
Aiva di kamar, hari hidupnya terasa berat hari ini. Matanya memerah dan terus menangis sesenggukan.
Ia teringat semua orang yang ditinggalkannya di Jakarta, dan Ocir yang datang jauh-jauh ke Jepang hanya untuk menjumpainya. Serta ucapan Mommynya tadi, yang seolah menduga Ocir mau melamarnya.
Gimana kalau Ocir benaran mau ngelamar aku?
Jujur saja, Aiva sangat takut. Takut mengecewakan pria berhati lembut seperti Ocir.
Iva tau, Ocir memang menyukainya. Jarang-jarang ada pemuda yang memiliki effort besar demi seorang gadis. Selain karena suka, apa lagi?
Dan matanya justru terbutakan oleh cinta pada pemuda bernama Lemusa, yang pada akhirnya menyayat hati lemahnya dengan kejam.
"Ocir pasti kecewa, aku bukan perawan dan sekarang hamil!" Aiva mengecilkan suaranya hingga terdengar seperti lirihan.
"Ocir pantas dapat gadis yang benar-benar perawan, dan itu bukan aku."
Aiva mendaratkan tubuhnya di kasurnya yang empuk. Menatap langit-langit kamar yang masih sama seperti 8 tahun lalu.
Di ruang tamu, Lion berbicara banyak pada Ocir. Lion masih menduga Ocir adalah kekasih kakaknya.
Jadi dia berkata, "Dari tatapanmu pada kakakku tadi, aku tau kamu mencintainya. Apa kalian berpacaran?"
"Bukan, kami hanya rekan kerja."
Lion masih tidak percaya dengan jawaban pemuda di depannya. Mungkin memang bukan pacaran, tapi niat hati mau minta restu nih. Buktinya kakakku lagi hamil, siapa pelakunya kalau bukan orang ini?
"Kalian terlalu mirip untuk jadi pasangan. Ayo ngaku, mau ngelamar kakakku kan?" tebak Lion dengan wajah penuh candaan.
"Sstt Lion, jangan gitu sama tamu," ucap Yavit memperingatkan. Tatapannya kemudian beralih pada Ocir, pemuda keturunan Jepang itu. "Oh ya nak Ocir, datang kemari ada urusan apa ya? Soalnya baru dua Minggu lalu Aiva pulang dari perantauan, dan kamu datang hari ini."
"Saya hanya rekan kerjanya Iva, Tante," balas Ocir mengaku. Selain rekan kerja, Ocir harus mengaku apa lagi? Dia tidak pernah memiliki nyali untuk mengungkapkan perasaan nya pada Aiva meski memiliki banyak kesempatan.
Yavit mengangguk, dan keadaan hening dalam beberapa detik.
"Makan makan. Saya siapin teh hangat dan kue kering."
"Makasih Mom!" Lion langsung mengambil kepingan kue kering dan melahapnya.
Sementara tatapan Ocir sekali-kali melirik jalur kamar Aiva. Yavit tersenyum penuh arti, dia sangat paham perasaan Ocir pada putrinya meski tanpa ucapan.
"Nak Ocir mau jumpa Aiva ya? Sorry ya, Ivanya masih sakit. Semalam mendadak pingsan dan baru hari ini pulang. Ivanya perlu banyak istirahat."
Mata Ocir membulat besar, ia terkejut, "Aiva sakit apa, Tante?"
Yavit menatap Lion yang sedang asik-asiknya makan kue kering. "Li, apa hasil medis kakakmu? Dia baik-baik aja kan?" tanya Yavit memastikan.
Lion diam membisu. Dia ingin mengungkapkan kenyataannya, tapi sudah berjanji pada sang Kakak untuk merahasiakan.
"Lion? Kakakmu baik-baik aja kan?" tanya Yavit lagi. Kali ini lebih kuatir.
"Hahahaha!!!!" Lion tiba-tiba tertawa lepas. Membuat Yavit dan Ocir mengerutkan kening.
"Lion, jangan membuat Mommy mati kuatir. Cepat jawab pertanyaan Mommy!" kata Yavit memaksa.
"Kakak baik-baik aja, Mom," jawab Lion ala kadarnya.
Sementara Yavit tidak percaya, "Gimana baik-baik aja, semalam wajahnya pucat gitu."
"Hanya kecapean, Mom. Tenang aja."
Sampai sore hari, Lion terus mengajak Ocir berbincang. Kali ini Artur ikut nimbrung. Keramahan semua orang, membuat Ocir nyaman.
Sementara dia tidak berjumpa Aiva sejak tadi. Di satu kesempatan, Ocir pamit pada kedua adik Aiva.
"Oke Bang. Nanti balik lagi ya!" ucap Artur ramah.
Kebetulan Aiva sedang di dapur, sibuk memasak, yang mana aromanya begitu khas di hidung.
Ocir hanya berdiri mengamati Aiva dari jauh.
Iva sudah banyak berubah, tapi makin cantik dan menarik.
Tubuh Iva memang tidak kurus-kurus amat. Rada ke berisi, dan ingatan Ocir pergi jauh saat SMA.
Suatu hari saat kelas 11, Ocir ada tugas kelompok. Yang mana berisikan 3 anggota. Ocir, Iva dan Musa. Mereka ada kompetisi memasak.
Masakan yang sama dengan aroma khas seperti sekarang.
"Ayam rendang. Ya, ayam rendang. Hmm, enaknya..." Ocir sampai menutup mata ketika mencium aroma ini lagi.
"Sudah lama sejak masa itu," katanya nostalgia.
Dia pun memberanikan diri melangkah, mendatangi Iva. Menyentuh bahu perempuan itu, membuat Aiva kaget.
"Ya ampun!" pekik Iva.
Ocir tersenyum kecil. "Hai, ada yang bisa kubantu?" tanyanya.
Iva terdiam, merasa canggung dengan keberadaan Ocir di sampingnya. Jadinya jika dilihat dari sudut pandang lain, mereka justru lebih terlihat seperti dua orang asing yang baru berkenalan.
"Va? Kamu kenapa?" Ocir memberanikan diri bertanya. Meski dia berprestasi dalam bidang akademis, tapi percintaan bukanlah hal yang mudah untuknya.
"Hmm, enggak. Aku ga papa."
Tatapan kosong Iva, jelas membuat Ocir bertanya-tanya dalam hati. Apakah ada masalah besar dan rumit yang tengah dihadapi Iva sendirian?
Ayolah, Ocir ingin Iva membagi beban itu dengannya.
"Aku ingat dulu kita memasak di di kompetisi masak sekolah. Aku cicipi dulu ya, siapa tau ada yang kurang." Guna mencairkan suasana canggung ini, Ocir mengambil sendok dan mencicipi rendang ayam buatan Iva.
"Sudah pas. Bahkan lebih baik dari waktu itu," ucap Ocir memuji. Dia tersenyum yang memperlihatkan susunan gigi putih rapih dan beraroma segar itu.
"Tadi Mommy yang buat racikannya. Aku hanya mengaduk dan tunggu dagingnya masak. Biar rasanya ga keasinan," balas Aiva yang diakhiri sedikit senyuman.
Kontes masak itu meninggalkan kenangan memalukan, soalnya rasa rendang ayamnya terlalu pekat. Baik dalam segi rasa asin, maupun manis dan penyedap. Pokoknya menusuk di lidah.
"Juri sampai marah sama kita bertiga waktu itu," kata Ocir kembali mengingatkan memori SMA.
"Hahaha, iya. Aku menambahkan banyak garam, Musa menambahkan banyak gula dan kamu–
"–Aku menambahkan banyak penyedap. Rasanya bikin juri-juri emosi," sambung Ocir.
"Tapi memasak bukan perkara mudah untukku. Itu masalah besar!"
Pada akhirnya kedua orang ini tertawa lepas karena nostalgia.
Artur dan Leon yang diam-diam mengamati tingkah Ocir pun ikut tersenyum aneh, memandang satu sama lain.
"Apa kubilang Bang. Ocir memang suka sama kakak kita. Mataku memang ga pernah salah nilai orang," kata Leon berbisik pada abangnya Artur dengan bangganya.
"Hebat juga kak Iva bisa dapat keturunan Jepang kayak bang Ocir," kata Artur berkomentar.
Sebelumnya mereka berdua taruhan tentang hubungan Ocir dan Aiva. Itu semua disebabkan oleh Artur yang tak kunjung percaya ucapan Leon.
"Sekarang Abang percaya kan. Tinggal kita tunggu aja kapan resminya mereka nikah," ucap Leon lagi, sangat yakin.