Gadis Pencuri Benih

Gadis Pencuri Benih
19. Kehamilan Simpatik


Seperginya mereka dari ruang obgyn, dan berjalan di lorong rumah sakit, Ocir yang penasaran akan sesuatu memutuskan untuk bertanya.


"Kupikir kamu hanya bicara tentang mual, tapi tidak dengan ngidam. Apa sejauh ini tak ada satupun hal yang kamu inginkan?"


Aiva menggeleng. Membuat Ocir berpikir Istrinya itu merasa malu atau canggung. Dia pun memeluk bahu Aiva dan mencium singkat pelipis istrinya itu.


"Aku suamimu, sayang. Jangan sungkan meminta apapun. Kamu mau jagoan kita ileran setelah lahir?" tanya Ocir.


Aiva pun menggeleng, meski tak tau juga apakah dia menginginkan janin ini atau bukan.


"Minta apa saja, asalkan jangan meminta aku melepaskanmu dan kembali pada ayah biologis jagoan kita! Aku tak pernah sanggup kehilanganmu," ucap Ocir sedikit menaruh isi hatinya dalam perkataannya.


Aiva mengibaskan tangan. "Mana mungkin aku melakukannya. Kamu itu, sahabat dan suami terbaik yang pernah kutemui seumur hidup."


"Syukurlah kalau begitu." Ocir lega. "Hm, ayo beritahu aku apa yang kamu inginkan, sayang? Aku ingin melihat bayi kita lahir dengan sempurna."


"Aku tidak menginginkan apapun," jawab Aiva jujur.


Karena yang sebenarnya mengalami ngidam aneh-aneh adalah, Lemusa.


Di perusahaan yang bergerak di bidang makanan ringan, tiap detik Lemusa selalu merasa pening, lemas sampai sulit bergerak, dan ngidam aneh-aneh.


Suatu waktu, ketika Dia yang memiliki posisi sebagai Direktur atau COO (Chief Operating Officer), sedang mempresentasikan rancangan terbaru perusahaan di depan petinggi perusahaan lainnya,


Ia mengecap mulutnya dan merasa menginginkan sesuatu. "Hmmm, rasa kepiting gulai," gumaman ini membuatnya jeda sebentar.


"Kepiting gulai? Apa maksudnya ya ini, pak Lemusa?" tanya CEO yang duduk di dekatnya.


"Oh, tidak-tidak. Saya akan melanjutkannya. Jadi begini…"


Presentasinya terus berlanjut, dan berlangsung selama lebih dari dua jam.


Keluar dari ruang rapat, Lemusa langsung meminta office boy yang kebetulan sedang mengepel lantai di depan ruangannya.


"Junda, bawakan aku kepiting gulai ya. Jangan lupa tambah nasi dan jeruk lemon yang banyak!"


"Tapi pak, saya sedang bekerja."


Lemusa mengeluarkan 5 lembar uang merah. "Pesan di internet aja. Ini uangnya, saya bayar tunai dan tambahan tip untukmu."


"Baik pak. Akan saya laksanakan."


"Antar ke ruangan ini dalam setengah jam." Lemusa langsung masuk ke ruangannya. Kepalanya yang pening bukan kepalang itu terus mengganggunya selama sebulan ini.


Dia pun masuk ke ranjang tersembunyi yang ada di ruangannya. "Sekretaris Tun, saya istirahat dulu. Bangunkan saya kalau kepiting gulainya sudah sampai."


"Baik pak." Sekretaris Tun yang menemani Lemusa sudah paham kalau kondisi atasannya itu kembali drop.


Dalam setengah jam, kepiting gulai sudah sampai. Aromanya sangat nikmat yang membuatnya sangat nyaman.


Kepala yang pening itu kini sedikit membaik. Lemusa duduk dan melahap kepiting gulai itu layaknya anak kecil. Mulutnya penuh sisa-sisa nasi dari kepiting gulai pesanannya itu.


Sekretaris Tun yang sedang bekerja dengan serius, hampir tak terganggu dengan aroma makanan yang sedang disantap atasannya.


"Kamu mau Tun?" tanya Lemusa menawarkan.


"Tidak, Pak. Saya baru makan, sudah kenyang."


"Aku memaksa, Tun!" suara Lemusa meninggi. Bahkan tak segan-segan mendatangi sekretarisnya.


Tun menatap tajam atasannya. "Alasan pertama saya menolaknya, karena perut saya sudah kenyang, dan yang kedua, saya alergi dengan kepiting!" kata Tun tegas.


Sekretaris Tun yang sudah menebak sikap selanjutnya yang ditunjukkan atasannya, hanya dapat diam dan melanjutkan pekerjaannya.


Sejujurnya sekretaris Tun ingin meneriaki Lemusa dengan kalimat, 'Saya lelah dengan sikapmu, pak! Saya ingin resign!' tapi dia jelas membutuhkan banyak biaya untuk hidupnya yang harus menanggung semua keluarganya, generasi sandwich.


"Aku tak mau makan, Tun! Tapi aku lapar. Aku mau kau menyuapiku!" pinta Lemusa. Sikapnya yang berlebihan membuat Tun semakin kesal.


Demi membuat atasannya dapat menjadi normal, ia pun melakukannya.


Atasan meresahkan! Batinnya kesal.


Sudah sebulan ini atasannya selalu bersikap seperti anak kecil jika keinginannya tidak terpenuhi.


Dan tiba-tiba teringat tentang semua keluhan Lemusa dua bulan lalu. "Seorang jalang perawan merangkak naik ke ranjangku dan memaksaku menidurinya."


Tun menghabiskan hampir setengah dari umurnya untuk mengabdi kepada keluarga Natsir. Ia telah mendengar semua curhatan atau keluhan atasannya itu, dan memberi beberapa saran demi kebaikan Lemusa.


Termasuk hubungan asmara sang atasan.


"Anda mengalami kehamilan simpatik!" ucap Tun tiba-tiba.


DEG!


"Hamil?" Lemusa membelalakkan mata dan berhenti mengunyah.


"Iya. Hamil."


"Bukannya udah pernah kubilang, aku belum menyentuh Istriku sama sekali!," jawab Lemusa tak mengerti.


"Wanita perawan yang pernah bapak bilang dua bulan lalu?" kata Tun memperingatkan.


"Itu hanya sekali. Mana mungkin langsung hamil! Lagipun Aku hanya masuk angin. Pening memikirkan istri dan rangkaian masalah dalam hidup ini."


"Tidak, pak. Saya paham bagaimana anda. Anda kuat, dan selalu sehat bagaimana pun keadaannya. Saya memiliki istri dan pernah mengalami kehamilan simpatik, apalagi saat kehamilan Putri saya yang kedua. Rasanya hari-hari yang saya jalani sangat berat!"


Lemusa berdiri dan mati-matian menolak kenyataan itu. "Jangan bicara macam-macam, Tun! Saya paling anti dituduh seperti ini!"


"Lalu bagaimana dengan semua gejala yang bapak alami selama sebulan ini? Ngidam, mual, muntah, lemas, letih lunglai, kadang emosian, kadang malas makan, kadang juga terlalu bersemangat?"


Lemusa terdiam seribu bahasa. Bukan karena dia menyerah, tapi kepalanya kembali berdenyut, dan semua makanan yang sempat ia makan dengan lahap itu ingin keluar seiring mulutnya yang kembali terasa pahit. Buru-buru berlari masuk ke dalam kamar mandi, dan memuntahkan semua makanannya.


Sekretaris Tun menunggu di luar sambil merapikan makanan. Ia menggeleng karena atasannya yang sangat keras kepala.


"Buktinya Tuhan selalu membuat anda mengalami semua gejala kehamilan itu, Pak. Mungkin juga, Bayi anda kesal karena anda selalu menolak keberadaannya," kata Sekretaris Tun dalam hatinya.


Bruk!


Pandangan Tun teralih ketika mendengar suara seseorang jatuh. Dia menghampiri kamar mandi dan melihat atasannya itu sudah jatuh tertelungkup di lantai kamar mandi.


Buru-buru Tun mengangkat Lemusa dan menghubungi dokter pribadi keluarga Natsir.


Sesampainya dokter ke ruangan Lemusa, ia mengecek kesehatan Lemusa dan mendapati pemuda itu sedang kebanyakan pikiran dan lemah.


Namun sekretaris Tun segera membantah. "Pak Lemusa bukan hanya kebanyakan pikiran, dokter. Tapi kehamilan simpatik, dia menghamili gadis dua bulan lalu," ucap Tun sangat yakin.


"Saya hanya dokter umum, bukan dokter obgyn, sekretaris Tun. Bawalah Lemusa ke dokter obgyn untuk memeriksa lebih lanjut," himbau dokter itu.


"Tapi sangat susah melakukannya, dokter," balas Tun dengan wajah lemah dan pasrahnya.