
"Kau tidak bisa dibiarkan begitu saja," ucap seseorang yang tengah menggunakan topeng itu.
Saat ini kubah yang telah dipasang Karta sudah pecah menjadi dua bagian. Dengan sangat mendadak seorang bertopeng itu muncul di hadapan mereka berdua.
"Untung saja aku mampu melindungi permaisuriku, mengapa seseorang sepertimu dapat memecahkannya?" tanya Karta sambil menatap seseorang yang bertopeng itu.
"Maaf permaisurimu bukanlah milikmu seorang," ucap seseorang yang tengah menggunakan topeng itu. Sepertinya memang ada yang harus diperjelas sebelum mereka mengetahuinya.
"Bicaralah aku akan membuatmu menyesal atas perkataanmu itu," ucap Karta yang mulai serius.
"Saya sudah meniduri permaisurimu hingga dirinya pun memiliki segel yang sama denganku, kami sudah melakukan kultivasi ganda yang dimana satu orang mati, akan mati satu pasangannya," ucap seseorang yang bertopeng itu.
"Jadi, aku tidak bisa membunuhmu?" tanya Karta, dia mampu menangkap perkataan yang dijelaskan seseorang bertopeng itu.
Setelah menjelaskan apa yang perlu seseorang bertopeng itu sampaikan pun kembali menghilang dari pandangan mereka berdua. Seketika Ana pun terbawa pengaruh dari kepergian orang bertopeng itu hingga dirinya pun pingsan.
"Ana," panggil Karta. Dia pun menggendong Ana hingga membawanya ke tempat tidur.
"Sialan!" umpat Karta. Dia baru sadar kalau seseorang yang menggunakan topeng itu menggunakan aroma tak biasa hingga permaisurinya pun pingsan.
Matahari mulai muncul dari ufuk timur, cahaya keemasan mulai muncul. Dengan segera Karta memandikan Ana dan menunggunya sadar.
"Huft...Kapan dirimu sadar, permaisuriku?" ucap Karta sambil terus memegang tangannya itu sehabis memakaikan baju ganti kepada Ana.
***
"Racunnya sudah menyebar ke tubuhku," ucap Raja Qin. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan diracuni secara diam-diam oleh Ratunya saat ini.
"Yang Mulia Raja harus segera mencari selir Ana demi menetralisir racunnya itu," jawab pengawal pribadinya itu.
"Dia tidak boleh terlibat dalam perselisihan di istana ini sebelum dirinya menjadi kuat, aku akan menahannya sampai dia kembali," ucap Raja Qin.
"Apakah Yang Mulia Raja akan terus tinggal di istana yang sudah memiliki banyak efek racun?" tanya pengawal pribadinya itu.
"Ya, demi rakyatku di dunia iblis dan demi menjaga kediaman istana sampai Ana kembali," jawab Raja Qin.
"Apakah Yang Mulia Raja sengaja mendorong Ana ke jurang itu?" tanya pengawalnya lagi.
"Tentu saja, demi menyelamatkannya. Aku akan melakukan segala hal yang aku bisa saat ini," jawab Raja Qin sendu. Dia pun mengeluarkan darah dari mulutnya akibat racunnya benar-benar mampu memakan energi kulitivasi raja hingga dirinya terluka baik di energi dalam maupun di tubuh fisiknya itu.
Sang Ratu pun datang ke kamarnya Raja Qin.
Seperti biasa Raja Qin telah berpura-pura tidak sakit di hadapan Ratu demi menjaga kehormatannya sebagai Raja Iblis.
"Baiklah, karena aku sudah disini, kau sebagai pengawal Raja sudah seharusnya pergi dariku, bukan?" ucap Sang Ratu.
Pengawal Raja Qin pun pamit meninggalkan mereka berdua di kamar.
"Raja Qin, sampai kapan kau akan terus berpura-pura di hadapanku?" ucap Sang Ratu sambil memperlihatkan raut wajah khawatir. Dia pun menyentuh wajahnya dengan kedua tangannya.
Dengan patuh Raja Qin membiarkan Sang Ratu menyentuh wajahnya itu, setelah itu dia membalas perlakuan ratu sambil menggendongnya ke atas ranjang.
"Karena kau sudah tahu, mengapa kau tidak melayaniku hari ini demi menetralisirnya?" ucap Raja Qin yang membuat godaan-godaan itu mampu meluluhkan hati wanita, termasuk Sang Ratu.
Raja Qin yang mengetahui hal itu pun langsung terbang dengan sayapnya. Namun, selendang Sang Ratu mengikat tubuhnya.
"Haha, akhirnya kau menunjukkan sifat aslimu," tawa Raja Qin.
"Kau sudah tahu apa yang aku inginkan, seharusnya kau mati lebih cepat," ucap Sang Ratu. Dia pun menggunakan kekuatannya berupa tarian pengubur selendang.
Raja Qin yang mengetahui itu pun segera menghilang dari jurus itu, meski dirinya sempat terikat selendang itu. Dia sengaja membuat dirinya terikat oleh selendangnya Sang Ratu demi mengetahui level kekuatannya itu.
Alhasil, dia terlempar dari istananya sendiri menuju tempat lain yang sama sekali tidak ia ketahui.
"Dimana ini?" tanya Raja Qin. Dia pun bertanya-tanya kepada dirinya sendiri hingga dia menemukan sebuah pintu lain lagi yang aneh.
Raja Qin merasakan tekanan yang hebat yang memaksanya untuk menunduk, namun dengan sekuat tenaga dia tetap berdiri tegak dan mencari tahu tempat yang ia pijaki saat ini.
"Siapa dirimu?" tanya suara aneh yang menggelegar di tempatnya Raja Qin.
Raja Qin yang mendengarkan pertanyaan itu tidak bisa langsung menjawab kalau dirinya termasuk bagian iblis. Dia belum mengetahui jelas tempatnya saat ini. Ada kalanya, dia harus berhati-hati dalam bertindak.
"Aku yang harusnya bertanya, dimana ini?" tanya Raja Qin. Dia menyembunyikan identitasnya dengan aura yang diberikan oleh Sang Ratu melalui serangan tarian selendang itu.
"Ini ialah lautan dewa," jawab suara aneh itu. Dia tidak menunjukkan sosok aslinya kepada Raja Qin.
'Lautan Dewa?' pikir Raja Qin. Dia benar-benar tidak tahu kalau ada keajaiban itu.
"Lalu kau siapa?" tanya suara aneh itu. Dia telah menjawab pertanyaan Raja Qin hingga dirinya pun bertanya balik kepadanya.
"Aku Fallyon dari negeri manusia," jawab Raja Qin bohong. Dia tidak bisa bertindak dalam lautan dewa. Kalau dirinya terjebak di lautan dewa yang mengetahui identitas sebenarnya, dia akan tamat begitu saja.
"Nama yang aneh, tapi aku akan memberitahukanmu seseorang yang dapat menemanimu," ucap suara aneh itu.
"Baiklah, kemana aku harus mencarinya?" tanya Raja Qin. Dia menyambut tawaran dari suara aneh itu sekaligus dirinya ingin mengetahui identitas asli Sang Ratu.
"Dia sudah di belakangmu," jawabnya.
Kemudian, Raja Qin pun menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya, dia mendapati Ana sudah menggunakan baju kuno yang terpancar aura dewa di dalamnya.
"Ana?" panggil Raja Qin. Dia langsung memeluk Ana.
Ana yang dipanggil itu hanya diam.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, tuan?" tanya Ana.
Raja Qin yang menyadari pertanyaan Ana pun segera melepaskan pelukannya.
"Kau sudah melupakan aku, ya?" tanya Raja Qin. Dia merasa kalau dirinya memang benar-benar jahat menghadapi Ana yang baru saja terlempar dari dunia lain lalu dia memperlakukannya dengan sangat jahat.
"Tidak ada satupun wajah dalam ingatanku. Mungkin tuan salah mengenali orang. Apalagi di lautan dewa akan selalu menyerupai wajah-wajah yang ada di dunia manusia, termasuk bila tuan merindukan seseorang itu," jelas Ana.
Raja Qin yang menyadari penjelasan Ana terlampau anggun itu pun langsung menundukkan kepalanya. Dia memang merindukan Ana saat ini demi menetralisir racunnya itu, tapi dia juga rindu dengan kemesumannya Ana saat tahu pikiran Ana sejak berubah wujud menjadi bayi itu.