
...Jangan lupa ramaikan part ini....
...Happy reading...
****
Zidan dan Fathan sudah membawa papa Ezra, mama Erlin, dan Sabrina ke UGD. Mereka sudah menyuruh dokter memeriksa ketiganya. Semua dokter, suster, dan karyawan rumah sakit sudah diperintahkan untuk bungkam dengan apa yang terjadi pada papa Ezra, mama Erlin, dan Sabrina. Mereka tahu jika ketiganya diculik tetapi orang yang menculik ketiganya mereka sama sekali tidak diberitahu sebab Zidan tidak ingin Tiara menjadi pergunjingan seluruh rumah sakit dan akibat kekuasaan Fathan di rumah sakit ini semua dapat diatasi termasuk media yang ingin memberitakan ketiganya.
"Lakukan pemeriksaan terhadap ketiganya. Jangan banyak tanya kenapa mereka bisa seperti itu yang jelas saya tidak mau media meliput ketiganya dengan berita yang tidak sedap," ucap Fathan dengan tegas.
"Baik, Dok! Kami akan bekerja semaksimal mungkin!" ucap salah satu dokter mewakili yang lainnya.
"Jika ada kerabat dari Sabrina yang datang langsung laporkan kepada saya!" ujar Fathan sekali lagi.
"Baik, Dok!" ucap dokter dan suster yang ada di sana berbarengan.
Setelah para dokter dan suster masuk ke ruang UGD. Fathan menatap Zidan yang tampak terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Temui Tiara! Mungkin dia butuh suara lo untuk merespon," ucap Fathan.
"Thanks... Berkat lo semuanya berjalan dengan lancar. Dan besok gue harus bertemu dengan Barra," ucap Zidan dengan mata yang penuh akan kebencian untuk Barra. Karena Barra, Tiara-nya jadi seperti ini! Karena Barra, Tiara-nya hendak pergi meninggalkannya.
"Lo tenang. Biar polisi semua yang urus, gue yakin Barra akan dihukum seberat-beratnya.
" Ya gue harap begitu!"
****
Zayyen menatap Tiara dengan pandangan yang sama sekali tidak terbaca, hati kecilnya ingin menangis, berteriak memanggil mamanya tapi matanya tak mampu lagi mengeluarkan air mata. Kesedihan yang dirasakan Zayyen membuat anak kecil itu semakin terlihat dingin dan tak tersentuh, trauma yang ia alami telah mengguncang hati dan jiwanya.
"Zayyen, sampai kapan kamu gak mau anggap mama? Apa sampai mama mati?"
Ucapan Tiara kembali berputar di otaknya yang membuat rasa bersalahnya semakin dalam.
Ibu Mala melihat cucunya dengan sendu, Zayyen terlihat terpukul dan bersalah atas apa yang menimpa mamanya sedangkan Zayden seperti menjauh dari Zayyen, ia kecewa dengan kembarannya. Andai saja Zayyen tidak pergi waktu itu pasti mamanya tidak akan seperti ini! Andai saja Zayyen mendengarkan ucapannya agar tetap bersamanya pasti mamanya masih berkumpul bersama dengan mereka!
"Ini semua gara-gara Kakak! Andai saja kakak mau mendengarkan ucapan Zayden waktu itu mama tidak akan seperti ini! Kenapa tidak kakak saja yang mati jangan mama! Zayden baru bertemu mama dan mama sudah mau pergi meninggalkan Zayden. Zayden benci kakak!" ucap Zayden dengan tajam.
"Zayden, gak boleh berbicara seperti itu kepada kakak kamu!" tegur Ibu Mala dengan tegas.
"Biarin, Nek! Dia lebih sayang pembunuh itu! Kalau saja kak Zayyen gak pergi bersama orang jahat itu mungkin mama gak kecelakaan, tangan mana gak akan putus!" ucap Zayden dengan tajam.
Zayyen menatap tajam ke arah Zayden, ia tahu dirinya salah tetapi ia tidak suka dipojokan seperti ini.
"Kamu gak tahu rasa bersalah itu telah menggunung di hatiku!" Bak seorang pria dewasa Zayyen mengatakan itu dengan sangat dingin kepada kembarannya. Ia pantas dibenci! Zayyen sadar itu tetapi bisakah ia diberi kesempatan kedua untuk menyayangi mamanya yang pernah tak ia anggap kehadirannya?
"Ada apa ini?" tanya Zidan saat mendengar suara keributan dari kedua anaknya.
"Zidan, tolong nasehati Zayden agar tidak marah dengan Zayyen. Ibu takut mereka saling membenci di kemudian hari dan terbawa sampai dewasa. Ibu sudah merelai Zayden sejak tadi tetapi dia sama sekali tidak mendengarkan nasehat ibu," ucap Ibu Mala dengan sendu.
"Zayyen, Zayden, ikut Papa!" ucap Zidan dengan tegas.
"Aku tidak mau, Pa! Aku ingin bersama mama!" ucap Zayyen dengan tegas.
Zayyen geram, ia mendorong Zayden dengan kuat. "AKU MENYAYANGI MAMA. AKU TIDAK TAHU JIKA AKAN TERJADI SEPERTI INI!"
"STOP!" teriak Zidan dengan marah.
"SIAPA YANG MENGAJARKAN KALIAN SEPERTI INI? PAPA TIDAK SUKA MELIHAT KALIAN BERANTEM SEPERTI INI! MAMA PASTI AKAN MARAH JIKA MELIHAT KALIAN BERANTEM!" ucap Zidan dengan marah.
Keduanya terdiam tidak membalas ucapan papanya yang sedang marah.
"Saling meminta maaf cepat!" ucap Zidan dengan tegas.
"Zayden, Zayyen ayo cepat! Kalian itu saudara kembar tidak baik bermusuhan! Atau kalian mau Papa hukum agar tidak bisa bertemu dengan mama, mau?" ucap Zidan dengan tajam.
Dengan enggan Zayden mengulurkan tangannya ke arah Zayyen. "Maaf!" ucap Zayden dengan datar.
Zayyen hanya mengangguk saja setelah membalas jabatan tangan Zayden.
"Kalau Papa lihat kalian berantem lagi. Papa akan hukum kalian! Mengerti?" ucap Zidan dengan tegas.
"Mengerti, Pa!" jawab keduanya dengan pelan.
Ibu Mala mengusap air matanya dengan perlahan, sungguh ia sangat takut jika kedua cucunya akan saling bermusuhan sampai dewasa.
"Tiara, ibu mohon bangun! Ibu takut Zayden akan memusuhi Zayyen jika kamu tidak segera bangun. Kasihan Zayyen, Tiara!" gumam Ibu Mala di dalam hati.
****
Zidan menatap tajam ke arah Barra. Ia ingin sekali meninju wajah Barra tetapi semuanya tertahan saat para polisi yang sudah menangani kasus Barra.
"Saya sudah sangat baik kepada kamu Barra! Tapi apa yang kamu lakukan hingga calon istri saya sekarang terbaring tak sadarkan di rumah sakit. Maka sekarang nikmati hukuman yang kamu dapatkan!" ucap Zidan dengan tajam.
Barra menatap dengan pandangan kosong ke arah Zidan. "Itu sesuai dengan apa yang kamu lakukan terhadap kami terutama istri saya yang sangat menyayangi Zayyen!" ucap Barra dengan datar.
"Kamu orang jahat! Kamu pembunuh! Kamu bukan lagi papaku!" ucap Zayyen dengan tajam.
Saat papanya ingin pergi menemui Barra, Zayyen memaksa untuk ikut. Entah apa yang ingin Zayyen lakukan tetapi Zidan membiarkan Zayyen ikut bersamanya.
"Zayyen! Ini Papa, Nak!" ucap Barra dengan berkaca-kaca.
"Bukan! Kamu penjahat! Aku tidak ingin bertemu dengan kalian lagi! Aku menyesal memanggil kamu dengan sebutan papa!" teriak Zayyen dengan menggebu.
"Zayyen sudah!" ucap Zidan menenangkan anaknya yang terlihat gemetar menahan tangis.
"Zayyen sama kakek sini!" ucap ayah Felix menghampiri Zayyen, suasana yang seperti ini tidak baik untuk mental Zayyen. Ayah Felix membawa Zayyen keluar agar Zidan saja yang berbicara dengan Barra.
"Kamu psikopat, Barra! Lihat apa yang kamu lakukan membuat semua orang terluka! Zayyen yang tak lagi mau menganggap kamu sebagai papanya dan istrimu yang saat ini masuk rumah sakit karena berbuatan kamu sendiri. Maka nikmatilah hidup di penjara seumur hidupmu!" ucap Zidan dengan tajam.
"Kalian bajing*n! Hahaha kalian telah memisahkan aku dengan Zayyen! Seharusnya Zayyen masih menjadi anakku hiks..hikss.."
Zidan menatap Barra dengan datar. Lelaki itu seperti stres sekarang, tertawa lalu menangis, dan berteriak dengan kencang.
"Selamat menikmati hidupmu yang baru Barra!"