
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...📌 Dukung terus cerita terbaru author ya. 'Suami Bayaran Nona Rania'...
...*...
...*...
...Happy reading...
***
"Kita langsung pulang ke apartemen saja ya!" ujar Zayyen dengan pelan setelah mereka selesai sarapan bersama.
"Iya, Mas!" jawab Anggun dengan tersenyum.
"Ayo beres-beres ke kamar!" ujar Zayyen dengan mengacak rambut Anggun dengan gemas dan tersenyum tipis. Walaupun belum mencintai Anggun tetapi Zayyen memang menyayangi Anggun karena bagaimanapun Anggun adalah adik angkatnya.
Anggun tersenyum dengan jantung yang berdebar sangat kencang karena perlakuan Zayyen yang lembut seperti ini kepada dirinya. Anggun yakin lama kelamaan Zayyen akan luluh kepada dirinya, Anggun akan membuat Zayyen mencintai dirinya walaupun itu akan terasa sulit baginya.
Anggun memeluk lengan Zayyen dengan erat, bahkan senyumannya pagi ini sangat manis sekali walaupun semalam ia dibuat kecewa dengan Zayyen yang tak menyentuhnya tetapi pagi ini perlakuan Zayyen sangat membuatnya bahagia.
Sedangkan Zayyen yang memang merasa bersalah dengan Anggun mulai mencoba untuk ikhlas dengan pernikahan ini, asal dirinya tak menyakiti fisik Anggun rasanya pernikahan mereka akan bahagia walaupun tak ada cinta di dalam pernikahan mereka, hanya cinta sepihak yang mungkin akan meluluhkan hati Zayyen seiring berjalannya waktu.
"Biar aku beresin dulu baju-baju kita ya, Mas!" ujar Anggun dengan lembut.
"Iya, Boleh!" jawab Zayyen dengan tegas.
Anggun mulai membereskan pakaian mereka dan agar tidak ada yang tertinggal setelah mereka check out dari hotel ini. Walaupun cuma semalam Anggun tak masalah asal sikap Zayyen tetap baik seperti ini kepadanya dan juga ia bisa menjadi istri yang baik untuk Zayyen.
***
Di apartemen Zayyen...
Anggun mulai menata bajunya di dalam lemari Zayyen. Ia tersenyum saat melihat sekarang bajunya dan baju Zayyen dalam satu lemari yang sama.
"Gak nyangka sekarang aku sudah menikah dengan mas Zayyen. Pa, ma, do'akan pernikahan Anggun sampai maut memisahkan seperti kalian ya pa, ma," gumam Anggun di dalam hati.
setelah selesai menata baju-bajunya Anggun melihat foto kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca karena sampai saat ini jenazah kedua orang tuanya tidak ketemu karena kecelakaan pesawat.
"Ma, pa, Anggun kangen banget! Setiap Anggun kangen Anggun hanya bisa melihat foto kalian tanpa bisa melihat dan mengunjungi makam papa dan mama. Anggun sudah berdo'a agar Tuhan menemukan jasad mama dan papa tapi ternyata do'a Anggun belum terkabul sampai sekarang. Yang tenang di surga ya pa, ma. Papa dan mama tenang saja Anggun mempunyai kedua orang tua angkat yang baik serta suami dan kedua mertua yang baik juga, adik ipar Anggun juga baik," gumam Anggun dengan mengelus foto kedua orang tuanya dengan tersenyum tetapi di balik senyuman itu adalah kesedihan karena merindukan kedua orang tuanya.
Anggun tersentak dan menghapus air matanya dengan kasar saat Zayyen duduk di sampingnya dengan memeluk dirinya. "Papa dan mama sudah tenang di surga sana," ujar Zayyen dengan pelan.
"Iya, Mas. Aku percaya itu," ujar Anggun dengan tersenyum.
"Jangan sedih lagi ya!" ujar Zayyen dengan lembut.
"Iya, Mas. Jangan tinggalin Anggun ya karena Anggun cuma punya Mas, papa Barra dan juga mama Rose," pinta Anggun yang di angguki oleh Zayyen karena memang ia tidak akan meninggalkan Anggun hanya saja ia belum bisa mencintai Anggun, entah itu kapan tetapi Zayyen tak akan mau berbohong sampai saat ini ia masih mencintai Delisha.
"Biar kamu gak sedih bagaimana kalau kita ke rumah papa dan mama? Di sana mungkin juga ada Raiden, kalian bisa bermain bersama," ujar Zayyen.
"Iya aku mau main ke sana, Mas. Mau belajar masak sama mama," ujar Anggun dengan antusias.
"Ya sudah ayo mumpung Mas tidak masuk kerja," ujar Zayyen dengan tersenyum tipis.
"Makasih, Mas!"
"Sama-sama!"
***
"Libur sehari gak masalah, Sayang!" ujar Ikbal dengan mencium ketiak istrinya.
"Ya Allah, Mas. Mau punya anak tapi kelakuan kamu semakin hari semakin menjadi," ujar Delisha dengan menggelengkan kepalanya.
"Enak banget wanginya, Sayang! Serius deh!" ujar Ikbal dengan terkekeh.
"Mau punya anak tapi ngempeng," ujar Delisha dengan mengelus rambut Ikbal dengan sayang.
"Biarin! Yang terpenting sama istri sendiri," ujar Ikbal tak mau kalah.
"Perut kamu semakin menggemaskan sekali, Sayang! Mas suka! Lucu banget perutnya," ujar Ikbal dengan mengelus perut Delisha lembut.
"Lucu dari mana sih? Ini aneh Mas!" keluh Delisha tetapi ia tetap bersyukur karena akhirnya bisa hamil dan kembar tiga.
"Siapa yang bilang aneh? Cuma kamu, kan? Mas lucu kok lihatnya lonjong begitu hahaha...Muach...muach...muach..."
"Sehat-sehat ya kesayangan Papi, Mami!" ujar Ikbal mengajak anaknya berbicara dan mencium perut Delisha dengan gemas.
Meong..
Meong...
"Kimmy, Jimmy, uluh-uluh kesayangan Papi cemburu ya?" tanya Ikbal saat kedua kucing kesayangan naik ke atas kasur.
Setelah Kimmy melahirkan 6 anak kucing beberapa bulan lalu Kimmy dan Jimmy di steril karena Kimmy sudah hamil beberapa kali dan anaknya itu tidak sedikit sehingga Ikbal dan Delisha memutuskan untuk melakukan steril pada kedua kucing kesayangannya. Ke-enam anak mereka juga di minta oleh Deon dan kerabat mereka yang lainnya, bukan tak mampu mempunyai banyak kucing hanya saja repot jika harus mengurus semuanya. Dan anak-anak Kimmy yang lainnya sudah di jual oleh mereka ke orang-orang pecinta kucing sama seperti keduanya.
Delisha terkekeh saat Jimmy memijat kakinya dengan pelan. " Nanti kalau anak-anak Mami dan Papi sudah lahir kalian harus bisa menjaganya ya!" ujar Delisha dengan lembut.
Meong...
Meong...
"Uhhh pintarnya kalian. Mami tambah gemas deh sama kalian berdua tambah gemoy ini," ujar Delisha memeluk Kimmy.
"Dulu aku pernah berpikir apa karena kita memelihara kucing itu sebabnya aku gak hamil-hamil, Mas. Tapi pikiranku dipatahkan karena bukan mereka penyebabnya tapi memang karena obat-obatan yang pernah aku konsumsi. Lihat Mas wajah mereka sangat menggemaskan sekali apalagi anak-anak mereka," ujar Delisha dengan tersenyum.
"Kalau kita pelihara semua mungkin kucing kita sudah banyak banget ya, Mas!" ujar Delisha dengan terkekeh.
"Banget, Sayang. Tapi gak apa kita jual saja daripada kita repot mengurus mereka takutnya ada yang mati," ujar Ikbal mengelus Kimmy yang memang manja kepadanya sejak dulu.
"Tahu banget sih Papinya tidak kerja langsung buka pintu masuk kamar," ujar Ikbal dengan terkekeh.
Kalian tahu kucing Ikbal dan Delisha bisa membuka pintu sendiri asal pintu tersebut tidak terkunci. Bahkan setiap Ikbal maupun Delisha hendak pergi keduanya selalu ingin ikut.
"Kalian turun dulu ya. Masuk ke kandang lalu makan. Papi sama Mami mau berduaan dulu," ujar Ikbal dengan pelan.
Tetapi seakan mengerti Kimmy dan Jimmy mencium pipi Ikbal dan Delisha barulah mereka turun dari kasur dan kembali ke kandang mereka.
"Gemasnya!" ujar Delisha yang seakan ingin meng-unyel-unyel mereka karena gemas.
"Tapi bumil satu ini tak kalah menggemaskan. Tadi malam lupa jengukin dedek kembar sekarang boleh ya, Sayang!" pinta Ikbal dengan memelas.
"Tapi kan Mas ini sudah pagi mau menjelang siang juga kalau ada orang yang datang bagaimana?" tanya Delisha.
"Mereka suruh menunggu di bawah, Sayang. Ayolah udah kangen banget sama dedek stobeli!" ujar Ikbal dengan terkekeh memanggil anak kembarnya dengan dedek stobeli karena semenjak hamil Delisha sangat suka dengan buah strawberry.
"Yaudah deh, aku pasrah. Satu ronde aja ya!"
"Gak janji, Sayang!"
"Kyaaa... Mas Ikballl..."