Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 115 : Banyak Sekali Pertanyaan Yang Diberikan.


Keesokan harinya, aku bersama dengan Riki pergi ke rumahnya Maul untuk menceritakan apa yang terjadi kemarin. Aku tidak tau apa saja yang akan ditanyakan oleh bapaknya Maul kepadaku. Tapi setidaknya aku hanya perlu pergi ke rumahnya Maul, tidak perlu pergi ke kantor polisi untuk memberikan laporannya.


Ketika kami sampai di sana, kami sudah di tunggu oleh bapaknya Maul di ruang tamu. Aku sudah dapat melihatnya sedang duduk di sana sambil menikmati secangkir kopi yang ada di hadapannya.


“Kalian berdua sudah datang? silahkan duduk terlebih dahulu.”


Bapaknya Maul menyambut kami dengan ramah.


“Om tidak bekerja hari ini?”


Aku dan Riki duduk tepat dihadapannya.


“Saya akan pergi ke kantor setelah berbincang-bincang dengan kalian berdua, kan saya sudah janji kemarin.”


“Kenapa kita tidak melakukan hal ini di kantor polisi Om?”


Tanya Riki kepada bapaknya Maul.


“Kalian berdua pasti sudah tau tentang masalah internal yang terjadi di kepolisian tentang kasus ini. Itulah kenapa saya harus memanipulasi data tentang kasus kemarin dan juga bertanya kepada kalian di rumah untuk mengetahui informasi yang sebenarnya. Karena hanya di rumah ini saja kita dapat bertukar informasi dengan aman.”


“Apa kau mengatakan semuanya kepada bapaknya?”


Tanyaku kepada Maul yang duduk di samping bapaknya.


“Aku menceritakan semua tebakanmu waktu itu ke bapakku dan dia terkejut dengan tebakan-tebakanmu itu.”


“Saat mendengar hal itu dari Maulana, aku hanya tertawa saja karena semua tebakanmu itu hampir sama dengan apa yang terjadi di lapangan.”


Apakah aku harus membanggakan diriku karena hal ini? Sepertinya tidak perlu, membanggakan diri sendiri bukanlah kebiasaanku.


“Jadi Om mau bertanya dari mana?”


“Apa kalian berdua sudah siap menceritakan semua yang terjadi kemarin?”


Bapaknya Maul mulai menyiapkan kertas dan pena di hadapannya.


“Siap!”


Jawabku dan juga Riki secara kompak.


“Pertama dari mana kalian berdua tau kalau sedang terjadi penculikan?”


“Aku ditelepon oleh Akbar kalau adiknya menghilang dan belum pulang dari tempat dia mengaji padahal teman-temannya sudah pulang semua.”


“Apa hubungannya kau dengan Akbar ini Mar?”


“Kami teman sekelas.”


Bapaknya Maul selalu menulis apapun yang aku katakan saat ini. Tapi dia tidak menulis semuanya hanya poin-poin pentingnya saja.


“Apa yang kau lakukan setelah mendengar kalau adiknya Akbar ini diculik?”


“Aku langsung menghubungi Maul dan Riki untuk membantuku karena mereka berdua dapat membantuku di saat seperti itu.”


“Riki?”


Bapaknya Maul mulai bertanya kepada Riki


Akhirnya sesiku selesai juga.


“Iya Om.”


“Kenapa kau mau membantu Amar dalam melakukan hal ini?”


“Tentu saja aku akan membantu Amar Om, apalagi aku tau kalau Amar mau melakukan sesuatu yang menarik.”


Riki menjawab dengan jujur sekali tanpa ada yang ditutup-tutupi.


“Kenapa kau tidak menyuruh Akbar untuk melaporkan hal ini kepada kepolisian Mar?”


Ternyata aku ditanya lagi.


“Aku tidak menyuruhnya karena aku tau kalau paman dan bibinya sudah melakukan itu, jadi untuk apa aku harus menyuruhnya lagi.”


“Dari mana kau mengetahui lokasi dari rumah bapaknya Akbar dan tempat mereka melakukan teransaksi?”


“Aku meminta Maul untuk melakukan hal itu, karena hanya dia saja yang bisa melakukannya.”


Itulah kenapa aku meminta bantuan dari Maul, tanpa bantuan darinya aku tidak mungkin bisa bergerak secepat itu.


“Harusnya aku sudah mengetahui itu.”


Bapaknya Maul menyeruput kopi miliknya.


“Lalu apa yang kalian lakukan saat tiba di rumah bapaknya Akbar?”


“Kita makan bakso terlebih dahulu di sana sambil mengawasi rumah bapaknya Akbar.”


“Apa kau perlu menceritakan tentang kita yang memakan bakso Rik?”


“Hahahaha... Itu tidak masalah.”


Bapaknya Maul dan Maul tertawa ketika mendengar hal itu.


“Dengan apa kalian pergi ke tempat transaksi itu?”


“Kami menggunakan bajai untuk pergi ke sana.”


“Tumbel sekali kau mau mengeluarkan uang untuk hal itu.”


Ucap Maul kepadaku.


“Awalnya aku ingin menggunakan ojek, tapi itu akan memakan waktu yang cukup lama dan harga yang mungkin lebih mahal karena aku harus membayar dua motor.”


Aku bersyukur karena saat itu aku memiliki uang yang cukup di dompetku, jadi aku tidak perlu repot-repot pergi ke ATM untuk mengambil uang lagi.


“Lalu bagaimana kalian berdua bisa masuk ke dalam gudang itu? Karena saat saya datang dengan yang lain, pintu gerbang itu terkunci dan di sekeliling dinding terdapat pecahan beling di atasnya.”


Tunggu... Terkunci? Aku rasa ketika aku tiba di sana pintu gerbangnya tidak terkunci, aku dapat membukanya dengan mudah tapi karena akan menimbulkan bunyi yang mencolok jadinya aku harus memutar agar tidak ketahuan.


“Memangnya gerbangnya dikunci? Waktu aku datang dengan Riki gerbangnya tidak dikunci sama sekali dan kami dapat membukanya.”


“Terus kalian masuk lewat gerbang itu?”


Tanya bapaknya Maul kepada kami.


“Tidak, kami memutar dan mencari dinding yang tidak ada belingnya untuk dipanjat. Karena kalau kami masuk lewat gerbang, mungkin orang yang ada di dalam dapat mengetahui kalau kami masuk ke sana karena suara yang ditimbulkan oleh gerbang itu.”


“Kalian memanjat dinding yang tinggi itu, bagaimana caranya?”


Bapaknya Maul sedikit terkejut ketika mendengar hal itu.


“Aku melompat dengan menggunakan Amar sebagai tumpuan untuk meloncat agar dapat menggapai atas dindingnya dan aku menggunakan gesperku untuk membantu Amar memanjat.”


Riki menceritakan hal itu kepada bapaknya Maul.


“Apa kalian berdua sering melakukan hal-hal seperti ini?”


Bapaknya Maul heran dengan kerja sama tim antara aku dan juga Riki.


“Kalau soal panjat memanjat, kami sering melakukannya ketika kecil saat sedang mengejar layangan Om!”


“Aku rasa dia tidak membicarakan tentang hal ini Rik.”


Ucapku kepada Riki.


“Benarkah itu?”


Anak ini bisa saja menjawab hal seperti itu di saat sedang membicarakan sesuatu yang penting.


“Memangnya kenapa Om bertanya seperti itu?”


“Aku jadi malu dikatakan seperti itu.”


Riki menjadi Maul dan sifatnya malu itu sangat menyebalkan sekali.


“Lalu apa yang kalian lakukan ketika tiba di sana?”


“Kami mengendap-endap masuk ke dalam sana dan bersembunyi di salah satu kontainer yang sudah tidak terpakai lagi.”


“Kenapa kalian bisa tidak ketahuan? Bukannya gudang itu hanya memiliki satu pintu masuk dan jika ada seseorang yang memasuki gudang itu akan sangat jelas sekali.”


“Saat itu bapaknya Akbar sedang fokus menelpon seseorang, jadi kami dapat masuk ke sana dengan mudahnya tanpa ketahuan.”


Selaginya jika dia tidak sedang menelpon, mungkin aku akan memikirkan cara lain untuk memasuki gudang itu.


“Bagaimana kondisi adinya Akbar saat itu?”


“Dia sudah tidak sadarkan diri karena obat tidur yang diberikan kepadanya mungkin, tapi sebelum itu Putri masih sadarkan diri.”


“Kapan tepatnya Nak Putri ini masih sadarkan diri?”


“Kami melihatnya ketika sedang mengawasi rumah bapaknya Akbar yang berada di wilayah Ampera.”


Bapaknya Maul menulis banyak sekali hal di kertanya, bahkan aku sudah melihatnya tiga kali mengambil kertas kosong untuk digunakan menulis jawaban dariku.


“Aku sudah mendapatkan laporan dari bagian yang menyelidiki botol yang kemarin ditemukan oleh Maul dan ternyata itu memang obat tidur. Tapi obat tidur itu tidak ditemukan di Indonesia dan sepertinya diseludupkan dari luar negeri. Kandungan yang ada di dalam obat itu juga sangat berbahaya jika dikonsumsi secara berlebihan, karena memiliki dosis yang tinggi.”


“Apa obat tidur itu sudah termasuk ke dalam obat-obatan terlarang?”


“Aku belum mengetahui hal itu lebih lanjutnya karena obat itu masih diteliti lagi kandungan-kandungannya.”


“Bagaimana keadaan Putri sekarang?”


Riki bertanya kepada bapaknya Maul.


“Dia sudah pulang kemarin, pengaruh obatnya sudah menghilang saat sore hari.”


“Alhamdulillah kalau begitu.”


Riki terlihat lega setelah mendengar kabar dari Putri yang baik-baik saja.


“Kemudian apa yang kalian lakukan saat berada di dekat bapaknya Akbar? Karena saat saya datang, saya melihat Amra yang sedang menahan seseorang dan Riki yang terdiam karena sesuatu.”


“Waktu itu sebenarnya aku sengaja untuk menunggu orang yang ingin membeli adiknya Akbar dengan menahannya di sana sampai anggota kepolisian datang, tapi karena Riki bertindak seorang diri jadinya aku harus bertindak juga.”


Apalagi setelah mengetahui kalau orang itu membawa sebuah pistol, sudah pasti aku harus bertindak, tidak mungkin aku hanya melihatnya saja.


“Ketika itu kenapa kau bisa memiliki pisau yang kau pegang waktu itu Mar?”


“Pisau itu sebenarnya milik bapaknya Akbar.”


“Lalu kenapa pisau itu bisa berada di tanganmu?”


“Pisau itu terpental darinya ke dekatku saat bapaknya Akbar sedang berkelahi dengan Riki.”


Mendengar itu membuat Maul terkejut sekaligus tertawa.


“Jadi Riki berkelahi dengan bapaknya Akbar?”


“Begitulah.”


Ucap Riki sambil mengusap kepalanya.


“Lalu apa yang kau lakukan setelah mendapatkan pisaunya?”


“Setelah mendapatkan pisaunya, aku melihat kalau si pembeli memiliki pistol di balik jaketnya. Karena aku tau kalau pistol itu akan digunakan untuk menodong Riki yang saat itu sedang membekuk bapaknya Akbar, jadi aku pergi mengitari mereka secara diam-diam sambil bersembunyi dibalik kontainer yang ada di sana untuk menyergap si pembeli dari belakang.”


Saat itu aku juga terbantu dengan gudang yang mereka gunakan memiliki banyak sekali kontainer yang sudah tidak terpakai yang tersebar di seluruh gudang itu. Jadinya aku dapat dengan mudah bersembunyi di sana.


“Hebat sekali kau dapat melakukan hal itu tanpa terdeteksi.”


Bapaknya Maul salut kepadaku.


“Hawa keberadaanku memang rendah dari awal, itulah kenapa aku bisa melakukannya dengan mudah.”


Dulu ketika sekolah aku pernah diabaikan oleh guru piket padahal saat itu aku menggunakan atribut yang tidak lengkap. Padahal teman-temanku yang menggunakan atribut tidak lengkap dihukum semuanya, tapi hanya aku yang dapat melewatinya karena dia tidak sadar kalau aku lewat di depannya.


“Kemarin aku melihat ada bekas sayatan di leher si pembeli tapi tidak terlalu dalam. Apa itu perbuatanmu juga?”


“Iya, itu aku lakukan agar pembeli itu mau mengatakan semua yang aku ingin tau.”


Sepertinya aku akan dimarahi oleh bapaknya Maul.


“Apa yang sudah kau lakukan itu terlalu nekat Mar! Seharusnya kau tidak melakukan hal itu.”


Baru saja aku katakan dan itu sudah terjadi.


“Aku tidak bisa memungkirinya.”


“Dan ini pertanyaan terakhir dariku...”


Akhirnya sesi tanya jawab yang panjang ini akan berakhir juga.


“Kenapa kau bisa menyimpan sebuah batu di saku jaketmu untuk dilempar kepada bapaknya Akbar? Apa sebelumnya kau sudah mengira kalau hal itu akan terjadi?”


“Sebenarnya aku menyiapkan batu itu untuk dilempar ke arah si pembeli jika aku tidak sempat menghentikannya menarik pelatuk pistolnya. Tapi ternyata itu tidak diperlukan jadi aku menaruh saja batunya di kantung jaketku. Dan selanjutnya Om mungkin tau apa yang terjadi ke depannya.”


“Kalian bertiga memang pasangan yang sangat mengerikan jika bekerja sama. Kasus seperti ini saja seperti permainan bagi mereka.”


Bapaknya Maul membereskan kertas-kertas itu dan menyimpannya di sebuah laci yang berada di dekat sana.


Permainan? Ini terlalu rumit dan berbahaya jika menyebutnya permainan, setidaknya nyawa kita dipertaruhkan di sini.


“Apa Om mengetahui info lain dari si pembelinya?”


Aku bertanya kepadanya, karena aku masih penasaran dengan informasi-informasi yang akan diberikan oleh penjual itu.


“Ketika saya melakukan introgasi kepada pelaku, dia hanya mengatakan kalau dia adalah kurir dan dia disuruh oleh seseorang. Ketika kami bertanya siapa orang yang menyuruhnya, dia berkata kalau dia sama sekali belum bertemu, nama yang digunakan juga nama samaran. Tapi kami sedang menyelidiki siapa orang itu.”


“Dia juga mengatakan hal itu kepadaku.”


“Tapi setidaknya kita sudah mendapatkan sedikit informasi untuk menyelesaikan kasus penculikan ini. Tinggal sedikit lagi hingga kita bisa membereskannya dari bumi Indonesia ini.”


Bapaknya Maul terlihat sangat berharap sekali dengan informasi itu.


“Aku akan membantu kalian sebisanya, jika ada info lain yang aku dapatkan terkait masalah penculikan itu, aku pasti akan memberitahukannya kepada Om.”


“Saya turut berterima kasih karena kalian mau membantu saya, tapi kalian jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi. Biar anggota kepolisian saja yang melakukannya.”


Bapaknya Maul menasihati kami.


Walaupun dia tidak mengatakan hal itu, aku juga tidak mau melakukannya lagi karena menurutku itu sangat merepotkan.


Kemarin saja aku merasa kalau satu hari itu terasa sangat panjang sekali, ketika sampai di rumah saja tubuhku menjadi lemas semua dan kakiku merasa sakit karena waktu itu harus meloncat dari tembok yang cukup tinggi. Akhirnya aku harus menunda pekerjaanku dari kantor dan menyelesaikannya ketika pagi hari. Untung saja saat itu Pak Hari tidak terburu-buru meminta laporannya.


“Lalu bagaimana masalah internal yang terjadi di kepolisian? Apakah hal itu bisa diatasi dengan mudah?”


“Kalian tenang saja untuk itu, aku sudah memiliki anak buah yang dapat dipercayai untuk melakukan penyelidikan-penyelidikan khusus seperti ini.”


“Baguslah kalau begitu.”


Semoga saja apa yang dikatakan oleh bapaknya Maul benar.


Lagi pula aku juga tidak mau terlibat terlalu jauh dengan masalah yang dimiliki oleh aparat. Aku merasa kalau aku terlalu ikut campur dalam hal itu, hidupku akan menjadi tidak tenang lagi. Hal ini lebih menyebalkan dibandingkan mengurus masalah dengan Takeshi.


Hari itu penyelidikan pun selesai, bapaknya Maul langsung pergi ke kantornya setelah berbincang-bincang dengan kami sebentar. Aku juga langsung pulang ke rumah karena aku mau menikmati liburanku yang tinggal sebentar lagi.


-End Chapter 115-