Dibalik Hilangnya Rembulan

Dibalik Hilangnya Rembulan
Part 12 [Warung]


"Gio, Adek Kakak, yang paling ganteng sedunia," rayuku.


"Apa?" Gio, menjawab datar. Matanya masih fokus menatap layar PeeS, tapi sepertinya dia sudah menangkap maksudku.


"Beliin kecap dong ke warung, kamu'kan anak rajin, anak baik, ganteng lagi," kembali aku merayunya.


"Enggak mau, Gio lagi sibuk," ucapnya, tetap fokus pada PeeS.


"Sibuk ngapain? dari tadi juga kamu main PeeS," protesku.


"Ya, itu, Gio sibuk main PeeS, bentar lagi naik level nih, tanggung," acuh, Gio.


"Gem, kecapnya mana? mau, pake sekarang!" Teriak, Mama dari dapur.


"Sebentar Ma, ini Gemi, baru mau pergi," ucapku, ikut berteriak. Ternyata benar, Ibu dan anak itu selalu kompak.


Kalau Mama, sudah berteriak seperti itu maka perintahnya harus segera dilaksanakan, tidak ada tawar-menawar apalagi penundaan apapun. Dengan setengah kesal pada Gio, akhirnya aku yang pergi ke warung. Sia-sia saja tadi aku merayu Gio, dengan embel-embel ganteng segala.


***


"Ini uangnya Buk," ucapku, menyerahkan uang berwarna hijau.


"Makasih, Neng," ucap, Ibu warung itu sambil memberikan kecap yangku beli.


"Ekh, ini Gemitang, anaknya Bu Mayang, ya?" seorang ibu-ibu yang dari tadi berdiri di sampingku, bertanya.


"Iya, Buk," ucapku, sopan.


"Lha, sekarang udah besar ya! padahal baru kemarin rasanya Ibu, liat kamu waktu bayi. Terus, Ibu juga pernah liat kamu nangis pas mau sekolah TeKa, kamu gak mau sekolah karna penge main di rumah, sekarang udah besar aja," ucap, Ibu itu penuh semangat.


Aku tersenyum tipis, malu juga jika aibku waktu kecil dibongkar semua.


"Ibu masih inget banget, waktu kamu bayi kamu di ...." ucapan, Ibu tersebut menggantung.


Aku melirik Ibu pemilik warung, ia terlihat berkedip beberapa kali.


"... dibawa ke posyandu, terus pulangnya kamu nangis kenceng banget karna baru aja diimunisasi," ucap, ibu tadi sambil tersenyum tipis.


Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum tipis. Rasa penasaran juga muncul begitu saja, saat aku melihat si Ibu pemilik warung berkedip beberapakali, seolah menyuruh Ibu, yang berbicara untuk diam. Aku yakin, yang Ibu, itu ucapkan berbeda dengan apa yang ingin ia ucapkan sebelumnya.


"Gemi, duluan ya Buk. Permisi," pamitku.


Langkahku belum benar-benar jauh ketika aku mendengar sayup-sayup percakapan dari warung tempatku membeli kecap tadi.


"Deg-degan aku Buk, hampir aja aku keceplosan tadi," aku tau suara itu berasal dari Ibu, yang tadi bertanya padaku.


"Untung aku kedip-kedipin tadi kamu," ucap Ibu, pemilik warung.


"Aku jadi keinget Bulan, Buk. Kasian aku sama anak itu," ucap, ibu yang tadi bertanya.


"Denger-denger, dia udah gak tinggal lagi bareng Ayahnya, semoga dia baik-baik aja," ucap, Ibu yang tadi bertanya.


"Aku juga berdoa semoga dia ada di tempat yang bikin dia bahagia, kasian anak itu," ujar, Ibu pemilik warung.


Sepanjang berjalan menuju rumah, aku terus memikirkan obrolan pemilik warung tadi. Apa maksudnya Kak Bulan, diperlakukan berbeda? Pikirku.


Selama ini memang hanya aku yang selalu juara kelas, tapi itu juga karna aku banyak mendapatkan les, sementara Kak Bulan, tidak sama sekali. Aku kadang iri dengan Kak Bulan, karna Kak Bulan, tidak perlu cape ikut les setiap hari.


Untuk Gio, dia juga tidak terlalu pandai dibidang akademi, tapi dia pandai berolahraga. Gio, kerapkali menjuarai perlombaan olahraga dalam banyak cabang, tapi yang paling sering adalah basket dan volly, karna dia sangat menyukai kedua olahraga tersebut.


Kak Bulan, memang tidak terlalu pandai dalam akademi, tidak terlalu pandai juga dalam olahaga, tapi itu bukan berati bisa menjadi alasan agar Kak Bulan, diperlakukan berbeda, tapi, Kak Bulan itu sangat pandai memasak, aku pernah memakan masakannya Kak Bulan, dan itu benar-benar enak, selain itu Kak Bulan, juga pandai membuat kue. Selama ini juga, aku tidak pernah melihat Mama, atau Papa kasar pada Kak Bulan, hanya saja karna Kak Bulan, yang memiliki sifat pendiam jadi ia jarang mengobrol atau bercanda dengan Mama, dan Papa, ataupun dengan adik-adiknya. Tidak seperti aku yang lengket dengan Mama, atau Gio, yang kerap satu kubu dengan, Papa.


Ibu, pemilik warung tadi jelas salah, ia hanya orang luar yang tidak tau tentang keluargaku di dalamnya seperti apa, tapi ia bisa dengan mudah membuat asumsi tanpa, bukti.


Andai saja Kak Kirana, masih tinggal di sini, mungkin aku bisa menjadikanya salah satu petunjuk untuk mengetahui alasan sebenarnya dibalik kepergianya Kak Bulan. Sayangnya, Kak Kirana sedang kuliah di Aceh, dan aku juga tidak tau berapa nomor ponselnya.


...***...


"Aduh, Gemi kamu dari mana aja, sih? Mama, nungguin kamu dari tadi lho," ucap, Mama begitu aku sampai rumah.


"Maaf, Ma. Tadi, Gemi diajakin ngobrol dulu sama Ibu-Ibu di warung," ucapku.


Mama, yang tadi hendak ke dapur membawa kecap yangku beli kembali berbalik. "Mereka bilang apa, sama kamu?" tanya, Mama.


Aku bisa menangkap raut khawatir dari wajah Mama, tapi entah untuk apa. "Cuma, basa-basi soal kabar aja ko, Ma." Aku, tidak mungkin cerita tentang obrolan yangku dengar tadi.


Mama, melangkah lebih dekat ke arahku. "Dengerin Mama, ya Gem. Kamu, jangan terlalu percaya sama orang luar, mereka gak tau apa-apa soal kita," ucap, Mama.


Aku mengangguk saja, walaupun masih bingung kenapa Mama, berbicara seperti itu.


"Yaudah, kamu balik lagi ke kamar sana! lanjutin belajar, terus sebentar lagi kamu ajak Gio, makan malam, Mama mau lanjutin masak dulu, sambil nunggu Papa, pulang." Lagi-lagi aku hanya mengangguki perkataan, Mama.


Akhir-akhir ini Papa, memang sering pulang malam. Pekerjaanya sedang banyak katanya, padahal aku ingin sekali bertanya tentang alamat sebebarnya kampus Kak Bulan, aku akan cerita tentang aku yang melihat Kak Bulan, tempo hari. Semoga saja Papa, mau berkata jujur dan tidak menutupi fakta lagi kepadaku. Semoga.


Aku mengikuti intruksi Mama, untuk kembali ke kamar, tapi alih-alih belajar aku justru membuka jurnal khusus yang kusiapkan untuk mencatat petunjuk-petujunk tentang perginya Kak Bulan, dan aku rasa obrolan Ibu-Ibu di warung tadi bisa menjadi putnote untuk catatanku. Entahlah itu berguna atau tidak, tapi segala sesuatu yang behubungan dengan Kak Bulan, harus aku kumpulkan catatanya. Semoga saja bisa menjadi petunjuk untukku.


***Hallo pembaca yang baik hati?


Gimana weekend kalian?


Semoga dimanapun itu kalian selalu sehat dan dikelilingi banyak kebahagian.


Ingat untuk selalu terseyum untuk dirimu ya, karna kamu sudah sangat hebat selama ini.


Tertanda, orang yang pengen terkenal, dan banyak duit.


Jumi***