
Erianiza sedang menyiapkan makan siang, ketika dirinya mendapat kabar dari sang ayah bahwa Diego kembali diringkus oleh pihak kepolisian. Walaupun, kabar yang diterima bukanlah lagi sesuatu yang baru, namun cukup mengejutkan bagi Eri.
Ya, pasalnya Diego sudah lama tidak memberi kabar apa pun pada seluruh anggota keluarganya. Terlepas mereka hanyalah saudara tiri, namun Eri tetap menganggap pemuda itu seperti kakak kandungnya sendiri. Selama ini, hubungan keduanya bahkan bisa dikatakan baik-baik saja. Entah, apa yang membuat Diego melakukan tindak kriminal dengan menculik keponakannya sendiri, dan itu pun tanpa sepengetahuan Eri.
"Ayah!" Eri baru saja tiba di kantor polisi, bersamaan dengan ayah dan ibunya yang baru saja turun dari mobil--diantar sopir. Langkahnya pun tampak tergesa mendekati kedua orang tuanya itu.
"Kamu ke sini sama siapa, Nak?" Ibu tiri Eri bertanya dengan raut wajah sendu.
Sedih? Tentu saja, ia bersedih karena putra satu-satunya itu kembali berurusan dengan pihak kepolisian.
"Sendiri, Bu. Argan masih di kantor. Tapi, aku sudah mengabarinya tentang hal ini." Eri merespon setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
"Ayo, kita masuk!" ajak ayahnya kemudian.
Eri dan ibu tirinya mengekori langkah lelaki paruh baya itu. Tiba di ruang besuk, mereka menunggu sejenak tatkala salah satu anggota kepolisian melaporkan kehadiran mereka pada atasannya.
Sepuluh menit berlalu, seorang perwira muda mengenakan baju dinas kepolisian lengkap dengan atributnya, tampak berjalan gagah ke arah Erianiza dan keluarganya.
Ayah wanita itu tampak terkesiap setelah mengenali wajah perwira muda yang saat ini sudah berdiri di hadapan mereka.
"Selamat siang, Om!" Tegar mengulurkan tangannya.
Ayah Erianiza bergeming, masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Apa pemuda di depannya itu benar-benar Tegar Danuarta? Bocah SMA yang dulu pernah diusirnya dari rumah, karena dengan beraninya memacari putri semata wayangnya.
"Om, apa kabar?"
Tidak salah lagi, pemuda itu memanglah Tegar. Mantan kekasih Eri.
"Baik," jawab ayah Eri singkat. Lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan banyak kata. Ada segumpal rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak ke dalam dadanya. Lebih tepatnya, rasa malu dan tidak enak hati.
"Kalian mau membesuk siapa?" tanya Tegar yang kini melabuhkan pandangannya pada Erianiza. Ia sempat tersenyum sesaat pada wanita paruh baya yang berdiri di samping suaminya.
"Kak Diego, kami mendapat kabar kalau dia diringkus lagi. Apa benar?" Eri bertanya dengan nada cemas. Sebenarnya, ia masih berharap jika kabar itu tidak benar adanya.
"Diego Rumania?" Tegar mengerutkan keningnya seraya menagih konfirmasi. Sepengetahuannya, Erianiza adalah anak tunggal.
Eri menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan suara. Sebelah tangannya, merangkul bahu wanita yang kini mulai terisak di sampingnya saat mendengar nama lengkap sang putra tercetus dari bibir Tegar tadi.
"Mohon maaf, untuk saudara Diego kami belum bisa memberikan ijin bagi siapa pun yang mau membesuknya, karena beliau masih dalam proses penyidikan."
Sebenarnya Tegar tidak tega mengatakan hal tersebut, namun aturan tetaplah aturan. Ia harus menjalankan prosedur yang berlaku dalam lingkungan kerjanya.
Ibu tiri Eri sontak terisak semakin keras. Pundak renta sang suami menjadi sandaran kepalanya. Mau tidak mau mereka harus kembali ke rumah dengan kondisi hati yang sama-sama terasa ngilu.
***
Dua orang suruhan Diego sudah dimasukkan ke dalam tahanan. Sementara pemuda berwajah tampan itu diseret ke dalam ruangan khusus. Entah, apa yang akan dilakukan oleh Tegar pada penculik Fabia itu.
Kini, Diego duduk di sebuah kursi yang bersekat meja panjang. Di ujung sana terdapat satu kursi lain yang juga berisi satu orang anggota kepolisian.
Wajahnya tirus, berhidung mancung, dan berkumis cukup tebal.
"Katakan siapa saja yang berkerjasama denganmu dalam hal ini?" Lelaki berseragam lengkap kepolisian itu bertanya dengan tatapan menuntut.
Diego hanya terkekeh, tak lantas memberikan respon.
Lelaki itu mengangguk paham, lalu kembali menatap Diego yang masih memasang wajah santai. Tidak ada gurat khawatir atau tertekan sekalipun.
"Cepat katakan! Atau kau ingin aku memakai kekerasan agar kau mau membuka mulut?" tanyanya lagi seraya masih setia pada posisinya.
Diego kembali terkekeh seperti orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Beberapa aparat yang berdiri di luar ruangan tampak geram melihat tingkah Diego. Pasalnya, ruangan itu tertutup dan hanya bersekat kaca transparan. Jadi, mereka masih bisa melihat proses interogasi itu dari luar ruangan. Serta bisa mendengar percakapan mereka karena di dalam ruangan itu terpasang alat penyadap.
Sementara Tegar baru tiba di sana, ketika lelaki berkumis tadi berdiri mendekati Diego. Tatapannya nyalang menghunus telak ke arah pemuda itu.
"Apa kau bisu?" Sebelah tangan lelaki berkumis itu menekan kedua pipi Diego dengan perasaan geram.
Tegar ingin mengambil peran. Dibukanya pintu ruangan interogasi, lalu bergabung dengan lelaki berkumis yang kala itu tengah menghempaskan wajah Diego. Usahanya tak membuahkan hasil, Diego tetap saja bungkam.
Kemudian lelaki berkumis itu membisikkan sesuatu pada Tegar. Sesuatu yang sukses membuat rahang Tegar mengeras. Kedua matanya memerah karena emosi yang membara.
Tak butuh waktu lama, Tegar langsung menggamit kerah baju Diego sehingga membuat tubuh pemuda itu tertarik ke arahnya.
"Katakan di mana kau sembunyikan Fabia, hah?" pekik Tegar.
Informasi yang diterima dari salah satu anggota polisi muda tadi adalah Joni sudah sadar dan memberikan sebuah kesaksian. Kesaksian di mana Diego adalah penculik Fabia.
"Heh, kau pikir semudah itu mendapatkannya? Jangan mimpi," ejek Diego dengan seringai licik.
Tegar menghempas tubuh pemuda itu sehingga kembali terduduk di kursi.
Namun, ketika Tegar akan berbalik badan, Diego kembali bangkit, lalu menyabet pistol yang bertengger di pinggang perwira muda itu.
"Lepaskan aku!" pekik Diego seraya menodongkan senjata ke arah Tegar.
Tegar yang terlambat menyadari kini hanya bisa mengangkat kedua tangannya sembari menoleh secara perlahan.
Beruntungnya, lelaki berkumis tadi masih berada di dalam ruangan, sehingga ia pun menarik senjatanya, lalu mengarahkan pistolnya pada Diego.
"Jatuhkan senjatamu, atau kutempat kepala temanmu ini!" ancam Diego pada lelaki berkumis dengan kedua mata membuka lebar. Senyuman licik itu kembali terbit di wajahnya.
"Jika kau berani melakukannya, maka aku pun akan melakukan hal yang sama terhadapmu!" ancam balik lelaki berkumis itu. Kedua tangannya masih sigap memegang senjata.
Tegar hanya bisa diam dengan pandangan mengarah pada lelaki berkumis dan Diego secara bergantian.
"Lepaskan senjata itu?"
"Tidak, kau yang lepaskan!"
"Lepas! Atau kutembak sekarang juga."
Beberapa aparat di luar ruangan berhambur masuk, namun tak berani melakukan apa pun, karena memang mulut pistol yang Diego pegang mengarah telak pada kepala Tegar. Tentu saja, mereka tidak mungkin membiarkan pemimpin mereka mati konyol.
"Lepas, Diego!" pekik lelaki berkumis itu sekali lagi.
Namun, Diego malah menarik pelatuk pistol sehingga beberapa detik kemudian terdengar suara tembakan yang menggelegar.
DOR