HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
S2 TUKANG CILOK


"Berisik! Kalau mau teriak-teriak sana di lapangan, jangan disini, mengganggu ketenangan saja!" seru Vano karena Bita berteriak sambil memanggil namanya.


"Lagian Pak Vano kurang ajar, bilang aku mau menikah sama tukang becak lah, tukang beling. Itu semua tidak benar," kata Bita meralat apa yang Vano ucapkan padanya.


"Terus sama siapa? Tukang cilok?"


"Iyain aja!" jawab Bita yang engga untuk menimpali ucapan dari Vano.


"Tapi tukang ciloknya bukan Santos kan?" tanya Vano mengingat sang sahabat yang sukses dalam usaha percilokan setelah menikahi wanita yang umurnya lebih tua darinya.


"Siapa Santos, Pak?" tanya Bita balik mendengar pertanyaan dari Vano.


"Kamu nanya?"


"Ish, dasar menyebalkan! Padanya aku punya informasi penting untuk pak Vano, loh."


"Informasi penting?" tanya Vano sambil menoleh pada Bita yang masih berada di tempatnya. "Informasi apa?"


"Kamu nanya, kamu bertanya tanya?" balas Bita sambil terbawa.


"Sialan!"


Bita merasa puas sudah mengerjai balik Vano lalu mengulurkan lidah kearahnya.


Membuat ibu Vivi yang mendengar perdebatan keduanya tersenyum bahagia. Entah mengapa selama Bita menjadi perawatnya, rumah menjadi semakin hidup, dan ibu Vivi begitu semangat untuk menjalani sisa hidupnya, meskipun sang putra yang tidak muda lagi selalu menolak untuk menikah.


Siang hari, setelah ibu Vivi tidur siang. Bita keluar dari dalam kamarnya.


Kemudian mencari Vano untuk menagih uang yang tadi dijanjikan setelah menutup mulut dari ibu Vivi.


Karena tidak mendapati Vano di penjuru ruangan, padahal Vano hari ini sedang tidak ada pekerjaan. Membuat Bita langsung menanyakan keberadaan Vano pada asisten rumah tangga ibu Vivi.


Dan setelah tahu Vano berada dimana, dengan segera Bita menyusulnya.


Bita menghentikan langkah kakinya setelah menggeser pintu kaca yang menuju arah kolam renang tepat disamping rumah tersebut.


Ketika kedua bola matanya menatap pada Vano yang baru naik ke tepi kolam renang.


"Ya ampun, kotak-kotak. Apa itu yang dinamakan roti sobek," kata Bita dengan kedua bola matanya terpukau menatap dada bidang dan juga perut sixpack Vano, yang basah terkena air, dan itu terlihat begitu sempurna. "Ya ampun, apa aku tidak salah lihat. Terkena air saja bisa semenonjol itu, apa lagi kalau sudah bangun," kata Bita melihat alat reproduksi Vano dari balik celana boxer basah yang dikenakannya.


Kemudian Bita menggelengkan kepalanya dan mengalihkan tatapannya seteleh mengagumi tubuh Vano yang begitu sempurna.


"Bita, stop! Ingat tujuan kamu." kata Bita pada dirinya sendiri, lalu melangkahkan kakinya kembali yang sempat tertunda, untuk menagih uang pada Vano.


"Mana uangnya?" tanya Bita langsung, tanpa menoleh pada Vano, yang bisa saja membuatnya terpesona lagi.


"Uang apa?" tanya Vano balik yang melupakan tentang uang satu juta, yang diminta oleh Bita untuk menutup mulut.


"Oh pura-pura lupa ya. Baiklah kalau begitu aku akan memberi tahu Bu Vivi, siapa pak Vano yang sebenarnya,"


"Oh uang tutup mulut," kata Vano yang baru mengingatnya.


"Iya lah memangnya apa lagi, buruan mana uangnya!"


"Nanti aku berikan, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, silakan duduk!" perintah Vano sambil menunjuk kursi yang berada di sampingnya.


"Aku tidak mau bicara apa pun dengan pak Vano, karena yang aku inginkan hanyalah uang, mengerti!"


"Ya sudah kalau kamu tidak mau, tunggu saja disini sampai aku selesai berenang,"


"Hei, Pak Vano sudah selesai berenang bukan?"


"Kata siapa, aku sedang istirahat dulu sebentar,"


"Ya sudah, Pak Vano kan, sedang istirahat. Sekarang mana uangku,"


"Kamu mau sekarang?"


"Ya iya lah!"


"Makanya duduk dulu,"


Bita pun langsung mengikuti perintah dari Vano.


Membuat Vano langsung tersenyum. Kemudian menaruh kedua kakinya diatas pangkuan Bita.


"Pak Vano!" teriak Bita yang langsung menyingkirkan kedua kaki Vano dari pangkuannya.


"Kamu mau uang kan? Sebelum itu pijitin kakiku dulu,"


"Ogah!"


Bersambung...................