
Beberapa aparat di luar ruangan berhamburan masuk, namun tak berani melakukan apa pun, karena memang mulut pistol yang Diego pegang mengarah telak pada kepala Tegar. Tentu saja, mereka tidak mungkin membiarkan pemimpin mereka mati konyol.
"Lepas, Diego!" pekik lelaki berkumis itu sekali lagi.
Namun, Diego malah menarik pelatuk pistol sehingga beberapa detik kemudian terdengar suara tembakan yang menggelegar.
DOR
Tubuh Diego ambruk ke lantai setelah satu peluru melesat menembus kepalanya.
Semua orang terperangah. Tak terkecuali Tegar.
Tatapan mereka kompak mengarah pada lelaki berkumis tebal.
"Kenapa, Ndan?" Tegar bertanya dengan dahi berkerut-kerut.
"Aku hanya ingin menyelamatkanmu," jawab lelaki berkumis itu dengan enteng.
"Tapi, kita--"
"Masih banyak cara untuk menemukan informasi tentang di mana keberadaan anak kecil itu."
Lelaki berkumis tebal itu langsung melenggang dari sana setelah meminta beberapa anggotanya membereskan jenazah Diego.
Beberapa anggota kepolisian berhambur melaksanakan tugas mereka.
Sementara Tegar masih bergeming. Antara bingung dan terkejut. Hanya satu yang ada di pikiran perwira muda itu. Apa yang akan dikatakannya pada Erianiza dan keluarga terkait kematian Diego?
***
Di ruangan lain, Hima sedang diinterogasi oleh anggota polisi wanita yang bertugas di sana. Sedari tadi wanita itu hanya memberi jawaban tidak tahu, tidak tahu, dan tidak tahu atas semua pertanyaan yang diajukan. Alhasil, petugas interogasi meninggalkannya sendirian di dalam ruangan tersebut.
CEKLEK
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar. Menampakkan seorang wanita berambut kriwil dengan setelan kaos ketat dan celana joger berwarna cokelat tua. Tanpa banyak bicara wanita itu mendekati Hima, lalu meletakkan sebuah tas selempang di atas meja interogasi dengan sekali hentakan.
BRAAAK
Hima sontak terperanjat. Kepala yang awalnya bertumpu pada meja beralaskan lengan, kini terangkat menjadi posisi tegak. Ekspresi terkejut kentara sekali di wajahnya.
"Cantik-cantik dagang narkoba," celetuk wanita berambut kriwil itu.
Hima tak terkejut sama sekali dengan ucapan wanita tersebut. Berhubung di dalam tas yang ia pakai tadi memang terdapat lima ratus gram obat terlarang yang hendak diserahkan pada Diego, namun gagal karena Arun terlebih dahulu melabrak keduanya.
Wanita berambut kriwil itu berdiri di samping Hima, lalu menarik pangkal rambutnya, hingga membuat kepala istri dari Arun Permana itu terdongak sempurna.
Hima meringis, menahan perih akibat perbuatan wanita itu. Kedua matanya terpejam dalam hingga tercipta banyak kerutan di sekitar mata dan keningnya.
"Cepat katakan siapa saja yang bekerjasama denganmu! Jika tidak, akan kucongkel biji matamu ini? Sudah jelas-jelas barang bukti ada di dalam tasmu ini, pakai sok menjawab tidak tahu, tidak tahu!" ancam wanita berambut kriwil itu.
Ternyata, penampilannya saja yang tampak seperti preman. Namun, faktanya dia adalah salah satu anggota penyidik terbaik di polres kota.
Bukan hanya ancaman dalam bentuk kalimat, polisi wanita itu juga menunjukkan jarum suntik di dekat bola mata Hima, sehingga wanita itu semakin meringis ketakutan.
"Jangan lakukan itu, tolong!" Hima mulai turun nyali. Seraya menggelengkan kepalanya secara perlahan, wanita itu pun kembali meringis hampir menangis.
Anggota polisi wanita berambut kriwil itu tak ingin banyak membuang waktu. Ditodongkannya jarum suntik itu dalam posisi tegak, lalu mulai menyentuhkan ujung jarumnya pada pangkal mata Hima.
Hima langsung histeris.
"Tidaaak! Baik-baik, aku akan mengatakannya," ucap Hima dengan napas terengah-engah. Kedua matanya pun tampak berkedip-kedip.
"Tapi, tolong biarkan aku menghubungi seseorang terlebih dahulu," ucap Hima setelah polwan itu mengendorkan cengkeramannya.
"Kau masih berani bernegosiasi rupanya!" ucap polwan itu dengan nada geram, lalu kembali mencengkeram wajah Hima dan menodongkan jarum suntik yang hanya berisi obat bius itu. Obat bius yang membuat seseorang bisa berkata jujur tanpa harus hilang kesadaran.
"Ba-baik, baik. Aku akan mengatakannya," ucap Hima cepat dengan tubuh yang kembali gemetar karena ketakutan.
Polwan itu menjauhkan jarum suntiknya, kemudian kembali memundurkan langkah. Memberi ruang kepada Hima hanya untuk sekedar bernapas.
"Sebenarnya ...."
CEKLEK
Pintu ruang interogasi terbuka lebar. Siapa lagi yang datang kalau bukan Tegar? Tidak ingin melewatkan momen emas tersebut, ia juga harus mendapatkan info secepatnya tentang keberadaan Fabia.
"Komandan!"
Tegar mengangguk, kemudian membisikkan sesuatu kepada polwan itu.
Anggota polisi wanita berambut kriwil itu mengangguk paham, kemudian meneruskan interogasinya.
"A-aku tidak tahu."
Lagi-lagi Hima bersilat lidah, membuat polwan itu kembali geram, lalu maju dan menyuntikkan obat bius itu ke lengan Hima.
Wanita itu histeris, lalu beberapa menit kemudian tatapannya mulai sayu dan senyum-senyum tidak jelas seperti orang yang sedang mabuk.
Sebuah kamera perekam diaktifkan oleh polwan berambut kriwil itu, lalu memosisikannya di depan Hima.
Tegar masih mengamati cara kerja polwan itu, tanpa ingin mengambil peran terlebih dahulu.
"Hehehe."
Bukannya berbicara, Hima malah terkekeh-kekeh tidak jelas.
Polwan itu menoleh sejenak ke arah Tegar. "Apa ada yang ingin Anda tanyakan, Komandan? Dia sudah siap menjawab pertanyaan apa pun sekarang."
Tegar maju, lalu mendekati Hima dengan menarik kursi dan duduk tepat di samping wanita itu.
"Ceritakan semuanya!" ucap Tegar.
"Hah?" Hima menyipitkan sebelah matanya seolah tidak mendengar ucapan Tegar.
"Beritahu kami apa yang kau ketahui!" pekik polwan berambut kriwil itu. Mungkin ia sudah muak menghadapi Hima yang mahir sekali dalam berakting.
"Oh, hem ... kalian tahu? Suamiku sangat mencintai istri pertamanya. Dan dia ... heh ... ternyata tidak mencintaiku sebesar itu."
Tegar dan polwan itu saling bertukar pandangan mendengar kalimat pembuka dari Hima.
"Hei, kau pikir kami ingin mendengarkan kisah cintamu itu, hah?!" bentak si polwan.
Tegar melebarkan sebelah tangannya ke arah polwan itu. Bahasa kode untuk membiarkan Hima berkata apa pun. Setidaknya, Tegar juga berharap untuk mendapatkan petunjuk tentang kasus kematian Rachia Arunika.
"Dan apa kalian tahu? Semua orang mencurigaiku bahwa aku ini sudah membunuh anak tiriku sendiri. Tapi, aku berani bersumpah demi dewa," lanjut Hima dengan ekspresi wajah ditekuk. "Aku tidak membunuh Chia. Sumpah, aku tidak membunuhnya."
Tegar dan polwan itu kembali bertukar pandangan.
***
Argan masih terduduk di kursinya tatkala Windri memasuki ruangan. Dagunya bertumpu pada sebelah tangan yang membentuk siku-siku. Sedari tadi ekspresi wajah lelaki itu sangat sulit untuk ditebak. Entah, apa yang sedang ia pikirkan.
"Tuan!"
Windri memecah keheningan. Pasalnya, kentara sekali jika atasannya itu sedang melamun sehingga tidak menyadari kehadirannya sama sekali.
Mendengar gelombang suara Windri, akhirnya Argan mengerjap berkali-kali. Perhatiannya sontak terarahkan pada asisten pribadinya itu.
"Bagaimana?"
Pertanyaan yang singkat tercetus dari sepasang bibir Argan, namun memiliki makna yang cukup panjang dalam pemahaman Windri.
"Diego sudah mati!"
DEG
Informasi yang baru saja diterima dari Windri, cukup menyentak Argan hingga mengubah posisi duduk menjadi berdiri. Satu kepalan tangan mengudara di depan mulutnya, lali ditiupnya berkali-kali.
"Lalu, Eri?"
"Sedang bersama kedua orang tuanya."
Argan bergeming sesaat, kemudian kembali melanjutkan dialog.
"Aku akan menemui mereka," ucapnya, lalu menggamit kontak mobil yang tergeletak di atas meja kerjanya.
"Tapi, Tuan. Anda ...."
"Aku baik-baik saja, Win. Sebaiknya, kau selesaikan tugasmu."
Argan berlalu meninggalkan ruangannya setelah mengatakan hal tersebut.
Sepeninggalan Argan, Windri hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali, tidak habis pikir. Namun, tugas tetaplah tugas. Hal yang wajib untuk dilaksanakan.