
Kabur Dari Rumah
Sekarang aku sudah mendapatkan senjata yang aku inginkan. tinggal melangkah ke rencana selanjutnya hihi. aku tersenyum jahat di dalam hatiku.
Saat sampai Rumah aku pun langsung di ceramahi oleh ibu karena pergi tanpa ijin.
"Miyuki darimana saja kamu?"
Gawat nih aku lupa, ini pasti akan sangat merepotkan.
Aku pun terdiam memikirkan alasan yang pas untuk ngeles.
Ibu kemudian melanjutkan.
"Miyuki, bukanya sudah Ibu katakan jangan pergi tanpa pengawal, bagaimana kalau ada yang menculikmu?"
"Aku tau kok, aku hanya pergi sebentar untuk belajar kelompok."
Aku terpaksa berbohong agar Ibu tidak curiga.
"Belajar kelompok katamu? lain kali lebih baik kau tidak usah ikut belajar kelompok lagi, Ibu bisa memanggil Guru les untukmu?"
Cih, kenapa kenapa dia selalu saja mengaturku untuk mematuhi segala keinginanya.
"Selalu, selalu saja Mamah melarangku, Aku bukan Bonekamu tau!"
Aku membentak Ibuku sembari berlari menuju kamar.
"Miyuki tunggu!" teriak Ibu.
Aku langsung mengunci pintu kamarku dan tiduran di Kasur.
Sial bikin kesal saja, aku bisa melihat ingatan masala lalu Miyuki...Ibunya memang selalu bersikap over protektif seperti itu...selama ini dia selalu menuruti kemauan ibunya akhirnya ia pun tidak bisa mendapatkan teman dan merasa sangat kesepian, di tambah lagi dengan kelakuan bejad kakaknya, pantas saja Miyuki memilih bunuh diri.
Di sisi lain setelah Ayah Miyuki pulang, Ibunya pun menceritakan tentang sikap Miyuki yang memberontak hari ini.
Ayahnya pun langsung pergi menemui Miyuki.
"Miyuki! Buka pintu!"
Aku mendengar Ayah mengetuk pintu kamar dan memanggilku.
Ibuku pasti sudah mengadu nih, aku menghela nafas dalam sembari membuka pintu kamarku.
"Ya pah ada apa?"
"Makan malam sudah siap, apa kamu tidak ingin makan?" tegas Ayah.
Ehh...aku kira dia mau memarahiku.
"...umm, baiklah."
Aku pun langsung keluar menuju tempat makan tanpa berganti pakaian dan masih memakai seragam Sekolah karena senjak tadi aku cuma tiduran saja.
Sesampainya di Ruang makan aku langsung duduk tanpa melihat Ibu, karena aku masih kesal.
Aku pun segera menghabiskan makananku dengan cepat karena ingin cepat pergi ke kamar lagi.
"Terimakasih untuk makananya, aku akan kembali ke kamar."
"Tunggu Miyuki!"
"Saat aku ingin pergi Ayah memanggilku."
"Ada apa Pah?"
"Duduk dulu Ayah ingin bicara padamu."
Filing-filing tidak enak nih, aku pun duduk kembali.
Ayah kemudian melanjutkan.
"Miyuki kenapa kau tadi membentak Ibumu?"
"Maaf, aku cuma tidak suka cara Ibu mengaturku, aku sudah bukan anak-anak lagi setidaknya kalian bisa memberikan kelonggaran untuku."
"Asal kamu tau, kami melakukan ini Demi keselamatanmu, Ibumu sudah pernah bilang, kita keluarga terpandang, di luaran pasti banyak orang jahat yang ingin menghancurkan kita, kau bisa saja di culik dan mereka akan meminta tebusan, itu sering terjadi, jadi tolong Miyuki jangan berbuat begitu lagi."
Aku benar-benar sudah muak dengan ini semua.
Aku langsung berdiri dan berteriak.
"Sudah cukup! Aku sudah muak, selalu itu-itu saja alasan kalian, apa kalian tidak pernah sedikit memikirkan perasaanku?!"
"Plakkk!" tiba-tiba Ayah menamparku.
"Tutup mulutmu Miyuki!" geram Ayah.
"Hentikan sayang, kenapa kau menamparnya?" Ibu pun panik.
Aku melebarkan mataku.
Kenapa aku di tampar? Padahal dia sebenarnya bukan Ayahku, tapi kenapa hatiku jadi sangat sakit? Aku pun bertanya-tanya.
Tanpa mengatakan sepatah kata lagi, aku langsung lari menuju kamar.
Sial aku benar-benar sudah muak aku ingin pergi dari sini.
Aku langsung mengambil tas dan pergi keluar.
Saat aku sedang berjalan keluar rumah, ada salah satu Maid bertanya padaku.
Karena sedang kesal aku tidak menjawabnya, aku kabur lewat pintu belakang agar para Bodyguard tidak melihatku pergi.
Aku pun akhirnya bisa keluar dari Rumah.
Di sisi lain Maid yang melihat Miyuki pergi melapor pada Tuanya.
Orang tua Miyuki pun panik dan meminta anak buahnya untuk mencari Miyuki dan membawanya pulang.
Sekarang aku harus berhati-hati, Ayahku pasti sudah menyuruh anak buahnya untuk mencariku, aku harus segera pergi dari sini, setelah itu beristirahat di Hotel.
Aku pun segera pergi dengan menggunakan Taxi.
Saat aku ingin mengambil Dompetku teryata Dompetku tidak ada.
Hah...dimana Dompetku? Jangan-jangan jatuh di dalam kamar? Sial ATM, kartu Kredit yang di berikan Ayahku ada di dalam Dompet semuanya.
Bagaimana ini, aku tidak punya uang untuk membayar Taxi.
Tapi saat aku merogoh saku, ada sedikit uang di sakuku.
Aku segera meminta sopir untuk menghentikan sebelum Argometernya bertambah banyak.
Untung saja uangku cukup untuk membayar, tapi sekarang aku tidak membawa uang sepeser pun bagaimana ini?
Aku pun bingung harus pergi kemana, apa aku pergi saja ke Rumahku yang dulu? Tidak, tidak, mereka tidak mungkin mengenaliku, karena aku bukanlah Makoto lagi, sial bagaimana ini?
Sembari berpikir aku terus berjalan di trotoar jalan. Dan apesnya lagi tiba-tiba turun Hujan.
Aku pun segera berlari untuk berteduh di Halte bus terdekat.
Bajuku pun basah, aku juga kedinginan.
Di sini juga ada Lima orang Pria paruh baya sedang berteduh. Entah kenapa mereka terus saja memandangi diriku. Aku jadi merasa tidak nyaman.
Mereka pasti berpikir jorok karena seragamku yang tembus pandang karena basah.
"Nona apa kau sendirian saja."
Salah satu Pria tiba-tiba bertanya padaku, sembari memandangi tubuhku dengan tatapan mesum.
Aku pun segera memeluk tasku agar Braku tidak terlihat karena basah.
Aku cuma diam karena aku sudah tau, dia pasti cuma akan menggodaku.
Tiba-Tiba semua laki-laki itu mendekatiku dan salah satunya ada yang menyentuh bokongku.
Reflek aku segera mengambil Pistol yang aku beli tadi dan menodongkanya pada semua laki-laki itu.
"Jangan mendekat, kalau kalian berani menyentuhku, aku tidak segan-segan akan menembak kalian?"
Mereka semua pun terkejut sembari mengangkat tangan.
"B-Baiklah...!"
Karena takut ada orang lain yang melihatku membawa senjata Aku segera menyimpanya lagi di dalam tas dan langsung lari dengan cepat.
"Brukkk!!"
Tapi tiba-tiba Aku menabrak seseorang di jalan.
"Itaaaaatata!"
"Nona, kau tidak apa-apa?"
Saat aku melihat wajahnya aku pun terkejut.
"Ryota-kun?"
"Miyuki?"
Ryota pun terkrjut.
"Kau sedang apa disini, kenapa kau hujan-hujanan begini?" tanya Ryota.
"Ah itu...sebenarnya aku kabur dari Rumah."
"Kabur? kenapa kau kabur dari Rumah?"
"Ceritanya panjang, aku tidak bisa memberitahumu sekarang."
"Terus kau mau pergi kemana sekarang?"
"Aku juga belum tahu, tadinya aku ingin ke Hotel tapi Dompetku ketinggalan."
Ryota menghela nafas.
"Kau ini dasar! Miyuki jika kau mau, tinggalan di tempatku, aku menyewa apartemen di dekat sini, aku cuma tinggal sendiri, kau bisa menenangkan diri di tempatku sampai kamu tenang." jelas Ryota.
"Apa aku tidak merepotkanmu?"
"Tentu saja tidak, aku juga khawatir padamu, mana mungkin aku membiarkanmu pergi tanpa tujuan."
"T-Terimakasih banyak."
Padahal tadi sangat dingin, entah kenapa wajahku sekarang sangat panas.
Bersambung...