
Ting, motif masuk satu Minggu setelah kejadian bian pulang dan bright masih diam di apartemen Tay temannya, dia mau bright cepat menyelesaikan urusannya disini dan mendapatkan perawatan langsung, wajah bright sudah mulai pucat walaupun paras wajahnya yang ganteng tidak berkurang.
"Siapa??" Tanya Tay.
"Mike, temannya win di sekolah, dia nanya kenapa seminggu ini gue sama win gak masuk kelas." Ucapnya.
"Jadi win sama2 gak masuk sekolah??"
"Mungkin bian ngelarang dia masuk sekolah, sekarang keadaan sudah makin parah, gue juga bakal ngomong sama bian dan ngerebut win dari dia lagi." Ucapnya.
"Ngerebut?? Tapi pacar pertamanya win itu bian, bukan Lo bright." Tegur Tay.
"Lo tau gak apa yang di ajarkan guru gue di Amerika itu apa??"
"Nggak, emng apa??"
"Meskipun Lo cinta pertamanya, tapi gue dunianya, selama apapun Lo hubungan sama dia, tapi yang paling nyaman bakalan menang." Smirk bright.
Dengan kepedeannya tingkat dewa, tau merasa dirinya tertampar, mungkin bian sudah lama hubungan dengan win, tapi menurut bright, bian memang menyayangi win namun disisi lain bian seperti menganggap win barang yang tidak boleh di rusak oleh siapapun, dijaga 24/7 dengan baik.
Win pernah bicara kalau bian gak pernah bilang "I fall in love with you" dia selalu menjaga win dengan baik, mungkin bright memang bisa di bilang rada gila dan bandel, tapi sikapnya yang cool di depan orang lain dan di depannya seperti bayi besar, bawel dan suka bercanda itu mungkin membuat win juga sedikit berubah.
Terlalu banyak di jaga dan tidak terlalu bebas, apalagi dia yang selalu jagain bian karena anak itu emng penyakitan, win yang di jaga dan sibuk menjaga kekasihnya sampai lupa kebahagiaannya yang sebenarnya seperti apa, mereka hanya menjalani hubungan layaknya pasangan dan bahagia.
Bright mungkin sedikit pede dengan ucapannya yang tadi, tapi semua itu fakta, win yang berada di sisi lain sedang diam duduk di balkon sambil melamun memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang.
•°•
"Kak bright apa sudah baikan?" Gumamnya karna terakhir kali mereka bertemu seminggu yang lalu dan keadaan bright masih lemah.
Ting, notif pesan datang dan win segera membuka nya.
"Ini bright, win kakak gak tau kamu bakal baca pesan ini atau nggak, tapi kakak mau besok kita ketemu di rumahnya Mike, bilang sama bian kalau kamu ada acara sama Mike dan gun bertiga"
Pesan itu tidak masuk akal, bian dan teman2nya itu sangat akrab, bagaimana bisa bian tidak ikut??
Win berpikir sejenak untuk membuat alasan sama bian, dia juga gak mau bian dan bright sampai bertengkar apalagi ucapan bright yang waktu itu kalau dia memang menyukainya.
•°•
Besok malamnya, win sudah siap2 untuk berangkat, dia gak ijin sama bian karna tiba2 aja bian jarang pulang kerumah, mamah sibuk bolak balik keluar kota karna kerjaannya jadi dia mutusin buat pergi tanpa ijin.
"Win, Lo cepet banget datangnya, bian udah nungguin Lo." Ucap Mike yang membuat win bingung.
"Bian??" Tanya win.
"Iya, bian bilang kalau Lo mau pesta di rumah Mike tanpa sepengetahuan ibunya bian, bisa2 kita di marahin gara2 nanti penyakit bian kambuh lagi." Ucap gun.
Win masuk, didalam sana win bisa tahu kalau itu bukan bian, tatapan tulus dan seperti rindu terus menatapnya tanpa berkedip sama sekali.
Ahhh, win juga ingin menerjang lelaki yang sedang menatapnya di atas sofa, matanya ntah kenapa tiba-tiba saja memanas padahal mereka baru berpisah seminggu berbeda dengan bian, kali ini detak jantungnya begitu kencang.
Mereka meminum bir dan beberapa cemilan, ngobrol sambil bercanda bersama, berbeda dengan win yang hanya duduk sambil terus melirik bright.
"Win??" Panggil Mike.
"Eh?? Iya??" Win kaget saat Mike memanggilnya.
"Lo tiap hari ketemu bian, di sekolah juga ketemu, tapi tatapan Lo seakan bian yang sekarang itu dia yang asing tapi Lo selalu merindukan kekasih Lo sendiri, jadi kalian itu kenapa?? Lagi bertengkar hah??" Mike bicaranya ngelantur karna mulai mabuk.
"Lo mabuk, kita gak bertengkar ko." Win menuangkan bir nya lagi, gun sudah pingsan duluan disusul Mike.
Bright berdiri tapi di tahan sama win, dia langsung menatap lelaki yang sedang memegang kemejanya.
"Mau kemana??" Tanya win.
"Kak bian?? Bian?? KAK BRIGHT." Teriaknya, langkah bright langsung berhenti, di dekat rumah Mike lumayan sepi kalau sudah tengah malam.
"Kenapa?? KENAPA KALIAN SEMUA CUEKIN AKU?? SALAH AKU APA??" Sepertinya win mulai mabuk karna dia gak pernah bicara selantang itu.
"Kalian semua yang memulai permasalahannya, kalian sibuk dengan diri sendiri hiks... Kenapa kalian semua menjauh??" Win berjongkok sambil menangis, wajahnya di tutupi dengan kedua tangannya.
Bright yang tidak pernah tega melihat win menangis langsung mendekat dan ikutan jongkok setelah itu di peluk dengan erat.
"Maaf win, maafin kakak." Ucap bright.
"Kamu sakit juga bright, kenapa kalian semua menderita setelah bertemu aku?? Aku emng pembawa sial, aku gak pernah pantas buat kalian." Win memukul2 kepalanya tapi langsung di hentikan oleh bright.
Mungkin bright egois dan ingin memiliki win, tapi penderitaan win juga jauh lebih berat, di siksa oleh ayahnya berkali2 dan di selamatkan oleh bian, namun bian malah sakit parah sehingga kebahagiaan nya mulai kacau, dia hanya ingin membahagiakan orang-orang yang ada di sisinya tanpa mempedulikan kebahagiaan atau apa yang dia mau.
"Win kamu bukan pembawa sial, tapi kamu penyelamat, kamu menyelamatkan bian dari stress nya dia yang ingin mati, dan kamu juga menyelamatkan kakak, kamu memberikan kehangatan dan membuat kakak sadar apa arti keluarga, win kamu hebat, semua orang sayang kamu." Bright memeluk win dengan erat dan mengelus2 Surai hitamnya yang mulus.
"Tapi kalian semua ninggalin aku hiks... Aku gak mau sendirian." Win memeluk bright dengan erat sambil menangis.
Ternyata bian masih sibuk mengurusi kehidupan sialannya, ntah apa yang dia lakukan sampai win merasa di tinggalkan oleh mereka, harusnya bian menjaga win dan menjelaskan semuanya, menjelaskan kalau mereka sayang sama win.
•°•
Mereka berdua pergi dari rumah Mike dan hanya diam di dalam mobil, win juga sudah mulai sadar dari mabuknya karna dari tadi dia menangis.
"Kak??" Panggil win.
"Hmmm??" Bright cuma bisa mengeluarkan suaranya sedikit.
"Kapan kembali ke Amerika??" Tanya win, ntah kenapa air matanya keluar terus, dadanya yang sakit saat membahas kepulangan bright.
"Perjanjiannya 365 hari, artinya setahun, jadi kakak bakalan jagain kamu sampai kamu lulus." Senyum bright.
"Tapi bian sudah pulang." Gumamnya, walaupun suaranya kecil tapi bright bisa mendengarnya.
"Terus kamu mau kakak pulang ke Amerika lagi?? Hmm??"
"NGGAK!! bu- bukan gitu." Bright tersenyum jahat melihat win yang mulai gugup.
Dia merasa bahagia melihat win sepertinya tidak mau dirinya pulang ke Amerika, dia juga baru ngerasain kehangatan yang di berikan sama win, apapun itu bright harus mendapatkan win dari bian.
"Oh iya, kakak minta maaf soal kematian bian." Ucap bright polos aja ngomongnya, wajahnya datar seperti tidak ada dosa.
Win terdiam sejenak, dia baru ingat kalau bright pernah bilang kalau bian sudah meninggal, jadi apa alasan bright berbicara seperti itu?? Apa dia ingin menggantikan bian seperti yang dia bicarakan??
"Alasannya apa??" Ucap win, memberanikan diri untuk bertanya.
"Alasan ya??" Ucap bright menatap win.
Mereka saling menatap, tatapan bright seperti menjelaskan kalau dia tidak punya alasan untuk berbohong waktu itu, mungkin hanya iri karna bian mempunyai seseorang sebaik win dan dia menginginkannya??
Bright mulai mendekati wajah win dan menciumnya, win hanya diam merasakan bibir tebalnya di gigit dan di makan rakus, lidahnya juga diajak menari oleh bright.
"Kakak gak pernah bohong soal perasaan." Ucap bright memegang tangan win dan menempelkannya di dadanya.
Jantung bright berdetak sangat kencang begitupun detak jantung dirinya, ternyata bright juga bisa deg degan seperti dirinya, wajah win memanas dan hanya terdiam malu.
"Lucunyaaa." Gumam bright sambil memeluk win dan menciumnya
^^^TBC➡️^^^
...Jangan lupa suporttt nya yaaa❤️❤️❤️...