nenek itu berbisik, tapi aku sama sekali tak mampu menerka apa yang mereka bicarakan.


Bisik-bisik itu hilang setelah beberapa menit, digantikan suara dengkuran. Tapi itu bukan suara dengkuran manusia..


Aku bergidik ngeri, tubuhku gemetar tak terkendali. Jantungkubberdegup-degup semakin kencang. Pelan-pelan aku beringsut mundur berusaha tak bersuara.


Tubuhku sudah sedemikian lemas, rasanya aku tak mampu lagi berlari jika sesuatu terjadi. Pandanganku lekat menatap pintu,


berharap pintu itu jangan sampai terbuka. Tiap kali dengkuran itu terdengar, jantungku serasa mencelos.


Awan tersibak memunculkan bulan yang sedari tadi hanya mengintip. Dengan penuh harap aku memandangi batas hutan, berharap melihat teman-teman yang lain. Ingin rasanya aku berlari ke sana, namun bayangan-bayangan penghuni hutan kabut itu langsung membatalkan niatku. Tapi berdiam disini pun rasanya aku tak mampu. Kengerianbtempat ini sangat-sangat menekan. Mataku mulai panas, pandanganku buram, tanpa diminta air mataku tumpah. Dadaku terasa sesak dan aku mulai sesenggukan teringat orang tuaku.


Membayangkan ke khawatiran mereka, aku semakin tersedu-sedu, "Maafkan aku, Pak." Sambil ku usap airmataku dengan ujung baju.


Dadaku semakin sesak saat terbayang wajah lbu. Disaat-saat seperti ini rasa bersalahku pada mereka semakin menjadi. Aku tak hanya melanggar larangan mereka, tapi juga berbohong.


Aku pandangi gundukan tanah memanjang yang dipenuhi tanaman kubis dan terong itu. Daun-daun kubis yang berwarna putih


terhampar sejauh mata memandang. Kubis-kubis sebesar kepala manusia tergeletak begitu saja di gundukan tanah itu, siap untuk di panen. Mataku nanar mencari-cari dari mana sumber gerakan tadi, tidak ada. Satu-satunya yang bergerak hanya kabut tipis yang mengular sejengkal di tanah.


Aku menelan ludah, apa yang bergerak barusan tadi? Dengkuran kembali terdengar dari dalam pondokan, aku semakin ketakutan. Ya Allah, cepatlah datang teman-teman. Aku memohon dalam hati. Mataku menyisir batas hutan mencari-cari, berharap mereka segera tiba dan mengajakku pergi dari tempat menyeramkan ini.


Aku mengutukki kebodohanku yang tiba-tiba saja berlari dan terpisah dari mereka. Bang ldan pasti sekarang sedang panik mencariku. Ya Allah, maafkan aku Bang Idan, maafkan aku teman-teman. Lagi-lagi sudut mataku menangkap sesuatu yang bergerak, tapi teringat kalimat Bang ldan untuk mengabaikan saja, aku pun


berusaha tak mempedulikan. Mataku was-was mengawasi pintu. Rasanya ada sesuatu yang mengintai di balik pintu kayu itu.


Tapi gerakan-gerakan di sudut mataku tak juga hilang. Aku berteriak histeris ketika menyaksikan kengerian yang terhampar di


depanku. Buah-buah kubis sebesar kepala itu nyatanya memang kepala. Gundukan-gundukan tanah disekitar pondokan itu kini dipenuhi kepala-kepala manusia yang bergerak-gerak ganjil.


Beberapa nampak sedang berusaha mengeluarkan badannya dari dalam tanah. Tangan-tangan kurus dan pucat menggapai-gapai di semua tempat. Ladang itu kini dipenuhi suara erangan-erangan. Mataku terbelalak, tenggorokanku tercekat. Tubuhku kaku tak mampu digerakkan. Yang bisa kulakukan hanya menatap ngeri melihat orang-orang itu satu persatu keluar dari dalam tanah. Setiap otot di tubuhku mengejang. Perlahan bulan kembali tertutup awan ketika tubuh-tubuh pucat


itu mulai bergerak ke arahku sambil terus menerus mengerang. Yang aku harapkan saat ini hanya pingsan atau mati saja, aku sudah tak mampu lagi. Dengkuran-dengkuran dari dalam pondokan juga semakin menjadi.


Ketika aku dapatkan kembali suaraku, yang bisa aku lakukan hanya menangis sejadi-jadinya sambil berteriak-teriak histeris.


"BAPAKKKKK... IBUUU... TOLOOOOONG.."


Ratusan tubuh itu terus bergerak semakin mendekat sambil mengeluarkan suara erangan. Beberapa mengeluarkan suara


tangisan menyayat hati, suara lain memohon-mohon minta tolong. Kepalaku bergerak ke kiri dan kanan dengan panik mencari jalan keluar, tapi tubuhku tetap tak mau digerakkan seakan tertancap di bale-bale ini.


"ASTAGHFIRULLAH!! YA ALLAH!! TOLO0ONG..!! TOLOOONG...!" Aku terus berteriak dengan putus asa. Tubuh-tubuh itu semakin dekat. Suara-suara juga semakin riuh.


" ....Alpiiin, tolong Alpiin... TIDAK!! TIDAK!! PERGII!"


"..Alpiin, jangan lari Alpin. Ikut kami Alpiin...."


"TIDAAKKK!! TOLOOOOONG...!!" Semakin dekat, wajah tubuh-tubuh pucat itu semakin jelas. Ada perempuan, ada laki-laki. Ada yang berpakaian seperti pendaki gunung, ada yang berpakaian seperti orang-orang desa, dan banyak lainnya. Kesamaannya, mata mereka kosong dan wajahnya pucat tanpa ekspresi, dan mereka terus bergerak semakin dekat.


.. Alpiin, Alpiin...


"ASTAGHFIRULLAH!! YA ALLAH!! TOLONG AKU BANG IDAAAN..!!"


"Apiin tolong alpiiin..."


"BAPAAAAAAKKKK!! TOLOOOoONG!"


Diantara erangan-erangan makhluk itu, aku mendengar dengan jelas suara Bapakku yang memerintahkanku untuk lari.


"PERGI NAK! PERGI!! SELAMATKAN DIRIMU!LARI!"


-Tbc-