
Hazel terus menggerutu setelah bertemu dengan Zain di pemakaman, dan niat awal ingin mengunjungi makam sang suami, harus dia urungkan, ketika moodnya tidak baik, karena bertemu dengan pria yang sangat menyebalkan bagi Hazel, apa lagi Zain menginjak buket bunga yang dia bawa ketika ingin mengunjungi makam sang suami.
"Memang sialan, si tidak normal itu, untung aku masih memiliki rasa prikemanusiaan, jika tidak, sudah aku mutilasi dia," ucap Hazel, dan terus mengendarai mobilnya, karena hari ini dia enggan menggunakan sopir pribadinya untuk mengantarnya ke makam, mengingat lagi, untuk hari ini Hazel tidak ingin pergi ke kantor, dan ingin menemui kedua sahabatnya, untuk mencurahkan seluruh isi hatinya yang tidak baik-baik saja, setelah pertemuannya dengan Zain, apa lagi sekarang sudah menyandang status sebagai suaminya.
Hazel menautkan kedua alisnya, ketika mobil yang dikendarainya tiba-tiba berhenti mendadak.
"Sial, apa yang terjadi," ucapanya yang langsung turun dari dalam mobilnya, untuk memeriksa apa yang terjadi.
*
*
*
Sementara itu Zain juga terus mengumpat, saat sudah berada di dalam mobil yang di kendarai oleh sang asisten.
"Ya elah Bos, sudahlah, jangan menggerutu seperti perempuan,"
"Tapi wanita itu benar-benar membuat aku kesal, ini tanggal dimana aku harus mengunjungi istriku, tapi apa, dia malah merusak buket bunga yang aku bawa. Jika dia bukan wanita, sudah aku tonjok, dia" ungkap Zain kesal, sambil mengingat pertemuannya dengan Hazel saat di pemakaman.
"Mungkin hal itu sudah rencana Tuhan, Bos. Dan Bos suruh bawa buket bunga ke si sexy, bukan ke makam istri Bos, si sexy kan, istri Bos sekarang,"
"Najis aku memberikan bunga pada wanita seperti itu,"
"Jangan bicara seperti itu, Bos. Nanti bucin baru tahu rasa, dan Bos harus mensucikan diri dengan pasir dari gurun sahara, setelah, setiap kali menyentuh si sexy, Bos mau,"
Namun, Ziu tidak menanggapi perkataan dari sang bos, dan langsung menepikan mobilnya, lalu menghentikan mobilnya.
"Ziu, kenapa berhenti?"
Bukannya menjawab pertanyaan sang bos, Ziu malah turun dari mobil, tentu saja kedua bola mata Zain langsung mengikuti ke mana sang asisten pergi, kemudian mendesaah kesal, melihat Ziu menghampiri Hazel yang baru turun dari dalam mobil.
"Nona, apa yang terjadi?" tanya Ziu, ketika sudah mendekati Hazel yang baru saja keluar dari dalam mobil, untuk mengecek mobilnya yang tiba-tiba mati mendadak.
Hazel tidak langsung menjawab pertanyaan Ziu, karena sekarang dia menoleh padanya. "Tidak tahu, dan tiba-tiba mati," akhirnya Hazel menjawab pertanyaan dari Ziu, saat Hazel mengenali pria tersebut, adalah asisten dari Zain sang suami.
"Biar aku lihat," Ziu pun langsung mengecek mobil Hazel. "Nona, sepertinya mobil ini harus segera di bawa ke bengkel," ujar Ziu, setelah memeriksa mobil tersebut. "Lebih baik Nona menunggu di mobil itu, sembari menunggu mobil derek tiba," usul Ziu, sambil menunjuk mobil yang tadi dikendarainya, dimana ada Zain di dalamnya.
"Tidak perlu, aku akan pulang dengan taksi, saja," tolak Hazel.
"Di sepanjang jalanan ini susah mencari taksi, Non. Sudah begitu, jalanan ini juga sepi. Lebih baik ke mobil saja, apa lagi ini sudah gerimis," usul Ziu, benar adanya, karena gerimis tiba-tiba datang, dan sepertinya akan hujan besar.
Tanpa mengatakan apa pun, Hazel segera menuju mobil dimana sang suami berada, karena tiba-tiba gerimis di gantikan hujan lebat, dan meninggalkan Ziu yang langsung masuk ke dalam mobil Hazel.
"Berdualah kalian di sana, apalagi cuaca sangat mendukung," ucap Ziu, yang sudah berada di dalam mobil Hazel. Berharap sang Bos dan juga istri barunya, bisa lebih dekat.
Bersambung...........