Dunia Cermin

Dunia Cermin
I.DUNIA SIHIR I.IV


di suatu tempat di kastil


“ Rian ayo lah kau kenapa ”


“ aku tak apa-apa ”


" tapi muka tak mengatakan itu dasar bodoh " kata Rama dalam hati


“ kalau aku bilang memang kau akan mendengarkan kan ku ” cerutu Rian


“ kamu ngomong apa rian ” kata Rama


“ tidak , ayo cepat Kakek pasti sudah menunggu kita ” kata Rian


di perjalan


“ kenapa kau melakukan nya ”


“ apa ” kata Rama


“ aku tanya kenapa kau melakukan nya ”


“ dia menghina orang tua ku , dan aku gak terima itu ”


“ oh harus nya kau memanggil ku ” kata rian


“ biar aku saja nya menyelesaikan nya ” lanjut nya


“ kau merasa bersalah ” kata Rama dengan nada bergurau


“ apa kau senang ” kata Rian gak senang karena Rama mempermainkan perasaan nya


padahal dia saat menghawatirkan nya


“ hai jangan gitu ” katanya menggandeng tangan Rian


“ aku minta maaf ya aku gak akan kayak gitu lagi ”


“ maaf ya Rian ” kata Rama dengan ekspresi memelas


“ ah ” Rian menghela nafas


“ rian aku tak memanggil mu,karena aku tak mau merepotkan kan mu , dan soal skorsing ku tak masalah kok itu kan cuman dua Minggu ” kata Rama


tapi kata nya itu benar-benar tidak membantu


lalu entah ide dari mana


“ bagaimana kalau kau jadi guru selama aku di skorsing ” kata Rama


“ maksut mu ” kata Rian heran


“ maksut ku kamu ajar kan aku saat aku di skorsing ”


“ tapi kan aku sudah lama tak ikut pelajaran ”


“ ya gak harus pelajaran yang kayak gitu juga kali ”


Rian tampak binggung


” kan kamu udah di latih kakek , kamu pasti lebih hebat dari yang lain kan ”


“ yang kakek ajarkan itu cuman cara berkelahi dan bertarung serta menyimak situs asi , menyusun strategi ”


“ aku tau ” kata Rama


“ terus kamu minta di ajar berkelahi gitu ” jawab Rian dengan nada menyindir


“ tepat sekali ” kata Rama serius


“ lah kenapa aku gila ” kata Rama binggung


“ entah lah ” kata Rian dongkol


Rian kesal nya bukan main , dalam hati Rian berkecamuk apa gunanya ia ada , kalau Rama juga harus berkelahi


untuk apa ia belajar dan berlatih begitu giat kalau ujung-ujung nya Rama inggin berkelahi


tak terasa mereka berjalan mereka sudah sampai di tempat tujuan


“ kakek ” kata Rama sambil berlari memeluk kakek nya


“ oh cucu kesayangan ku ”


“ bagaimana mana kabarmu nak ” lanjut nya


” aku baik saja kakek ”


“ kakek dengar kau berkelahi dengan Anais ya ”


“ maaf ” kata Rama spontan


“ kenapa harus minta maaf kakek tau kalau kamu pasti punya alasan ”


Rama hanya diam


“ justru ini jadi sebuah kesempatan”


“ kesempatan apa kakek ”


“ kesempatan buat kau bisa belajar berkelahi ” kata kakeknya


mendengar itu Rama amat senang karena ia memang inggin belajar berkelahi .


mendengar itu Rian tersentak mengapa kakek inggin mengajar kan Rama berkelahi .


apa ia sudah tak percaya kepada ku untuk melindungi Rama .


dalam hati Rian amat sedih ia merasa dirinya tak berguna sampai-sampai Rama arus belajar berkelahi .


“ dan untuk itu yang menjadi guru mu adalah Rian ”


tersentak Rian amat terkejut , rasa emosinya meluap-luap .


sebenarnya apa yang tengah di pikirkan kakek


kenapa harus ia


“ Rian kek ” kata Rama dengan wajah berseri-seri


“ iya ” kata kakek


“ aku tidak mau ” kata Rian spontan


“ apa ” kata kakek


“ aku bilang aku tidak mau kek ” kata rian


kakek nya yang pernah muda juga mengerti apa yang tengah di pikirkan oleh Rian


lalu tiba-tiba ia mengunakan sihir dan Rama tak bisa mendengar pembicaraan mereka .


mereka berdiskusi soal Rama