
Nanda terdiam didalam kamarnya, semalaman ia sama sekali tidak tidur, ia bingung harus melakukan apa. Disisi lain Aryo adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki, meski ada rasa kecewa dihati Nanda, namun Nanda tetap menyayangi Aryo. Aryo tetap Papa yang sempurna bagi Nanda.
Nanda yang sudah terbiasa merasakan kecewa semenjak menikah hingga bercerai dengan Raja, membuatnya sedikit kuat menghadapi kenyataan atas pengakuan Aryo semalam.
Nanda turun dari kamarnya menuju ruang makan bersama. Ia mencoba bersikap seperti biasanya.
"Pagi Pa..." Nanda mencium pipi Aryo yang sudah lebih dulu duduk dikursi meja makan.
Aryo melihat kantung mata Nanda yang menandakan semalaman Nanda tidak tidur.
"Kamu mau kekantor?" Tanya Aryo.
Nanda mengangguk sambil mengoles selai kacang dirotinya. "Hari ini ada meeting dengan klien baru Pa, doakan lancar ya." Jawab Nanda riang yang menyembunyikan kesedihannya.
"Papa slalu mendoakan yang terbaik untukmu, Sayang."
Nanda tersenyum.
Selesai sarapan Nanda berpamitan pada Aryo untuk menuju kantor. Ia melewati meja sekertarisnya yang bernama Denis. Nanda memang lebih suka bekerjasama dengan pria, ia sengaja memilih sekertaris seorang pria yang masih fresh graduate untuk menjadi sekertarisnya.
"Nis, tolong panggilkan Pak Robi keruangan saya." Pinta Nanda.
Denis mengangguk "Baik Bu, saya akan menghubungi sekertaris Pak Robi untuk memberitahunya."
Nanda masuk keruangannya dan berdiri didepan jendela besar melihat langit dan gedung-gedung lain yang berlomba untuk mencakar langit.
Robi mengetuk pintu dan masuk setelah Nanda mempersilahkannya masuk.
"Ibu memanggil saya?" Tanya Robi.
"Kita hanya berdua disini Kak, panggil aku Nanda." Ucap Nanda tanpa menolah kearah Robi.
Robi mengangkap ada yang tidak beres dengan Nanda, ia pun tau ini pasti masalah yang bersangkutan dengan Aryo.
"Ada apa Nan?" Tanya Robi.
Nanda tetap diam, ia bingung harus mulai bercerita dari mana.
"Apa yang harus aku lakukan Kak?" Tanya Nanda. Nanda memang sudah menganggap Robi sebagai Kakaknya. Semenjak Nanda aktif diperusahaan, Robi slalu menjadi teman terdekatnya setelah Ayla dan Regan.
"Apa ada masalah Nan?" Tanya Robi khawatir.
Nanda menghadapkan dirinya kearah Robi. "Bantu aku untuk membawa Papa pergi jauh dari sini. Aku hanya punya Papa, aku takut kehilangan Papa." Nanda menangis sambil menutup kedua tangannya.
Robi mengerti apa yang dimaksud oleh Nanda, ia tau jika Aryo sudah menceritakan semuanya pada Nanda.
Flashback Robi On ⬇️
Setelah Nanda memberitahu soal Ayla yang akan dipertemukan dengan keluarga kandungnya, Aryo menelpon seseorang yang ternyata adalah Robi. Robi ternyata kaki tangan Aryo setelah Ramli pensiun, Robi menggantikan kesetiaan sang Ayah pada keluarga Aryo.
Waktunya sudah tiba." Gumam Aryo setelah Nanda menutup pintu dari luar, ia memegang dadanya yang terasa sedikit sakit.
Aryo meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
"Irwan Budianto telah menemukan Ayla." -Aryo-
"Saya akan melindungi Bapak" -Robi-
"Tidak apa, aku sudah siap menghadapi ini, jagalah Nanda jika terjadi sesuatu padaku." -Aryo-
Flashback Robi Off⬆️
Robi menarik Nanda kedalam pelukannya.
"Aku takut kehilangan Papa, Kak. Aku hanya punya Papa. Aku akan lakukan apapun, jangan sampai Papa menyerahkan diri kepolisi, aku tidak mau Papa menghabiskan masa tuanya didalam penjara." Nanda terus menangis dalam pelukan Robi.
Flashback Nanda On ⬇️
Aryo diam sejenak,
"Papa adalah orang yang jahat."
"Papa baik, Papa adalah Papa terbaik untukku." Ucap Nanda.
"Papa yang membuat Ayla terpisah dari keluarganya."
Nanda mengernyitkan dahinya. "Apa maksud Papa?"
Aryo menghela nafas. "Papa Yang menculik Ayla dari keluarganya.
Jedaarrr
Suara petir semakin menggema, hujanpun turun dengan deras.
"Pa..."
"Itulah alasan Papa tidak bisa bertemu dengan Irwan Budianto, dia adalah orang yang pernah menghancurkan Papa dulu."
Nanda semakin tidak mengerti. "Papa mengenal Papi Irwan?"
Aryo berdiri dan menghadap ke jendela, melihat kilatan petir yang membelah langit.
"Dulu, usaha Papa jatuh saat Mamamu meninggal. Papa meminjam pinjaman keteman-teman Papa untuk membangun usaha Papa kembali. Saat itu Papa beruntung, ada beberapa orang yang pernah Papa tolong dulu mengembalikan uang yang pernah mereka pinjam, dari situ Papa mulai bangkit kembali, Namun, usaha Papa jatuh kembali saat Irwan memutuskan kerjasama secara sepihak untuk pembangunan rumah sakit dikota S. Papa rugi besar, bahkan Papa hampir bangkrut. Papa merasa sakit hati dan tidak terima, Papa menyuruh orang untuk menculik anak mereka, dan itu adalah Ayla."
Jedaarrr..
Nanda terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Papa bohong. Ini gak bener kan Pa??" Tanya Nanda yang mulai panik.
Aryo tetap tenang dan terus menceritakannya. "Papa menyuruh Ramli untuk menaruh Ayla kepanti asuhan didaerah pelosok, Ramli terus mengawasinya hingga penjaga panti membuka pintu dan membawa Ayla masuk."
Aryo diam sejenak.
"Maafkan Papa, Nan. Tapi ini kenyataannya."
"Saat melihat Ayla sakit, Papa ingin mengembalikan Ayla pada keluarganya, namun Papa melihat kamu begitu cocok dengan Ayla, sehingga Papa mengurungkan niat Papa, Papa menjadikan Ayla sabagai anak asuh, menyekolahkannya slalu bersamamu untuk menjadi temanmu."
Nanda masih terdiam mendengar setiap pengakuan Aryo kalimat demi kalimat.
"Papa membangun panti asuhan ditanah yang sudah dihibahkan untuk panti, membuat panti itu senyaman mungkin untuk Ayla tempati, Papa slalu menghalangi orang-orang yang ingin mengadopsi Ayla, Papa menjaganya karna perlahan Papa juga menyayanginya sama seperti Papa menyayangimu."
"Papaa, itu tidak benar. Aku mohon Pa, katakan semua itu tidak benar." Tubuh Nanda bergetar, kini ia duduk dilantai dengan deraian air mata.
"Maafkan Papa Nanda..." Aryo pun berderai air mata.
"Papa akan mengakui semuanya pada Irwan dan ayla, Papa siap jika Papa harus dipenjara, lagi pula Papa sudah tua, Papa hanya tinggal menunggu Mamamu menjemput Papa."
Nanda menggelengkan kepalanya, ia merangkak kearah Aryo dan memeluk satu Kaki Aryo. "Nanda gak akan membiarkan Papa dipenjara, Nanda gak mau Papa ninggalin Nanda, hanya Papa yang Nanda punya, Pa.."
Aryo ikut terduduk bersama Nanda, "Jangan halangi Papa, Papa ingin menebus kesalahan Papa pada Ayla."
"Engga Pa, Nanda gak mau. Apa Papa tidak berfikir bagaimana Nanda nanti jika Papa masuk penjara? Ayla pasti membenci Nanda, Mas Pras pasti akan menjauhkan ayla juga Disya dari Nanda. Nanda akan hidup sendirian Pa, Nanda tidak punya lagi siapa-siapa selain Papa. Jangan lakukan itu Pa, biar Nanda cari jalan keluarnya." Dengan tangisan Nanda mengungkapkan apa yang dirinya takuti.
Lama mereka menangis, hingga lama kelamaan suasana kamar itu menjadi hening kembali.
"Papa sempat terkejut saat kamu hilang dan dirawat dengan baik oleh mereka. Papa merasa hutang budi karna mereka menjagamu dengan baik, tetapi Papa juga takut jika kamu menjalin hubungan dengan Pras, Papa takut kamu mendapatkan karma dari dosa yang Papa perbuat terhadap Ayla."
"Nanda akan menghentikan semua ini Pa, Nanda akan meninggalkan Mas Pras." Lirih Nanda bersedih.
"Pras adalah kebahagiaanmu Nan."
Nanda menggelengkan kepalanya, "Mas Pras akan membenci Nanda jika dia tau soal ini."
"Maafkan Papa, Papa menghancurkan hatimu."
Nanda terdiam.
"Aku akan kuat slama Papa berada disampingku. Sama seperti pernikahanku yang sudah selesai dengan Mas Raja, aku tetap kuat selama Papa bersamaku. Begitu pula dengan hubunganku yang akan berakhir dengan Mas Pras, aku akan kuat menghadapinya asal Papa slalu bersamaku."
"Papa orang yang jahat, Nan." Ucap Aryo.
"Papa tetap terbaik untukku. Papa jangan khawatir. Papa cukup diam dan ikuti apa yang akan aku lakukan."
"Nanda..."
"Jika Papa mengakui semuanya pada Ayla dan keluarganya, lalu Papa masuk penjara, maka aku akan bunuh diri Pa. Aku tidak mau hidup lagi jika tidak ada Papa bersamaku. Karna Papa adalah kekuatanku."
Aryo memeluk Nanda. "Jangan lakukan hal bodoh Nanda. Itu sangat menyakitkan untuk Papa."
"Kalau begitu Papa cukup diam, dan ikuti apa kata Nanda. Nanda akan minta Kak Robi untuk membantu Nanda."
Flashback Nanda Off ⬆️
Setelah Nanda menceritakan semuanya pada Robi, ia mulai menjadi tenang.
"Apa yang harus aku lakukan, Kak?" Tanya Nanda dengan tatapan kosong.
"Pergilah Nan, Bawa Pak Aryo pergi jauh. Kakak akan melindungimu."
"Bagaimana caranya Kak? Mas Pras pasti dengan mudah mencariku."
Robi menggelengkan kepalanya. "Mereka tidak akan menemukanmu, Kakak Akan melindungimu. Kakak akan merubah identitasmu dan Pak Aryo. Tapi apa kamu siap menjauh dari Ayla, Regan dan juga dokter Pras?"
"Mereka yang akan menjauhiku bahkan membenciku jika tau Papa yang menculik Ayla slama ini." Ucap Nanda sendu.
"Kamu akan kemana?" Tanya Robi, "Kakak akan siapkan semuanya."
"Amsterdam." Jawab Nanda.
"Belanda?" Tanya Robi meyakinkan.
Nanda mengangguk, "Baiklah, Kakak akan persiapkan semuanya." Jawabnya berat.
"Jangan beritahu Ayla, Kak."
Robi mengangguk, "Kakak akan melindungi Pak Aryo. Kakak Janji."
"Seperti apapun Ayla meminta, jangan memberitahunya. Aku tidak akan pernah siap untuk bertemu dengannya lagi."
Robi menyanggupinya.
"Seminggu ini Ayla pasti akan bersama keluarganya, lakukan secepatnya Kak." Pinta Nanda.
"Lalu perusahaan?" Tanya Robi.
"Kakak bisa mengirimkan email padaku, dan urusan disini biar Kakak yang mengerjakannya, aku percaya Kakak."
Robi mengangguk, ia segera keluar dari ruangan Nanda setelah selesai berbicara dengan Nanda. Robi menjemput Ramli sang Ayah untuk mendatangi Aryo dan meminta persetujuannya, Aryopun menyetujui dengan apa yang akan Nanda perbuat, ia tidak ingin Nanda bertindak hal bodoh.
Nanda masih termenung diruang kerjanya, ia menatap foto dirinya bersama Ayla dan Regan saat sekolah dulu. "Ay, tolong maafkan kesalahan Papa. Aku hanya Punya Papa, Lepaskan Papa ya Ay." Ucapnya sambil mengusap foto berbingkai itu.
Nanda mengambil ponselnya, sejak semalam ia tidak membuka ponselnya, begitu banyak panggilan tidak terjawab dari Pras juga Ayla dan Regan.
Nanda mengirim pesan pada ketiga orang itu, mengatakan bahwa ia sedang bekerja dan semalam lupa melihat ponselnya. Nanda tetap bersikap biasa-biasa saja agar semuanya tidak ada yang curiga.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....