
"Tidak puaskah kalian dengan hadiah perjamuanku?" ucap Ana sembari melepaskan diri dari pangkuan Karta itu berjalan ke arah Laksmana yang kini telah mengeluarkan keringat dingin.
Aura yang dibawa oleh Ana tidaklah biasa, membuat siapapun yang mengetahui dirinya berjalan seakan-akan membelah tanah tersebut.
Sebuah cahaya keemasan yang berukuran kecil keluar dari telapak tangan Ana, diarahkan cahaya keemasan yang berbentuk bilah itu ke arah Laksmana dan tepat mengenai titik meridiannya. Dan seketika hancur seluruh titik meridian Laksmana.
Tak berselang lama, tanah di aula perjamuan pun menjadi terbelah ke dua bagian. Semua orang begitu terkejut. Bagaimana bisa cahaya berbentuk bilah itu dapat menghancurkan meridian sekaligus tanah terbelah dua. Berbeda dengan Qian masih bersikap tenang dalam situasi itu. Dia tidak protes apapun yang dilakukan mereka berdua yang terpenting dia sedang mencari celah memisahkan Karta dengan Ana.
"Apa yang akan kau lakukan permaisuriku?" tanya Karta. Dia berjalan menuju ke arah Ana sambil memegang pinggangnya permaisuri.
"Aku hanya ingin memberikan mereka pelajaran karena tidak menghormati kita berdua," jawab Ana. Dia pun menggunakan aura keemasan itu lagi lalu membuat Laksmana melayang-layang di atas udara.
"Ampuni hamba Yang mulia," pinta Laksmana. Dia begitu takut kalau permaisuri Karta akan memasukkannya ke dalam jurang yang terbelah dua itu. Dia dapat melihat dari udara di atas sana kalau tanah terbelah dua itu berisi binatang paling mengerikan dan bisa membakar jiwa.
Konon katanya, orang yang masuk ke dalam sana akan mati lalu dihidupkan kembali dengan disiksa oleh binatang itu.
"Apakah kau akan mengampuninya?" tanya Karta menatap Ana.
"Tidak, dia terlalu menganggu kita berdua," jawab Ana.
Kemudian, dia pun memasukkan Laksmana itu ke tanah terbelah dua itu hingga pekikan pun terdengar.
"Aaarghh," teriak Laksmana.
Ana pun langsung menutup tanah terbelah dua itu dengan jentikkan jarinya. Semua pun menjadi ke tempat semula, seakan-akan tidak ada peristiwa yang mengerikan itu.
"Kenapa kalian semua diam?" teriak Ana kepada para tamu.
Para tamu yang melihat kejadian mengerikan itu langsung menunduk hormat.
"Kami salah Yang Mulia," ucap mereka serempak.
"Kalau mengaku salah, kalian semua dipersilahkan makan dan minum yang telah kami persiapkan," jawab Ana.
Para tamu yang mendengarkan itu merasakan tubuhnya gemetaran. Mereka takut kalau memakan perjamuan itu, akan langsung mati.
'Bukankah ini sama saja meminta kami mati." batin mereka serempak.
Ana yang mengetahui hal itu pun memicingkan matanya kepada mereka semua.
"Kalian tidak menghormatiku," teriak Ana lagi.
"Kami tidak berani Yang Mulia," ucap mereka lagi.
"Kalau begitu segeralah makan dan minum, aku tidak meracuni kalian. Apakah kalian mempertanyakan keputusanku?" teriak Ana lagi.
"Tidak, Yang mulia," jawab mereka serempak.
Kemudian, mereka pun makan dan minum dalam perjamuan itu.
'Ana yang aku cintai sudah berubah.' batin Qian. Dia meneguk minumannya tanpa rasa takut hingga dirinya masih bertahan dalam posisi perjamuan itu. Adapun, yang lainnya sudah tumbang akibat di hatinya memiliki perasaan takut.
Ana yang melihat semua tamunya tak sadarkan diri pun tertawa. Hanya saja, dia melirik ke arah Qian yang tetap duduk begitu tenang.
"Kau membuatku tertarik, " ucap Ana. Dia bergegas menghampiri Qian, tapi Karta menghalanginya.
"Biarkan aku saja yang menghampirinya, kau tunggu saja di kamar, " ucap Karta.
"Baiklah," jawab Ana. Dia pun menuruti Karta lalu bergegas ke kamarnya di dampingi para pelayan maupun pengawal.
"Kau mungkin salah dalam mengenali aura seseorang, " ucap Qian. Dia masih tetap duduk sambil meminum air ramuan dari Ana itu.
"Aku paling tahu tentang diriku sendiri, " jawab Karta. Dia terlihat kesal akibat Qian memprovokasinya.
"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan, " ucap Qian. Dia langsung melawan Karta dengan aura tersembunyi nya itu hingga bongkahan tanah pun keluar lalu menyerang Karta secara cepat.
Karta pun menggunakan elemen kehijauannya itu untuk menangkap setiap bongkahan batu yang diberikan Qian.
"Keterlaluan, " ucap Karta.
Qian yang melihat itu pun tersenyum. Dia pun langsung menggunakan boneka perwujudan manusia agar dia bisa menemui Ana.
Qian menggunakan kekuatan peringan tubuhnya lalu memasukkan elemen angin badainya itu ke dalam bola bola dewa. Dia pun menambahkan serbuk-serbuk di dalam putaran angin badainya itu lalu dia tiup kepada Karta hingga matanya terluka.
"Aarggh, " teriak Karta.
"Ini belum selesai, " ucap Qian. Dia masih menggunakan kekuatan separuhnya demi melawan Karta.
Darah pun keluar dari tenggorokannya Karta. Dia baru sadar kalau racunnya masih ada di dalam tubuhnya. Namun, dia pun tidak menginginkan dirinya menang.
Karta pun terjatuh dari ketinggian itu, tapi Ana segera membawanya.
Qian yang mengetahui hal itu pun curiga, kalau sebagian jiwanya telah menemukan Ana, apakah dia bukanlah Ana? Ataukah dia memainkan trik kepadanya?
Qian yang terkejut pun tak menyadari serangan Ana yang membuat dirinya terjatuh.
"Arggh, " teriak Qian.
"Kau telah menyakiti pasanganku, aku tidak menerimanya, " ucap Ana. Dia pun langsung mengeluarkan cambuk emasnya lalu mencambuk habis-habisan Qian itu.
Qian yang lemah dalam memandang Ana pun, tak sempat kabur atau mengeluarkan kekuatannya itu. Dia tidak ingin menyakiti Ana yang sedang dipengaruhi oleh Karta itu.
Enth berapa kali Ana mencambuk nya, membuat kedua matanya Qian terpejam hingga kulitnya melepuh.
Hanya saja, tanpa diketahui oleh mereka berdua yaitu cahaya dewa bercampur api itu terus menerus mengelilingi tubuhnya Qian. Seakan-akan, mereka sedang memperbaiki tubuhnya Qian itu.
Cambukan Ana yang mampu membuat meridian Qian hancur pun seakan membuatkannya lagi meridian yang memiliki 5 akar lebih banyak daripada sebelumnya.
Cambukan Ana seakan bereaksi terhadap Qian yang merupakan bagian dari lelaki yang menemui Ana di Lautan Dewa itu.
"Ana, Terima kasih, " ucap Karta. Dia tersenyum licik kepada Qian lalu berpura-pura lemah di hadapan Ana.
Ana pun meninggalkan Qian, dia segera menghampiri Karta.
"Apa yang harus aku lakukan kepadamu? " tanya Ana cemas.
"Berikan ciumanmu kepadaku, aku akan segera sembuh bila kau melakukan itu, " jawab Karta. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu demi mendapatkan Ana.
Ana yang ragu-ragu pun memberikan ciumannya kepada Karta. Cahaya keemasannya Ana pun seakan diberikan kepada Karta. Lukanya yang begitu banyak di tubuh Karta pun berangsur-angsur pulih.
Ana yang melihat itu pun ingin menyudahinya, tapi Karta seakan meminta hal yang lebih kepadanya.
"Jadilah milikku Ana, " bisik Karta. Dia seakan menghipnotis Ana hingga dirinya pun menuruti permintaannya itu.
"Raja ku, kau boleh melakukan apapun. "