
Melihat Mayat.
Shinji sangat terkejut saat mendengar permintaan Miyuki.
"Miyuki, apakah kamu bercanda, membunuh seseorang bukanlah kejahatan, walaupun Haruto dia telah melakukan sesuatu yang buruk tapi aku tidak bisa membunuhnya begitu saja, kami sudah berteman lama jadi aku tidak bisa melakukan itu." Shinji menjelaskan.
"Jadi begitu, aku sudah menduganya, ya kalau kamu tidak bisa melakukanya, akhiri saja hubungan kita, aku tidak mau menjalin hubungan dengan pria yang tidak bisa diandalkan seperti kamu, karena jika kamu tidak melakukan itu, kamu tidak akan bisa melindungiku."
"Tidak Miyuki tolong jangan putus denganku, aku sangat mencintaimu."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, maaf Shinji-kun."
Aku berpura-pura meninggalkannya, tapi Shinji segera meraih tanganku untuk menghentikannya.
"T-Tunggu sebentar Miyuki, oke, aku akan melakukannya tapi tolong jangan putus denganku."
Aku menyeringai lalu berbalik untuk melihat ke arah Shinji.
"Apakah kamu benar-benar ingin melakukan itu?" Aku bertanya.
"Itu benar, aku berjanji padamu Miyuki."
"...umm, baiklah, terima kasih banyak Shinji-kun."
Setelah mengatakan itu aku memeluknya sambil tersenyum jahat. setelah itu aku mengambil pistol di dalam tas.
"Shinji-kun ambil ini." Aku memberikan pistolku kepada Shinji, "gunakan untuk membunuhnya, pistol itu kedap suara sehingga kamu dapat membunuhnya tanpa diketahui siapa pun, pikirkan cara membunuhnya, jangan biarkan siapa pun melihatmu, kamu pasti bisa melakukan itu, jika kamu sudah memikirkan cara melakukannya, katakan padaku."
"Baiklah, Miyuki." Jawab Shinji, tangnya tampak gemetar.
"Jangan takut, jika kamu berhasil kamu bisa melakukan apa saja padaku, Shinji-kun."
"Kalau begitu aku ingin berhubungan **** denganmu Miyuki."
"...umm, boleh kok."
"Kalau begitu sekarang, aku ingin menciummu, bolehkah?"
"Tentu saja." Aku menutup mataku.
Shinji segera mencium bibirku.
Hari berikutnya.
Saat jam istirahat Shinji mengajakku untuk ngobrol di atap sekolah, dia mengatakan bahwa dia telah menemukan cara untuk membunuh Haruto, dia mengatakan bahwa ada tempat yang tepat untuk membunuhnya yaitu di gedung kosong yang tidak jauh dari sekolah, ia juga mengatakan kalau sebenarnya Kazuya pernah membunuh orang disana sebelumnya. dan menyembunyikan mayatnya di suatu tempat yang mustahil ditemukan oleh siapa pun.
Aku membelalakkan mataku saat mendengarnya.
“Cepat tunjukkan tempatnya padaku?” Aku bertanya dengan sedikit emosi dalam suaraku.
“Miyuki, ada apa? Kenapa kamu terlihat aneh?”
Mengerikan sekali, saya terbawa suasana mendengarnya, mereka benar-benar tidak bisa dimaafkan. Miyuki berpikir dengan kesal.
“Maaf, saya hanya sedikit terkejut, saya ingin melihatnya, bisakah Anda menunjukkan tempatnya?”
"Oke, sepulang sekolah, ikut aku, Miyuki."
"...umm, oke."
Aku harus mencari alasan untuk pergi pada ayahku.
Aku pun mengirim pesan kepada ayahku bahwa aku akan pulang terlambat dengan alasan ada kegiatan ekstrakurikuler. ayah juga setuju.
Di sisi lain, ayahnya langsung memberi perintah kepada Kaname untuk memastikan bahwa Miyuki benar-benar mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Sesaat setelah sekolah usai, aku langsung berangkat dengan Shinji menuju tempat yang di katakan Shinji. Saat aku hendak meninggalkan sekolah, tiba-tiba aku bertemu dengan Kaname di depan gerbang Sekolah.
"Kaname?"
"Nona, kamu ingin pergi ke mana? Bukankah hari ini Anda akan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler?" Kaname bertanya.
Ini gawat, kenapa ada Kaname? Tidak salah lagi, dia pasti sudah diminta oleh Ayah untuk menjagaku. pikir Miyuki.
"Kaname, bisakah kamu ikut denganku sebentar."
Aku segera mengajak Kaname berbicara dan meminta Shinji menunggu.
"Kaname, ayah menyuruhmu untuk menjagaku, kan?"
"Iya betul, Nona pasti bohong kalau hari ini latihan ekstrakurikuler kan?"
Kaname tampak berpikir.
"Baiklah, hanya 30 menit saja, jika lebih dari itu aku akan lapor pada tuan." Kaname berkata dengan tegas.
"Baiklah, kalau begitu aku akan segera kembali, tunggu di sini."
Setelah itu aku langsung berangkat menemui Shinji.
"Maaf Shinji-kun, ayo pergi."
Sambil berjalan kami mengobrol satu sama lain.
"Miyuki perempuan itu tadi siapa?"
“Dia salah satu anak buah ayahku.”
"Serius? Apa tidak apa-apa kau ikut denganku Miyuki?"
“Jangan khawatir, aku sudah meminta izin kok.”
Di sisi lain, ketika Ryota hendak meninggalkan sekolah, dia juga bertemu dengan Kaname.
“Yo…apa kabarmu anak muda?”
"Kaname-san, apa yang kamu lakukan di sini."
"Aku sedang menunggu Nona, dia pergi dengan seseorang." Kaname menjelaskan sambil merokok.
"Jadi begitu...dia pasti Shinji." Ryota berkata dengan wajah sedih.
"Dasar!" Melihat Ryota yang sedih, Kaname menghela nafas, "Ryota-kun, temani aku ke kafe sebentar."
Kaname pergi bersama Ryota ke sebuah kafe. Setelah sampai mereka terlihat duduk dan mengobrol satu sama lain.
"Jadi kenapa kamu sedih sekali, apa karena Nona?" Kaname bertanya.
"Itu benar, hari ini Miyuki terus mengabaikanku, dia selalu menghindariku."
"Jadi hanya itu saja? Apa kamu tidak kesal Nona pergi bersama pria lain?"
“Tentu saja saya sangat kesal, tapi saya tidak punya hak untuk menghentikannya.”
"Aku juga tidak mengerti kenapa Miyuki bergaul dengan pria itu, padahal selama ini aku hanya melihatnya dekat denganmu, bukankah itu aneh?" kata Kaname.
"Mungkinkah Miyuki diancam?"
"Tidak! Aku tidak melihat adanya niat buruk dari raut wajah pria itu, aku bisa membaca wajah seseorang, dia justru terlihat seperti sedang tertekan, aku sangat penasaran dengan apa yang Nona lakukan pada pria itu." Kaname menjelaskan.
"Sungguh, aku juga penasaran dengan hal itu."
Di sisi lain, kini Miyuki telah tiba di gedung kosong.
Ini adalah tempat di mana saya pernah dibunuh, saya pernah ke sini sebelumnya tetapi saya tidak menemukan tubuh saya.
Aku terus berjalan mengikuti Shinji dan sampai di depan pintu sebuah kamar.
“Miyuki, di ruangan ini ada gudang bawah tanah, saat itu aku terlibat dalam pembunuhan yang dilakukan oleh Kazuya, kami juga tidak sengaja menemukan gudang bawah tanah ini, ayo masuk.”
"...umm baiklah."
Jadi begitulah, saya juga tidak menyangka ada gudang bawah tanah di dalamnya, tidak heran saya tidak menemukannya saat itu.
Setelah masuk, Shinji terlihat memecahkan keramik dengan linggis yang dibawanya di tasnya untuk membuka ruang bawah tanah. Ternyata selama ini mereka memasang keramik pada pintu ruang bawah tanah. Pantas saja tidak ada yang menemukan mayatku.
Setelah berhasil menghancurkan keramik tersebut, kami segera masuk ke dalam. Setelah masuk, Shinji menunjuk ke sebuah lemari besar ke padaku.
"Di lemari ini ada mayat, Miyuki. Aku juga akan membunuh Haruto dan menyimpannya di lemari ini." Shinji menjelaskan.
"Bolehkah aku melihatnya."
“Mengapa kamu ingin melihatnya?”
"Saya hanya penasaran."
"Kalau begitu, oke."
Saat Shinji membuka lemari, aku langsung melebarkan mataku. Saya melihat mayat berseragam sekolah yang telah menjadi tulang belulang.
Bersambung....