HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Banyak Bicara


Zain benar-benar panik, karena Hazel terus mengeluh sakit di perut dan juga pinggangnya


Dan hal tersebut mengingatkannya pada kejadian dimana ia harus kehilangan istri pertamanya, yang meninggal setelah melahirkan Zi.


Tak terasa ia menitikan air mata, sambil mengelus perut sang istri, ketika sedang berada di dalam mobil yang di kendarai oleh Ziu sang asisten menuju ke rumah sakit.


Dan kecupan ia berikan di kening sang istri.


"Sayang, kenapa kamu yang menangis?" tanya Hazel sambil menahan sakit, ketika melihat sang suami menangis.


Namun, tidak di jawab oleh Zain yang kini mencium perut sang istri, lalu menenggakkan kepalanya untuk menatap wajah sang istri.


"Sayang, jangan tinggalkan aku,"


"Kamu bicara apa sih, sayang. Aku tidak akan pergi ke mana pun,"


"Janji padaku,"


"Ah, kamu membuat aku bingung. Aww!" teriak Hazel, ketika sakit yang tadi sempat menghilang kini kembali datang.


"Bodoh! Cepat lajukan mobilnya!" kesal Zain sambil menendang jok mobil yang sedang di duduki oleh sang asisten, karena menurutnya, Ziu mengendarai mobil sangat pelan.


"Bos, ini sudah cepat, naik roket sekalian, kalau mau cepat lagi," gerutu Ziu, karena ia sudah melajukan mobil yang di kendarai dengan kecepatan seratus kilometer per jam, dan itu sudah melaju sangat kencang di jalanan ibu kota. "Lagian nyodok tidak berkeprimanusiaan, lupa apa, yang dulu pernah terjadi," ucap Ziu mengingatkan kejadian beberapa bulan lalu, ketika pertama kalinya Hazel di bawa ke rumah sakit.


"Ini situasi dan kondisinya berbeda, bodoh!"


"Paling bos Hazel hanya kontraksi bohongan, tenang saja Bos,"


"Matamu!" sahut Hazel yang juga menendang jok mobil yang di duduki Ziu. "Sayang, lebih baik kamu cari asisten baru, dia banyak bicara,"


"Oke sayang," sahut Zain. "Tuh Ziu, dengerin apa yang istriku katakan, jika..."


"Oke Bos, aku akan diam," sahut Ziu yang menambah kecepatan laju mobilnya,"


"Apa lagi Bos,"


"Jangan kencang-kencang bodoh!"


"Salah lagi, tadi Bos bilang suruh cepat, sekarang suruh pelan yang benar yang mana,"


Namun, Zain tidak lagi menanggapi ucapan dari asistennya tersebut karena sang istri kembali mengaduh kesakitan.


"Sayang, tahan. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit," ucap Zain. "Lebih baik kamu tarik nafas dalam dari hidung dan keluarkan dari mulut," Zain mengarahkan sesuai yang ia tahu, ketika seorang wanita akan melahirkannya.


Dan Hazel pun langsung mengikuti apa yang Zain katakan, meskipun rasa sakit yang sekarang ia rasakan lebih-lebih dari rasa sakit yang ia rasakan dulu ketika melahirkan Ev. Mungkin karena proses yang sekarang ia alami, berbeda saat melahirkan Ev yang menggunakan metode epidural, dan di lakukan di luar negeri, jadi ia tidak merasakan yang namanya kontraksi.


Tidak butuh waktu lama Hazel yang sudah tiba di rumah sakit, langsung di bawa ke ruang persalinan, oleh dokter kandungannya, yang sudah menunggu.


Karena memang, sebelum Zain meluncur ke rumah sakit, sudah terlebih dahulu menghubungi dokter tersebut.


"Ya Tuhan, ini sudah pembukaan tujuh," ucap Dokter tersebut setelah memeriksa Hazel.


"Jadi benar istriku akan melahirkan Dok, tapi usia kandungannya baru tujuh bulan?" tanya Zain, yang terus memegangi tangan sang istri.


"Hal wajar, ibu hamil yang mengandung bayi kembar, akan melahirkan lebih cepat dari perkiraan," jelas dokter tersebut.


"Tapi apa aman Dok?"


"Sangat aman, apa lagi kondisi Nona dan juga bayi yang sedang di kandung sangat baik,"


"Baik Dok," ucap Zain yang kini menatap Hazel yang sedang meringis kesakitan. "Sayang, yang kuat ya,"


Namun, Hazel tidak menanggapi ucapan Zain, karena ia tiba-tiba memejamkan matanya. "Sayang, sayang. Dok! Ada apa dengan istriku!"


Bersambung.................