(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Breath


JBS Hospital


Ledakan yang terjadi membuat kerusuhan, semua pasien yang ada di tempat langsung di ungsikan dan di selamatkan serta di pindahkan untuk perawatan.


Suasana kacau terlihat, lantai yang memiliki banyak pasien padat dan antrian pun langsung bubar.


...


"Aku urus ke sana, kau seperti nya menyusul saja. Itu mungkin lokasi Louise." ucap Zayn yang menerima panggilan di ponsel nya dan langsung beranjak datang.


"Hm, aku akan ke lokasi yang di kirimkan." ucap Louis menyambung dari perkataan sahabat nya itu.


......................


Pria itu melajukan mobil nya, ia langsung pergi setelah meminta Nick dan bawahan nya yang lain menyusul.


Karna hanya satu jam waktu yang bisa ia miliki sekarang.


Ponsel nya berdering, pria itu mengangkat setelah menyambungkan dengan audio mobil nya dan menempelkan earphone di telinga nya.


"Ada apa? Kau sudah sampai mana?" tanya nya langsung saat menginjak gas.


"Kapal kita meledak," jawab Nick singkat dari balik telpon.


"Apa?" James langsung mengernyit, di waktu yang sempit malah ia mendapat kan kabar yang membawa masalah.


"Urus masalah kapal dan kirimkan beberapa orang ke sini." ucap nya dan kemudian mematikan ponsel nya.


Ia pun lantas kembali melanjutkan mobil nya dengan kecepatan maksimal nya agar tak terlambat karna hanya di beri waktu satu jam.


......................


55 Menit kemudian


Alex melihat ke arah gadis yang sejak selesai bertanya diam saja, tak menangis atau pun memohon pada nya.


"Kau tidak takut mati?" tanya nya yang melihat ke arah gadis yang diam itu.


Louise melirik, ia menatap sekilas ke arah seseorang yang sangat menyebalkan sekaligus kejam itu.


"Kau akan membunuh ku sekarang?" tanya nya menatap ke arah pria itu.


"Ya, kalau dia terlambat lima menit aku akan masukkan 0,5 ml racun ini ke darah mu." ucap nya sembari menunjuk satu ampul tersebut.


Louise diam tak mengatakan apapun namun iris hijau nya tampak goyah.


"Bagaimana kalau dia tidak datang sama sekali?" tanya nya menatap ke arah pria itu.


"Dia akan datang," jawab Alex percaya diri.


"Kau menceritakan cerita mu pada ku, kau juga mau dengar cerita ku?" tanya nya menatap ke arah pria yang tampak enggan mendengar nya karna beranggapan semua yang ia katakan adalah kebohongan.


"Baik, sambil menunggu mari kita dengarkan." ucap Alex pada gadis itu dengan mencondongkan tubuh nya.


Kedua nya kini sama-sama duduk di bangku namun beda nya di kedua sisi gadis itu terdapat bawahan nya yang akan mencegah Louise untuk melakukan apapun.


"Dia pernah membunuh ku," ucap nya pada pria itu.


Alex tersenyum, ia tertawa kemudian dan tampak tak percaya sama sekali.


"Membunuh mu? Dia?" tanya nya yang tertawa.


"Hm, di punggung ku ada bekas luka nya." jawab Louise dengan wajah yang sama sekali tak menunjukkan kebohongan.


"Apa? Cambuk? Atau sudutan rokok?" tanya Alex sekali lagi.


Mana ia tau apa yang sudah di alami dan terjadi pada gadis itu bertahun-tahun yang lalu.


"Di punggung ku ada bekas tembakan, dia yang melakukan nya." ucap nya sekali lagi.


Alex menghentikan tawa nya, ia menatap ke arah gadis itu dengan wajah yang langsung berubah serius.


"Kenapa dia mau membunuh mu?" tanya nya dengan iris yang tajam.


"Dengan alasan kau mau membunuh dia, kau menggunakan ku untuk balas dendam pada nya kan? Dia juga melakukan hal yang sama." jawab Louise.


Pria itu tampak berpikir namun setelah nya ia tersenyum cerah.


"Kalau begitu kau bisa lebih mudah membunuh nya kan?" tanya nya menatap ke arah gadis itu.


Louise diam, ia memang membenci pria yang membuat nya pernah merasakan hancur sampai titik terendah namun ia tak pernah memiliki niat untuk membunuh nya sama sekali.


"Tapi karna kau bilang begitu aku tidak akan memberi mu racun sebelum dia datang, tapi setelah dia datang dan kau tidak membunuh nya maka aku yang akan membunuh mu." ucap nya dengan tersenyum.


Louise tak menjawab ia hanya diam tak mengatakan apapun.


...


10 menit kemudian


Mobil mewah itu terpakir lebih dulu, tak ada yang sampai sebelum diri nya.


Ia bergegas memasuki mall yang tak lagi di pakai dan sudah lama menjadi bangunan kosong itu.


Langkah nya dengan cepat masuk, tak ada yang menghalangi nya sama sekali, dan ia pun sengaja memakai jas yang tertinggal di mobil nya untuk menyembunyikan pistol nya.


Kosong, hanya tempat yang kumuh dan kotor tanpa terlihat ada nya orang lain.


"Kau datang buru-buru? Padahal tadi wanita mu bilang kau tidak akan datang."


Suara yang terdengar dari atas membuat nya langsung menengandah melihat balkon dalam ruangan yang berada di lantai tiga itu.


"Kau?" James mengernyit menatap ke arah pria yang selama ini tak ia sukai.


"Angkat tangan dan berlutut," perintah Alex sembari menempelkan mata pistol nya ke kepala gadis yang ia sandera saat ini.


James diam, ia melihat pria itu sudah menyiapkan pistol nya dan hanya tinggal menarik pelatuk nya.


Ia menurut, ia berlutut dan mengangkat tangan nya seperti yang di minta karna ia tau posisi melawan hanya akan membahayakan seseorang yang ingin ia lindungi.


"Kenapa kau melakukan ini? Seperti nya aku tidak pernah berselisih pada mu?" tanya James sembari menatap ke arah gadis yang melihat nya dengan tatapan yang tampak takut dan gelisah serta khawatir.


"Pergi..."


Louise bicara tanpa mengeluarkan suara nya, hanya gerak bibir nya lah yang ia bisa ia lakukan untuk membuat pria yang berada di belakang tubuh nya tak mendengar apapun.


"Kenapa? Kau tanya itu pada ku?" tanya Alex yang tampak tersenyum kesal.


"Oh ya, aku lupa kalau pelaku seperti mu tidak akan ingat tapi aku akan ingatkan juga," jawab nya dengan senyuman getir, "Kau memperk*sa seseorang dan kemudian membunuh nya." ucap nya sekali lagi.


James mengernyit mendengar nya, jika membunuh ia memang sering melakukan nya namun jika ia memperk*sa ia tak mengingat nya.


Ia memang pernah memaksa wanita untuk berhubungan dan bahkan mirip dengan pemerk*saan namun itu sendiri dengan wanita yang saat ini tengah di sandera dengan ujung pistol yang lengket di belakang kepala nya.


Karna yang ia ingat selain gadis itu tak ada satupun wanita yang ia paksa untuk melakukan hubungan walaupun setelah putus dari mantan kekasih sekaligus cinta pertama nya ia tidur dengan banyak wanita.


"Apa yang kau bicarakan? Dengan siapa aku melakukan nya?" tanya James dengan bingung.


Alex merasa geram mendengar nya, adik nya sudah mati dengan tragis namun orang yang menyebabkan kematian itu sendiri bahkan tak ingat apapun.


"Josie! Josie Serafinne! Kau lupa?!" tanya nya yang tampak emosi melihat seseorang penyebab kematian adik nya namun ia bahkan tak mengingat nya.


James mengernyit, ia ingat dengan gadis yang memiliki nama tersebut.


Gadis yang memasukkan nya ke penjara sekaligus memasukkan nya ke lingkaran setan yang membuat nya hidup seperti saat ini karna melakukan kesepakatan dengan seseorang yang mirip dengan iblis.


"Dia? Apa hubungan nya dia dengan mu?" tanya nya yang mengernyit.


Ia berusaha mengulur waktu selama mungkin sekaligus melihat titik lemah pria itu agar ia bisa mengeluarkan pistol nya dan menembak pria yang berada di belakang gadis nya.


"Dia adik ku! Dan dia mati karna mu!" ucap Alex penuh dengan emosi.


"Aku tidak pernah melakukan apapun pada nya," jawab James yang mengatakan sebenarnya.


"Mana ada penjahat mengaku penjahat?" tanya Alex yang tak percaya.


"Kalian memang saudara gila," gumam James yang tak mengatakan apapun lagi saat mendengar sanggahan pria itu.


"Baik, sekarang waktu mu habis." ucap nya sembari tak melepaskan ujung pistol yang melekat di kepala gadis itu dan mulai beranjak mengarahkan gadis itu untuk menembak pria yang berlutut di lantai dasar itu.


"Oh ya, sekedar info aku akan membunuh wanita mu kalau dia tidak membunuh mu jadi kalau kau mau dia hidup kau harus mati." ucap Alex yang tersenyum.


"Lakukan," ucap nya yang berbisik dengan kedua orang pria yang mendekat ke sisi kanan dan kiri gadis itu untuk menyuntikkan ampul berisi racun itu jika tak menembak sasaran nya.


James tak mengatakan apapun, ia melihat mata yang ragu namun tentu jarum suntik yang berada di balik tubuh gadis itu tak terlihat dan ia hanya melihat satu bahaya tentang pistol saja.


Mata hijau yang gelisah, ia tak ingin melakukan nya namun ia sudah merasakan ujung jarum yang mengenai tubuh nya.


Sebenarnya pun jika gadis itu memilih untuk membunuh nya ia tak akan bisa mengatakan apapun atau membenci sama sekali.


"Lakukan!" desak Alex sekali lagi.


Jemari yang gemetar melihat ke arah sudut senapan panjang yang tak bisa di putar ke arah lain kecuali sekitar di mana pria itu berlutut.


DOR!


Satu tembakan kuat dari senapan itu keluar, Louise mengarahkan mata senapan nya ke atas saat menarik pelatuk nya.


"Bodoh! Kau membuat pilihan bodoh!" ucap Alex yang geram dan langsung menarik rambut gadis itu kebelakang.


James membuka mata nya, tak ada rasa perih apapun di tubuh nya melainkan suara yang begitu kuat itu.


Ia pun menarik pistol di balik saku celana nya dan melihat ke arah Louise yang tak lagi terlihat.


DOR!


DOR!


DOR!


Itu lah yang menjadi sasaran nya saat ini!


Ukh!


Louise merasa tercekik, spuit itu sepenuh nya tertusuk di leher nya dan memasukkan semu cairan entah berantah itu ke darah nya.


"Kau yang mau memilih mat-"


DOR!


Akh!


Gadis itu terkejut, pria yang menindih sekaligus mencekik nya malah jatuh ke samping dengan penuh darah.


"Sialan! Bunuh bangst! itu!" ucap nya yang terkejut ketika ada peluru yang mengenai lengan nya.


Louise menendang, tepat di bagian tengah paha pria itu saat ada kesempatan dan ia pun langsung bergegas bangun dan lari.


Greb!


Mall yang luas itu tampak menjadi tempat pelarian, hanya berbeda satu lantai di mana pria itu berdiri dengan diri nya.


"Kau menunggu nya? Dia tidak akan sampai sini, dia akan segera mati." ucap Alex yang memegang lengan nya yang tertembak dari lantai bawah karna pria itu melihat siluet ia yang tengah mencekik gadis nya.


Louise tidak tau arah mana ia bisa berlari sampai, "Tangkap aku." ucap nya yang melihat pria itu sudah berbeda satu lantai dari nya.


"Apa?" James tersentak, ia sendiri kita tak lagi terlihat rapi melainkan penuh dengan luka pelesetan dari peluru yang terjun ke arah nya.


Tak menunggu lama gadis itu langsung melompat dari balkon di mana ia meminta pria itu untuk menangkap nya.


Bruk!


Kedua nya memang terjatuh namun tak ada luka serius.


"Ini, mobil nya ada di luar. Kau pergi lebih dulu aku akan pancing mereka." ucap nya sembari memberikan kunci mobil nya.


"Nanti juga akan ada yang membantu mu," ucap James yang langsung beranjak pergi tanpa sempat menunggu jawaban gadis itu.


"Dan jangan lihat ke belakang, terus saja lari!" sambung pria itu sesaat.


Louise terdiam, namun ia berlari keluar seperti apa yang di minta.


Mencari mobil yang di katakan terparkir di luar, kaki nya menemukan nya mobil yang di katakan.


Suara sahutan dari pistol itu tak kunjung berhenti, ia menurut kali ini untuk melihat ke belakang dan benar saja memang jika tak ada yang menyusul nya.


"Dia?" gumam nya lirih yang kali ini menoleh ke arah gedung mal rusak itu namun ia tetap menyalakan mobil nya dan beranjak pergi.


Sementara itu.


Tubuh pria itu tampak penuh dengan corak warna merah, terlihat lelah dengan pistol yang peluru nya sudah habis.


"Kau kalah! Kali ini kau harus pergi ke neraka!" ucap Alex yang mendekat dengan langkah menyeret dan mendekat ke arah pria yang terlihat sudah tak bisa lagi menembakkan apapun pada nya.


"Kasihan," James tersenyum miring melihat pria yang berusaha sekuat tenaga membunuh nya.


"B*ngsat! Berani sekali kau!" ucap nya yang tampak begitu marah.


"Kau lebih menyedihkan dari adik mu yang konyol itu." ucap nya sekali lagi.


Dulu ia di tuduh melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan dan kini kakak gadis itu pun ikut menuduh nya juga.


"Kau akan benar-benar ma-"


Brak!


Suara yang begitu keras terdengar, tubuh Alex mencelat dan tercampak begitu ia ingin menarik pelatuk nya.


DOR!


Suara tembakan dari bawahan nya terdengar berusaha menembak mobil yang menabrak tuan yang membayar nya.


"Naik!" ucap nya yang cepat dan menginjak rem dan gas nya secara bersamaan.


James tersentak ia melempar pistol kosong dan sedikit beradu dengan pria yang ada di dekat nya.


Krek!


Leher pria itu patah, sedangkan James mengambil pistol yang masih berisi tiga peluru di dalam nya.


"Kejar mereka!" ucap Alex dengan tubuh yang hampir terasa ingin remuk saat ia tiba-tiba di tabrak.


...


Suara ban mobil yang terdengar melaju kencang itu menyelusuri jalan yang memiliki pandangan indah dengan tebing dan laut yang berada di sisi kanan nya.


DOR!


Suara yang keras itu kembali berbunyi membuat gadis yang mengendarai mobil nya itu merasa takut.


"Kenapa kau kembali?! Bukan nya ku bilang untuk pergi?" tanya nya berbalik dan membalas tembakan yang menghancurkan kaca belakang mobil nya.


Louise tak menjawab apapun, ia hanya mengendarai mobil nya dengan kecepatan penuh.


"Peluru nya habis!" ucap James yang berdecak.


Senjata yang lagi bisa di gunakan sedangkan ia masih di kejar dengan musuh yang penuh sejuta senjata.


"Sekarang kita harus gimana?" tanya Louise yang gugup dan terlihat jelas tangan yang tengah memegang stir itu gemetar.


"Sekarang kit-"


DOR!


Kali ini peluru itu mengenai ban mobil yang melaju kencang itu membuat mobil mewah itu berjalan tak beraturan dan memutar.


Akh!


Louise tanpa sadar berteriak, mobil nya tak lagi bisa di kendalikan dengan ban yang pecah karna peluru.


"Arahkan ke laut!" ucap James yang merasa kemungkinan selamat jatuh ke air lebih besar di bandingkan berguling dan di tabrak dengan mobil lain nya lalu di tembaki dengan peluru.


"Apa? Kita akan mati!" ucap Louise yang tak percaya dan tentu tak mengarahkan stir nya menuju arah tebing yang merupakan laut.


James tak bisa mengatakan apapun namun ia memukul tangan gadis itu dengan erat dan membuat Louise secara refleks melepaskan nya.


CKIT!


Memutar stir yang langsung membuat mobil itu mengarah ke tebing dan terperosok akan jatuh.


DOR!


DOR!


DOR!


Suara peluru yang tak sabar ingin melihat seseorang mati karna terus menembaki mobil yang terguling karna terperosok ke jurang itu.


James membuka kaca mobil nya sebelum sistem otomatis mobil mewah itu rusak.


Airbag mulai menyala dan mengembang seketika saat mobil mewah itu menggelinding terjun.


CRASH!


Suara yang terdengar kuat saat mobil mewah itu jatuh ke air, mata pria itu menoleh ke arah gadis yang kehilangan kesadaran nya saat mobil itu sudah menabrak air laut dan terjun ke arah nya.


Seluruh air berwarna biru itu masuk ke dalam mobil, namun saat air itu menyatu dengan tubuh nya warna nya berubah.


Corak merah yang mengaburkan mata, napas yang bergelembung karna tak ada udara.


Prak!


Pria itu berusaha keluar lebih dulu dari jendela mobil yang sudah ia buka sebelum nya.


Set!


Garisan dari ujung tajam mobil yang rinsek itu mengenai pinggir perut nya saat ia ingin keluar.


Warna biru lautan itu menjadi merah mengikuti arah renang nya, tangan nya berusaha mengambil gadis yang tak sadar itu dan menarik nya keluar.


DOR!


DOR!


DOR!


Peluru itu menembus lautan, mengejar dan tetap menembakkan peluru dari atas tebing.


James tersentak, ia menarik dan membawa gadis itu berenang ke bawah mobil yang masih mengapung itu agar tak terkena peluru yang di tembakkan asal ke dasar laut itu.


Warna merah menyelimuti diri nya dan gadis yang tak sadar itu, mata nya tetap terbuka walaupun terasa perih, ia memegang gadis yang tak sadar itu.


Dan perlahan mulai menautkan bibir nya, bukan ciuman romantis di bawah laut namun napas buatan untuk tak membuat gadis itu keterusan tidur selama nya.


Bertahan...


Kali ini...


Aku tidak akan membiarkan mu terluka lagi...