
Karena melihat mereka semua keras kepala dan tidak ingin mengatakan siapa yang memerintah nya, Tian membunuh semua nya dengan keji dan tanpa belas kasih.
"Cari di tubuh mereka, siapa tahu ada petunjuk." perintah Tian.
"Baik tuan." jawab Samuel.
Samuel memerintah bawahan nya untuk menggeledah tubuh mayat mayat yang sudah penuh darah itu.
"Tuan tidak ada petunjuk." lapor salah satu anak buah Tian.
Beberapa orang melapor. Mereka juga tidak menemukan petunjuk sama sekali.
Tinggal satu orang yang belum melapor.
Orang terakhir pun datang dan menghadap Samuel. "Tuan saya menemukan ini." tunjuk anak buah dan memberikan sebuah cek yang belum di cairkan.
"Tuan cek ini tertutup dengan darah, saya akan memberikan nya kepada Arsen untuk menyelidiki siapa pemberi cek ini." ucap Samuel.
"Em...lakukan saja, yang penting aku tahu siapa pelakunya." ucap Tian. " Bagaimana dengan penyelidikan mu, ku harap kau tidak memberikan jawaban yang akan membuat ku kesal." lanjutnya.
"Tadi Arsen sudah mengirim petunjuk. Ternyata Ada seorang penjaga yang berhianat. Namun penjaga itu sudah mati saat ini tuan. Ia di temukan mati di kediaman nya. Anak buah saya sudah datang melihat nya, dan sepertinya orang itu di bunuh karena takut anda akan mengetahui." ucap Samuel.
"Em...Mereka merencanakan nya dengan baik. Aku penasaran siapa sebenarnya nya di balik semua ini." ucap Tian berfikir.
Sedangkan di tempat lain.
Di sebuah bangunan besar seorang laki laki sedang memaki dan memarahi seseorang.
"Dasar bodoh, apa kau ingin mengacaukan rencana ku? Sudah aku katakan, jika kau mengetahui siapa dirinya lebih baik kau diam dulu. Lihatlah sekarang? Gara gara kau memberi perintah kepada anak buah ku tanpa sepengetahuan ku, beberapa Anak buah ku mati di tangan nya dan itu semua karena dirimu." ucap laki laki itu marah marah karena harus kehilangan beberapa anak buah nya. Ia tidak menyangka bahwa pemuda itu di lindungi oleh beberapa pengawal berbakat.
Laki laki tidak memperdulikan seseorang sedang menunduk di depannya. Ia mengambil hp nya yang berdering dan mengangkat nya.
"Hallo tuan, ada yang bisa saya bantu? ucap Laki laki itu berbicara sopan.
...............
"Baik tuan, saya akan menjalankan sesuai perintah anda." ucap Laki laki itu dan setelah itu menutup panggilan.
...🌴🌴🌴...
Setelah menyelesaikan semuanya, Tian pergi kekantor bersama Samuel.
"Hubungi Marco apakah dia sudah menyelesaikan pekerjaan nya." ucap Tian.
"Baik tuan." ucap Samuel.
Setelah itu Samuel menghubungi Marco.
Dreeet..... Dreeet.... Dreeet...
"Ada apa?" tanya Marco di seberang telepon
Tuan meminta ku menghuni mu untuk menanyakan tugas yang di berikan nya. Apakah kau sudah melaksanakan nya?" tanya Samuel.
"Denis?" Samuel berfikir mengingat apakah dia pernah mengenal nama Denis di anggota. "Apakah dia anggota baru?" tanya nya karena tidak mengingat
"Ku rasa kau sudah harus menikah Sam." ucap Marco
"Apa urusan nya dengan aku bertanya dan menikah?" tanya Samuel.
"Karena kau sudah mulai pikun, sebelum itu terjadi lebih baik kau cepat menikah." ucap Marco.
"Sialan kau. Bagaimana aku harus menikah dan mencari pasangan, sedangkan urusan ku selalu saja banyak." ucap Samuel.
"Bukan kah kau sudah memiliki si gadis penempel itu." ucap Tian sedikit keras sehingga Marco dapat mendengarnya.
"Apa! Kau sudah memiliki seorang gadis?" tanya Marco tidak percaya.
"Berisik." jawab Samuel tidak ingin menjawab.
" Cepat jawab diriku siapa Denis itu?" tanya Samuel.
"Hah, kau itu." ucap Marco menghela nafas. "Denis itu si rambut cabe, masa kau lupa." ucap Marco
"Rambut cabe? Apakah benar benar dia?" ucap Samuel tidak percaya. "Bukankah si rambut cabe itu sedikit penakut, kenapa kau malah mengutusnya?" tanya Samuel.
"Dia sudah berubah. Dan sekarang ini dia sangat sangat lah kejam dan tidak memiliki perasaan." ucap Marco. "Seperti bos kita." lirih Marco agar Samuel saja yang mendengar. Namun karena telinga Tian sangat sensitif jadi dia bisa mendengar ucapan Marco dengan jelas.
Sing.
Mata tajam Tian menatap Samuel yang masih memegang handphone nya.
Gleeek...
"Sial, pandangan itu sungguh membuat ku mati kutu" batin Samuel.
"Jika mulut mu sangat licin, aku bisa mengurasnya dengan pisau ku Marco " ucap Tian dengan suara keras agar Marco mendengar nya.
Marko yang mendengar langsung buru buru mematikan telepon tanpa permisi. Dia sudah berkeringat dingin jika tuannya benar benar melakukannya.
.
.
.
💞💞💞💞💞💞
Selamat membaca
Jangan lupa like and komen serta vote nya.
Mohon dukungannya.