BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Mengapa Lari Dariku?


"Menginaplah disini." Kata Nanda sambil duduk bersama Regan dan Ayla diruang tamu.


"Baiklah, aku akan kembali kehotel untuk mengambil koper." Sahut Regan.


"kenapa tidak sekalian tadi?" Nanda menatap sinis Regan.


"Kami takut kamu tidak menerima kami, Nan." Jawab Ayla.


"Tidak mungkin aku membiarkan kalian diluaran sana dengan membawa Ryu. Kalian terlalu nekat membawa Ryu perjalanan jauh. Bagaimana kalau Ryu sakit." Nanda mulai mengomel.


"Papanya Ryu dokter, Nan. Walaupun dokter Obgyn, tapi Regan juga mengerti tentang kesehatan anak."


Regan meninggalkan Ayla dan Ryu dirumah Nanda, ia kembali ke hotel untuk mengambil koper, supir pribadi Nanda pun mengantarkannya.


"Siapa yang memberitahu kalian, tempat tinggalku?" Tanya Nanda.


"Bisa tebak?" Bukannya menjawab, Ayla malah balik bertanya.


"Kurasa, pasti Kak Robi." Tebak Nanda.


Ayla tersenyum, "Salah!!"


Nanda mengernyitkan dahinya, "Lalu siapa?"


"Om Ramli. Dia ingin aku terus menemanimu."


"Benarkah?" Tanya Nanda tak yakin.


"Kamu kira aku bercanda? Aku juga tidak menyangka jika Om Ramli memberitahuku, tadinya kukira Kak Robi yang akan memberitahuku, tapi dia hanya bilang kamu akan datang saat pernikahannya."


"Kamu terlalu nekat, Ay. Kenapa kamu ingin bunuh diri didepan Kak Robi, apa kamu tidak memikirkan Ryu juga Regan?"


"Ryu masih punya Regan dan Regan akan bertahan karna Ryu. Tapi kamu hanya seorang diri Nan, aku tidak bisa membiarkan itu."


"Kenapa Ay?"


"Karna dimana ada Nanda, disitu ada Ayla, dan begitupun sebaliknya. Itu yang Papa slalu bilang padaku."


"Kamu tidak membenci Papa?"


Ayla menggelengkan kepalanya, "Bagaimana aku bisa membenci Papa, sementara Papa yang slalu ada saat aku sakit, merawatku, mengurusku, dan aku merasakan ketulusan Papa, bukan dari rasa bersalahnya, tapi memang hati Papa yang begitu baik."


Ayla diam sejenak.


"Kenapa Papa berfikir aku akan menyakiitmu dan kamu akhirnya meninggalkan aku. Apa kamu tidak tau Nan, aku begitu mengkhawatirkanmu saat kamu memutuskan pergi sendirian. Aku dan Regan tak habis pikir kenapa kamu tidak menganggap kami keluargamu."


"Aku hanya tak siap, Ay."


"Ya, kamu tidak siap karna kamu hanya mempesiapkan perpisahan saja tanpa mau menghadapinya. Andai aku tau saat kamu memberikan kalung itu sebagai tanda perpisahan, sudah pasti aku akan mengurungmu."


Lama mereka terdiam, hingga akhirnya Ayla bersuara kembali.


"Aku akan tinggal disini hingga kamu siap pulang." Kata Ayla sambil meyesap teh lemon nya.


Nanda sedikit terkejut namun tetap tenang,, "Aku tidak akan kembali lagi."


"Kalau begitu aku juga slamanya akan tinggal disini."


Nanda menghela nafas, "Lalu pekerjaan Regan bagaimana? Tidak mudah bekerja menjadi tenaga kesehatan dinegara ini."


"Aku akan LDR sama Regan, mungkin nanti Regan akan kesini satu tahun sekali. Gampang kan."


"Ay..!!"


"Nanda..!! Apapun yang terjadi aku akan bersamamu. Regan sudah mengijinkannya."


"Ay.. Kamu sudah menikah, hidupmu harus bersama suamimu."


Ayla memutar malas bola mata, "Jangan berdebat denganku, kalo kamu tidak setuju aku berjauhan dengan Regan, maka kamu harus ikut aku pulang. Kita tinggal bersama dirumah Papa."


"Aku belum siap pulang, Ay."


"Kalau begitu biarkan aku disini bersama mu." Ayla berdiri dari duduknya, "Dimana kamarku? aku ingin menidurkan Ryu."


Nanda mendeesah pasrah. Jika Ayla sudah bicara jangan membantahnya, itu tandanya Ayla tidak mau berdebat lagi dan keputusannya sudah final.


Percayalah, kata ajaib Ayla itu mampu membuat Nanda tidak berani lagi membantahnya.


Ayla yang biasanya slalu sabar, akan menjadi galak jika sudah mengeluarkan kata ajaibnya.


***


Tiga hari sudah Regan dan Ayla berada di Amsterdam, namun Nanda belum mengungkapkan keputusannya, ia masih menimbang apa dirinya akan pulang atau tetap berada dinegara yang ia sukai ini.


Jika Nanda memilih tetap tinggal, maka Ayla pun akan tinggal dan itu artinya Ayla dan Regan akan LDR, sedangkan Nanda tidak tega jika harus melihat Regah berjauhan dari Ayla dan Ryu.


Namun jika Nanda memilih pulang, ia takut bertemu dengan Pras, meskipun dalam hatinya ia begitu merindukan ayah dari janin yang ia kandung.


Nanda hanya tidak siap jika harus menikah dan ikut bersama Pras dan bertemu dengan orang tuanya. Nanda hanya tidak mau berhubungan dengan keluarga Irwan Budianto. Tanpa Nanda sadari, selamanya ia akan terus berhubungan dengan keluarga itu, karna mau tak mau, Ayla dan janin yang ia kandung juga mengalir darah Irwan Budianto.


"Apa yang kamu takutkan Nan? Sungguh kamu tidak seperti Nanda yang aku kenal dulu. Bahkan guru saja dulu kamu lawan, kenapa sekarang kamu seolah sembunyi?" Suara Regan membuyarkan lamunan Nanda yang sedang duduk diteras.


Nanda menoleh sekilas pada Regan kemudian menatap kedepan lagi, "Dimana Ayla?"


"Ada, sedang menidurkan Ryu dikamar." Jawab Regan kemudian duduk bersama Nanda.


Nanda tersenyum dengan tatapan kosong kedepan, "Dulu aku begitu berani karna ada Papa dihidupku, Papa yang slalu terdepan jika aku disakiti, karna itu aku begitu berani dan percaya diri."


"Apa kamu tidak menganggap aku dan Ayla? Apa keberadaan kami tidak berpengaruh dihidupmu?"


Nanda menghela nafas, "Andai Papa tidak membuat masalah dengan keluarga keluarga Ayla, mungkin aku tidak akan menghindar seperti ini, Re. Aku hanya takut melihat Ayla membenciku, karna itu aku memutuskan untuk pergi."


"Tapi nyatanya Ayla tidak membencimu dan juga Papa."


Nanda mengangguk, "Ayla begitu baik seperti Papa, harusnya Ayla itu memang anak Papa."


"Sekarang, apa keputusanmu? Kamu akan tetap tinggal disini? Anakmu juga membutuhkan figur seorang Ayah."


"Aku yakin bisa membesarkannya seorang diri, seperti Papa yang bisa membesarkan aku tanpa peran seorang istri. Akan aku buktikan, menjadi orang tua tunggal tidaklah buruk."


"Masalahmu dan masalah Papa itu berbeda, Papa membesarkanmu seorang diri karna Mamamu meninggal, orang akan bersimpati padamu yang tidak memiliki seorang ibu." Regan menghela nafasnya sesaat kemudian lanjut berbicara kembali. "Sementara kasusmu, anakmu lahir diluar pernikahan, apa yang akan orang nilai, Nan? Tidak ada rasa simpati, yang ada hanya cibiran bahkan pembullyan yang akan anakmu dapatkan."


Nanda berfikir sejenak, apa yang dikatakan Regan 100% benar, Nanda tidak sampai berfikir kearah sana, bagaimana jika nanti sang anak di bully hanya karna tidak memiliki ayah yang jelas, bahkan jika sampai ada yang menghinanya anak diluar nikah.


Rasanya tidak sanggup membayangkan jika hal itu sampai terjadi.


"Aku harus bagaimana, Re?" Tanya Nanda bingung.


"Kamu tau jawabannya, Nanda. Jangan membohongi dirimu sendiri."


Regan mengusap wajahnya, "Pikiranmu tidak akan terbuka jika aku tidak galak padamu."


"Aku akan tinggal disini selamanya, biar Ayla juga ikut tinggal disini dan ninggalin kamu." Ucap Nanda ketus.


Regan membolakan kedua matanya, "Jangan macam-macam sama aku Nan."


Nanda berdiri dari duduknya, "Biarin.. Weekkk." Nanda menjulurkan lidahnya, seolah sedang meledek Regan.


Tiba-tiba saja Nanda mematung saat melihat seseorang yang belum ia siap temui.


Regan yang melihat Nanda yang seketika diam mematung, lalu melihat kearah yang dilihat oleh Nanda.


"Ya Tuhan, Mas Pras." Regan mencoba menenangkan Nanda, ia merangkulnya.


"Tinggalkan kami berdua, Re." Ucap Pras sambil menatap Nanda.


"Maaf, Mas. Tapi saya tidak bisa meninggalkan Nanda." Regan menarik Nanda kebelakang tubuhnya.


Ayla keluar dan terkejut melihat keberadaan Pras. "Mas Pras."


"Kalian tega tidak memberitahuku dimana keberadaan Nanda."


"Mas bukan begitu, aku hanya tidak ingin Nanda tertekan."


Pras menatap tajam Ayla, "Aku ingin membahagiakannya, bukan menekannya."


"Mas, kami mengerti, tapi tunggulah dulu hingga Nanda siap." Sahut Regan.


"Nanda tidak akan pernah siap jika tidak dipaksa."


"Cukup." Ucap Nanda tiba-tiba.


"Kamu ingin bicara, baiklah kita bicara."


"Nanda, kamu yakin?" Ayla bertanya dengan sangat lembut.


Nanda menatap mata teduh Ayla, "Bukankah ini harus aku hadapi?"


Ayla mengangguk, "Ya ini harus dihadapi. Panggil aku jika kamu membutuhkanku, bicaralah dari hati kehati, aku tau kamu tidak akan mengambil keputusan jika itu tidak baik."


Nanda tersenyum dan mengangguk, kemudian Nanda menghampiri Pras, "Ayo ikut aku."


"Mas." Panggil Ayla saat Pras melewati Ayla, dan Pras berhenti sejenak didepan Ayla.


"Jangan sakiti Nanda, aku sangat menyayanginya, jangan buat aku membenci Mas karna menyakiti Nanda." Ucapan Ayla penuh dengan permohonan.


"Apa kamu berfikir Mas akan menyakiti wanita yang Mas kejar sampai sejauh ini? Bahkan dirahimnya kini ada anakku."


Ayla menggelengkan kepalanya, "Aku percaya Mas."


Nanda mengajak Pras keruang keluarga yang sedikit tertutup.


Tanpa diduga, Pras langsung mendekati Nanda dan menciumnya dengan brutal, Nanda yang tak siap tetapi sangat merindukan Pras pun tanpa disadari membalas ciuman Pras, mereka menumpahkan rasa rindu yang slama ini tertahan.


"Eumpphhhh." Nanda mendorong dada Pras, ketika merasakan kehabisan oksigen.


Pras melepasnya, mata mereka saling menatap, kemudian ibu jari Pras mengusap sisa saliva dibibir Nanda.


"Mengapa lari dariku?" Tanyanya lembut.


"Bukan aku yang lari darimu, tapi kamu yang membiarkan aku pergi." jawab Nanda.


Pras terdiam, jawaban Nanda membuat hatinya berdenyut perih, Pras memang salah karna membiarkan Nanda pergi begitu saja saat malam itu, bahkan lebih parahnya lagi, Pras tidak membela Nanda sama sekali didepan Irwan yang sedang memojokkan Nanda.


"Maaf." Satu kata yang keluar dari bibir Pras.


"Maafkan aku." Pras begitu merasakan Nanda yang kecewa terhadapnya.


"Kamu boleh marah, tapi jangan lari dariku." Ucapnya lagi.


Nanda menatap lekat mata Pras, melihat kesungguhan dimata orang yang menanam benih dirahimnya.


"Pulanglah, Mas. Kita memang tidak berjodoh." Lirih Nanda.


Pras terkejut mendengar ucapan Nanda, "Kamu tidak memaafkanku?"


"Aku memaafkanmu, hanya saja kita memang tidak bisa bersama."


"Kenapa? Di rahimmu ada anakku, aku akan tanggung jawab."


Nanda menggelengkan kepalanya, "Tidak Mas, aku tidak akan menuntutmu apa-apa. Biarlah anak ini aku yang mengurusnya. Kamu masih punya Disya, masih punya keluarga, sedangkan aku kini hanya mempunyai bayi ini. Biarkan bayi ini bersamaku."


Pras menghela nafas, "Kamu belum memaafkan aku!!"


"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Sungguh." Sergah Nanda.


"Lalu mengapa kamu menyuruhku pergi?"


"Papaku terlalu menyakiti perasaan kedua orang tuamu, dan orang tuamu tidak mungkin menerimaku."


"Mami menerimamu." Jawab Pras dengan cepat.


Nanda menggelengkan kepalanya, "Papimu membenci Papaku, dan Papimu juga membenci aku, tidak mungkin aku bisa tinggal bersama dengan orang yang membenciku."


"Aku akan keluar dari rumah dan membawa Disya untuk tinggal bersamamu."


Nanda menggelengkan kepalanya. "Jangan. Aku tidak ingin membuatmu jadi anak pembangkang dan menelantarkan orang tuamu."


"Nanda please, ayo kita menikah. Aku tidak akan membawamu untuk tinggal bersama orang tuaku jika kamu tidak nyaman. Aku bisa mengunjungi mereka setiap hari, namun kita bisa tetap tinggal bersama." Pras terus meyakinkan Nanda.


"Mas, aku pernah mengalami gagalnya berumah tangga, masa lalu mantan suamiku yang belum selesai, begitu menyakiti perasaanku. Aku tidak ingin mengulang membuatmu memilih antara aku dan orang tuamu, walau bagaimanapun darah lebih kental dari pada air, aku yakin suatu saat aku tetap harus mengalah. Sebelum hal itu terjadi, aku lebih memilih mundur."


Kesabaran Pras sudah habis, Pras memegang kedua bahu Nanda dan menatap matanya. "Kita akan menikah, aku akan bertanggung jawab dengan anak kita ini, aku tidak akan memaksamu untuk tinggal dirumahku, dimanapun kamu tinggal, aku akan ikuti. Tidak ada penolakan lagi."


Nanda menghela nafas, "Kamu sama Ayla sama, senangnya memaksaku."


"Karna kamu tidak akan menurut jika tidak dipaksa."


Nanda hanya diam, sungguh kini ia tidak bisa lari lagi. Harapan Nanda hanya satu, ia tidak ingin jatuh kelubang yang sama, gagal dalam pernikahan.


.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....