
Hari ini Eri diantar Argan menuju sebuah pusat perbelanjaan. Niatnya ingin membeli beberapa kebutuhan ternyata disambut hangat oleh sang suami.
Awalnya ia agak terkejut karena biasanya Argan akan pergi ke kantor setelah mereka sarapan bersama. Namun ....
"Aku akan menemanimu."
Begitulah ucapan Argan yang sukses membuat wajah Erianiza berbinar hingga sekarang.
Keduanya tampak bergandengan tangan setelah keluar dari mobil. Senyuman terkembang di kedua sudut bibir masing-masing.
"Kau tidak mau menunggu di mobil saja?" Erianiza bertanya ketika Argan ikut masuk bersamanya.
"Bagaimana aku bisa membiarkanku berbelanja sendirian?" tutur pria itu seraya menatap wajah istrinya dari samping.
Eri mengulum senyuman. Argan benar-benar telah kembali, begitu kata hatinya mengagumi.
Saat keduanya sudah memasuki pusat perbelanjaan, Erianiza langsung meminta Argan untuk mengambil troli. Sementara dirinya sudah lebih dulu melangkah untuk memilih beberapa barang.
Pria itu mengangguk, kemudian mendorong troli kosong. Seraya melangkah untuk menyusul istrinya, Argan mengedar pandangan ke segala arah. Hari ini pusat perbelanjaan cukup ramai pengunjung. Hingga satu tangan yang mendaratkan tepukan di bahunya pun membuat ia tersentak.
"Aku rasa ini bukan hari minggu," ucap seorang pria yang menepuk bahu Argan. Pandangannya jatuh pada troli kosong yang dibawa oleh suami Erianiza itu.
"Meliburkan diri setengah hari tidak masalah, bukan? Apalagi untuk menemani istri," jawab Argan sok romantis.
Pria itu terkekeh, lalu meneruskan obrolan mereka.
Di tempat lain, Erianiza sedang sibuk memilih buah dan sayuran. Sesekali pandangannya mengedar ke sana kemari, mencari keberadaan Argan, namun hasilnya nihil.
"Apa dia tersesat? Ah, tidak mungkin," gumam wanita itu seraya berbalik badan.
Namun, di saat yang bersamaan, seorang wanita berlari ke arahnya dan menubruk tubuhnya hingga mereka berdua sama-sama terjatuh di lantai.
Keduanya sama-sama mengaduh. Namun, Eri pasti merasa lebih sakit karena sudah jatuh, tertimpa badan orang yang menabraknya pula.
"Bu, maafkan saya," ucap wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan itu. Napasnya terdengar memburu.
"Tidak masalah," ucap Eri seraya berusaha bangkit.
Kini keduanya sudah sama-sama berdiri.
"Tolong saya, Bu." Wanita itu tampak memohon dengan wajah cemas.
Erianiza sontak berkerut dahi.
"Tolong selamatkan saya, Bu." Wanita itu kembali memohon dengan ekspresi wajah hampir menangis.
"Oke, tenang dulu, ya. Kamu kenapa?" Eri berusaha menenangkan wanita itu sebisanya. Namun, tetap saja, wajah wanita itu terus menoleh ke sana kemari seolah sedang dikejar oleh orang jahat.
"Saya baru saja kabur dari penyanderaan, Bu. Tolong saya," ucap wanita itu lagi.
DEG
Mendengar kata penyanderaan, Eri kembali mengingat nasib Fabia. Semoga di luaran sana, ada orang baik yang akan menyelamatkan putrinya.
"Ayo, ikut aku." Tanpa berpikir panjang, Eri langsung menarik tangan wanita yang tak asing itu menuju toilet.
Wanita itu mengangguk dan mengikuti langkah kaki Eri yang tampak tergesa-gesa.
"Siapa namamu? Dan di mana alamatmu?" Eri mulai bertanya ketika mereka sama-sama sudah berada di dalam toilet wanita.
Sebelum menjawab, wanita itu masih berusaha menormalkan napasnya yang tersengal-sengal.
"Nama saya Tuti, Bu. Saya berasal dari desa Wonodadu. Di sini saya bekerja sebagai pengasuh. Tapi ...." Ucapan wanita yang mengaku bernama Tuti itu langsung tercekat tergantikan oleh isakan kecil yang disertai linangan air mata.
Tuti? Pengasuh?
Erianiza tampak mengingat sesuatu. Ia merasa seperti pernah mendengar nama itu.
"Apa kamu Mbak Tuti pengasuhnya Rara?" Eri langsung bertanya ketika kepingan ingatannya memberikan sebuah petunjuk yang relevan.
"Rara?" Tuti mendadak menyeka air matanya mendengar nama itu. "Rara siapa, Bu?" Ia kembali bertanya karena tidak pernah mendengar nama tersebut.
Eri memegang pundak Tuti. "Rara, yang tinggal di dekat taman bermain. Dia pernah memintaku untuk menemui pengasuhnya yang bernama Mbak Tuti," terang Eri yang membuat Tuti berkerut dahi.
Pasalnya, anak yang pernah diasuhnya bukan bernama Rara, melainkan Chia. Namun, alamat yang disebutkan Eri barusan, memanglah alamat rumah majikannya. Karena tidak ada lagi rumah yang terletak di dekat taman bermain, selain rumah majikannya.
"Kamu Mbak Tuti pengasuhnya Rara, 'kan?" Eri langsung memegangi kedua bahu Tuti karena wanita itu tak juga merespon ucapannya.
"Bu, saya ...." Tuti tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena Erianiza lebih dulu memotong ucapannya.
"Tuhan memang Maha Baik, akhirnya aku bisa bertemu kamu, Mbak Tuti." Eri langsung memeluk Tuti seolah wanita itu adalah orang yang sudah lama dirindukannya. "Rara pasti bahagia kalau aku bisa mempertemukannya denganmu," oceh Erianiza terus-menerus.
Sementara Tuti tampak membeku ditempatnya. Saat ini, pikirannya masih dipenuhi dengan peristiwa kejar-kejaran antara dirinya dan dua orang lelaki tadi. Beruntung, ia bisa mengecoh mereka, lalu masuk ke pusat perbelanjaan tersebut.
"Jangan, Bu." Tuti tampak berwajah mendung.
"Kenapa? Kamu tidak ingin bertemu dengan Rara?" Erianiza terus menatap wanita di depannya itu tanpa berkedip.
"Bukan begitu, Bu." Tuti terlihat ragu untuk berucap. "Saya ... saya sudah diberhentikan dari pekerjaan, sebelum saya diculik dan disekap oleh orang-orang yang tidak dikenal," lanjut wanita itu dengan tatapan sendu.
"Apa? Diberhentikan? Maksudmu ... dipecat oleh majikanmu?" Eri kembali menagih konfirmasi.
Tuti hanya menanggapi dengan anggukan.
"Tapi ... Rara bilang kamu hanya pulang kampung, dan dia tidak mau punya pengasuh baru." Erianiza kembali teringat akan ucapan Rara tempo hari. Bocah yang sering ditemuinya di taman bermain.
Tuti tidak sepenuhnya mengerti dengan ucapan wanita yang baru ditemuinya itu. Namun, ia masih berusaha untuk menghargai respon baik dari wanita tersebut.
***
Setelah mendapatkan alamat lengkap pengasuh Chia, pagi harinya Arun langsung menuju ke desa di mana wanita itu tinggal. Dia sengaja mengendarai mobil pribadi, agar perjalanan tersebut terjaga kerahasiaannya.
Ternyata dibutuhkan waktu lima jam perjalanan untuk sampai di desa tujuan. Setibanya di sana, suasana pedesaan sukses membuat pria itu tertegun dan terkagum-kagum.
Perbukitan, udara segar, dan kesederhanaan adalah identitas paten yang tidak bisa diganggu gugat. Perkembangan peradaban di daerah pedesaan memang tak sepesat di perkotaan. Namun, hidup dalam lingkungan yang menenangkan seperti yang Arun lihat, membuatnya terpikir untuk mengajak sang istri berkunjung ke tempat tersebut. Namun, tidak sekarang. Karena dia mempunyai misi tersendiri untuk mengungkap kebenaran asumsinya akhir-akhir ini.
Setelah tiga puluh menit melewati jalan tak beraspal, kini mobil Arun berhenti di depan sebuah warung kecil di persimpangan. Ia mematikan mesin mobil, lalu turun dari kendaraan.
Pandangan beberapa orang yang kebetulan sedang berbelanja di warung itu sontak terfokuskan padanya. Jarang-jarang ada orang kota yang berkunjung ke desa mereka.
"Selamat pagi," ucap Arun dengan senyuman ramah.
"Pagi," sahut mereka semua secara serentak, termasuk si pemilik warung.
"Ada yang bisa dibantu, Mas?" tanya salah seorang wanita dewasa yang dandanannya lumayan menor ketimbang yang lain. Senyumannya pun dibuat semanis mungkin.
Arun mengerjap, lalu menjawab, "Oh, saya mau bertanya, kalau mau ke rumahnya Pak Sunar, belok ke kiri atau ke kanan, ya?"
"Pak Sunar?" Wanita itu tampak berpikir sejenak. Pasalnya yang bernama Pak Sunar di desa mereka ada dua orang, dan satunya sudah meninggal dunia.
"Pak Sunar yang sudah meninggal kah, Pak? tanya yang lainnya.
Arun tampak kebingungan. Pasalnya dari informasi yang ia terima tidak ada kabar seperti itu.
"Em ... Pak Sunar yang putrinya bernama Tuti." Akhirnya Arun mengucapkan nama Tuti agar mereka bisa memahami maksudnya.
"Oh, Pak Sunaryo ... nanti bapak belok kanan saja, rumahnya tepat di samping sawah luas, catnya berwarna biru," jelas pemilik warung yang berjenis kelamin wanita. Perawakannya sudah tampak sepuh.
"Baik, terima kasih, Bu. Terima kasih semuanya. Saya pamit dulu." Arun mohon diri untuk melanjutkan perjalanan.
Sepeninggalan Arun, orang-orang di warung itu, masih saling obrol dengan tema PRIA TAMPAN DARI KOTA. Si pemilik warung hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ocehan para pembelinya.
Sesampainya di rumah orang tua Tuti, Arun langsung mengetuk pintu rumah yang memang sudah terbuka itu.
"Permisi," ucap pria itu. Suaranya sengaja dibuat sekeras mungkin, sebab suasana di rumah itu tampak sangat sepi.
Karena tak ada jawaban, Arun kembali mengetuk pintu dengan mengucapkan satu kata yang sama.
"Siapa?" Tiba-tiba seorang wanita paruh baya berjalan tergopoh-gopoh dari samping rumah. Pakaiannya tampak kotor terkena lumpur. Tangan dan kakinya juga. Beliau sedang menanam padi ketika mendengar suara Arun tadi.
"Perkenalkan, Bu. Nama saya Arun." Pria berperawakan tinggi dan berhidung mancung itu memperkenalkan diri.
Wanita bernama Sastri tampak sedang mengingat-ingat sesuatu setelah mendengar nama Arun.
"Owalah, ini Pak Arun majikannya Tuti?" tanya wanita baya itu setelah mengingat nama majikan anaknya. Tuti pernah menyebut nama Arun ketika bercerita melalui sambungan telepon.
Arun tersenyum seraya mengangguk ketika wanita di hadapannya langsung mengenali identitasnya.
"Waduh, saya lagi kotor-kotoran ini, Pak. Bapak duduk dulu, ya. Saya panggilkan Pak Sunar sekalian bebersih." Bu Sastri meminta Arun untuk duduk di kursi bambu yang ada di teras rumah mereka.
"Baik, Bu."
Lima belas menit kemudian.
"Maaf, adanya cuma ini, Pak." Bu Sastri meletakkan dua cangkir kopi hitam dan sepiring singkong goreng di atas meja.
Pak Sunar mempersilakan Arun mencicipi wejangan mereka.
"Sebenarnya ada keperluan apa, sehingga Pak Arun berkenan hadir ke pondok kami?" Pak Sunar tidak tahan untuk tak bertanya karena Arun tak juga menyampaikan niatnya.
"Sebenarnya saya ingin menemui Tuti, Pak. Apa dia ada di rumah?"
Mendengar pertanyaan Arun, pasangan suami-istri itu tampak saling pandang.
"Bukannya Tuti masih di kota, Pak? Dia tidak pernah pulang." Bu Sastri mendadak memasang wajah tegang.