Another Person Life

Another Person Life
Menatap Penuh Kebencian


"Sebelum itu aku tidak pernah mempunyai kesempatan untuk membalas perbuatannya, tapi, sepertinya sekarang keberuntungan sedang berpihak padaku" gumam Darla tersenyum licik dan sudah menatap benci dari kejauhan


Quirin merasa ada yang menatapnya, berhenti sejenak dan mencoba menoleh kebelakang, ia mencari sumber tatapan itu, tetapi tidak menemukannya


"Aku yakin, ada orang yang menatapku dengan penuh kebencian, feelingku tidak pernah salah" batin Quirin sambil menunduk


"Ada apa?" tanya Zee singkat, karena Quirin mendadak berhenti dan celingak-celinguk saat melihat kebelakang, tetapi sekarang ia malah menunduk, membuat Zee sedikit heran


Quirin sedikit terkejut "Tidak....tidak, kita lanjutkan saja" ucap Quirin sambil melihat kearah Zee ia juga menarik lengan Zee untuk lanjutkan langkah mereka


"Apa kau sudah sangat nyaman?" tanya Zee dengan datar


"Haaa....?, apa kau bisa mengatakan dengan jelas, setiap kau berbicara, sepertinya aku harus memecahkan rumus dari perkataanmu yang selalu singkat, padat namun tidak jelas itu" ucap Quirin dengan datar, namun tetap menatap kedepan sambil malangkah pelan


"Kau bisa menoleh kekanan" ucap Zee datar


Karena perbedaan tinggi yang sedikit jauh, seharusnya Quirin bisa melihat saat tangannya bergelayut di lengan Zee, tetapi Quirin benar-benar tidak fokus saat sudah melangkah ke dalam rumah sakit


"Kenapa dengan kanan, dia tidak sa.....lah" ucap Quirin menghentikan langkahnya dan terlihat kaget saat sudah menoleh kekanan, ternyata tangannya menggandeng lengan Zee, ia baru menyadari sudah mulai menarik Zee pada saat memasuki rumah sakit


Zee juga ikut menghentikan langkahnya "Aku tidak menyalahkan kanan, aku hanya menyuruhmu menoleh, sekarang kau sudah melihatnya, tetapi masih tidak melepaskan juga?" ucap Zee dingin


Quirin merasa sedikit malu dan langsung melepaskan lengan Zee "Emm... aku minta maaf sudah menarikmu" ucap Quirin membuat raut wajah sedih untuk menutupi rasa malunya


"Tidak usah membuat wajah jelek, itu tidak mempan terhadapku" ucap Zee datar sambil melihat wajah Quirin yang menurutnya sedikit lucu, tapi ia berusaha tidak menunjukkan ekspresinya


"Aku mengucapkannya dengan tulus" ucap Quirin sedih namun berbeda dengan hatinya yang sangat kesal


"Saat aku di rumah sakit sikapnya berbeda, dia sedikit lembut terhadapku, tapi sekarang, perkataannya seolah-olah ingin selalu mengajakku berperang, sangat menjengkelkan" batin Quirin kesal


Zee tidak menanggapi perkataan Quirin, ia melanjutkan langkahnya, Quirin yang kesal juga mengikuti dari belakang, mereka berjalan dengan diam, tidak ada dari mereka yang membuka suara


Saat mereka sampai didepan ruangan dokter Al, perawat yang berjaga didepan pintu mencoba memberanikan diri untuk menghentikan Zee dan Quirin


"Ma...maaf tuan muda dan nona, dokter Al memiliki pasien yang sedang berkonsultasi, tuan muda dan juga nona bisa menunggu sebentar" ucap perawat yang sedikit ketakutan sambil mempersilahkan duduk


Mereka berdua hanya membalas sebuah anggukan dan langsung duduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun


"Pasangan yang sangat serasi" batin perawat itu tersenyum, lalu pergi


"Ada apa denganmu" tanya Zee datar namun terselip sedikit kekhawatiran


"Aku juga tidak mengerti" ucap Quirin dengan tangan dan tubuh yang sedikit bergetar, seperti takut akan sesuatu


"Dia terlihat gelisah" batin Zee sedikit khawatir saat melihat tangan Quirin


"Sudah tidak apa-apa, aku akan mendampingimu" ucap Zee menenangkan dan langsung memegangi tangan Quirin yang bergetar


Quirin menggenggam tangan Zee dengan erat, hingga beberapa menit berlalu, Zee merasakan tangan Quirin tidak gemetar lagi, itu tandanya Quirin sudah lebih tenang


Saat pasien itu keluar dari ruangan dokter Al, ia merasa ada getaran di hatinya, lalu melihat kursi tunggu, ia sangat terkejut saat melihat gadis yang sedang duduk dikursi itu


"Kau?....." ucap seseorang menggantung dengan mata yang berkaca-kaca, ia hanya terfokus pada satu orang saja, orang yang sangat ia rindukan akhir-akhir ini, kini ada di hadapannya


Zee dan Quirin menoleh kearah sumber suara, dan betapa terkejutnya Quirin, orang yang sudah lama tidak ingin ia lihat, kini muncul di hadapannya, tubuh itu bereaksi dengan bergetar sangat hebat


"Sial, ketika melihatnya tubuh ini bergetar hebat, sepertinya pemilik tubuh sangat trauma, tidak heran tadi aku merasa gelisah" batin Quirin sambil memegang jantungnya yang berdetak sangat cepat dan seakan ingin keluar, ia ingin mengucapkan sepatah kata, namun tenggorokannya seakan tercekat, ia menggenggam tangan Zee dengan sangat erat


Zee juga terkejut melihat seseorang yang berada di hadapannya, namun tetap membuat raut wajah datar, seakan tidak mengetahui apa yang terjadi diantara mereka


Bersambung....


Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇


✓ Favorite


✓ Like


✓ Vote


✓ Gift


✓ Comment


✓ Rate


Author sangat berterimakasih 🙏