
Saat ini mereka berdua sudah ada di pasar, selain itu para generasi muda klan Raden juga ada di sana. Termasuk Raden Alex yang sepertinya tengah berjalan-jalan bersama teman anacondanya yang sedang berwujud manusia.
"Hari ini aku tidak boleh memperlihatkan diriku di depan adikku Alex, bisa menjadi masalah kalau ia tahu aku sedang keluar dari kediaman." ucapnya dengan menyeret Karta ke sebelah gang sempit dengan jarak yang begitu dekat dan tangan mungil Ana membungkam bibirnya Karta.
Namun Karta memanfaatkan waktu itu dengan menggoda Ana. Tangan Ana dicium lembut oleh Karta hingga Ana menepis bungkamannya dengan sapu tangan.
Akhirnya Karta mengetahui apa yang dikhawatirkan oleh Ana saat ia mencium tangannya, saat itu ia menggunakan kesadarannya kalau Alex adalah bagian dari keluarga Ana dan ia harusnya tidak keluar dari kediamannya.
"Bagaimana mungkin kita bersembunyi di gang sempit ini tanpa menikmati jajanan pasar, nona?" Karta menatap Ana dengan penuh menggoda. Ana membalikkan badan tak ingin berdebat dengan kultivasi yang lebih kuat darinya.
"Apa yang harus aku lakukan? Dia ada disini." ucapnya masih membalikkan badan dari Karta.
"Aku akan menyempurnakan penyamaranmu dengan jentikkan jari ini." ucap Karta berbisik sambil menjentikkan jarinya tanpa cahaya ataupun tanpa jejak hingga Ana merasakan kultivasinya saat ini tidak bisa dideteksi sampai auranya tidak tercium kalau dia adalah bagian dari keluarga Alex.
"Wah, terima kasih." ucap Ana dengan riangnya. Tak lupa, ia memeluk Karta saking senangnya ia melihat perubahan pada wujudnya tanpa mengharuskan kematian terlebih dahulu.
Para warga yang di pasar melihat aksi berdua laki-laki sedang berpelukan dan berbisik."Sayang sekali kedua lelaki tampan dan kultivator itu menyukai sesama jenis."
Karta yang mendengarkan kritikan mereka, mengeluarkan aura menekan kultivasi warga hingga melarikan diri dan tidak membicarakan persoalan pelukan tadi.
Karta hanya tersenyum mereka tidak lagi berkomentar dan membalas ucapan dari Ana.
"Lalu, bagaimana kau akan membalasku, Nona?" ucap Karta sambil mencium rambut Ana.
"Ekhem... Tunggu setelah aku menyelesaikan urusan keluargaku." ucap Ana menjauh dari pelukan Karta.
"Bagaimana dengan tubuhmu?" ucap Karta tak tahu malu yang menatap ke arah dadanya Ana.
"Dasar mesum." ucap Ana memerah dan meninggalkan Karta.
Karta hanya tersenyum menyeringai saat Ana meninggalkannya dan ia pun langsung mengikuti kemana pun perginya Ana.
Setelah bantuan penyamaran yang dilakukan oleh Karta terhadap Ana itu akhirnya ia dapat bernapas dengan lega. Dia mulai menikmati jajanan pasar dengan riangnya.
Saat ini mereka berdua sedang ada di dalam restoran dekat pasar dan berencana melakukan pelatihan setelah makan siang untuk satu bulan ke depan sebelum masa akhir dari kurungan kediaman habis. Dia merasa masih sangat jauh dari kata kuat. Sedangkan di sisi lain Ana harus berusaha mendapatkan kepercayaan di keluarganya hingga mengembalikkan nama baik dirinya dan kerajaan.
"Baiklah raja hamba akan menuruti semua perintahmu." tiba-tiba saja assasin dari Raden Karta tersebut sudah menghilang dan masuk ke dalam restoran tanpa sepengetahuan orang lain.
"Sungguh membuat perasaanku campur aduk sebaiknya assasin itu dapat menyelesaikan titahku sebelum Ana jatuh ke dalam pelukannya untuk kedua kalinya seperti dulu." Raja Qin melesat menuju pagoda, tempat kenangan sekaligus tempat kultivasinya seorang diri.
Dan benar saja Karta itu sudah mengetahui kalau assasin telah berada di restoran yang ia tempati dengan wajah menyeringai yang terlihat sangat jelas, akibat ana telah selesai makan di restoran itu beberapa menit lalu, dan Karta pun membawa Ana ke tempat penginapan yang dipesan sekamar berdua.
Ana terlihat enggan saat Karta memintanya masuk ke dalam kamar berdua.
"Apa yang kau lakukan denganku di sini? ya suara itu adalah suara Ana. Ia langsung menjauh dari Karta setelah berada di kamar.
"Nona muda apa yang kau pikirkan dalam otak kecilmu saat kita berdua berada di dalam kamar, apakah kau akan mencemaskan tubuhmu yang nantinya menjadi seorang wanita, ataukah takut Alex sebagai saudaramu mengetahui hal yang kita perbuat dari hutan belantara hingga ke penginapan bersama orang asing." ah ada saja Karta ini. Dia sangat mengetahui apa yang dipikirannya Ana. Padahal, mereka berdua belum mengenalkan diri dengan nama dan keluarganya.
"Kalau kau sudah tahu siapa aku, kenapa kau tidak meninggalkan aku pergi?" ucap Ana melangkahkan kakinya mundur saat Karta semakin mendekati dirinya dan menjatuhkan diri Ana ke tempat tidur hingga ia tidak bisa melarikan diri darinya.
"Menurutlah Ana aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin memperkuat segel pasangan yang telah kucoba di dalam tubuhmu."
"Bagaimana mungkin aku menyerahkan diriku pada orang asing sepertimu?" Ana menatap tak suka saat Karta mengunci titik merediannya hingga ia tidak bisa bergerak. Rasa bencinya semakin dalam terhadap Karta maupun raja tampan yang sama-sama menyakitinya.
Saat ini Karta sedang dalam posisi ingin memiliki sepenuhnya Ana, dia melihat Ana mengeluarkan air mata ketika dirinya menyobek pakaian Ana dengan paksa.
"Bunuh dia." ucap Assasin sambil menyerang beberapa panah kepada Karta, tapi ia menggunakan segel pelindung hingga panah itu tidak melukai mereka berdua yang berada di atas ranjang.
Karta hanya tersenyum mendengar suara panahan yang tidak bisa menyentuh segel pelindungnya.
"LANCANG sekali kau ingin membunuhku saat aku akan menyempurnakan segel pasangan." ucap Karta dengan sangat murka. Aura membunuh yang kuat pun mulai keluar membuat semua assasin mulai susah bernapas, sedangkan yang panahan itu hanya pengalihan tubuh dan bisa memindahkan Ana ke tempat kediamannya, hingga yang tertidur di segel pelindung adalah wanita titahan Raja Qin dengan wangi tubuhnya Ana saat ia sempat tinggal sebentar dalam kerajaannya.
"Hanya aura pembunuh takkan berhasil membuat kami menyerah." ucap semua asassin dengan senyum sinis. Karta langsung memancarkan aura merah keemasan milik sang penguasa dunia iblis. Seperti tersambar petir di siang hari seluruh asasin yang berada di ranah kekuatan Jendral pun terkena dampaknya.
"Apakah kalian sudah bosan hidup dengan menghianatiku?" ucap Karta dengan tatapan tajam yang terarah pada ketua asassin yang merupakan pengawal bayangan setianya.
"Maafkan kami yang mulia karena kami hanya mengikuti perintah dari aura dewa yang terpancar dari kerajaan iblis." ucap ketua asassin penuh dengan rasa hormat.
"Baiklah, selama aku belum mendapatkan aura itu aku tidak akan bisa mengendalikan kalian lagi sebagai pengikut setiaku." ucap Karta kemudian menghilangkan aura iblisnya.