
Makan siang pun telah usai. Riki dan Maul pergi ke tenda untuk beristirahat sejenak sedangkan Amar dan yang lainnya sedang berkeliling di sunrise camp. Mereka pun berkeliling di sekitar sana untuk melihat pemandangan apa saja yang bisa dilihat dari sana.
“Kenapa tempat ini dimanakan sunrise camp?”
Miyuki bertanya Amar sambil memandangi sebuah plang yang bertuliskan “Sunrise Camp Gunung Prau” di hadapannya.
“Tentu saja sesuai dengan namanya. Tempat ini menjadi tempat yang sangat cocok untuk melihat pemandangan matahari terbit.”
Hal seperti itu saja dia harus bertanya.
“Ohh… Begitu, tapi tempat mana yang paling bagus untuk melihat matahari terbenam nanti?”
“Ada di bukit sebelah sana, kita harus berjalan beberapa meter dulu untuk mencapai tempat itu.”
Aku menunjuk sebuah bukit yang ada tepat di belakangku.
“Begitu ya… Aku kira tempat kita mendirikan tenda sudah dapat terlihat mata hari terbenam.”
“Apa kau lupa? Memangnya pas shalat tadi kau mengarah ke arah mana? Seharusnya kau sudah tau dimana letak matahari terbenam dari situ.”
“Hehehehe… Aku tidak memperhatikan hal itu.”
“Apa yang sedang kalian bicarakan?”
Rina dan Kirana menghampiri kami berdua.
“Aku beru saja bertanya kepada Amar tentang lokasi yang cocok untuk melihat matahari terbenam, tapi sayang sekali kalau tempat kita mendirikan tenda bukan tempat yang cocok untuk melihat hal itu.”
Miyuki menjelaskan kepada mereka berdua.
“Matahari terbenam kah… Aku ingin sekali melihatnya berdua bersama Kak Riki.”
Kirana berharap kalau hal itu terjadi dan dia pun membayangkan sesuatu hal yang romantis.
“Aku juga ingin melihat itu.”
“Kenapa kau ingin melihat itu Miyuki?”
Rina bertanya keheranan kepada Miyuki, karena dia tidak mengetahui mengapa Miyuki ingin melihat matahari tenggelam padahal dia sendiri tidak memiliki orang yang spesial untuk melihat hal itu bersama dengannya.
“Sebenarnya aku sangat senang ketika melihat matahari terbenam. Ketika melihat banyak warna tercampur pada saat satu waktu, itu terlihat sangat indah sekali.”
Miyuki mengatakan itu dengan matanya yang berbinar-binar.
Memang di saat matahari terbenam, kalian bisa melihat warna jingga, merah, ungu, dan merah muda bersatu menjadi satu ke satuan yang sangat indah. Aku tidak menyangka orang yang membenci yang namanya cinta seperti Miyuki menyukai sesuatu yang romantis seperti itu.
“Oh jadi begitu.”
“Baiklah, aku akan berusaha membantumu agar bisa berdua dengan Riki saat matahari terbenam.”
Miyuki memutuskan untuk membantu Kirana mewujudkan mimpinya.
“Aku juga akan membantumu Kirana.”
“Terima kasih Kakak-kakak sekalian.”
Kirana terlihat sangat senang karena Rina dan Miyuki bersedia membantunya.
Aku tidak mau berkomentar apa pun tentang hal itu. Aku hanya ingin menikmati pemandangan yang bagus di sini.
“Kalian semua, ayo kita kembali ke tenda. Aku mau membuat minuman untuk menghangatkan tubuh.”
Aku mengajak mereka untuk kembali. Sebenarnya aku hanya ingin duduk bersantai sambil menikmati pemandangan dengan ditemani minuman yang menghangatkan tubuh.
“Baiklah… Sepertinya kita juga sudah cukup berkelilingnya.”
Ketika sampai di tenda, aku pun langsung memasak air panas yang nantinya akan digunakan untuk membuat teh.
“Kalian semua mau apa? Kita ada susu dan teh di sini.”
Aku menawarkan minuman kepada mereka.
“Aku teh saja Ar.”
“Aku juga…”
“Aku juga sama.”
“Ok.”
Aku pun menyiapkan tehnya kepada mereka semua. Sambil menunggu airnya panas, aku menikmati pemandangan yang ada di hadapanku.
“Kak Miyuki, tadi aku menemukan bunga yang bagus sekali di sana. Maukah kamu melihatnya?”
Kirana mengajak Miyuki untuk melihat bunga.
“Bunga apa itu?”
“Aku juga tidak tau.”
“Mungkin yang kau maksud itu bunga edelweiss.”
Aku memberitahu kepada mereka berdua. Memang banyak sekali bunga yang berada di gunung ini, tapi kalau berada di sini, aku yakin yang mereka maksud itu adalah bunga edelweiss.
“Maksudmu bunga abadi itu?”
Miyuki langsung terlihat bersemangat setelah tau kalau bunga itu adalah bunga edelweiss.
“Iya.”
“Aku tidak menyangka bisa melihat bunga itu di sini. Ayo Kirana! Aku mau melihat bunga itu.”
“Ayo!”
Miyuki dan Kirana pun bersiap pergi untuk melihat bunga itu.
“Jangan sampai memetik bunga itu ya! Nanti kalian bisa kena denda.”
Aku memperingatinya kepada mereka berdua.
“Iya.”
Dan mereka berdua pun pergi untuk melihat bunga itu.
“Kau tidak melihat bunga itu juga?”
Aku bertanya kepada Rina yang masih berada bersamaku.
“Aku sudah melihatnya barusan bersama dengan Kirana.”
“Oh begitu.”
Air yang aku masak pun sudah panas dan aku menuangkan air itu ke dalam gelas yang di dalamnya sudah aku siapkan teh. Karena saat ini hanya ada Rina saja, aku hanya menuangkannya ke dua gelas saja.
“Ini tehnya.”
Aku memberikan teh itu kepada Rina.”
“Terima kasih Ar.”
“Minumlah selagi hangat, karena tehnya dapat menjadi dingin dengan cepat akibat suhu di sekitar sini.”
“Baiklah.”
Rina pun meminum teh itu sedikit demi sedikit.
“Ets.. Panas!”
“Pelan-pelan saja minumnya.”
“Hangatnya... Aku baru tau kalau minum teh bisa senikmat ini.”
Rina memegang gelas tehnya dengan sangat erat untuk menghangatkan tangannya.
“Bagaimana survei kalian di SMK Sawah Besar?”
“Aku sempat terkejut pas pertama kali melihat sekolahnya. Aku baru melihat sekolah sebesar itu, mungkin besarnya tiga kali sekolah SMP kita.”
“Benarkah!? Aku sama sekali belum pernah melihat SMK Sawah Besar secara langsung. Aku hanya mengetahuinya dari orang tuaku dan teman-temanku saja, katanya sekolah itu termasuk salah satu sekolah terbagus yang ada di Jakarta.”
Tentu saja sekolah itu bagus. Lapangan yang besar, gedung olahraga yang dimiliki sendiri. Jarang sekali ada sekolahan yang memiliki semua itu.
“Kau sendiri bagaimana? Apakah kau sudah melengkapi berkasmu?”
Aku bertanya balik kepada Rina.
“Tentu saja, kemarin aku sudah melengkapi semua berkasku ke sekolah bersama dengan orang tuaku.”
“Pasti enak ya dapat sekolah yang dekat dengan rumah. Tidak perlu bangun lebih cepat dari biasanya, kalau ada barang yang tertinggal tidak perlu khawatir, dan tidak perlu merasakan macet ketika di jalan.”
Aku mengeluh kepada Rina.
“Kalau menurutku lebih menyenangkan jika mendapatkan sekolah yang jauh. Kamu memiliki banyak waktu untuk bercerita dengan teman-temanmu saat di perjalanan. Memang banyak hal yang tidak enaknya, tapi hal enaknya juga banyak loh.”
Rina berniat membuatku senang dengan kondisi yang aku punya saat ini. Sebenarnya hal itu tidak diperlukan, karena keluhanku itu hanyalah sekedar keluhan biasa. Aku tidak terlalu memikirkannya secara berlebihan.
“Benar juga katamu.”
“Apa menurutmu sekolahan itu menyenangkan Ar?”
“Mana aku tau untuk hal itu, aku saja belum masuk sama sekali di sana. Kau aneh sekali bertanya pertanyaan seperti itu.”
“Kau benar juga ya…”
Rina hanya tertawa kecil mendengar itu.
Tapi aku baru mengingat sesuatu yang merepotkan saat itu. Aku ingat dengan sangat jelas kalau Takeshi berada di sana dan mengikuti tes masuk di sana. Kalau yang aku tau pada saat dia memamerkan nilainya ketika di kereta. Takeshi termasuk anak yang pintar dan berprestasi, pasti dia dapat dengan mudah masuk di sekolah itu.
Apa lagi yang menungguku nanti selain Takeshi? Tidak mungkin kan Miyuki juga masuk ke sekolah itu. Coba aku bertanya kepada Rina, siapa tau dia mengetahui sesuatu.
“Hei Rina, apa aku boleh bertanya sesuatu?”
Aku bertanya kepada Rina saat matanya sedang tertuju kepada pemandangan yang ada di hadapan kami.
“Iya, mau bertanya apa?”
“…Sebenarnya aku malas untuk menyanyakan hal ini, tapi apa kau tau sekolah mana yang dimasuki Miyuki?”
Rina pun melihatku dengan tatap yang sangat menyebalkan, seakan dia tau apa yang aku maksud.
“Kalau untuk itu tenang saja, dia mendaftar di sekolah tempatku masuk kok.”
Untung saja Rina mengerti apa yang sedang aku maksud, jadi aku tidak perlu menjelaskan lebih kepadanya.
“Benarkah itu!? Syukurlah, sepertinya kehidupanku di SMK akan damai-damai saja.”
Aku sangat senang sekali ketika mendengar hal itu. Sepertinya hal merepotkan yang selama ini aku pikirkan tidak akan terjadi.
“Semangatlah Ar untuk menjalani kehidupan sekolahmu.”
“Yup, selama tidak ada Miyuki, aku rasa akan baik-baik saja.”
Rina tertawa kecil melihat tingkahku yang seperti anak-anak.
Tidak lama kemudian, dari arah tendaku berasal. Keluarlah dua orang lelaki yang baru saja bangun dari tidurnya. Mereka berdua tidak lain dan tidak bukan adalah Riki dan Maul. Riki terlihat sangat segar sekali setelah tidur, padahal aku rasa tidurnya dia belum begitu lama. Sedangkan Maul masih terlihat mengantuk, bahkan dia masih menguap saat berjalan ke arah kami.
“Mar, kalau kau mau tidur silahkan saja.”
Riki pun menggantikanku untuk menjaga para gadis.
“Baiklah, kalau begitu aku tidur dulu.”
Aku pun menghabiskan tehku dan langsung beranjak menuju ke tenda.
“Dimana Miyuki dan Kirana?”
Maul bertanya kepadaku.
“Mereka sedang melihat bunga edelweiss di sana.”
Aku menunjuk ke arah kedua wanita yang sedang melihat-lihat bunga.
“Oi Kak Riki!”
Kirana melambaikan tangannya kepada Riki dari kejauhan.
“Oi, tunggu di sana.”
Riki pun pergi menghampiri Kirana dan Miyuki.
“Aku serahkan yang di sini kepadamu Mul, kalau mau membuat teh atau susu tinggal tuang saja airnya, aku sudah memasaknya tadi.”
“Oke Mar.”
“Kamu tidak mau menyaksikan matahari terbenam Ar?”
Rina bertanya kepadaku tepat saat aku mau melangkahkan kakiku masuk ke dalam tenda.
“Memangnya apa yang berbeda dengan matahari saat ini? Hanya warnanya saja kan yang berbeda. Yah… Walaupun memang aku akui sedikit indah.”
“Tapi entah kenapa aku merasakan suasana yang berbeda saja saat itu.”
“Aku rasa kau terlalu berlebihan… Tapi kalau kau mau membangunkanku, bangunkan saja.”
“Baiklah.”
Aku pun memasuki tendaku dan langsung berbaring di matras yang sudah digelar oleh Riki. Aku langsung berbaring di matras dan menggunakan sleeping bag sebagai bantal. Karena saat itu suhunya tidak terlalu dingin, jadi aku tidak memerlukan sleeping bag sebagai pelapis, karena badanku sudah cukup hangat walau hanya menggunakan jaket.
Akhirnya aku bisa istirahat juga. Sebaiknya aku tidur dengan cepat, agar ketika malam nanti aku dapat begadang untuk melihat bintang. Aku tidak sabar sekali.
Aku pun memejamkan mataku secara per lahan.
***
“Ar… Ar… Bangunlah Ar, katanya kau mau melihat matahari tenggelam.”
Aku mendengar suara Rina dan merasakan tubuhku disentuh oleh seseorang.
“Aku tidak berkata kalau aku ingin melihatnya. Lagi pula mengapa kau membangunkanku sekarang, sepertinya aku baru memejamkan mataku tadi.”
Aku pun duduk dan berusaha untuk mengumpulkan kesadaranku.
“Ini sudah pukul lima Ar, kau sudah tidur selama dua jam tadi.”
“Benarkah!? Aku tidak berasa kalau sudah tidur dua jam.”
Aku pun keluar dari tenda dengan keadaan setengah sadar. Mataku masih sedikit tertutup dan aku berjalan dengan
sempoyongan.
“Ini Ar, basuh dulu wajahmu.”
Rina memberikanku air mineral dan langsung aku gunakan untuk membasuh wajahku.
Ketika kesadaranku sudah terkumpul seutuhnya, aku melihat pemandangan langit yang sudah berwarna jingga. Di luar tenda kami hanya berada Maul yang sedang menikmati minuman hangatnya.
“Di mana yang lain?”
“Mereka sudah pergi ke bukit di belakang sana untuk melihat matahari terbenam.”
Rina memberikanku sapu tangannya kepadaku.
“Terima kasih.”
Aku pun menyeka air yang masih tersisa di wajahku dengan sapu tangan miliknya.
“Ayo Ar, kita pergi menemui mereka.”
“Baiklah… Kau tidak ikut Mul?”
Aku mengajak Maul yang masih duduk menikmati minumannya. Aku iri sekali dengan Maul bisa bersantai dengan sangat damai seperti itu, andai aku berada di posisinya.
“Kalian pergi saja, aku akan menjaga tenda.”
“Oke.”
Aku dan Rina pun pergi untuk mendaki ke bukit yang ada dibelakang kami. Saat di perjalanan, banyak sekali para pendaki yang menuju ke sana juga.
Ketika sampai di sana, aku pun takjub dengan pemandangan yang ada saat itu. Seperti yang aku katakan barusan, langit sore sangat indah ketika banyak warna tercampur menjadi satu dan kejadian itu jarang terjadi. Tapi kali ini aku dapat melihatnya dengan jelas kejadian itu. Susunan gunung-gunung yang ada di sana terlihat semakin indah ditambah latar langit sore yang indah saat itu, sangat cocok sekali untuk berfoto bersama orang yang spesial.
Sayang sekali Maul tidak datang ke sini.
“Oi Mar, cepat ke sini!”
Riki memanggilku ketika dia melihatku sudah sampai di sana.
Aku pun mendekat kepadanya dan aku melihat Kirana dan Miyuki yang sedang asik berfoto bersama.
“Ayo Rin! Kita harus foto bertiga.”
Miyuki menarik tangan Rina yang baru saja sampai di sana, dan mereka bertiga pun berfoto bersama.
“Aku kira kau tidak akan bangun.”
“Mana mungkin, ada seseorang yang membangunkanku. Aku yakin dia tidak akan pergi kalau aku tidak bangung.”
“Hahahaha… Sepertinya dia sangat suka denganmu.”
“Entahlah kalau begitu.”
Kemudian Miyuki menarik tanganku secara tiba-tiba dan menjauhkanku dari Riki. Kemudian Kirana pun mendekati Riki dan kami membiarkan mereka berduaan.
“Sini Mar, aku juga belum berfoto denganmu.”
“Hentikan itu, memangnya aku tidak tau apa yang sedang kalian rencanakan.”
Aku pun menarik tanganku secara perlahan agar terlepas dari genggaman Miyuki.
“Hehehehe… Jadi ketahuan ya. Lagi pula aku beneran ingin berfoto denganmu.”
“Tidak, aku tidak suka dengan yang namanya kamera.”
Aku menutup kamera ponsel milik Miyuki.
“Ayolah Mar, aku yakin Rina juga ingin berfoto denganmu.”
Miyuki masih berusaha memaksaku untuk berfoto dengannya.
“Tidak dan tidak akan aku biarkan.”
“Membosankan.”
Dasar wanita ini, selalu saja membuatku repot.
“Wot-to… Sepertinya aku melupakan sesuatu di tenda, aku mau kembali dulu.”
Dan Miyuki tiba-tiba pergi meninggalkanku berdua dengan Rina. Aku tidak tau apa yang sedang mereka rencanakan. Tapi tingkah perempuan itu sangat menyebalkan.
Aku pun terpaksa memandangi matahari terbenam bersama dengan Rina.
Canggung sekali… Apakah aku harus memancing pembicaraan.
“Cuaca yang indah ya?”
“Ya begitulah.”
Ah sial… Aku tidak tau harus berbuat apa di situasi seperti ini. Kurang ajar kau Miyuki, aku yakin dia sangat senang sekali melihatku seperti ini sekarang.
“Hei Ar, kamu masih ingat perkataanku waktu aku menembakmu. Aku pernah bilang kalau aku akan meruntuhkan idealismemu itu.”
“Iya, aku masih ingat itu.”
“Aku masih belum menyerah sampai sekarang Ar, aku yakin suatu saat idealismemu itu akan runtuh.”
Rina sekali lagi menatap mataku dengan tekad yang sangat kuat sekali. Sepertinya memang dia sangat serius ketika mengatakan ingin meruntuhkan idealismeku.
“Kalau begitu, berjuanglah!”
Aku pun hanya tersenyum sembari memandangi langit sore kala itu. Aku tidak bisa membayangkan kalau idealismeku akan runtuh dengan mudah begitu saja. Namun di satu sisi aku juga tertarik dengan apa yang akan dilakukan oleh Rina untuk meruntuhkan idealismeku ini. Mari kita lihat apa yang akan dia lakukan…
Dan sore itu pun menjadi sore yang penuh dengan kenangan manis yang tertuang di dalamnya.
-End Chapter 25-