Bukan Antagonis

Bukan Antagonis
Awal Mula


Happy Reading


...----------------...


Langit malam yang cerah dengan gemerlap bintang menambah kesan indah langit pada malam hari ini, seorang gadis tengah duduk di balkon kamarnya, manik matanya tak henti-henti menatap langit malam yang begitu indah, hawa dingin yang menerpa kulitnya tak membuat gadis cantik itu bangkit dari posisi duduknya, lima menit lagi, Valerie masih ingin menatap langit lima menit lagi.


Lima menit berlalu, Valerie bangkit dari posisi duduknya, berjalan santai memasuki kamarnya, sebelum tidur sudah menjadi rutinitas Valerie untuk meminum air putih setidaknya satu gelas, namun teko bening yang biasanya terisi air itu kosong, mungkin bibi lupa mengisi air di teko bening itu, pikir Valerie.


Valerie meraih teko bening itu, ia akan pergi ke dapur untuk mengisi air, jika kalian bertanya mengapa Valerie tak memanggil pelayan ataupun bibi pengasuh nya untuk mengisi air di teko? maka jawabannya adalah karena mereka semua pasti kelelahan dan sedang beristirahat dengan tenang di ruangan masing-masing, mana mungkin Valerie tega membangunkan mereka hanya untuk mengisi air.


Kaki jenjangnya melangkah perlahan menuruni anak tangga kemudian berjalan menuju dapur, namun sebelum Valerie sampai ke dapur, tanpa sengaja ia melihat sang ayah yang tertidur pulas di sofa ruang tamu dengan berkas yang berserakan di mana-mana, niatnya untuk pergi ke dapur mengisi air pun terhenti.


Kini ia berjalan menghampiri ayahnya meletakkan teko yang tadi ia pegang di lantai, dengan hati-hati ia merapikan berkas-berkas itu agar terlihat lebih rapi namun tanpa sengaja cangkir yang masih berisi setengah kopi milik ayahnya tersenggol sehingga semua isinya tumpah ke arah berkas itu.


Panik? Tentu saja, siapa yang tidak panik berada di kondisi seperti ini, Valerie mencoba untuk membersihkan berkas itu dengan hati hati tetapi gerakannya itu membuat sang ayah yang tadinya tertidur pulas membuka matanya, betapa terkejutnya Valerie saat mendengar teriakan dari ayahnya.


"APA-APAAN INI HAH, KENAPA KAMU MENUMPAHKAN KOPI KE BERKAS YANG PENTING INI, APA KAMU TIDAK TAU SAYA SUDAH MEMBUATNYA SEJAK TADI, DAN KAMU..... DASAR ANAK TIDAK TAU DI UNTUNG"air mata Valerie lolos begitu saja membasahi pipi, demi apapun dia tidak sengaja, niatnya hanya ingin merapikan bukan menghancurkan.


"Vale t-tidak sengaja a-ayah" Ucapnya terbata, dengan isakan kecil yang keluar dari bibir ranumnya. Masih dengan posisi terduduk dilantai sang ayah dengan tega menendang Valerie, sedangkan Valerie hanya menerima tanpa membalas sedikitpun.


"Sudah cukup, saya muak melihat wajah kamu, kenapa tidak kamu saja yang mati, kenapa malah istri saya. Dasar PEMBUNUH, KELUAR KAMU DARI RUMAH SAYA" tangan sang ayah menjambak kasar rambut Valerie memaksanya  untuk segera keluar dari rumahnya, sedangkan Valerie ia hanya pasrah dengan apa yang dilakukan ayahnya, hanya satu yang terbesit dalam pikirannya apakah berkas itu lebih penting daripada dirinya?


"JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKIMU DI RUMAH SAYA LAGI"pintu besar itu di tutup dengan keras menimbulkan suara yang cukup menyakitkan telinga, Valerie menatap pintu kediaman William tempatnya tumbuh besar, apakah kesalahannya sudah sangat besar sehingga ayahnya tega mengusir dan berbuat kekerasan? , rasanya sakit ya tuhan, rambutnya seperti dipaksa lepas dari kepalanya, kepalanya pusing, hasil dari tendangan bruntal sang ayah membuat lebam dibeberapa tubuhnya, tubuhnya seakan remuk.


Valerie diam, ia bangkit dari duduknya berjalan dengan langkah terseok-seok meninggalkan kediaman William, pertanyaannya dia harus kemana? Raya dan Fifi? Sudah cukup Valerie merepotkan kedua sahabatnya.


Gadis cantik itu berjalan tak tentu, pikirannya berkelana entah kemana, tubuhnya sakit, kepalanya pening dan hatinya seperti di remas-remas, teriakan demi teriakan memanggilnya namun seakan tidak sampai ke indra pendengaran, saat matanya melihat ke depan cahaya dari lampu kendaraan yang cukup besar menyilaukan pengelihatannya, hingga sebuah balok besar menghantam tubuhnya cukup keras membuat tubuh itu terpental jauh, rasanya sangat sakit, sakitnya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, pandangannya mulai mengabur samar-samar ia mendengar suara-suara mengerubunginya, valerie ingin berbicara namun suaranya seakan tercekat bahkan untuk menyebutkan kata 'ayah'  itu sangat sulit. Hingga perlahan semuanya terasa gelap tidak ada lagi suara-suara, seakan semuanya hilang ditelan bumi.


......................


Sosok gadis cantik yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, wajah pucat nya tak membuat kecantikan sosok tersebut memudar, perban yang terpasang di area kepala dan tangannya adalah tanda bahwa dirinya mengalami sebuah kesialan yang membuatnya harus terbaring di ranjang rumah sakit.


Sudah satu minggu namun tak ada satupun tanda mata itu akan terbuka menampilkan iris coklat madu yang menghanyutkan, tak jauh dari sana dua orang terduduk lesu menatap gadis yang terbaring lemah, setelah mendapat kabar dari seseorang yang menyatakan bahwa anak perempuan satu-satunya mengalami kecelakaan mobil, sepasang suami-istri tersebut langsung bergegas menuju rumah sakit.


Perlahan kelopak mata itu terbuka menampilkan iris coklat madu yang indah, pandangan pertama yang Valerie lihat adalah langit-langit ruangan yang berwarna putih, banyak sekali pertanyaan yang bermunculan, dimana dia sekarang? apakah dia sudah mati? apakah ayahnya tau jika Valerie mati? bagaimana keadaan ayahnya sekarang? dan masih banyak pertanyaan.


Valerie menatap sekitar ruangan yang kini ia tempati, langit-langit ruangan berwarna putih, di samping tempatnya tidur terdapat infus yang terpasang di punggung tangganya, meja kecil dengan satu keranjang buah-buahan dan bunga krisan putih di atasnya, aroma obat-obatan yang samar-samar dapat ia cium, anak kecil juga tau kalau tempat ini adalah rumah sakit.


Dua orang yang duduk tak jauh dari Valerie berlari kecil menghampiri Valerie, raut wajah khawatir terlihat sangat jelas di wajah mereka, "Naomi sayang kamu sudah bangun, bagaimana? ada yang sakit? atau kamu haus? lapar?" berbagai macam pertanyaan keluar dari wanita paruh baya didepannya, membuat Valerie menatap bingung wanita tersebut, tunggu apa tadi? Naomi? siapa dia?


"S-siapa kalian?" tanya Valerie, pertanyaan yang berhasil membuat kedua orang didepannya diam membisu untuk beberapa saat, mereka tidak salah dengar kan? bagaimana mungkin anaknya tidak mengenali orang tuanya? yah mereka pasti salah dengar, "Naomi sayang ini tidak lucu, nanti saja kita bercandanya sekarang papa tanya, apa ada yang sakit?"


"N-naomi? siapa dia? a-aku tidak sedang b-bercanda" ucapnya, detik berikutnya potongan-potongan ingatan menghantam otaknya, ingatan dari sang pemilik tubuh berputar terus menerus bagaikan kaset rusak, Valerie memegang kepalanya, sesekali jari-jari lentik itu menarik kasar rambutnya, suara kesakitan terus keluar dari bibir cantik itu, kedua orang yang berada dihadapannya panik melihat anaknya yang kesakitan, sang mama mencoba untuk menenangkan Valerie dengan cara memeluknya, sedangkan sang papa berlari tergesa-gesa keluar dari ruangan untuk memanggil dokter.


Tak butuh waktu lama papanya datang kembali dengan dokter disampingnya, dokter tersebut langsung memeriksa Valerie yang sudah terlihat cukup tenang berkat pelukan mamanya, "Halo Nona Naomi, bagaimana keadaan anda?" ucap dokter tersebut dengan ramah, namun orang yang dipanggil Naomi itu tetap diam tak memberi sedikitpun balasan.


"Apa yang terjadi dengan anak saya dok?"tanya sang mama, "Nona Naomi mengalami amnesia pasca trauma, akibat benturan keras di kepalanya saat kecelakaan, tuan dan nyonya tolong jangan terlalu memaksa putri anda untuk mengingat, cukup pelan-pelan saja, atau kalau tidak kejadian tadi akan terulang kembali" ucap sang dokter, Valerie yang mendengar perkataan dokter tersebut tertawa dalam hati 'sok tau' pikirnya.


"Baiklah nona, saya akan sedikit memperkenalkan diri anda, anda adalah Nona Arashella Naomi Danendra, ini adalah papa anda Tuan Junelio Daren Danendra dan disebelahnya adalah mama anda Nyonya Zamora Hana Danendra" ucap dokter tersebut dengan senyum ramah yang menghiasi wajahnya.


"Nah kalau begitu saya keluar dulu nona, tuan, dan nyonya, jangan lupa istirahat nona Naomi" ucapnya lalu pergi meninggalkan ruang inap Valerie, "Kamu istirahat lagi ya sayang, atau ada yang kamu butuhkan? bilang sama papa" ucap Daren, namun hanya gelengan kepala yang menjawab pertanyaan tersebut, Valerie masih butuh waktu untuk menerima semua ini, kekonyolan yang tidak masuk akal.


......................


Terhitung sudah delapan hari Naomi berada di rumah sakit, besok adalah hari dimana dia bisa pulang kembali kerumahnya, yah sekarang dia sudah mulai menerima takdir yang membuatnya menetap di tubuh Naomi, tidak ada gunanya mengeluh, tidak akan membuatnya kembali ke tubuhnya aslinya, bahkan Valerie tidak yakin bahwa tubuhnya masih ada.


Ahh ngomong-ngomong mamanya pernah berkata bahwa Naomi memiliki dua kakak laki-laki, Valerie jelas tau itu, hah setidaknya sebagai seorang kakak mereka seharusnya menjenguknya walau membencinya, bagaimanapun Naomi ini adalah adiknya bukan orang lain, lalu laki-laki bernama Sadewa itu, mulai sekarang Naomi harus menjauhinya, begitupula kakaknya, Naomi harus menjauhi mereka agar hidupnya tenang tanpa gangguan.


Pintu ruangan terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya yang tersenyum ramah dengan paper bag yang beliau bawa, Hana sang mama menghampiri Naomi yang tengah melamun, "Naomi sayang, mama buat brownies coklat loh, tapi sebelum makan brownies kamu harus makan nasi sama sup ayam dulu, oke cantik" ucap Hana lalu mengeluarkan kotak makan dari paper bag yang ia bawa.


"Dikit aja ya ma" ucap Naomi yang di iyakan oleh Hana, ingat sedikit menurut Hana berbeda dengan sedikit menurut Naomi, Namun karena tak mau membuat orang didepannya sedih karena makan yang ia buat susah payah hanya dimakan sedikit, jadilah Naomi pasrah dengan suapan suapan yang terus diluncurkan Hana.


Setelah selesai makan Naomi hanya duduk duduk tidak jelas, ia bosan tidak ada handphone yang bisa dimainkan, meskipun ada televisi di sana namun tak ada film kesukaan Naomi, Jam segini mana mungkin ada Masha and the Bear Ataupun Boboiboy.


Naomi memutuskan untuk jalan-jalan ketaman sebentar, untuk menghilangkan kebosanannya, sesampainya di taman ia duduk di salah satu kursi taman, tak lama seorang anak kecil yang kira kira berusia sembilan taun duduk disampingnya, "Kakak cantik bosan ya?"tanya anak tersebut menatap Naomi dengan senyum cerah, " Iya, kamu juga"tanya Naomi.


"Huum, aku bosan pengen keluar dari rumah sakit, pengen main sama kakak, tapi gak boleh sama dokter" ucap anak tersebut, Naomi menatap heran anak kecil tersebut, jika diperhatikan lebih jelas lagi wajah anak itu terlihat pucat, namun senyum cerah itu tak pernah luntur dari wajah pucat nya.


"Kenapa?" tanya Naomi, "Ayah bilang aku punya penyakit leukimia, kaka tau apa itu leukimia? aku gak tau, dari aku usia 4 tahun ayah selalu bawa aku kesini untuk kemoterapi, sakit tapi untuk sembuh aku gak papa" ucapnya.


"Heum, kakak juga kurang tau, tapi kakak yakin kamu pasti sembuh, semangat cantik banyak orang yang sayang sama kamu" ucap Naomi dengan senyum tulus tanyanya terulur menyentuh rambut anak tersebut, "Aku pasti sembuh, hehe" ucapnya dengan senyum yang terus mengembang, entahlah, sejak usia empat tahun sudah harus merasakan sakitnya kemoterapi, lalu bagaimana jika dia tau dunia tak seindah yang dia pikiran?


"Raquel, kenapa kamu malah disini? ayah sudah cari kamu, kamu harus istirahat sayang" ucap seorang pria paruh baya yang Naomi yakini adalah ayah dari anak yang duduk disampingnya, "Hehe, aku bosan yah, jadi disini deh ada kakak cantik yang temenin aku loh" ucap Raquel dengan senyum cerah, "Ahh terimakasih nak sudah menjaga anak saya, kami pergi dulu" udah pria tersebut.


Naomi hanya mengangguk sebagai jawaban padahal dia hanya berbicara tidak menjaga Raquel, "Dadah kakak cantik" ucap Raquel yang kini berada di gendongan ayahnya, Naomi melambaikan tangannya, hingga mereka tak lagi terlihat di pandangan Naomi.


Naomi memutuskan untuk kembali ke ruang inap nya, di sana sudah ada Hana yang berlari kecil menghampiri Naomi dengan raut wajah khawatir, "Kamu dari mana saja sayang?" tanya Hana dengan raut wajah khawatir yang masih terlihat jelas, "Ke taman kok mam, bosen gak ada handphone"


"Mama telpon papa deh, pas kesini sekalian bawa handphone baru" ucap Hana langsung menelpon Daren, Naomi tersenyum hangat, jujur Naomi asli beruntung memiliki orang tua yang begitu menyayanginya, inilah yang begitu Valerie inginkan, mempunyai orang tua lengkap yang mencintai dan menyayanginya.


Setelah selesai menelpon Daren, Hana menyuruh Naomi untuk duduk di ranjang rumah sakit, sementara ia mengupas apel untuk dimakan Naomi, "Loh Brownies nya belum di habisin?" tanya sang mama.


"Mau aku habisin kok ma, cuma siapa coba yang suapin aku makan sampai perutku mau meledak, padahal udah bilang dikit aja loh" ucap Naomi sambil sesekali menyuapkan potongan apel, Hana yang mendengar itu pun hanya tersenyum tanpa ara rasa bersalah sedikitpun, "Biar cepat sembuh" ucap Hana


...----------------...


Jangan lupa tinggalkan jejak seng baik vote like ataupun komentar, terimakasih