Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 67 (Tak Ingin Melepaskan?)


...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Zidan menggandeng tangan Tiara dengan erat saat mereka berjalan bersama memasuki rumah sakit. Setelah cuti Tiara selesai akhirnya Tiara kembali bekerja, rasa hangat menjalar di hati Tiara saat genggaman Zidan terasa hangat di dirinya.


"Tika, aku mohon jangan muncul dulu!" ujar Tiara di dalam hati saat melihat tangan Zidan yang menggenggamnya.


"Kamu sangat mengulur waktu, Tiara! Aku tidak ingin melihat mereka terus bahagia di atas penderitaan kita!" ujar alter ego Tiara dengan dingin.


"Aku ingin Zayyen kembali terlebih dahulu baru rencana kita jalankan Tika! Aku tak ingin gegabah dan berakibat fatal," ucap Tiara di dalam hati.


Zidan memperhatikan Tiara yang terlihat diam, perasaan was-was jika alter ego Tiara akan muncul kembali menguasai hati Zidan. Dengan gerakan yang amat sangat lembut, Zidan mengusap tangan Tiara hingga wanita itu tersentak dan menatap Zidan.


"Kenapa?" tanya Tiara dengan pelan.


"Kenapa kamu diam hmmm? Mas takut, Ay!" jawab Zidan dengan jujur.


"Aku gak apa-apa, Mas. Lagi mikir Zayyen aja," ujar Tiara tidak sepenuhnya berbohong.


"Jam makan siang kita akan menemui Barra. Jangan khawatir secepatnya Zayyen akan bersama dengan kita, Ay!" ujar Zidan dengan mantap.


Tiara mengangguk dan tersenyum kepada Zidan. Dengan perlahan ia melepaskan genggaman tangan Zidan pada tangannya.


"Aku ke ruangan dulu ya!" ujar Tiara dengan tersenyum tipis.


Zidan mengusap rambut Tiara dengan lembut. "Masalah sekecil apapun jangan kamu pendam sendirian lagi ya, Ay! Mas siap menjadi pendengar cerita kamu! Jangan merasa sendiri lagi karena sekarang ada Mas Zayden, ayah, dan ibu yang selalu ada buat kamu!" ucap Zidan dengan tulus.


"Iya, Mas!" jawab Tiara dengan singkat.


"Jam istirahat ke ruanganku ya, Mas. Kita sama-sama berbicara dengan Barra," ucap Tiara.


"Pasti, Ay! Semangat kerjanya ya, Sayang!"


Cup..


Zidan mengecup kening Tiara dengan singkat. Semua yang melihat kedekatan mereka menjadi berbisik-bisik.


"Ada hubungan apa dokter Zidan dengan dokter Tiara? Apa setelah gagal menikah dengan dokter Fathan, dokter Tiara mendekati dokter Zidan? Dokter Fathan dan dokter Zidan kan masih sahabatan dari dulu," bisik salah satu suster yang lewat dengan teman suster yang lain.


"Tidak dapat dokter Fathan langsung mendekati dokter Zidan. Enak sekali jadi dokter Tiara sekelilingi dokter-dokter tampan," gumam suster yang lainnya.


Zidan dan Tiara saling menatap dengan tersenyum tipis. "Gak usah didengarkan ucapan mereka. Karena apa? Karena dari dulu kamu milik Mas, Ay! Hanya saja dulu semesta tidak mengizinkan kita bersama dan setelah badai datang kita dipersatukan kembali walaupun belum sepenuhnya hatimu menerima Mas kembali tetapi cepat atau lambat kita akan menciptakan kebahagiaan kita kembali, menyusun kepingan hati yang dulu remuk untuk menyatu kembali. Sekarang lagi dan jika setiap detiknya Mas ucapkan, Mas mencintai kamu, Ay! Sangat! Sampai Mas tidak bisa mencintai diri Mas sendiri," ujar Zidan yang membuat Tiara.


"Always love you my heart!" bisik Zidan di telinga Tiara yang membuat jantung wanita itu berdebar.


"Mungkin jika kita ditakdirkan kembali bersama aku ingin menciptakan senyum yang tak lagi memudar di bibirku, jantung yang masih berdebar untukmu, napas yang masih berhembus untukmu, dan cinta yang masih singgah di hatiku untukmu. Aku hanya ingin mengucapkan kata 'mungkin dan andai' untuk kisah kita agar bisa terangkai layaknya kisah romantis yang berujung bahagia. Jika masih ditakdirkan bersama aku hanya ingin tak ada sakit hati yang membuat jiwa dan raguku tersiksa. Dan jika kita tidak lagi bersama ikhlaskan diriku jika kelak aku akan pergi, pergi bersama semesta yang tak pernah merestui cinta kita!"


Tiara meninggalkan Zidan masuk ke ruangannya dengan banyaknya rangkaian kata yang ia ucapkan untuk Zidan di dalam hatinya. Ia tidak ingin berharap lagi yang nyatanya bisa mematikan jiwanya.


*****


Barra menatap kedua orang yang menatapnya dengan ekspresi dingin dan mematikan. Layaknya pasangan se-frekuensi Barra terasa tubuhnya mati rasa ketika tatapan keduanya semakin tajam kepadanya.


Ada apa ini? Kenapa dengan Zidan dan Tiara? Tatapan mereka membuat Barra merinding.


"Dokter Zidan, dokter Tiara, ada apa? Apakah ada yang akan kalian bicarakan kepada saya?" tanya Barra dengan menelan salivanya dengan kasar.


Zidan menormalkan kembali ekspresinya. Entah mengapa ia merasa kesal dan cemburu membayangkan jika Zayyen lebih dekat dengan Barra bahkan memanggil lelaki di hadapannya dengan sebutan 'papa'. Jika membunuh tidak dilarang mungkin Zidan sudah membunuh Sabrina dan kedua orang tua Tiara. Ia sungguh geram dengan ketiga manusia yang tega membuat wanita kesayangannya menderita, walau tanpa sengaja ia juga yang telah menciptakan luka di hati Tiara bahkan menambah luka itu dengan menuangkan cuka di hati Tiara hingga hati itu membeku setelahnya mungkin sudah mati rasa tetap saja Zidan merasa tak rela jika ada orang yang menyakiti belahan jiwanya.


"Sesuai dengan perjanjian yang anda sepakati dengan Tiara 4 tahun lalu setelah kelahiran anak kembar kami dulu, saya sebagai ayah kandung dari Zayyen meminta hak asuh Zayyen kembali kepada kami sebagai orang tua kandungnya. Waktu anda sudah habis dokter Barra, saya berterima kasih kepada anda karena telah merawat dan membesarkan serta memberikan kasih ssyang yang besar untuk Zayyen. Kini, giliran kami yang akan merawatnya kembali," ujar Zidan dengan tegas.


Tubuh Barra mematung dengan hebat. Apakah ini saatnya ia akan berpisah dengan Zayyen? Tidak! Barra tidak bisa menyerahkan Zayyen begitu saja kepada Tiara dan Zidan! Tidak bisa! Istrinya sangat menyayangi Zayyen, Barra tidak ingin melihat istrinya bersedih karena berpisah dengan Zayyen.


Tenggorokan Barra rasanya tercekat. Ia tidak bisa menyerahkan Zayyen! Secara hukum Zayyen sudah menjadi anaknya! Ia tidak akan menyerahkan Zayyen kepada Tiara dan Zidan! Persetan dengan perjanjian dirinya dengan Tiara dulu! Itu sudah berlalu begitu lama. Zayyen sudah ia rawat sejak bayi, tak mungkin rela ia menyerahkan Zayyen kepada Tiara dan Zidan walaupun keduanya adalah orang tua kandung Zayyen.


Tiara mengeluarkan map dari dalam tasnya. Map itu adalah berisi perjanjian yang di tanda tangani oleh Tiara dan Barra dalam surat tersebut sudah tertulis dengan jelas 'jika Tiara boleh mengambil Zayyen kapan saja dan Barra serta istrinya harus rela melepaskan Zayyen untuk kembali ke Tiara'


"Saat ini saya dan mas Zidan sudah kembali bersama. Kami ingin merawat Zayyen bersama-sama, dokter Barra! Jadi, hari ini kami ingin mengambil Zayyen kembali ke pelukan kami. Anda tentu tidak lupa dengan isi perjanjian ini bukan?" ucap Tiara yang melihat ekspresi ketikdakrelaan di hati Barra.


Zidan terkejut dengan ucapan yang keluar dari bibir Tiara langsung. Setelahnya ia tersenyum bahagia karena itu artinya Tiara mau menerimanya kembali.


Barra menelan salivanya dengan kasar. Ia menerima map yang Tiara berikan kepadanya dengan tangan yang terkepal dengan erat. Katakan saja ia egois dan jahat tetapi ia sudah terlanjur menyayangi Zayyen seperti anaknya sendiri.


"T-tentu saya tidak akan pernah lupa Tiara. Tetapi saya sudah menyayangi Zayyen seperti anak kandung saya sendiri, semenjak kehadiran Zayyen di hidup saya dan istri saya, kesehatan istri saya mulai membaik. Mohon maaf sebesar-besarnya saya tidak bisa memberikan Zayyen kepada kalian berdua karena di mata hukum Zayyen sudah menjadi anak saya dan istri saya!" ujar Barra dengan tegas.


"Apa maksud anda, hah? Anda melupakan perjanjian ini yang jelas-jelas sudah tertulis hitam di atas putih! Ini sudah ada tanda tangan anda!" ucap Zidan tak terima.


"Perjanjian ini sudah sangat lama! Jadi bisa saja perjanjian ini batal!" ujar Barra dengan entengnya.


"Pengkhianat! Saya ibu kandungnya dan saya yang berhak atas Zayyen! Siap atau tidak siap hari ini saya akan mengambil Zayyen darimu Barra!" ujar Alter ego Tiara yang mulai terpancing emosi dengan ucapan Barra. Zayyen adalah miliknya dan Tiara, Barra tidak bisa memiliki Zayyen lebih lama lagi!


"Saya yang berhak atas Zayyen, Tiara! Kuasa saya lebih kuat sebagai orang tua Zayyen! Saya tegaskan sekali lagi saya tidak akan memberikan Zayyen kepada kalian berdua!" ucap Barra dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Lekaki tak tahu terima kasih! Jika kamu tidak ingin memberikan Zayyen secara baik-baik kepada kami maka bersiaplah kita bertemu di pengadilan dokter Barra!" ucap Zidan dengan dingin.


Barra membalas tatapan Zidan tak kala dinginnya. "Saya tidak akan takut dokter Zidan. Saya pastikan saya yang akan menang dalam persidangan! Sampai kapanpun Zayyen akan tetap menjadi anak saya!" ujar Barra berlalu pergi meninggalkan keduanya.


"PENGKHIANAT! ARGGHHH... ZAYYEN ANAKKU BUKAN ANAKMU! JADI, AKULAH YANG BERHAK ATAS ZAYYEN!"