
Hari Senin, menjadi hari yang paling tidak disukai banyak pelajar, bahkan bukan hanya para pelajar, tetapi banyak orang lain juga yang tidak suka dengan hari itu. Mungkin karna selain akan kembali disibukan dengan selaga aktifitas, di hari Senin, juga kita harus bangun dan berangkat lebih pagi agar terhindar dari kemacetan Ibu kota.
"Nanti pulang sekolahnya jam berapa?" tanya, Mama padaku.
"Jam biasa Ma, emangnya ada apa?" ucapku, setelah menelan suapan terakhir sarapanku.
"Nanti pulangnya Mama, jemput. Kebetulan, nanti Mama, mau arisan di kafe dekat sekolah kamu," ucap, Mama.
Aku mengangguk saja sebagai tanda setuju.
"Adek, mau Mama, jemput juga gak?" tanya, Mama pada, Gio.
Meskipun Gio, sudah protes ratusan kali pada Mama, untuk tidak memanggilnya dengan embel-embel 'adek' tapi Mama, tetap saja memanggil Gio, sepeti itu. Katanya, Mama sudah terbiasa dengan panggilan itu.
Gio, sontak menggeleng. Buru-buru menelan roti coklatnya. "Gio, pulangnya nebeng temen aja Ma, nanti juga Gio, masih harus les basket setelah pulang sekolah," ucap, Gio.
Dugaanku benar, Gio pasti menolak. Dia selalu tidak mau jika diantar ataupun jemput oleh Mama, katanya dia akan diledek teman-temanya sebagai anak Mama, apalagi Mama, yang memanggil Gio, dengan sebutan, adek.
Setelah menyelsaikan sarapan, aku dan Gio, pamit kepada Mama, sementara Papa, sudah lebih dulu berangkat ke kantor, pagi-pagi sekali untuk menghindari kemacetan.
***
Aku menatap haru sekaligus iba pada rombongan pengamen cilik yang memenuhi lapu merah, di tempat berdebu inilah mereka mengais rezeki untuk menyambung hidup. Mereka masih kecil. Masih terlalu dini untuk merasakan kepahitan dunia, tapi keadaan memaksa mereka untuk menjadi dewasa, untuk menjadi lebih kuat, karna hidup yang mereka jalani tidaklah mudah.
Seorang anak perempuan berpakaian lusuh menghampiri Ojol yangku kendarai, ia menyayikan sebuah lagu anak-anak dengan pelafalan yang kurang fasih. Ku taksir usianya baru tujuh tahunan. Seharusnya, dia berada di sekolah, belajar dan bermain dengan teman-teman sebayanya menggunakan baju bersih, bukanya menjadi penyanyi di jalanan yang berbahaya. Aku memberikanya uang sepuluh ribu, sebagai imbalan karna dia telah menghiburku dengan suaranya yang manis.
Setelah anak itu pergi dengan senyum cerianya, aku mengganti pandanganku pada lamu yang masih berwarna merah, kemudia mengalihkan pandanganku pada jalanan di depa. Di sana aku melihat sosok yangku kenal, sosok yangku cari selama ini. Itu Kak Bulan. Sosok itu datang dari arah kiri menuju ke kanan, ia dibonceng seorang perempuan berjilbab yangku tebak adalah temanya.
Kali ini aku tak mungkin salah lihat seperti di kaffe tempo hari, barusan meski sebentar Kak Bulan, melihat ke arahku, meski aku tak yakin dia juga melihatku. Kak Bulan, berpakaian rapi khas anak kuliahan, begitupun orang yang memboncengnya. Jelas Kak Bulan, akan berangkat kuliah, tapi kenapa justru Kak Bulan, ke arah kanan?
Seharusnya Kak Bulan, ke kiri. Aku masih ingat betul saat Papa, memberikanku alamat kampusnya Kak Bulan, aku juga pernah mencarinya ke kampus itu, seharusnya di perempatan ini Kak Bulan, ke kiri bukan ke kanan.
Apa selama ini, Papa bohong tentang alamat kampusnya, Kak Bulan?
Jika itu memang benar, maka terjawab sudah kenapa meskipun aku beberapa kali ke kampus yang katanya tempat, Kak Bulankuliah, aku tidak pernah menemukan Kak Bulan, bahkan tidak ada yang tau tentang Kak Bulan, meskipun aku menujukan fotonya. Ternyata itu bukan karna Kak Bulan, mahasiswa kupu-kupu alias kuliah-pulang-kuliah-pulang, tapi itu karna Kak Bulan, memang tidak pernah kuliah di kampus itu. Papa, berbohong padaku, dan entah berapa banyak lagi kebohongan yang ia simpan dariku.
Terlalu asik berdebat dengan batinku sendiri, aku sampai tidak sadar jika aku sudah tiba di sekolah, bahkan aku mengabaikan panggilan abang Ojol.
"Neng, eneng gak apa-apa? kalau sakit pulang aja, biar saya anter lagi ke rumah." Ucap, Abang Ojol setelah aku kembali sadar dari lamunanku.
"Engga apa-apa, Pak. Onkosnya sudah saya bayar pake aplikasi ya," ucapku, sambil menyerahkan helm.
"Saya masuk dulu Pak, terimakasih." Pamitku, mengabaikan raut khawatir Abang Ojol tersebut. Secepatnya aku harus bertemu Safa, aku harus bercerita padanya guna sedikit menghilangkan sesak yangku rasakan saat ini.
***
"Anak Ibu, lagi sibuk ya?" wanita berdaster itu duduk di kasur anaknya.
Si gadis berpiyama menutup buku yang sedang ia baca, kemudia menghampiri perempuan yang telah melahirkanya. Ia, merebakan dirinya dengan kepala di pangkuan Ibunya, tempat ternyaman menurutnya.
"Ada apa?" tanya si gadis, melihat tepat ke arah, Ibunya.
"Kemarin, Ibu ketemu sama orang itu lagi. Engga sengaja," ucap, si Ibu.
"Terus Ibu, sama orang itu ngobrolin apa aja? Ibu, cerita soal aku?" tanya, si gadis penasaran.
"Enggak, Ibu cuma sekedar nanya kabar. Ibu, gak berhak cerita soal kamu. Lagipula, Ibu sudah berjanji pada dia, untuk merahasiakan tentang kamu.
Si gadis terdiam. Dia tau betul siapa dia, yang dimaksud Ibunya. Dan, semua ini terjadi karna ulah, dia.
"Apa mereka baik sama kamu?" tanya, si Ibu.
"Mereka cukup baik Buk, 'kan sudah aku bilang berulang kali." Si gadis, tersenyum pada Ibunya, tentu Ibunya, juga membalas. Ia selalu ingin melihat putrinya tersenyum, tapi dia juga tau jika senyum putrinya selalu hampa, seperti beberapa tahun lalu.
"Nak, Ibu ingin melihat kamu selalu tersenyum. Tersenyum dalam arti bahagia, bukan terseyum untuk menutupi semua luka mu." Si gadis, tertampar mendengar ucapan Ibunya, ternyata ia tidak akan pernah bisa berbohong pada Ibunya.
"Ibu, juga sama seperti kamu. Ibu terluka, Ibu merasakan sakit, Ibu juga merasakan sesak yang sama seperti kamu, tapi itu dulu. Perempuan berdaster itu terdiam sejenak, mengamati ekspresi putrinya. "Sekarang, Ibu sudah berdamai dengan keadaan, sudah ikhlas menerima semuanya yang memang takdir Ibu, dan Ibu, mau kamu juga bisa sepeeti, Ibu. Semua itu pasti akan sangat sulit, tapi lebih akan menjadi sulit ketika hati kita menyimpan amarah pada orang lain. Rasa sesak dan sakit itu akan terus menggerogoti kita jika amarah itu masih bertahta di hati. Ibu, gak akan pernah memaksa kapan waktunya, tapi Ibu, akan selalu di samping kamu, sampai kamu berada dititik berdamai." Perempuan berdaster itu, membelai rambut putrinya. Bayi kecilnya sang sekarang sudah tumbuh dewasa, darah daging yang ia perjuangkan kehadiranya dengan bertaruh nyawa.
Si gadis berpiyama pink itu, terdiam. Kata-kata Ibunya, bagaikan obat dari dokter, terasa pahit, tapi menyembuhkan. Si gadis, beranjak dari pembaringanya, ia beringsut memeluk Ibunya.
"Terimakasih Buk, sudah menyadarkan aku tentang kesalah aku selama ini. Aku janji akan berusaha berdamai dengan keadaan, Ibu temenin aku terus ya, bantuin aku supaya aku bisa ikhlas nerima masa lalu itu," ucap, si gadis sambil terisak.
Sang Ibu, meraih kepala gadis di dekapanya, dikecupnya bertubi-tubi si gadis kesayanganya, di balik kecupan itu, ia juga menyematkan doa dan kasih sayang teramat besar untuk putrinya.
Benar, kata Ibunya, ia tidak boleh membiarkan amarah bertahta di hatinya. Selama ini, ia di kelilingi banyak kasih sayang, tapi ia tetap merasa hidupnya hampa. Semua itu karna amarah telah mengerogoti hati nuraninya selama ini, dan itu tidak boleh terus-terusan berlangsung, ia harus bahagia. Setidaknya, untuk, Ibunya.
***Hallo, pembaca budiman!
Gimana kabar kalian?
Terimakasih karna sudah membaca cerita ini.
Mohon dukunganya ya!
Aku berharap, kalian juga akan segera menemukan bahagia kalian, dan untuk yang sudah menemukan semoga bertambah banyak.
Tertanda orang yang pengen sukses dan kaya, tapi hoby rebahan.
Jumi***.