
di suatu tempat di kastil
“ Rian ayo lah kau kenapa ”
“ aku tak apa-apa ”
" tapi muka tak mengatakan itu dasar bodoh " kata Rama dalam hati
“ kalau aku bilang memang kau akan mendengarkan kan ku ” cerutu Rian
“ kamu ngomong apa rian ” kata Rama
“ tidak , ayo cepat Kakek pasti sudah menunggu kita ” kata Rian
di perjalan
“ kenapa kau melakukan nya ”
“ apa ” kata Rama
“ aku tanya kenapa kau melakukan nya ”
“ dia menghina orang tua ku , dan aku gak terima itu ”
“ oh harus nya kau memanggil ku ” kata rian
“ biar aku saja nya menyelesaikan nya ” lanjut nya
“ kau merasa bersalah ” kata Rama dengan nada bergurau
“ apa kau senang ” kata Rian gak senang karena Rama mempermainkan perasaan nya
padahal dia saat menghawatirkan nya
“ hai jangan gitu ” katanya menggandeng tangan Rian
“ aku minta maaf ya aku gak akan kayak gitu lagi ”
“ maaf ya Rian ” kata Rama dengan ekspresi memelas
“ ah ” Rian menghela nafas
“ rian aku tak memanggil mu,karena aku tak mau merepotkan kan mu , dan soal skorsing ku tak masalah kok itu kan cuman dua Minggu ” kata Rama
tapi kata nya itu benar-benar tidak membantu
lalu entah ide dari mana
“ bagaimana kalau kau jadi guru selama aku di skorsing ” kata Rama
“ maksut mu ” kata Rian heran
“ maksut ku kamu ajar kan aku saat aku di skorsing ”
“ tapi kan aku sudah lama tak ikut pelajaran ”
“ ya gak harus pelajaran yang kayak gitu juga kali ”
Rian tampak binggung
” kan kamu udah di latih kakek , kamu pasti lebih hebat dari yang lain kan ”
“ yang kakek ajarkan itu cuman cara berkelahi dan bertarung serta menyimak situs asi , menyusun strategi ”
“ aku tau ” kata Rama
“ terus kamu minta di ajar berkelahi gitu ” jawab Rian dengan nada menyindir
“ tepat sekali ” kata Rama serius
“ lah kenapa aku gila ” kata Rama binggung
“ entah lah ” kata Rian dongkol
Rian kesal nya bukan main , dalam hati Rian berkecamuk apa gunanya ia ada , kalau Rama juga harus berkelahi
untuk apa ia belajar dan berlatih begitu giat kalau ujung-ujung nya Rama inggin berkelahi
tak terasa mereka berjalan mereka sudah sampai di tempat tujuan
“ kakek ” kata Rama sambil berlari memeluk kakek nya
“ oh cucu kesayangan ku ”
“ bagaimana mana kabarmu nak ” lanjut nya
” aku baik saja kakek ”
“ kakek dengar kau berkelahi dengan Anais ya ”
“ maaf ” kata Rama spontan
“ kenapa harus minta maaf kakek tau kalau kamu pasti punya alasan ”
Rama hanya diam
“ justru ini jadi sebuah kesempatan”
“ kesempatan apa kakek ”
“ kesempatan buat kau bisa belajar berkelahi ” kata kakeknya
mendengar itu Rama amat senang karena ia memang inggin belajar berkelahi .
mendengar itu Rian tersentak mengapa kakek inggin mengajar kan Rama berkelahi .
apa ia sudah tak percaya kepada ku untuk melindungi Rama .
dalam hati Rian amat sedih ia merasa dirinya tak berguna sampai-sampai Rama arus belajar berkelahi .
“ dan untuk itu yang menjadi guru mu adalah Rian ”
tersentak Rian amat terkejut , rasa emosinya meluap-luap .
sebenarnya apa yang tengah di pikirkan kakek
kenapa harus ia
“ Rian kek ” kata Rama dengan wajah berseri-seri
“ iya ” kata kakek
“ aku tidak mau ” kata Rian spontan
“ apa ” kata kakek
“ aku bilang aku tidak mau kek ” kata rian
kakek nya yang pernah muda juga mengerti apa yang tengah di pikirkan oleh Rian
lalu tiba-tiba ia mengunakan sihir dan Rama tak bisa mendengar pembicaraan mereka .
mereka berdiskusi soal Rama