Bukan Antagonis

Bukan Antagonis
Hari Pertama Sekolah


Matahari bersinar cukup cerah hari ini, gadis cantik bernama Naomi itu tengah menatap pantulan dirinya di cermin yang berukuran cukup besar, kemeja putih lengan pendek lalu dibalut jas almamater berwarna hitam dengan sisi kanan yang terdapat bordiran logo sekolahnya, diatas logo ada pin nama siswa, dasi berwarna merah dengan corak garis, rok hitam dibawah lutut, dan sepatu pantofel yang sudah ia kenakan.


Untuk riasan wajah, Naomi hanya menggunakan sunscreen lalu ditambah dengan bedak padat, tak lupa pelembab bibir agar bibirnya tidak kering, lalu untuk rambut panjangnya, ia mengepangnya menjadi dua bagian, bukannya terlihat cupu justru model rambut Naomi kali ini menambah kadar keimutan seorang Naomi, sentuhan terakhir ia memakai parfum dengan aroma strawberry yang segar.


Naomi melihat sekali lagi pantulan dirinya dalam cermin, sempurna. Sedikit informasi dulu saat sebelum Valerie menempati raga ini, saat Naomi yang asli tergila-gila dengan sosok laki-laki bernama sadewa itu, dandanan Naomi bukan seperti ini, make up tebal, seragam kekecilan hingga sering mendapat teguran dari guru ataupun anggota osis, gelar antagonis itu tak hanya melekat begitu saja, ada perjuangan panjang yang harus Naomi asli lalui untuk mendapat gelar antagonis.


Setelah dirasa selesai Naomi mengambil tas sekolahnya yang berwarna putih lalu memakainya di pundaknya, Naomi menghela nafas sesaat sebelum keluar dari kamarnya, disepanjang jalan menuju ruang makan ia terus menyemangati dirinya seperti 'semangat menjalani hari menjadi antagonis baru Naomi' yah mungkin kira-kira seperti itu.


Sesampainya di ruang makan, Naomi langsung mendudukkan dirinya di kursi, didepannya ada Aska yang menatapnya heran, lalu disebelah nya lagi ada Laskar yang pasti menatapnya dengan tatapan benci, disebelahnya ada Hana yang sibuk melayani mereka lalu tepat di pojok tengah ada Daren sang kepala keluarga, "Putri kecil papa cantik sekali pagi ini" ucap Daren saat melihat Naomi yang duduk di kursinya.


Naomi tersenyum mendengar pujian itu, "Harus dong, anak papa Daren dan mama Hana gitu loh, bibit unggul nih" ucapnya dengan tampang sombong, Daren tertawa mendengar ucapan Naomi, "Tumben gak dandan, amnesia bikin keahlian make up lo hilang"ucapan sinis dari Laskar berhasil membuat Daren menatap tajam Laskar, "Tutup mulut mu Laskar sebelum gelas ini mendarat di kepalamu"ucap Daren yang membuat Laskar diam membisu.


Sedangkan Aska masih menatap Naomi, melihat bagaimana reaksi Naomi mendengar perkataan Laskar, sebenarnya tadi ia cukup terkejut kala wajah imut Naomi muncul dihadapannya, seperti bukan Naomi, adiknya sangat suka menggunakan make up tebal bahkan berhasil membuat Aska lupa bagaimana wajah Naomi tanpa make up, lalu secara tiba-tiba ia diperlihatkan wajah Naomi yang terlihat natural, ah kalau di ingat-ingat kemarin Naomi juga tidak menggunakan make up, jadi sebenarnya apa yang sedang Naomi rencanakan? meskipun dalam hati kecil Aska merasa senang kala melihat perubahan Naomi.


"Em, Naomi mau makan apa, Nasi goreng atau nasi putih sama telur?"tanya Hana mencoba mencairkan suasana, "Jagan makan nasi goreng, nasi putih sama telur aja tambah ayam goreng biar sehat, masa pagi pagi sarapan pedas-pedas, nanti perutnya sakit"ucap Daren, Naomi hanya menganggukkan kepalanya pasrah, yah apapun itu akan tetap Naomi makan, Naomi kan pemakan segalanya.


Hana mengambilkan makanan yang Daren suruh, "Telur juga sama kaya ayam, berarti Nau makan double ayam" ucapnya, "Gak papa dong yang penting putri kesayangan papa gak sakit lagi" ucapnya dengan senyum manis yang terpancar dari wajah tampan Daren.


"Oh ya mama, bekal Nau gak lupa kan?" tanya Naomi, "Gak dong, mama udah siapin, nanti sebelum makan, makan buah dulu, sesudah makan makan buah lagi" ucap Hana yang diberi anggukan oleh Naomi, "Lauknya apa mama" tanya Naomi penasaran.


"Ayam Crispy, Telur gulung, Broccoli, sama Tumis udang, gimana? banyak kan? biar kenyang, pokoknya harus dihabisin, ada dua kotak susu coklat juga loh" ucap Hana, "Wuihh, gak lama Naomi pasti gendutan"ucap Naomi menatap kagum paper bag berisi kotak makannya.


Beberapa menit berlalu akhirnya acara sarapan pun telah selesai, "Anak papa beneran gak mau berangkat diantar papa?" tanya Daren yang entah sudah ke berapa kalinya, "Naomi mau berangkat diantar pak Tejo aja pa, kantor papa kan gak sejalan sama sekolah Naomi, Naomi berangkat dulu pa, ma"ucap Naomi, setelah menyalami dan mencium pipi kedua orang tuanya.


Setelah Naomi pergi disusul dengan Laskar dan Aska yang kini berjalan dibelakang Naomi, "Tumben mau berangkat diantar sopir, biasanya juga mohon-mohon untuk bisa berangkat bareng kita"ucapan Laskar berhasil membuat langkah Naomi terhenti untuk beberapa saat, "Bisa diem, gw mulai curiga mungkin sebenarnya, dulu lo mau lahir jadi perempuan tapi malah jadi laki-laki, huh" ucap Naomi dengan nada kesal, "Maaf mungkin dulu gw khilaf" ucapnya lagi lalu segera pergi dari sana, saat Laskar ingin kembali berbicara, Aska terlebih dahulu berbicara, "Udah Kar, kita berangkat"


Naomi memasuki mobil Bmw putih, lalu mendudukkan dirinya di kursi penumpang, "Ayo pak berangkat"Ucap Naomi, hingga sopir bernama Tejo pun melajukan mobilnya menuju sekolah Naomi, Vedera Hing School sekolah swasta terbaik yang isinya anak-anak orang kaya atau pintar, fasilitas di sana sangat lengkap, ekstrakulikuler yang sering mendapat penghargaan, sekolah yang sangat diminati oleh semua orang.


Sesampainya di sekolah, Naomi segera turun dari mobil dan melangkah kedalam area VHS, sepanjang perjalanan Naomi mendapati berbagai pasang mata yang menatapnya dengan berbagai ekspresi, banyak juga mulut mulut tak berguna yang sibuk membicarakannya, entah tentang tampilan dan sikap aneh Naomi atau tentang keburukan Naomi.


Langkah Naomi terhenti kala mengingat bahwa ia tak tau berada di kelas mana dan dimana kelasnya, hingga seseorang dari arah belakang yang memegang pundaknya, "Cepat ke kelas, dan langsung ke lapangan" Naomi menoleh melihat siapa yang berani memegang dan berbicara pada antagonis ini, pasalnya sejak tadi tidak ada satupun orang yang berbicara padanya atau sekedar menyapanya.


Laki-laki dengan seragam lengkap dan almamater yang berbeda, ada lambang osis di almamater tersebut berarti dia adalah salah satu anggota osis, "Emm, boleh tanya?"tanya Naomi sambil menatap laki-laki di hadapannya penuh harap,


"Apa? cepat"jawab laki-laki tersebut.


"Nah karena gw langganan Bk makanya gw tanya, lo pasti hapal kan sama identitas gw? soal caper, gw gak ada maksud mau caper, apa lagi sama lo" ucap Naomi, laki-laki itu menatap jengah Naomi, lalu menghela napasnya, "Kelas 11IPA 3, ruang kelasnya di lantai tiga gedung C, udah cepat sana ke kelas"ucap laki-laki itu.


"Memang terbukti kalau lo fans berat gw, dah mau pergi dulu" ucapnya dan segera pergi menuju lokasi kelasnya, Laki-laki dengan nama Jameson David Beckham atau yang kerap disapa David adalah ketua osis VHS, laki-laki yang Naomi cap sebagai fans nya, menatap aneh Naomi, sikap Naomi tidak biasanya seperti ini, dan ehm dandanan Naomi cukup cantik yah cantik karena dia perempuan.


Kembali ke Naomi yang kini sudah berada di kelasnya dan sedang bertanya dimana biasanya Naomi duduk, setelah mendapat jawaban Naomi menaruh tasnya di meja dan pergi dari kelasnya, dulu saat ia masih menjadi Valerie, jika sedang waktunya upacara dia dan teman-temannya akan pergi ke lapangan bersama, sedangkan sekarang dia pergi ke lapangan sendiri yah maklum Naomi tak memiliki satupun teman, orang bodoh mana yang mau berteman dengan orang yang dijuluki antagonis VHS.


......................


Setelah selesai upacara Naomi segera kembali ke kelas, Suatu keajaiban bahwa hari ini seorang Naomi tidak dihukum dan malah menggunakan semua atribut dengan benar dan sesuai tempatnya, "Woy lah kaleng sat, gak kaleng gw do'a in uang lo hilang, kaleng woy" suara menggelegar dari seorang yang kini tengah berjalan mengitari kelas, sesekali tangannya mengebrak meja.


"Santuy dong ci, udah ngalahin rentenir aja dah galaknya" ucap salah satu siswa laki-laki yang diketahui bernama Rama, "gak digalakin gak kaleng kalian, lumayan sat uangnya bisa buat beli iphone"ucap suci yang kini berjalan ragu-ragu kearah Naomi, "Emm, Nau kaleng" ucapnya dengan suara pelan, yah takutnya jika ia membentak Naomi dia malah di bully oleh perempuan itu.


"Berapa?" Tanya Naomi sambil menatap lawan bicara tentunya dengan raut wajah ramah tamah yang malah membuat mereka bergidik ngeri, "Gak banyak, cuma lima ribu kalau mau bayar sekalian seminggu, tiga puluh ribu"ucap Suci, kebiasaan seorang bendahara satu ini selalu menawarkan untuk membayar sekalian dengan hari kedepannya, Naomi mengeluarkan uang berwarna biru satu lembar lalu memberikannya kepada Suci, "Nah semuanya aja"ucap Naomi.


Setelah beberapa keributan kecil akhirnya jam pertama pelajaran hari ini pun dimulai, guru dengan perawakan besar memasuki kelas mipa 3 dan mendudukkan dirinya di tempat duduknya, setelah memberi salam dan dilanjutkan dengan absen sekarang guru yang diketahui bernama Mariati pun mulai mengajar, atau menjelaskan materi pelajaran hari ini.


Saatnya sesi tanya jawab, Bu Mariati menatap para muridnya yang tengah duduk di kursi masing-masing, ada yang kini tengah pura-pura menulis, atau pura-pura membaca ulang materi, tatapan bu Mariati tertuju pad Naomi yang kini tengah melamun entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Naomi, maju dan kerjakan soal di papan" Naomi yang merasa terpanggil pun menatap Bu Mariati heran, hah apakah bu Mariati tadi memanggilnya? dan kenapa memanggilnya? "Naomi, cepat kerjakan soal didepan"ucap Bu Mariati dengan pandangan yang meremehkan, pasalnya soal yang tertulis di papan adalah soal yang sulit yang bahkan memerlukan cukup banyak waktu untuk menyelesaikannya, apalagi Naomi adalah gadis bodoh.


Naomi maju ke depan dengan langkah malas lalu mengambil spidol dan segera menyelesaikan soal yang ada didepannya, tak ada sedikitpun raut wajah mengerut pertanda sedang berpikir keras, sedari tadi Naomi hanya menatap tanpa ekspresi soal dihadapannya.


Setelah selesai mengerjakan soal tersebut, Naomi segera berpamitan untuk segera duduk di kursinya kembali, sedangkan Bu Maria yang kini tengah menatap takjub jawaban dari pertanyaan tersebut, sangat mudah dipahami. Bu Mariati menatap Naomi penuh selidik sebenarnya bagaimana Naomi bisa mengerjakan soal itu dengan jawaban sempurna?atau hanya kebetulan saja? .


"Kerjakan soal halaman 43, jika sudah kumpulkan ke saya" ucap Bu Mariati, dengan gerakan malas Naomi mulai membuka buku halaman 43 yang berisi soal-soal sulit, sama seperti tadi ia mengerjakan soal-soal itu tanpa ekspresi, tak ada satupun ekspresi yang menandakan soal tersebut sulit.


Selesai mengerjakan ia pun segera mengumpulkan bukunya dan duduk kembali di kursi dengan nyaman, Bu Mariati menatap kagum jawaban yang ditulis Naomi dengan sempurna, "Naomi, istirahat pertama ke ruangan guru, ada yang mau saya bicarakan sama kamu"ucap Bu Mariati, yang terkesan seperti perintah.


...----------------...


Jangan lupa like dan komentar nya sayang, see you.