
POV Arsya On
Aku tak pernah menyangka akan seperti ini akhir dari rumah tangga ku bersama warna, kemarin masih ada sedikit harapan ku sewaktu mediasi besok tapi setelah kejadian kemarin harapan itu sirna.
Sampai sekarang masih terngiang-ngiang di mata dan fikiran ku ibuk ibuk berdaster itu mengkroyok ku dengan mulut pedes nya, kalau sedikit saja saya terlambat lari dari sana mungkin sapu yang rencana mereka ambil sudah membuat muka tampan ku bonyok.
Kalau saja aku tahu si Sari adiknya Warna lagi disini, mana mungkin aku rela rela kan naik gojek untuk kesana. Akan ku coba sekali lagi dengan cara yang sedikit mengerikan untuk meyakinkan warna bahwa aku telah berubah dan aku ingin mempertahankan rumah tangga ku bersama nya.
Lihat saja besok, apa yang akan ku lakukan, sehingga warna akan menerima ku kembali.
Pov Arsya end
.
.
.
.
.
.
.
.
POV warna
Allah begitu adil, sakit yang kurasa karena di hianati suami tercinta, Alhamdulillah di ganti dengan orang orang yang tulus , orang orang baik yang berada di sekelilingku. Tak perlu di ragukan lagi bagaimana tetangga rasa saudara yang kurasakan dari bunda Kinara dan bunda Shasha .
Allah hadirkan kembali orang yang baik serta tulus membantu bahkan ia dengan suka rela membantu dalam mengurus perceraian ku dengan mas Arsya. iya benar ,ia mas Surya , sepupu nya bunda Kinara sekaligus pengacara ku dalam perceraian. seperti namanya Surya, benar iya seperti membawa cahaya baru bagi kami.
Niko dan Chika anak anak nya mas Surya, memanggil ku dengan sebutan "mama" awalnya aku kaget dan agak kaku tapi lama kelamaan udah biasa aja bahkan sering kali aku merasa rindu terhadap anak anak baik itu, Chika anak manis yang ingin selalu di manja mungkin karena ia tak merasakan belaian dan perhatian dari sang bunda yang melahirkan nya.
Sekarang aku hanya ingin semua ini cepat selesai .
POV warna end
"Assalamualaikum yah" ucap warna dalam via telfon. Warna menghubungi ayah nya di kampung karena sudah cukup lama ia tak berbicara dengan ayah nya
"waalaikumsalam nak, bagaimana kabar mu" jawab ayah warna di sebelah sana
"Alhamdulillah warna sehat, ayah sehat?" tanya warna
"Alhamdulillah ayah sehat, ayah sudah mendengar mengenai sidang pertama perceraian mu, sabar la nak , InshaAllah akan tiba waktu nya untuk semua masalah mu usai" kata ayah di via telfon
"iya yah, makasih atas doa nya yah" jawab warna
" nak, dengarkan sedikit nasihat dari ayah ini , ketahui lah setelah nanti sah bercerai, jaga lah harga dirimu , hindari fitnah karena di lingkungan mana pun janda memang sedikit di pandang lain oleh orang lain nak, ingat masa iddah mu jaga marwah sebaik baiknya, ingatlah itu nak selalu berpegang teguh di ajaran agama kita " ucap ayah warna sedikit memberi nasiha
"iya yah, terimakasih atas nasihat nya yah, dan maafkan warna karena memilih untuk bercerai yah" jawab warna merasa membuat ayah nya malu karena anak nya bercerai dan akan menjadi janda
"tidak perlu memintak maaf nak, apa pun bkeputusan yang kamu ambil ayah akan selalu mendukung, dan jangan pernah kamu berfikir bahwa ayah akan malu karena anak ayah akan menjadi seorang janda , tidak nak bahkan ayah bangga karena kamu bisa dan yakin menjalankan hidup mu bersama anak anak mu dan berjuang dari nol lagi dari pada hidup dengan suami yang selalu membuat mu tertekan " ucap ayah warna
"terimakasih yah, InshaAllah selesai semua ini warna akan pulang kampung yah" warna
"iya na, ya sudah ayah mau lanjut dulu membersihkan ladang kita " ucap ayah warna
"baik yah assalamualaikum " warna
"waalaikumsalam " ayah warna ..
Terimakasih semuanya yang sudah mampir..
jangan lupa like , vote dan comment nya ya...
OOO iya jangan lupa juga ya mampir di judul kedua autho yang berjudul "Takdir seorang gadis desa"