(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Serangan tahap awal


Kediaman Rai.


"Kenapa bisa ada darah begini? Makanya kalau pergi itu jangan sendirian!" ucap Louis yang terus mengomel pada adik nya saat melihat adanya cairan berwarna merah di pakaian adik nya.


"Yang penting kan aku baik-baik aja," jawab Louise dan berlalu ke kamar nya meninggalkan sang kakak yang terus mengomel.


Ia langsung mengunci pintu nya begitu masuk kamar, tubuh nya pun masih bersandar di balik pintu dan perlahan kaki nya turun ke lantai.


Mata nya memejam, ia sangat ingin menghindari pria yang menjadi cinta pertama nya walau menganggap perasaannya hanya mainan.


"Padahal ini bisa jadi hari yang sempurna, tapi kenapa harus bertemu dengan nya?" gumam Louise lirih.


Ia sedang ingin melupakan pria br*ngsek yang hanya menganggap perasaan nya seperti mainan habis pakai yang bisa di buang kapan pun.


Ia pun bangun, dan melewati cermin saat akan ke kamar mandi.


Langkah nya berhenti sejenak, ia memegang perut nya pelan dan kejadian yang baru saja ia alami tadi terulang di kepala nya.


"Tapi kalau tidak ada dia, mungkin aku..."


"Aku juga bisa kehilangan anak ku tadi..." ucap nya lirih.


Ia memejam, tak tau alasan mengapa pria itu menyelamatkan nya namun ia tak ingin lagi tergoda dengan pesona yang sama dan jatuh pada lubang yang sama.


......................


Apart Greenlousc.


Bella mengernyit, ia bingung bagaimana caranya mendekati pria yang pernah ia khianati. Bahkan saat ia menggunakan anak nya, hal itu sudah tak lagi berpengaruh.


"Mom..." panggil Arnold pada wanita itu dengan lirih.


Bella melihat ke bawah ke arah putra nya yang memanggil nya, ia menatap tajam pada mata polos yang tidak tau apapun itu.


"Kau! Katakan apa yang terjadi waktu dia membawa mu?!" tanya sembari menekan kuat bahu anak laki-laki yang berumur 4 tahun itu.


"Tidak tau..." jawab nya lirih dengan hampir menangis.


"Mom, lapel..." ucap Arnold yang ingin mendapatkan makanan saat perut nya mulai berbunyi.


"Aku sudah merawat mu! Tapi apa yang sekarang kau lakukan?! Kau merusak nya! Padahal tinggal sedikit lagi!" bentak nya pada anak yang tak mengerti apapun itu.


"Huhu..."


"Ma-maaf Mom..." tangis nya yang terkejut saat sang ibu membentak nya.


Bella tersentak, tatapan tajam nya mulai turun, ia perlahan meraih tubuh mungil putra nya, "Al tau kan? Mommy sayang Al, cuma punya Al, jadi Al harus turuti yang Mommy bilang..."


Saat keinginan dan mimpi nya tak tercapai, bayangan masa lalu nya terus datang pada nya, menghantui nya dan menjerat mu hingga membuat nya menimbulkan obsesi atas kebahagian nya yang telah hilang.


Tidak! Dia pasti cuma pura-pura bersikap dingin saja! Dia masih menyukai ku!


Batin Bella dengan mata yang berapi mengingat pria yang ia cintai.


......................


2 Hari kemudian.


Mansion Dachinko.


Pria itu melihat beberapa berkas yang rapi di depan nya, sebagian rencana nya sudah mulai berjalan.


Hal yang harus ia lakukan adalah memotong perusahaan yang akan bekerja sama dengan JBS grup lebih dahulu dan jika nanti ia menyerang langsung pun tak akan ada yang bis membantu perusahaan besar itu lagi.


"Presdir dari Cefrro grup sudah melalukan apa yang kita suruh kan?" tanya nya pada Nick.


Ia memang tak memiliki langsung beberapa perusahaan atas nama nya, namun ia bisa mengendalikan beberapa perusahaan besar sesuai keinginan.


Saham dan rahasia kotor yang ia pegang dari para penguasa itu membuat nya memiliki Jawa penekan yang membuat mereka tunduk dan patuh.


Jika gagal ia hanya kehilangan sedikit dan jika menang maka tujuan nya tercapai.


"Sudah, tapi dia memiliki ikatan kontrak dengan JBS farmasi." jawab Nick pada pria itu.


"Lalu?" tanya James mengernyit.


"Kontrak yang di buat nona Louise saat dia menjabat lebih ketat dan jika kita memaksa Presdir dari Cefrro grup untuk mengambil akusisi dari persen keuntungan karna yang terjadi sekarang kemungkinan JBS bisa menggugat nya." terang Nick pada tuan nya.


James tersenyum mendengar nya, "Kalau tidak bisa melakukan nya kan bisa dengan cara lain?" ucap nya dengan senyuman simpul.


"Cara lain?" tanya Nick mengernyit.


"Apa menurut anda Presdir Cefrro akan melakukan nya?" tanya Nick dengan bingung.


Merusak satu produk dan menimbulkan masalah tak hanya akan berdampak pada perusahaan yang mengedarkan obat nya namun juga akan membuat perusahaan yang bekerja sama terkena imbas nya.


"Dia akan lakukan, dia sangat menyayangi nyawa nya." ucap James dengan senyuman simpul nya.


Nick tak bisa mengatakan apapun, walau ia tak ingin namun loyalitas dan kesetiaan nya lebih kuat pada pria itu.


......................


JBS Farmasi.


Kali ini gadis itu dapat mengakses semua data yang dulu nya tak bisa ia buka sama sekali.


"Zayn?" panggil nya pada pria yang tak jauh dari nya.


Zayn menoleh ke arah gadis itu, dan menatap mata nya.


"Ada apa?" tanya nya sembari melihat wajah gadis di depan nya.


"Kau sudah tau kan? Semua nya, semua yang di sembunyikan Louis." tanya Louise lalu menunggu jawaban pria itu.


Tak ada yang bisa ia katakan, ia takut pengakuan ataupun kebohongan nya akan menimbulkan masalah yang nanti nya merenggangkan hubungan nya.


Louise mengangguk tertawa pahit melihat nya, "Berarti hanya aku yang tidak tau apapun selama ini?" tanya nya sembari memejam menyentuh kepala nya.


"Maaf, Louis hanya khawatir dengan mu, hanya itu!" ucap Zayn sembari mendekati gadis itu.


Louise tersenyum mendengar nya, memang sang kakak sangat menyanyinya namun kasih sayang yang terlalu berlebihan pun akan membuat nya terluka nanti nya.


"Lalu kau? Kau tidak khawatir pada ku?" tanya Louise tersenyum.


Zayn tersentak sejenak, "Kenapa tanya hal yang sudah pasti?"


"Hanya penasaran," ucap Louise pada pria itu.


"Kalau begitu, jangan menghindari ku lagi." kali ini Zayn mengatakan sembari menatap wajah di depan nya tanpa berkedip.


"Maaf," hanya itu yang bisa ia katakan, ia juga tak akan menyangka jika pria yang menjadi sahabat nya sejak lama menyimpan rasa pada nya.


...


Setelah makan siang, Louise ke toilet sejenak dan melakukan touch up pada make nya.


Ponsel nya berderit, ia pun mengambil nya dan melihat nomor tak di kenal yang masuk ke ponsel nya.


"Halo?" jawab nya sembari melihat maskara nya di cermin.


"Kau akan menyesal! Mungkin sebentar lagi kau akan jadi mayat!" ucap suara yang seperti besar bergemuruh dari sebrang sana.


Suara yang sering memberi nya ancaman dan tau semua nomor nya bahkan saat ia sudah mengganti nya.


Louise memutar bola mata nya dengan malas, "Aku sudah menyesal tuh! Makanya udah putus! Jangan telpon lagi! Gak guna! Kami udah ga ada hubungan apa-apa lagi!" sarkas gadis itu dari telpon.


"Hahaha! Kau pikir dengan mengatakan hal seperti itu aku akan percaya!" ucap si pengancam dari telpon.


"Terserah mau percaya atau tidak! Lagi pula jadi penjahat kok bodoh sih? Masa ngincar orang tapi gak tau berita terbaru? Banyak makan MSG ini makanya jadi idiot!" balas Louise kesal pada si penelpon yang datang pada nya.


Tak ada jawaban sama sekali dari pria itu, "Halo? Woy? Udah mati? Di bilang idiot langsung mati?" tanya Louise saat ia sudah selesai memakai maskara nya dan melihat detik panggilan yang masih berjalan namun tak ada suara nya.


"Dasar gila," ucap nya sembari mematikan ponsel nya.


......................


Sementara itu.


Axel melihat ponsel nya ia mengernyit, "Mereka benar-benar sudah putus?" gumam nya melihat ke arah ponsel nya.


Ia pun mengusap telinga nya yang terasa gatal mendengar makian gadis itu, "Cara bicara nya benar-benar sesuatu." ucap nya kesal.


Ia pun berjalan ke arah dinding kaca yang besar yang menampilkan jalanan dan mobil serta bangunan lain yang lebih rendah di bandingkan apart mewah yang ia tempati saat ini.


"Kalau begitu, aku hanya tinggal menguji nya saja kan? Sudah berakhir atau belum?" gumam nya dengan smirk nya.


Namun sesungguhnya ia sangat berharap jika James masih mencintai gadis itu, sehingga saat hari di mana nyawa gadis itu melayang maka pria itu akan merasakan kesedihan yang mendalam.


"Sekarang beri tau kabar ini dulu pada nya," ucap nya tersenyum sembari menelpon mantan kekasih pria itu.