Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 121 : Kichida Si Calon Komikus


“Apa kau sudah membaca chapter terbaru dari Pendekar Silat?”


“Aku sudah membacanya, itu chapter yang sangat menegangkan sekali.”


“Kau benar, aku tidak menyangka kalau akan terjadi pertarungan yang sangat hebat seperti itu.”


Begitulah pembicaraan teman-temanku tentang salah satu komik yang berada di Comic Universe.


Saat ini semakin banyak teman-temanku di sekolah yang membicarakan tentang Comic Universe. Itu wajar saja karena jumlah pengunduh dari Comic Universe sudah berada di angka satu juta lebih pengunduh.


Semakin terkenalnya aplikasi itu juga membuat jumlah komikus yang ingin mendaftar di sana juga semakin banyak.


Hari ini adalah hari senin dan seperti biasa, kegiatan di pagi hari dimulai dengan upacara bendera. Selesai melaksanakan upacara bendera, aku langsung menuju ke kelas untuk sedikit beristirahat sebentar karena masih ada waktu tiga puluh menit sebelum masuk ke jam pelajaran selanjutnya.


Ketika aku masuk ke dalam kelas, aku melihat Kichida yang sudah berada di mejanya dan sedang menggambar sesuatu di buku gambar yang dia bawa.


“Bagus juga!”


Aku mengomentari gambar yang sedang dia gambar.


Karena tempat dudukku berada di belakang tempat duduknya Kichida, aku pasti akan melewatinya untuk mencapai kursiku.


Kichida saat itu sedang menggambar seorang laki-laki dengan menggunakan pakaian seperti di negeri fantasi dan menggunakan sebuah pedang.


“Terima kasih.”


Kichida tetap melanjutkan menggambarnya.


Walaupun di dalam pelajaran multimedia banyak sekali pelajaran menggambarnya, aku bukanlah orang yang tergolong bagus dalam menggambar. Ya, tidak hanya gambar saja, mungkin seluruh pelajaran yang lain aku termasuk murid yang biasa-biasa saja.


Ketika semester satu kemarin saja, aku mendapatkan peringkat delapan belas dari empat puluh dua siswa. Menurutku itu sudah peringkat yang bagus karena aku juga tidak pernah belajar untuk membuat nilaiku menjadi bagus.


“Apa kau sudah mencoba untuk membuat komik di Comic Universe?”


“Untuk saat ini, aku belum ingin membuat komik terlebih dahulu.”


Heee... Kenapa seperti itu? Bukankah dia bercita-cita menjadi komikus. Seharusnya dia melakukan ini secepatnya agar cita-citanya itu cepat tercapai.


“Apa ada alasan tersendiri untuk hal itu?”


“Aku masih ingin melakukan riset terlebih dahulu agar dapat membuat komik yang diminati oleh banyak orang.”


“Oh begitu.”


 Aku pun mulai meletakkan jaketku di atas meja untuk aku gunakan sebagai bantal untuk tidur.


Aku melihat ke jam tanganku dan masih ada waktu dua puluh lima menit lagi sebelum pelajaran selanjutnya dimulai.


Nikmatnya!


Aku mulai meletakkan kepalaku di atas meja dengan jaket sebagai alasnya dan mulai memejamkan mataku. Udara dingin yang berasal dari pendingin ruangan di kelasku membuat suasana saat itu sangat nyaman sekali untuk tidur.


“Sekarang sudah banyak sekali orang yang mengunduh aplikasi Comic Universe ya?”


Aku tidak tau kepada siapa Kichida mengatakan hal itu, tapi karena Riki dan Natasha belum tiba di kelas, aku bisa menganggapnya kalau dia sedang berbicara kepadaku. Aku tidak mengetahui hal itu karena saat ini mataku dalam keadaan tertutup dan aku juga menutup wajahku dengan jaketku.


“Iya, sekarang jumlah pengunduhnya sudah lebih dari satu juta.”


“Kemarin temanku yang berada di Jepang juga sudah mengetahui tentang aplikasi ini, tapi dia belum bisa mengunduhnya karena aplikasinya masih belum bisa diunduh selain di Indonesia.”


Mendengar pembicaraan yang diangkat oleh Kichida cukup menarik, aku pun membuka mataku dan mengurungkan niat untuk tidur.


“Dari mana temanmu itu tau?”


“Dia mengetahuinya dari Outstagram.”


Aku tidak menyangka kalau efek dari sosial media bisa sebesar itu.


“Memangnya kau tidak pernah melihat Outstagram milik Comic Universe Mar?”


Kichida pun menyelesaikan gambarnya dan menyimpan buku gambarnya di dalam tas.


“Tidak pernah.”


Apa aku terdengar seperti karyawan yang buruk?


Aku tidak pernah melihat Outstagram milik Comic Universe bukan karena disengaja, hanya saja aku memang tidak memiliki akun Outstagram. Banyak orang yang menyuruhku untuk membuatnya tapi aku bingung untuk apa aku membuat akun itu.


“Kalau begitu lihatlah ini.”


Kichida pun memberikan ponselnya kepadaku dan di sana sudah terbuka aplikasi Outstagram dan mengarah ke akun milik Comic Universe.


Aku melihat kalau aku dari Comic Universe sudah memiliki pengikut sebanyak lima ratus ribu lebih, jumlahnya hanya setengah dari jumlah pengunduh aplikasinya.


Aku juga melihat postingan-postingan yang berada di sana dan kebanyakan postingan-postingan itu berisi tentang komik yang sedang banyak sekali peminatnya, komikus yang telah berhasil dikontrak oleh perusahaan, info tentang komikus yang komiknya berhasil dibukukan, dan juga masih banyak lagi info


terkait seputar Comic Universe.


Desain dari postingan-postingannya juga cukup interaktif, tidak terlalu membosankan.


“Apa yang sedang kalian lihat?”


Riki dan Natasha yang baru saja datang setelah mengabil absen di ruang guru langsung bertanya kepada kami.


“Kami sedang melihat akun Outstagram milik Comic Universe, soalnya temannya Kichida yang berada di Jepang mengetahui tentang Comic Universe dari Outstagram ini.”


“Ooo! Benarkah itu?”


Riki langsung bertanya kepada Kichida.


“Iya.”


Jawab Kichida dengan singkat.


“Oh iya Rik, apa saja yang kau lakukan di bagian sosial media?”


“Aku hanya membuat desain untuk di posting di Outstagram.”


“Apa ini semua kau yang membuatnya?”


Aku menunjukkan postingan-postingan terbaru kepadanya.


“Tidak, kadang-kadang aku hanya mencari risetnya saja.”


Teng... Teng... Teng... Teng... Teng......


Bel pun berbunyi yang menunjukkan kalau jam pelajaran selanjutnya akan dimulai, dan pelajaran selanjutnya adalah jam produktif. Kami pun harus pergi ke lab untuk mengikuti pembelajaran di sana.


Setiap pelajaran produktif kami selalu pergi ke lab, tapi tergantung gurunya masing-masing. Ada beberapa guru yang tidak menggunakan lab karena memang pelajarannya tidak memerlukan kita menggunakan komputer.


***


Aku sudah lapar sekali.


Aku membuka kotak bekalku dan di sana sudah ada daging ayam tanpa tulang yang digoreng dengan menggunakan bumbu pedas yang cukup nikmat. Aku yang membuat ini sebelum berangkat sekolah karena aku melihat di dalam kulkas ada ayam sisa makan kemarin. Aku juga menggoreng beberapa potong sosis sebagai pelengkap.


Sebenarnya aku sedikit malas untuk memasak saat pagi hari seperti itu, tapi aku bosan jika harus memakan ayam goreng biasa saja karena hari minggu kemarin selama seharian penuh aku sudah memakan itu.


Seperti biasa, kami berkumpul di tempat biasa untuk menghabiskan bekal kami. Saat ini Akbar juga ikut berkumpul dengan kami, Akbar juga membawa bekal sendiri padahal sebelum-sebelumnya dia selalu membeli makanan di kantin. Mungkin ini termasuk pengaruh dari kepulangan ibunya itu.


Semakin lama semakin ramai saja jumlah orang yang ada di sini. Tapi entah kenapa aku merasa tidak asing dengan orang-orangnya. Apa karena kita sudah pernah berkumpul seperti ini saat LDKS dulu?


Itu mungkin saja.


“Kenapa sekolah terlihat lebih sepi dibandingkan biasanya?”


“Memangnya kau tidak mengetahui kalau kelas dua saat ini sedang menjalani praktik kerja lapangan?”


Aku bertanya itu dengan heran kepada Miyuki. Seharusnya dia sudah mengetahui ini dari pembicaraannya dengan teman-temannya, atau memang teman-temannya tidak pernah membicarakan tentang hal ini.


“Tidak, aku tidak tau.”


Pasti sebentar lagi dia akan bertanya tentang ini.


“Memangnya itu apa?”


Tuh kan, siapa saja tolong jawab pertanyaannya. Aku sedang malas untuk meladeninya saat ini.


“Jadi praktik kerja lapangan atau biasa disingkat dengan PKL, kita akan pergi ke sebuah perusahaan untuk melakukan kerja magang di sana selama satu semester. Hal ini dilakukan agar kita mendapatkan pengalaman kerja karena SMK itu diharapkan setelah lulus dapat langsung terjun ke dunia kerja.”


Walaupun begitu ironinya di saat ini, masih banyak perusahaan yang tidak menerima seseorang yang hanya memiliki ijazah SMK padahal kemampuan mereka bisa bersaing dengan yang bergelar sarjana.


“Apa kelas satu juga akan merasakannya?”


Miyuki terlihat senang sekali ketika mendengarkan hal itu.


“Tidak, kita hanya melakukan itu saat kelas dua semester genap saja.”


Tanya Kichida.


“Kalau di kelas sepuluh, kegiatan kita masih dimaksimalkan dengan belajar di sekolah. Nanti ketika kelas sebelas, kita baru memiliki beberapa acara seperti darmawisata dan PKL ini.”


Kali ini Rina yang menjelaskan hal itu kepada semuanya.


“Darmawisata!?”


Miyuki, Kichida, dan Yoshida terlihat senang sekali ketika mendengar itu. Mereka langsung menatap ke arah Rina, mereka pasti sangat tidak sabar akan hal itu.


“Iya, kalau tidak salah kakak kelas kita tahun ini, mereka pergi ke Yogyakarta.”


Yogyakarta kah... Banyak sekali tempat wisata di sana yang dapat kita kunjungi. Semoga saja kita dapat mengunjungi salah satu pantai yang ada di sana, karena banyak sekali pantai di Jogja yang sangat indah.


Aku rasa, aku perlu membeli kamera juga untuk mengabadikan momen saat itu.


Tunggu! Kenapa aku juga ikut bersemangat seperti mereka?


“Yogyakarta ya? Aku sangat tidak sabar sekali.”


Begitulah yang dikatakan oleh Miyuki.


“Oh iya Mar, tentang hadiah soal kasus kemarin, bapakku ingin membicarakannya denganmu nanti.”


Mul! Apa kau tidak salah membicarakan hal itu denganku di saat seperti ini?


Aku sangat terkejut sekali mendengar Maul mengatakan hal itu. Seharusnya Maul sudah tau kalau aku menyuruhnya untuk menyembunyikan masalahnya Akbar kemarin kepada yang lainnya.


Berkat ucapannya Maul, kini semua perhatian tertuju kepadaku dan juga Maul.


Kemudian melihat semua orang menatapnya Maul pun tersadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan dan dia terdiam bingung ingin berbicara apa kepada mereka.


Aku hanya sedikit menggelengkan kepala melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Maul.


“Apa yang baru saja kau katakan Mul?”


Miyuki langsung menatap Maul dengan tatapan penasarannya itu.


Maul pun melihat ke arahku namun aku memalingkan wajahku darinya, aku tidak mau terlibat dengan masalah yang baru saja dia buat.


Akbar tertawa kecil melihat tingkat laku dari Maul yang masih meminta bantuan kepadaku.


“Bisa kau jelaskan kepada kami tentang apa yang baru saja kau katakan itu Mul?”


Miyuki terus menagihnya.


Sudah aku katakan kalau membicarakan sesuatu di hadapan Miyuki sangatlah merepotkan.


“Aku hanya salah bicara saja.”


Maul berusaha lepas dari hal ini dengan usahanya sendiri.


“Tidak mungkin.”


Miyuki masih terus menatap ke arah Maul.


“Pantas saja kau selalu mengeluh ketika dicurigai oleh Miyuki, ternyata seperti ini rasanya.”


Akhirnya Maul merasakan apa yang aku rasakan.


“Memangnya apa yang baru saja kalian bertiga lakukan?”


Sekarang Rina yang bertanya kepada Maul.


“Kami baru saja menyelesaikan sebuah kasus dan mendapatkan hadiah dari hal itu.”


“Kasus apa yang kalian selesaikan memangnya?”


Maul pun melihat ke arahku. Sepertinya dia sedang meminta persetujuanku untuk membicarakan ini.


“Beritahu saja kepada mereka, lagi pula percuma menyembunyikannya jika sudah seperti ini.”


Ucapku kepadanya, karena memang kita sudah tidak menyembunyikan hal ini lagi.


Tapi kenapa Maul bisa mengucapkan hal itu dengan tidak sengaja, apa dia sedang memikirkan sesuatu saat ini hingga dia tidak bisa mengendalikan ucapannya.


“Apa kalian ingat tentang kasus penculikan yang waktu itu pernah dibicarakan oleh Rian saat tahun baru? Itulah kasus yang kami selesaikan.”


Mendengar hal itu tentu membuat semua orang terkejut. Aku sebenarnya sudah menduga hal ini sebelumnya. Seandainya aku bukanlah orang yang melakukan hal ini, mungkin aku juga akan terkejut seperti mereka.


“Maksudmu penculikan yang waktu itu?”


Ucap Rian untuk memastikannya lagi.


“Iya.”


Jawab Maul dengan singkat.


“Kapan itu terjadi?”


“Satu minggu setelah pengambilan rapot.”


“Kenapa kau tidak bercerita kepadaku Mar?”


Sekarang Miyuki menagih hal itu kepadaku.


“Lagian untuk apa aku harus bercerita kepadamu.”


Orang tuaku saja tidak mengetahui tentang hal ini. Tentu saja aku menyembunyikannya, kalau mereka tau bisa-bisa aku habis dimarahi oleh mereka.


“Ini berita besar sekali.”


“Apa itu benar?”


Takeshi masih tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Maul.


“Kalau seandainya memang mereka yang melakukannya, kenapa di dalam berita nama kalian bertiga tidak disebutkan di sana atau setidaknya yang mengisyaratkan kalian bertiga seperti ‘Ada tiga orang pelajar yang berhasil menyelesaikan kasus ini’.”


Sambung Takeshi.


Aku tidak menyalahkannya jika dia tidak begitu percaya dengan hal ini.


“Bapakku adalah orang yang bekerja di kepolisian, jadi memanipulasi data seperti ini adalah hal yang mudah untuknya. Amar juga menyuruh bapakku untuk merubah hal itu.”


Maul menjelaskannya kepada Takeshi.


“Lagi-lagi kamu melakukan sesuatu yang berbahaya Ar!”


Rina terlihat marah sekali kepadaku.


Rina pun memarahiku atas apa yang telah aku lakukan. Aku juga hanya diam menerima kata-kata darinya, karena aku bingung harus berkata apa kepadanya.


“Itu bukan salah Amar Rina, dia hanya ingin membantu orang saja.”


Akbar berusaha membantuku untuk terlepas dari marahnya Rina.


“Aku sudah curiga dari sikapnya Riki yang terlihat biasa saja ketika sedang membahas kasus itu saat tahun baru. Sikap itu sangatlah tidak wajar.”


Pengamatan Miyuki memang cukup tajam juga, lain kali aku harus berhati-hati dengan pengamatannya itu.


“Lalu berapa hadiah yang kalian dapatkan dari itu?”


Rian merasa penasaran sekali.


“Aku sendiri juga tidak tau, bapakku tidak memberitahukannya kepadaku.”


Kira-kira seberapa banyak uang yang aku dapatkan dari situ. Kalau uang itu sangat banyak, mungkin aku bisa menggunakan uang itu untuk membeli kamera seperti yang aku inginkan sebelumnya.


Ya, mungkin setelah uangnya turun aku akan mulai mencari di internet tentang kamera, dan sedikit bertanya kepada Pak Febri, karena aku rasa dia mengetahui banyak tentang kamera.


“Aku minta uang tutup mulutnya kepadamu Mar!”


Miyuki langsung menagihnya kepadaku.


Aku tau maksud Miyuki dari uang tutup mulut, karena jika sampai dia bercerita kepada ibunya tentang hal ini dan ibunya bercerita kepada ibuku, aku berada di dalam masalah yang sangat gawat.


“Baiklah, kapan-kapan aku akan mengajak kalian semua makan-makan setelah pulang sekolah.”


Aku harus melakukan hal itu agar tidak disangka kalau aku memberikan perlakuan yang spesial kepada Miyuki.


Dan selanjutnya, Riki pun bercerita kepada mereka tentang aksi yang dilakukan oleh kami bertiga ketika sedang menangani kasus itu. Mereka semua pun juga menjadi tau kalau orang yang terlibat di dalam kasus itu adalah bapaknya Akbar dan adiknya.


-End Chapter 121-