
'Kamu yakin, Va? Itu bahaya loh.' Ocir berbisik. Dia tidak percaya Aiva bisa berpikir senekat ini.
Namun perempuan itu tak kunjung menjawab. Tatapannya cenderung kosong dan hatinya bertekad kuat.
"Aku pusing! Pikirkan saja semuanya sendiri! Kan semuanya terjadi karena keputusanmu, jadi cari jalannya sendiri. Mau gugurkan kandungan atau apapun, aku ga peduli! Yang penting masalah ini jangan sampai jadi buah bibir orang-orang! Kita punya usaha, jangan karena kehamilanmu, usaha kita jadi bangkrut. Kalau sampai hal itu terjadi, Aku ga bakal maafin kamu!" ucap Yavit yang tak mau ikut campur.
"Iva usahain itu ga bakal terjadi, Mom," jawab Aiva teguh. Tatapannya begitu serius, dan deru nafasnya menderu.
"Antar Mommy ke kamar, Artur. Mommy mau istirahat!"
"Baik, Mom." Artur mengantar Yavit ke kamarnya.
Huh!
Aiva hampir jatuh karena pening dan hampir tak bernafas karena berhadapan dengan sang Mommy. Untung Ocir sigap menangkap Aiva.
Tapi perempuan itu malah meringis.
"Kenapa?" tanya Ocir kuatir.
Aiva menyentuh punggung dan bahunya. "Sakit sekali di sini," jawabnya dengan suara bergetar. Pukulan yang tanpa belas kasihan itu, membuatnya sangat menderita.
"Tahan ya, aku akan membawamu ke kamar."
"Akh!!!" Aiva terus meringis kesakitan karena Ocir menggendongnya ala bridal style. Mana daerah punggung yang paling sakit.
Setelah sampai di kamar, Ocir meletakkan Iva di tengah ranjang. Wajah perempuan itu menahan sakit, bahkan berkata dengan keras, "Tinggalkan aku sendirian! Aihh, kasar sekali!" katanya tak terima.
Namun Ocir tak menuruti satupun perintah perempuan itu. Ia membalikkan paksa Aiva hingga tersisa punggungnya.
"Kau mau apa?" tanya Aiva dengan suara bergetar. Piyama resleting punggung itu dibuka Ocir hingga tampaklah bagian punggung Aiva yang hanya tertutup tank top.
"Buka kausmu atau aku yang melakukannya?" tanya Ocir.
Aiva tersentak kaget. "Kau mau apa, hah?!" teriaknya.
Ocir mengambil dan menunjukkan minyak urut miliknya, "Aku hanya memperbaiki memar itu sebelum kamu demam panjang esok hari."
Aiva duduk di ranjangnya terus menolak sangat keras kelakuan baik pemuda itu.
"Tidak perlu. Aku baik-baik aja. Keluarlah, aku hanya mau tidur." Aiva kembali berbaring, bahkan mengambil menyelimuti setengah badan.
Ocir menatap Aiva sedih, "Padahal ini demi kesehatanmu. Sebentar saja, aku takkan menyakitimu."
Melihat kesungguhan hati Ocir, Aiva malah menutup tubuhnya sepenuhnya. Dia kembali menangis di sana, "Kau begitu baik. Aku ga bisa menerima semua kebaikanmu ini," ucapnya lirih.
Ocir yang masih ada dalam kamar, memilih jongkok di depan ranjang Aiva. Dia menatap wajah Aiva yang tertutup selimut. Sungguh, rasanya tersanjung mendengar ucapan Aiva dalam tangisnya.
Dalam beberapa pertimbangan, Ocir kemudian menyentuh kepala perempuan itu dari balik selimutnya.
"Sebenarnya bukan aku yang baik, tapi kamu. Semua yang kulakukan hanya sebagai bentuk rasa terimakasihku padamu di masa lalu."
"Berterimakasih apa?" tanya Aiva dengan suara bergetar.
Ocir tersenyum karena Aiva mau bertanya meski masih menutup seluruh badannya dengan selimut.
"Hm gini. Kamu pasti ingatkan, aku dulu orangnya introvert akut? Takut bertemu bahkan berbicara banyak orang, bahkan sangat menyalahkan orangtuaku yang memberi nama aneh yang kupikir akan menghantui hidupku seumur hidup."
"Aku tau itu. Terus?"
"Tapi, berkat bantuanmu, aku kini hidup, merasa berharga, setidaknya di depan orang yang paling menghargaiku yakni kamu dan orangtuaku. Karena kamu menghargaiku, maka jangan ada air mata di sini. Hatiku sakit melihatnya Aiva Tessa. Aku menyayangimu."
DEG!
"Satu penyesalan terbesarku. Harusnya aku menggunakan semua kesempatan yang tersedia untuk mengungkapkan rasa sayangku padamu. Walau aku tau akhirnya yang menang adalah si paling tampan tapi kulkas 10 pintu itu."
DEG!
Mendapati ungkapan pikiran Ocir, membuat Aiva membuka selimut dan menggeleng seraya berkata, "Bu–kan seperti itu."
Ocir semakin mendekatkan wajahnya ke hadapan Aiva. Keduanya saling bertatapan. "Nyatanya kan memang seperti itu," ucap Ocir berbisik.
"Bukan. Aku hanya ga mau mengganggumu," jawab Aiva gugup. Dia berusaha menjauhkan tubuhnya.
"Aku mencintaimu, Aiva. Hanya terlalu bodoh untuk tidak mengungkapkannya. Sebenarnya selama ini aku memata-mataimu. Bagaimana hidupmu bersama dua orang yang kamu perjuangkan, si Atnia dan Lemusa. Kamu pasti berharap banyak, kalau Lemusa akan menikah denganmu karena Atnia sahabatmu itu tidak mencintai Lemusa, bukan?"
DEG!!
Berbagai serangan kejut terus Ocir ucapkan padanya, tentunya sambil semakin mendekatkan posisi mereka. Tapi Aiva yang terlalu gugup tak dapat memberi reaksi apapun selain terkejut dan diam seribu bahasa.
"Ayo, jelaskan padaku," pinta Ocir dengan senyum devilnya.
"Kak."
Itu suara Artur. Berdiri di depan pintu dengan tatapan penuh kegugupan.
Tatapan Ocir dan Aiva lagi-lagi teralih. Wajah Aiva benar-benar memerah saat ini. Dia pun mendorong dada Ocir dengan salah satu tangannya dan buru-buru menutup piyama resleting belakangnya itu.
"Ada apa Artur?" Aiva sontak berdiri dan menjumpai adiknya itu.
"Kak, aku minta maaf," kata Artur lirih.
"Maaf? Maaf untuk apa?" tanya Aiva kebingungan.
"Itu, aku.. Aku yang kasih hasil USG ke Mommy. Beliau yang paksa. Mualnya kakak tiap dini hari membuat Mommy curiga. Lion udah sembunyiin hasil USG kakak, tapi Mommy paksa aku buat mengobrak-abrik kamar kami. Alhasil semuanya terbongkar."
Tatapan Aiva tampak kosong. Bibir dan bahunya bergetar hebat, air mata kembali menetes. Dia sedih.
Artur yang merasa kakaknya kembali tertekan mengambil tangan kakaknya itu. "Kak, tolong pukul dan hukum Artur sesuka kakak, semua udah ditutupi baik-baik tapi Artur malah buat masalah, jangan diamin Artur kayak gini kak. Tolong kasih respon." Artur ikut meneteskan air mata, apalagi dia melihat secara langsung bagaimana kakaknya itu dipukuli secara membabi-buta.
Artur menutup matanya dengan takut saat salah satu tangan kakaknya terangkat ke atas, seolah hendak memukulnya. Namun yang terjadi di detik berikutnya hanya sebuah elusan lembut di rambutnya dan tatapan kosong dari kakaknya saat Artur membuka mata.
Tak lama setelahnya Aiva masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya. Perlakuan seperti ini membuat Artur semakin dihantui rasa bersalah.
...Pagi harinya....
Semua orang berkumpul di meja makan, karena kondisi Aiva dan Yavit yang drop serta semua orang dalam kondisi penuh beban pikiran, Ocir pun memesan makanan online.
Tidak ada pembicaraan hangat maupun tegang karena satu sama lain ingin menjaga berharap perang antar anggota keluarga tak terjadi.
Setelah puas makan, ketiga pemuda bekerja sama mencuci piring dan merapikan seisi rumah. Pekerjaan yang biasanya dilakukan Aiva, kali ini digantikan para pemuda.
Aiva terus termenung dengan semua hal. Kandungannya, respon semua orang, masa depan serta hal yang lebih kompleks seperti pertarungan antara hidup dan mati.
"Ada benarnya yang dibilang Ocir," gumam Aiva teringat bisikan Ocir tentang keputusannya mengaborsi calon bayinya.
"Tapi aku juga harus berpikir tentang respon semua orang."
"Aku kan sudah bilang, Aku akan menikahimu secepatnya, tenang saja." Itu suara Ocir yang berdiri bersandar di kosen pintu.