Gairah Istri Casanova

Gairah Istri Casanova
Donor


Di rumah sakit Almira tidak bisa berhenti mengeluarkan air matanya.


Kondisi Livia semakin memburuk dan itu benar-benar membuat Almira semakin merasa bersalah karena semua yang terjadi pada Livia adalah kesalahan nya.


"Maafkan aku Livi, maaf" kata itu terus-menerus Almira ulangi.


Air mata membanjiri wajahnya, di dalam sana dokter masih belum keluar karena sedang menangani Livia yang kondisinya kritis.


Ceklek..


"Mbak Al, pasien meminta anda masuk" ucap suster.


Almira mendengar itu tak membuang waktunya lagi, dia berjalan masuk ke ruangannya yang di tempati Livia.


Air mata nya jatuh kembali saat Almira melihat Livia yang di pasangi alat-alat medis di tubuhnya.


"Mir" suara Livia terdengar sangat pelan bahkan seperti sedang berbisik.


Almira memegang tangan Livia, air mata nya terus mengalir tanpa bisa di cegah.


"Kamu bisa, bertahan lah Andi butuh kamu, dia masuk ke asrama agar pintar Liv" jelas Almira.


"Mir" suara Livia terdengar seperti berbisik lagi.


"Iya, aku di sini kita akan sembuh sama-sama ya Liv, aku sudah menikah lihat tangan ku, kita akan hidup enak setelah ini" kata Almira memperlihatkan cincin berlian yang mendarat di jari manis nya.


Livi yang nafasnya sangat sulit itu hanya tersenyum, dia senang akhirnya Almira mendapatkan semua impian nya untuk menikahi pria kaya.


"Aku titip Andi ya Mir" lanjut Livia.


Dokter dan suster hanya diam, mereka paham apa yang akan terjadi, luka tusukan di tubuh Livia yang terlalu banyak membuat Livia sangat tersiksa.


"Kamu ngomong apa sih, kita akan jaga Livia bersama-sama, kita akan hidup senang bersama kamu aku dan Andi" jelas Almira sambil pura-pura tersenyum.


Meski wajahnya tak bisa membohongi Livia, air mata yang membasahi wajah Almira itu membuat Livia semakin merasa jika ini memang sudah takdir nya.


"Mereka sudah di penjara, paman dan bibi ku tidak akan melukai kita lagi" Almira menatap Livia.


Tiba-tiba Livia kejang-kejang hal itu membuat dokter langsung meminta Almira keluar.


Darah seketika keluar dari mulut Livia membuat selang pernapasan Livia menjadi penuh dengan darah.


Almira menangis histeris, dia tidak mau kehilangan satu-satunya sahabatnya yang paling baik dan paling memahaminya.


"Dokter tolong teman saya" kata Almira histeris.


"Mbak keluarlah, biarkan dokter yang menangani pasien" kata suster.


Tapi Livia yang kejang-kejang memegang tangan Almira membuat tubuh Almira bergetar.


"Ginjal ku, biarkan ginjal ku hidup di tubuhmu Mira" ucap Livia di sisa-sisa terkahir nya.


"Tidak Livi, aku akan mendapatkan donor tapi itu bukan kamu" sahut Almira menolak.


"Mira aku mohon" pinta Livi.


Dan belum sampai Almira mengiyakan Livia sudah kejang-kejang lagi, dokter menggunakan segala cara agar jantung Livia kembali berdetak.


Almira terduduk di juru ruangan, air mata nya jatuh dan Almira menutupi wajahnya.


"Bibi dan paman jahat, Livi.. hiks.. Livi kenapa harus Livi kenapa bukan aku" Almira menangis histeris.


Hingga akhirnya dokter menyatakan jika jantung Livia sudah berdetak kembali, tapi itu tak akan membuat Livia bisa pulih mengingat kondisi organ dalam Livia membusuk akibat tusukan yang terlalu banyak.


"Seperti yang menjadi permintaan pasien operasi akan di lakukan sekarang" kata dokter.


"Tidak! kalian tidak boleh membunuh temanku!" teriak Almira histeris.


"Maaf mbak, tapi itu adalah pesan terakhir pasien, itu terserah pada mbak mau melakukan nya atau tidak, tapi kondisi pasien saat ini sudah sangat___" ucap dokter terhenti karena Almira menyala ucapan nya.


"Tinggalkan saya sendiri" pinta Almira.


Dokter dan suster akhirnya keluar dari ruangan Livia, meninggalkan Almira yang menatap Livia yang tidak sadarkan diri karena rasa sakitnya.


"Livi apa aku jahat membuat mu bertahan lama, aku benar-benar tidak mau kau pergi Livi" Almira menangis sambil memegang tangan Livia.


Dia ingat masa-masa mereka menjalani kehidupan yang keras, mereka di paksa menjadi pencuri oleh kerasnya kehidupan yang membuat mereka menjadi seperti ini.


Tapi sekarang Livia yang tangguh, Livia yang hebat dan selalu pintar dalam membagi uang bagian nya sudah tidak sekuat dulu lagi, Livia yang sekarang terbaring lemah di depan nya.


"Baiklah Livi, aku mau. aku mau mendapatkan donor ginjal ini, tapi. hiks.. jangan membenci ku" ucap Almira akhirnya.


Meski berat Almira harus melakukan ini, dia tidak mau Livia pergi dengan kekecewaan pada nya, terlebih karena dialah Livia harus pergi, paman dan bibinya yang jahat membuat Livia pergi.


Di tempat lain David yang masih di kamar menunggu Bos nya di kamar mandi melihat obat-obatan yang berserakan di lantai.


"Obat apa ini" gumam David mencari botol obat nya.


Dan saat menemukan botol obat nya David langsung membaca catatan kecil yang ada di botol obat itu.


Karena tidak paham dengan medis David pun akhirnya mencari informasi di geogle tentang obat itu, dan saat tau jika obat itu adalah obat ginjal seketika David terdiam.


"Jangan-jangan ini obat nona Almira" gumam David curiga.


Dan saat bersamaan Justine keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega nya.


"Sial pasti makanan di sini di racun, mana mungkin aku sampai satu jama lamanya di kamar mandi" ucap Justine sambil berjalan mendekati David.


"Tuan seperti nya nona Almira sakit" kata David memberikan botol obat itu pada Justine.


"Sakit?" Justine melihat obat itu.


Lalu membuang nya dengan santai.


"Aku pikir itu hanya obat tidur biasa, tadi malam dia__" ucap Justine terhenti.


Tak mau membocorkan aib nya jika dia di tinggalkan tidur di malam pertama, bisa turun harga dirinya kalau sampai David menyebarkan kejadian menyebalkan itu pada orang lain, apalagi Mam dan Pap nya.


🌹


Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏