
Dorr!
"Safa! ngagetin gue aja sih, lo," ucapku.
"Sorry, sorry ... lagian elo ngapain ngelamun sendirian di taman gini, mana di bawah pohon gede lagi. Awas ketempelan, loh!" Safa, ikut duduk di sampingku. Menyeruput jus miliknya.
"ngaco lo, siang-siang gini gak mungkin ada setan," elakku.
Safa, tersenyum lebar bak model iklan pasta gigi. "Terus, elo lagi ngelamunin apaan? kayanya berat banget masalah hidup lo,"
"Gue, kepikiran soal, Kak Bulan Fa,"
"Emang, Kak Bulan kenapa? masih hidup'kan dia?"
"ngaco lo, masih, lah." Jawabku, lesu.
"Terus, kenapa elo, mikirin Kak Bulan?" Safa, seperti biasa mulai penasaran tentang urusan orang lain.
"Minggu depan ulang tahunnya Gio, tapi sampai sekarang gue, belum dapat kabar apapun dari Kak Bulan, dia bakalan datang atau enggak. Gue sih, pengengnya Kak Bulan, datang, secara'kan Kak Bulan, hampir gak pernah pulang sejak enam tahun lalu. Gue, gak habis fikir sama sikapnya Kak Bulan, mentang-mentang udah kuliah dan ngekos Kak Bulan, jadi lupa sama rumah. Lupa, sama adik-adiknya. Lupa, sama orang tuanya. Gue, kecewa sama Kak Bulan, Fa." Aduku pada, Safa.
sendari dulu Safa, memang tempat curhat terbaik buatku. Sahabatku, sejak SD itu sudah ku anggap layaknya sodara, dia selalu mendukung dan menghiburku, dengan tulus.
"Ekh, udah bel tuh, cabut ke kelas yuk!" ajak, Safa.
Aku tersenyum, sebelum kemudian mengangguk.
Oiya, perkenalkan, namaku Azzura Gemitang Yudistira. Teman-teman sekolahku sering memanggil ku Zura, sementara orang tuaku lebih suka memanggilku, Gemitang.
Aku anak ke dua dari tiga bersaudara, kakak pertamaku perempuan, namanya Rembulan Vania Yudistira, Kak Bulan panggilannya. Sementara, adik ku bernama Gio Rahman Yudistira, biasa dipanggil Gio.
Sekarang aku duduk di kelas 2 SMA, disalah satu sekolah negri, Jakarta.
Oiya, tentang Kak Bulan, terhitung sudah sekitar enam tahun Kak Bulan, meninggalkan rumah, tepatnya sih, sejak dia kelas 2 SMA.
Kata Ibu, sih Kak Bulan memilih untuk ngekos karna jarak antara rumah dan sekolah jauh, aku kira itu hanya berlangsung sampai Kak Bulan, lulus SMA, nyatanya itu justru berlangsung sampai Kak Bulan, masuk ke perguruan tinggi dan masih berlangsung hingga saat ini.
sejak enam tahu lalu, bisa dihitung dengan jari kapan Kak Bulan, pulang ke rumah, bahkan jika diingat lebib teliti lagi, Kak Bulan tidak pernah benar-benar pulang ke rumah. Biasanya jika Papah, menelpon sedang sakit barulah Kak Bulan, mau berkunjung, itupun hanya berdiri di depan gerbang untuk memberikan buah-buahan untuk Papah, tidak pernah mau masuk ke dalam rumah meskipun aku paksa.
Aku dan Gio, tidak terlalu dekat, seringnya justru kami berdebat, meskipun hal yang kami debatkan justru hal sepele. Harapanku sih, ingin dekat dengan Kak Bulan, serti kebanyakan adik-kakak pada umumnya, apalagi Kak Bulan, itu perempuan pasti kami akan punya banyak kesamaan, akan dapat melakukan banyak hal bersama, shoping misalnya. Hanya saja, itu cuman akan selalu menjadi angan-anganku, karna faktanya sikaf Kak Bulan, memang pendiam, jadi sejak Kak Bulan, masih tinggal di rumah kami memang jarang mengobrol banyak.
Entah, hanya perasaanku saja atau memang Kak Bulan, sengaja memasang tembok penghalang diantara kami. Tembok yang sangat tinggi