
Hari-hari berlalu dengan cepat, ketiga sahabat itu tetap kompak, Regan yang posesif terhadap kedua sahabatnya, Ayla yang kalem dan Nanda yang cuek juga apa adanya membuat persahabatan itu menjadi Natural dan benar-benar mengalir.
Saat ini dikelas, kepanikan melanda diri Nanda yang terlihat sedang mencari sesuatu didalam tasnya.
"Kamu kenapa Nan? kamu cari apa?" Tanya Ayla berbisik.
Pasalnya dikelas mereka sedang berlangsung pelajaran bahasa indonesia dan Nanda tidak membawa tugas mengarang cerita, sementara guru bahasa Indonesia sangat tidak mentolelir sebuah kesalahan.
"Ketinggalan Ay, tugas aku ketinggalan dirumah." Jawab Nanda panik.
"Koq bisa Nan?"
"Semalam pas aku nyiapin buku untuk hari ini, aku ngantuk banget Ay, kayaknya ga kemasukin ke dalam tas ku Ay."
Ayla mengambil lembaran berisikan karangannya di hvs miliknya, lalu menghapus namanya sendiri dengan tipe-x dan menulis nama Nanda untuk menggantikan namanya sendiri.
"Udah jangan dicari lagi Nan, ini punya kamu udah ada." Ucap Ayla dengan senyum ketulusannya.
Nanda meraih kertas hvs itu dan melihat nama dirinya diatas tipe-x.
"Ini karangan kamu Ay, aku gak bisa pake punya kamu, sementara kamu nanti dihukum." Jawab Nanda.
"Aku gampang Nan, yang penting kamu dulu. Please jangan nolak."
"Kalian sedang berdiskusi apa?" Tanya Yulis, guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang tiba-tiba saja sudah berada disamping Ayla.
"Maaf bu, tugas saya ketinggalan." Jawab Ayla setenang mungkin.
"Ketinggalan kamu bilang? alasan yang sering digunakan oleh orang-orang malas." Ucap Yulis dengan angkuhnya.
"Maaf bu, ini tugasnya Ayla, yang ketinggalan itu tugas saya." Sahut Nanda.
"Diam kamu!! Jangan membela anak tidak tau diuntung ini. Sudah disekolahkan oleh orang tua asuh, bukannya sekolah yang benar, malah malas-malasan." Yulis mulai menyudutkan bahkan seperti membully Ayla. "Harusnya kamu bersyukur Ayla, anak panti sepertimu bisa sekolah disekolah elit seperti ini."
"Cukup!!" Emosi Nanda terpancing.
"Nan, udah gak apa-apa." Lirih Ayla.
"Ini tugas kamu Ay, tugas ku yang ketinggalan. Dan aku gak akan diam kalo orang yang penting dalam hidup aku dihina seperti ini." Tegas Nanda.
"Oh berani ya kamu sama saya?" Yulis terpancing emosinya.
"Iya, saya berani sama orang yang bisanya merendahkan orang lain, apa lagi dari tenaga pengajar seperti anda." Jawab Nanda berani.
"Nan, udah." Regan menghampiri dan mencoba merangkul pundak Nanda.
"Engga Re, jangan suruh aku berhenti. Dia ini udah mencoreng tenaga pendidik yang mempunyai gelar pahlawan tanpa tanda jasa."
"Bagus ya kamu. Saat ini juga saya tunggu kalian di ruangan BK."
"Saya tidak takut." Jawab Nanda.
Ayla dan Nanda dibawa keruang BK, tentu saja Regan terus mendampinginya.
"Panggil orang tua Nanda Alifia dan wali dari Ayla Putri." Ucap Yulis pada Ririn guru BK.
Setelah Yulis menjelaskan pada Ririn Guru BK dengan agak berlebihan, akhirnya Ririn memanggil Aryo.
"Orang tua kamu ini yang jadi orang tua asuh Ayla juga ya Nan?" Tanya Ririn dengan suara lembut.
"Iya Bu." Jawab Nanda sopan.
"Halah.. sama Bu Ririn aja sopan, sama saya kamu tidak ada sopan-sopannya." Sahut Yulis.
"Saya akan segan sama orang yang baik bu, tidak dengan orang seperti ibu." Jawab Nanda malas.
"Nan, udah ya, udah.." Ayla terus menahan lengan Nanda agar lebih tenang.
Regan pun membantu Nanda agar lebih tenang lagi
Aryo yang sedang dijalan karna habis bertemu dengan klien pun merasa terkejut mendapatkan panggilan dari sekolah tempat anaknya menuntut ilmu, dia meminta asisten pribadinya untuk segera tiba disekolah Nanda.
"Pak Aryo." Sapa Rudi pemilik yayasan yang kebetulan sedang berada disekolah Nanda, Rudi baru saja keluar dari ruangan kepala sekolah.
"Selamat siang Pak Rudi." Aryo mengulurkan tangannya seraya menjabat tangan Rudi dan ilham sang kepala sekolah bergantian.
"Ada hal apa Pak Aryo sampai repot kemari? jika ada hal penting bisa diwakilkan oleh asisten pribadi anda seperti biasa pak.
Aryo adalah donatur tetap diyayasan milik Rudi. dan hal ini hanya diketahui oleh Rudi dan Ilham.
"Anak saya ada diruang BK, bisa bantu tunjukan dimana ruangannya?" Tanya Aryo panik.
Ya, segala sesuatu yang menyangkut Nanda akan membuat Aryo Panik.
"Ruang BK? apa tidak salah pak?" Tanya Ilham meyakinkan.
"Tidak, tolong antar saya kesana, saya takut ada apa-apa dengan anak saya."
Ilham dan Rudi mengantar Aryo keruang BK, betapa terkejutnya Ririn dan Yulis saat melihat ketua yayasan dan kepala sekolah juga masuk keruang BK.
"Nanda.. Ayla..." Aryo menghampiri Nanda dan Nanda memeluknya. Aryo juga merentangkan satu tangan lagi untuk memeluk Ayla.
"Ada apa Nak?" Tanya Aryo pada Nanda dan Ayla.
"Regan, kamu bisa kembali ke kelas." ucap Ririn.
"Tidak, jangan. Regan biar tetap disini." Sahut Aryo saat Nanda meremas tangan Aryo, tanda tidak menginginkan Regan kembali kekelasnya.
"Sudah, biar Regan disini." Kali ini Ilham sebagai kepala sekolah yang berbicara.
"Baiklah Pak Aryo, maksud saya memanggil bapak kesi...-" Belum selesai Ririn menjelaskan, Aryo sudah memotongnya.
"Maaf." Aryo mengangkat satu telapak tangannya tanda meminta Ririn untuk tidak melanjutkan pembicaraanya.
"Biarkan saya mendengar dari mulut anak saya sendiri, baru anda boleh menjelaskannya."
"Baiklah, silahkan Pak." Ucap Ririn mengerti.
"Ada apa Nak?" Tanya Aryo pada Nanda.
Nanda menjelaskan persoalannnya.
"Yang Nanda gak suka, Bu Yulis menghina Ayla, mengungkit asal Ayla yang dari Panti, Ayla yang hanya anak asuh.Nanda gak suka Pa. Bagaiman jika nanti siswa lain ikut membully Ayla seperti itu?"
Aryo mengangguk paham.
"Benar begitu Ay? Re? Tanya Aryo pada Ayla dan Regan dengan bergantian menatapnya.
Regan dan Ayla hanya mengangguk.
Aryo menghela nafas, "Silahkan apa yang mau anda jelaskan." Ucap Aryo pada Ririn dan Yulis.
"Anak anda tidak sopan, apa tidak pernah diajarkan sopan santun oleh ibunya?" Sahut Yulis.
"Ibu Yulis, mohon jaga ucapan anda." Sahut Ilham yang mengetahui bahwa Istri Aryo sudah meninggal.
"Mohon maaf pak Aryo Darmawan, sepertinya ini ada kesalahan, biar masalah ini kami yang menyelesaikannya." Ucap Rudi dengan hormat.
"Saya tidak suka ada pembullyan ditempat saya memberikan sebagian dari harta saya untuk membantu pembangunan dan siswa yang tidak mampu, apa lagi jika pembullyan itu datangnya dari tenaga pendidik disini." Ucap Aryo singkat namun jelas.
"Saya mohon maaf pak. Saya kurang memperhatikan kulitas tenaga pendidik disini."
Aryo hanya menghela nafas.
"Asal kalian semua tau, Ayla itu spesial untuk Nanda dan Saya, bukan hanya sekedar anak asuh." Aryo berdiri dari duduknya. "Saya minta ijin untuk membawa Nanda, Ayla dan Regan pulang sekarang."
"Ayo Nan, Ay, Re kita pulang."
"Ramli, ambilkan tas mereka dikelas." Perintah Aryo pada asistennya.
"Pak, sekali lagi saya mohon maaf atas kejadian tidak menyenangkan ini."
Aryo meninggalkan ruangan BK bersama Nanda dan juga diikuti oleh Ayla dan juga Regan.
Ilham menjelaskan status Aryo pada Ririn dan Yulis bahwa Aryo adalah donatur tetap dan tertinggi diyayasan. Hal itu membuat Yulis menelan salivanya karna sudah dipastikan karir nya akan tamat disini, terlebih Yulis hanya tenaga pengajar kontrak dan belum tetap.
Aryo membawa Nanda, Ayla dan Regan kesebuah restoran.
"Maafkan Ayla, Om." Lirih Ayla.
"Maaf kenapa Ay? Om malah merasa tidak enak sama kamu karna membantu Nanda yang kurang teliti. Kamu mengorbankan harga diri kamu untuk Nanda."
"Dan Nanda membela harga diri Ayla." Sahut Regan.
"Iya betul." Jawab Aryo tersenyum.
"Ay, maaf ya, karna aku, kamu jadi dengerin omongan ga enak."
"Engga Nan, aku yang terimakasih karna kamu membela harga diri aku." Jawab Ayla.
"Papaa, maafin Nanda. Nanda bikin malu Papa ya?" Tanya Nanda dengan nada manja.
"Tidak Nanda, Papa bangga karna kamu membela harga diri Ayla, meski Papa kecewa karna kamu kurang teliti hingga tidak membawa tugasmu."
"Dihukum aja Om." Sahut Regan.
"Regan!!" Pekik Nanda.
Aryo tertawa. "Ya, kalian dihukum. Habiskan makanan ini semua."
Nanda tertawa. "Regan menang banyak, walaupun kerempeng, Regan makannya banyak Pa."
"Makannya banyak karna gratis Om." Sahut Ayla.
"Regan tertawa, Sweety-sweetyku tau banget sih." Regan nyengir hingga terlihat jejeran giginya yang rata.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....